
Hari ini, Nadia memilih untuk menginap di Rumah Ray. Awalnya Nadia ingin tidur dikamar yang biasa ditempati setiap menginap dirumah Ray. Tapi mengurungkan niat, Nadia memilih tidur dengan Killa. Nadia penasaran dengan Killa, Betul tidak yang diucapkan sekretaris sialan itu tadi pagi.
Jam sepuluh pagi Raisa dan Nadia baru keluar dari Rumah, dan dibelangkanya ada ibu Eva. Sepertinya semalam Raisa menginap dirumah kedua orang tua Ray. Raisa berpamitan sama ibu dan Nadia. Lalu ia masuk kedalam mobil miliknya. Setelah mobil Raisa tidak terlihat, Ifan turun dari mobilnya, Lalu menyapa kedua wanita yang sedang berpelukan,
Membuat kedua wanita itu kaget melepaskan pelukanya. Bahkan Nadia yang hendak naik ke mobil tiba-tiba kakinya tak bertenaga. Nadia lebih takut ke Ifan dibanding ke kakanya sendiri. Ibu dan Nadia pun membalas sapaan Ifan.
Ifan memberitahukan tujuan datang, Ingin mengantar Nadia ke kampus. Sebenarnya Nadia enggan, tapi Nadia tak punya keberanian untuk menolak. Ia pun mengiyakan, Sembari dihati sangat ketakutan.
Mati lah aku!
"Kenapa Nona percaya dengan ucapan nona Raisa?" Tanya Ifan memecah keheningan yang dari tadi tercipta di dalam mobil.
Nadia yang dari tadi sedang tegang menjawabnya pun dengan kelagepan.
"Em--mm. Percaya apa?" Nadia pura-pura tidak tahu.
"Nona kan tahu? bagaimana tuan muda dan bagaimana sifat Nona Raisa, kenapa nona percaya kepadanya?" Begitulah Ifan bisa memancing orang.
"A--awalnya aku tidak percaya, namun setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku jadi percaya. Aku tak menyangka kalau kaka ku seperti itu. Dia sampai sampai berani menyimpan wanita dirumahnya!" Melipat tanganya didada sambil mengerucutkan bibir. Rasa ketakutan ke Ifan sirna. Berganti rasa kesal terhadap Ray.
"Apa Nona tahu siapa wanita yang di Rumah Tuan?
"Tahu! Diakan pelakor! wanita yang tidak tahu malu! dia lebih menyebalkan dibanding ka Raisa!"
"Jaga ucapan Nona! Tuan bisa marah kepada Nona! Bahkan saya bisa lebih marah kepada Nona!"
Nadia ketakutan, bentakan Ifan sudah membuat Nadia tak berdaya. Rasa amarah pun hilang tergantikan rasa takut ke Ifan.
"Ta--tapi, nyatanya memang benar kan, dia tuh pelakor?" Nadia berkata pelan, meski takut tapi bibir masih saja ingin berucap.
__ADS_1
Ifan menahan amarahnya, dia malah menjelaskan bahwa wanita yang menginap dirumah Ray bukan pelakor.
"Kalau memang seperti itu kasusnya, kenapa Kaka tidak memberi tahu ke ka Raisa? Jadi tidak membuat kesalahan pahaman?"
"Untuk apa memberi tahu?"masih Fokus menyetir, lipatan di keningnya terlihat jelas.
"Iya kan biar tidak salah paham!" Nadia berteriak. Lalu tersadar karena sudah berani teriak, ia lalu menutup mulutnya dengan tangan kedua telapak tangan, matanya terbelalak.
"Ma--maaf. Hanya terbawa emosi. Gara-gara salah paham ini kan, aku jadi ikut-ikutan. Bahkan aku sampai memarahi kaka. Dan apa salahnya ngomong si? Kasian kan ka Raisa jadi sedih?"
"Nanti pulang kampus, saya akan jemput Nona. Bukanya pekan ini waktunya Nona menginap dirumah Tuan? Nanti Nona akan melihat sendiri, Bagaiman wanita yang Nona kira Pelakor. Apa dia orang jahat atau dia orang baik? Nona jangan tanya menurut saya, kalau menurut saya dia wanita yang sangat baik. Dan Nona bisa melihat sendiri, siapa yang tergila-gila, Tuan atau wanita itu?" beruntun Ifan. Ifan males memperpanjangkan urusan ini. Urusan kantor saja sedang menumpuk.
Ngapain memperjelaskan masalah ini ke Nadia. Bisa mangkin panjang urusan ini. Nadia pasti akan tanya ini itu ini itu. Ah.. ribet! Dia kan cerewet ingin tahu semua tentang Ray. Bahkan hal terkecil pun dia harus tahu. Kalau tidak tahu dia akan merajuk lalu mengancam tidak akan menginap lagi di Rumah Ray. Membuat Ray uring-uringan dan Ifan yang kena imbasnya. Masalah putusnya hubungan Ray dan Raisa, Nanti saja diberi tahu. Jangan sekarang! Sekarang momenya kurang tepat.
***
Killa hanya geleng-geleng kepala, saat lihat Nadia, tuan Ray, dan Sekretaris Ifan, berebut ayam kecap.
"Kamu udah makan 5! ini buat kaka. kaka masih lapar!"
"Tuan,Nona, kasihi aku.. Aku baru makan 8. jadi ini buat aku." Ifan ikut berebut ayam yang tinggal satu diatas piring.
"Lepaskan! Aku duluan yang ambil!" Nadia
"Nggak! ini buat aku! Fan! kamu lepaskan nggak! ini jatah aku!" Ray yang tidak mau mengalah.
"Maaf Tuan, soal ini aku tidak bisa patuh sama tuan."
Ray langsung menarik satu ayam kecap yang jadi rebutan, dengan tarikan kuat Sehingga Ray mendapatkannya. dilahap langsung ayamnya.
__ADS_1
Air mata Nadia yang terbendung akhirnya meleleh keluar hiks hiks "Kaka jahat! itu kan milik ku!" meski air mata berjatuhan di pelupuk mata, tapi Nadia menjilati jari jemarinya yang kotor terlumuri bumbu ayam kecap.
"Tuan jahat! tidak berbagi. " Ifan melakukan hal yang sama, menjilati jari bekas bumbu ayam kecap.
"Kaka dari dulu suka gitu! tidak mau mengalah!! " Nadia meraih tisu untuk sekedar mengelap tanganya sebelum berlalu mencuci tangan, Nadia masih berharap jika kakanya dengan suka rela mau berbagi meski cuma satu gigitan, Nadia akan menerimanya dengan suka cita.
Berebutan ayam ini membuat Killa heran. Sarapan pagi ini berbeda dengan makan malam semalam. Dimana makan malam semalam tidak seheboh pagi ini. Bahkan semalam Nadia dan Ray seperti orang yang sedang tidak akur. Nadia bertanya mengajak ngobrol dengan Ray, Ray hanya menjawab 'Hmmm, Hmmm' Bahkan tanpa menoleh ke Nadia, sibuk makan.
Tapi Ray malah mengajak bicara ke Killa. Membuat Nadia kesal kepadanya. Nadia melipat tanganya didada sembari mulutnya komat-kamit tanpa bersuara, mungkin menyumpahi sampah serapah ke Ray. Killa pun tak enak hati dengan Nadia, Tatapan tidak suka ke Killa yang Nadia ciptakan awal datang kerumah Ray, kini tatapan itu seperti pisau tajam yang siap menusuk kedua mata Killa.
Killa sampai berpikir buruk ke Nadia. Killa mengira kalau Nadia itu orangnya galak, judes, dan akan menjadi ujian baginya. Ternyata tidak. Semalam waktu Nadia tidur bareng, Nadia orangnya menyenangkan, dia asyik diajak bicara, lucu, menggemaskan, dan satu lagi Nadia crewet.
Killa pun merasa Klop langsung dengannya, Bahkan Killa tidak canggung saat bangunin Nadia untuk melaksanakan shalat shubuh, Meski sedikit takut si. Tapi beruntung Nadia tidak marah di bangunin, dia bangun melaksanakan shalat shubuh. Nadia pun berucap terimakasih ke Killa karena sudah mau bangunin untuk shalat. Biasanya Nadia ketika di bangunin shalat shubuh oleh ibunya itu tidak selembut dan sehalus Killa, ibunya kalau bangunin kasar, teriak teriak seperti panci yang berjatuhan membuat telinga Nadia merasa terdzolimi.
Pertarungan sengit tentang ayam kecap bukan terjadi kali ini saja, Setiap makan ayam kecap ini akan selalu terjadi. Memang seperti itu biasanya. Ibunya saja sampai malas masak ayam kecap, Makan ayam kecap cuma ketika ada momen, momen seperti Ray dan Nadia berantem. Setiap Ray dan Nadia sedang ada masalah pasti ayam kecap yang jadi penengah. Ray akan menyuruh pelayan untuk memasakkan ayam kecap. Selain momen itu, ayam kecap tidak akan di hidangkan di Meja makan.
Ifan yang memiliki ide brilian, Ifan tidak menyia-nyiakan peluang untuk mendapatkan ayam kecap yang masih tersisa ditangan Ray. Dia pun mencoba melakukan cara jitu itu.
"Tuan, tuan tega. Bahkan ayam itu jatah nona Killa, tuan lahap juga. Apa tuan tidak tahu kalau Nona Killa belum makan ayam kecapnya." ucapnya dibuat buat nada sedih seakan akan menjadi Killa yang berucap.
Ray yang lagi asyik mengunyah pun langsung menoleh ke Killa.
Sumpah, Ray benar-benar sangat malu, dia pun mengurutuki perbuatanya. Ray lupa kalau sekarang di Meja makan itu bukan bertiga saja, ada seorang wanita yang ia kagumi, sukai, dan sayangi, dan Ray sedang berusaha untuk mendapatkan cintanya. Ray membodohi dirinya. Kenapa bisa berperilaku layaknya anak kecil cuma hanya ayam kecap didepan gebetan? lagi! Bodoh bukan? Bukanya di depan gebetan itu harus jaga image?
Ahh.. rasanya ngin menenggelamkan wajah ke kerak bumi!
Bersambung...
.
__ADS_1
.
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote dan komentar yang positif. Terimakasih, salam hangat dari Push🤗🥰