Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Hanya mimpi.


__ADS_3

Keringat dingin bercucuran deras di kening dan di punggung. Ray sangat bersyukur itu cuma mimpi buruk. Mengusap muka dengan kasar. Nafas bergemuruh terengah-engah.


Ifan yang sedang nemenin Ray, dan lagi tidur disofa langsung terbangun karena mendengar teriakan Ray. Khawatir, Ifan jalan menuju ke Ray, bertanya ada apa.


Saat Ray sedang video call, Ray melihat keanehan diwajah Killa, seperti ada yang dipikirkan dan senyum Killa seperti terpaksa, dibuat-buat. Sebegitu perhatian Ray, sampai-sampai mengamati detail.


Ray kepikiran, khawatir. Ada apa dengan Killa?


Ifan berusaha mungkin menenangkan, jika nona Killa tidak apa-apa.


Karena sangat kepikiran Ray bermimpi buruk tentang Killa. Ray beranggapan, jika mimpi buruk ini petunjuk jika Killa sedang ada masalah.


Sebab itulah, Ray menyuruh Ifan mengirim orang untuk mencari tahu dan mengawasi Killa.


Ifan segera mungkin menjalankan tugasnya, dalam waktu singkat Ifan berhasil membeli rumah yang didepan rumah Putra.


Ya, karena harganya melebihi harga pada umumnya, jadi sang pemilik rumah dengan senang hati menjual rumah ke Ifan.


Arga dan Reva lah, yang dipilih Ifan untuk menjadi sepasang kekasih bohongan, dengan tujuan mengawasi dan menjaga Killa.


Ray yang sedang berdiri didepan jendela, di lantai dua , menarik sudut bibirnya saat melihat Killa dan Putra terlihat romantis saat sedang ngobrol dengan Arga dan Reva, meski ada rasa sakit dihati, Ray tak pedulikan itu, yang terpenting Killa bahagia.


Ray merasa lega ternyata Killa baik-baik saja. Dan akhirmya Ray memutuskan untuk terbang kembali ke Ibukota.


***


Putra menatap Killa lekat-lekat saat Killa sudah tertidur di sofa, padahal Killa belum tidur, cuma memejamkan matanya.


Dengan pelan Putra menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Killa, membelai lembut pipi Killa. Tepat dibibir Killa, tangan Putra berhenti, tetap menempelkan tangan dibibir. Putra tuh masih ada rasa ke Killa, hanya karena kebodohan Putra saja ingin membalas dendam luka yang Killa buat dulu.


Mengecup singkat bibir Killa. Killa terperanjat kaget, dia langsung membuka mata lebar-lebar. Killa kira Ifan akan memukul atau akan mencekik lehernya, nyatanya melakukan hal di luar ekspektasi.


Putra buru-buru memalingkan wajahnya, bingung, kaget, dan malu. Putra benar-benar seperti maling yang tertangkap basah.


"Bukanya kamu sudah tidur?" Putra beranjak, Putra bingung, salah tingkah. Nanti kalau Killa tanya kenapa dirinya mencium. Jawaban apa yang tepat untuk menjawab? Putra menggerutu kenapa Killa belum tidur, seharusnya kan sudah, ini sudah larut malam. Jadi gini kan, ketahuan, malu!


Killa tidak menjawab, bangkit kemudian duduk. Killa mengedarkan pandangan mata, mencari ada orang? Sehingga Putra melakukan itu? Nyatanya didalam kamar hanya ada Putra dan dirinya.


Pikiran Killa menerka-nerka. Kenapa Putra melakukan itu? Bersifat lembut dan memberi kecupan manis, bukanya Putra sudah tidak ada rasa kepada dirinya?

__ADS_1


Brakkkk! Putra membanting pintu dengan keras, Putra memilih pergi ketimbang malu, sudah ketahuan.


***


"Putra kemana, Kill?" Tanya Kiara, yang pagi-pagi buta sudah bertamu.


"Hmmm, keluar sebentar. Ada urusan," jawab Killa masih fokus buat teh manis, "berarti kamu jadi berangkat ke Ibukota nanti malam?" Killa meletakan secangkir teh dihadapan Kiara. Kemudian duduk disebelahnya.


"Hmmm," menangkup wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu diatas meja, "aku jadi pengin buru-buru nikah deh, capek aku tuh kerja banting tulang. Kalau dah nikah kan enak, disayang, di perhatiin, dilindungi, tidak kerja lagi dan yang paling utama kalau tidur ada yang nemenin. Oh tuhan kapan giliran ku, aku juga pengin." Mentindurkan kkepala ke meja.


Killa bersusah payah menelan ludahnya, pernikahan tidak seindah itu. Tidak semua orang akan bernasib bahagia setelah nikah. seperti nasib dirinya, pernikahannya yang sungguh sangat mengenaskan. Killa Diam tak berkata, memilih untuk beranjak ditimbang harus menanggapi ucapan Kiara.


"Kamu beruntung, Kill. Punya suami seperti Putra. Sudah ganteng, mapan, berkerja keras, anaknya orang kaya, baik pula. Ah... sungguh kau beruntung."


"Kamu sudah sarapan?" Memilih untuk mengalihkan pembicaraan, rasanya sakit kalau dibahas.


"Belum, makanya aku kemari mau makan masakan pengantin baru, masakannya enak atau nggak," tersenyum meringis.


"Pasti enak dong," Putra tiba-tiba sudah kembali, membuat Killa dan Kiara kaget.


"Eh, mas Putra," Kiara mengringis. Putra hanya membalas tersenyum simpul.


Killa terperanjat kaget, hampir-hampir saja wajan ingin jatuh.


"Hmmm! uhuk! uhuk!" Kiara pura-pura batuuk, "Ingat ada orang lain." Kiara memutar bola matanya, jengah dan juga baper.


"Hehe, maaf, lagian aku sangat rindu dengan istriku. Apa salah?" Melepaskan pelukanya. Mengambil gelas, jalan menuju dispenser, ingin minum.


"Iya iya deh, maklum pengantin baru. Nasib... nasib! jaga perasaan seorang jomblo kek, ngenes! Iri jon." Berekspresi sedih.


"Sudah, waktunya makan!" Meletakan nasi goreng diatas meja makan, lalu mengambil piring jatah Putra mengisi nasi goreng.


"Bener juga kamu Kill, cacing di perutku dah pada demo nih. Hehe." Menyodorkan jatah piring miliknya ke hadapan Killa, minta diambilin juga seperti kaya Putra.


"Minta diambilin juga?" Killa menyipitkan mata.


"Hehe," menganggukan kepala sambil menyengir. "


"Ck," Killa berdecih. tapi tetap mengambilkan nasi goreng untuk sahabat terbaiknya.

__ADS_1


"Aaaa," Putra menyodorkan satu sendok makan nasi goreng didepan mulut Killa. Killa tidak langsung membuka mulut, dia diam sambil menatap Putra tajam, "Aaa, sayang,"


Killa pelan-pelan membuka mulutnya. Satu sendok nasi goreng berhasil masuk ke mulut Killa. Ada satu nasi yang tersisa di samping bibir. Putra mengambilnya kemudian memasukan kemulur dirinya. Mata Killa memanas terharu, hati bergembira dan juga menerka-nerka.


Apa ini awal berubahnya mas Putra? Apa mas Putra sudah mau memaafkan kesalahanku dulu? Apa cuma sandiwara karena ada Kiara? Tapi semalam mas Putra pun berbuat lembut, dia mencium ku dalam keadaan tidak ada orang. Ahhh, kau buat aku bingung mas Putra.


"Huha! Panas-panas-panas," Kiara mengiapas-ngipas tanganya, pura-pura panas, "ini nasi gorengnya kepedesan atau cuacanya yang panas ya?"


"Makanya buruan nikah gih, biar nggak kepanasan!" goda Putra.


"Penginya si buruan, tapi ya, gimana? Namanya nikahkan butuh calon! lah... aku aja nggak punya calon. Masa iya nikah sama pak penghulunya, mending kalau pak penghulunya masih lajang, kalau dah nikah! Aku bisa digantung hidup-hidup sama bininya, lengkap sudah penderitaan ku."


"Oh, kamu masih jomblo toh kasian amat ya!" ketawa mengejek.


"Haha, iya ngenes banget hidup ku."


***


Kiara sangat bahagia liat keromantisannya Killa dan Putra, Putra masih setia menyuapi istrinya sesuap demi sesuap.


"Eh, ngomong-ngomong gimana kamu liat Killa pake baju lingerie? Menggoda kan? mas Putra pasti suka kan? iya kan?" Kiara memajukan wajahnya ke Putra.


"Gimana ya, Killa pake baju tidur aja menggoda, jadi tidak perlu pake baju-baju gituan."


Ngapain juga bahas yang kaya gitu, nggak banget! bikin nyesek nih dada.


Hati Killa meledak-ledak, kesel dengan Kiara.


"Jadi lingerie yang aku kasih, nggak dipake gitu?" Menyuap satu sendok penuh ke mulutnya. Kiara bertanya kaya gitu karena Kiara mengasih kado pernikahan Killa itu lingerie.


"Buat apa pake? baju tidur saja cukup. Lagian aku lebih suka Killa tidak pake baju, seksi!"


"Uhuk! uhuk!" Killa tersendak. Putra segera menyodorkan minuman miliknya ke Killa, dan Killa meminumnya sampai tandas.


"Pelan-pelan sayang!" mengusap-ngusap punggung Killa.


"Kiara! Kamu masih gadis, tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu!" Killa merasa obrolan Killa dan Putra barusan sungguh sangat menyakitkan hati Killa. Killa yang sampai sekarang juga belum pernah disentuh oleh Putra, apalagi tidak perpakain, itu belum pernah!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2