Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Jadi bahan ejekan.


__ADS_3

Ray dan Killa berdampingan jalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan.


Orang-orang yang sedang duduk di meja makan tersenyum kearahnya. Kemudian bangkit menyambut Ray dan Killa yang baru mau gabung.


"Selamat pagi, tuan, nona." Ifan membungkukan badan tanda hormat. Dan diikuti dengan Frans.


"Selamat pagi, nak." Pak Jay dan ibu Laras pun mengucapkan sapaan, namun tidak membukukan badan hanya tersenyum.


"Selamat pagi, kaka ku dan kaka ipar." Nadia teesenyum kuda.


"Selamat pagi, juga." jawab Killa dan Ray berbarengan, menebar senyuman. Kemudian Ray menarik


kursi untuk diduduki Killa.


"Terimakasih, tuan." Ray mengangguk sambil tersenyum lebar. Ray menarik kursi disebelah Killa kemudian duduk. Semenjak ada pak Jay, kursi yang biasa diduduki Ray. Menjadi tempat duduk pak Jay. Menandakan bahwa yang berkuasa itu ayahnya bukan Ray.


"Wah-wah-wah, berambut basah, ehem ..." ejek Frans cekikikan.


"Frans!" penekanan ibu. Tatapan mata melotot kearah Frans.


"Hehe, maaf bu." masih cecengesan. " Malam pertama, bu, uhuy." menengok ke arah Ray.


"Berwangi shampo ..." Nadia menimpali, cecengesan.


"Nadia!" ibu melotot ke Nadia.


"Awaf, eh! maaf," Nadia tersenyum kuda.


Kenapa aku shampoan si! Jadi dikira aku dan Killa ... aish!


Ray mengeryitkan dahi. Ray lupa, tadi malam kan malam pertama Ray dan Killa. Ray menengok kearah Killa.


Killa paham apa yang dimaksud Frans dan Nadia, Killa hanya menunduk, malu di jadikan objek pembicaraan.


Ray menyatukan jarinya ke jari Killa,


"Pengantin baru! Jomblo hanya bisa menerka-nerka!" Ray tidak mau kalah, biar mangkin jadi.


"Sudah!" Ibu mengambilkan nasi berserta lauk pauk untuk pak Jay. Dilanjut mengambilkan untuk Ray. Ibu pun mengambilkan untuk Killa. Killa menolak, tak enak hati. Tapi ibu kekeh memgambilkanya dengan porsi banyak. Berlanjut Ibu mengambilkan untuk Nadia, Ifan dan Frans.


"Gimana tidurnya, nyaman? nyenyak kan, sayang?" tanya ibu ke Killa disela-sela makan .


"Pasti nyaman lah, bu," sambar Frans langsung, mulut masih penuh makanan.

__ADS_1


"Sangat nyaman, tidur dalam dekapan ku!" Ray to the poin, menyombongkan diri.


"Tidur dalam pelukanya, ah ... dalam suasana sangat dingin, aku saja tidur AC dalam kondisi mati, menyelimuti seluruh badan tanpa celah, ah ... Dingin!" Nadia berekspresi menggigil kedinginan.


"Nadia! Frans! Dan kamu Ray! lihat tuh Killa. Dia ********!" ibu sangat membentak.


"Kenapa pagi pagi harus mengobrol seperti itu! Apa pantas!" Kini pak Jay yang bersuara.


Hening ...


Ray memperhatikan wajah Killa yang bersemu merah, Ray jadi gemas. Andai semalam tidak ada rasa canggung. Pasti Ray sudah memakan Killa. Mengobrol bareng saja sampai mengeluarkan suara ledakan, apa kabar kalau Ray sampai memakan Killa? Bukan suara ledakan lagi, mungkin Dunia langsung runtuh. Ray juga bingung, Ray bukan menikahi anak gadis, tapi kenapa Killa seperti anak gadis yang baru merasakan pernikahan.


Pak Jay dan ibu Laras memberi tahu jika nanti siang akan pindah kerumah miliknya. Karena semenjak insiden lamaran Ray dulu dengan Killa yang nggak jadi, membuat Ibu, pak Jay dan Nadia pindah menginap ke rumah Ray. Takut dan khawatir kepada kondisi Ray.


"Kenapa nyonya langsung pindah? Killa baru saja menginap lagi di sini." Menerima suapan dari Ray.


"Ibu, sayang ... Bukan nyonya lagi, sekarang kau menantuku dan aku mertuamu, bukan nyonya kamu lagi."


"Nah! betul kata ibu, panggil ibuku, ibu dan panggil ayahku, ayah. Bukan tuan besar atau nyonya." Mengelap sisa makan di sudut bibir Killa, kemudian Ray menjilat jarinya.


Killa mengangguk mengerti. Dan juga kesal dengan kelakuan Ray.


Kenapa harus bersifat seperti itu didepan banyak orang, tuan Ray! Malu!


Ibu tadi yang menyuruh berhenti membahas ke hal itu, kini malah dirinya membahas.


"Ibu," Ray menatap ibu, memelas.


"Haha, nggak. Bukan itu maksud ibu. Maksud ibu, biar rumah tangga kalian tenang tanpa campur baur dari pihak ibu atau ayah, sayang.


Bukanya seperti itu kan, Ayah?" Menengok ke pak Jay, minta persetujuan.


"Iya," pak Jay mengangguk, "berapa banyak kasus pecerain karena campur tangan dari orang tua, Ayah dan Ibu tidak mau itu terjadi."


***


Dari keluarnya Kiara dari gedung, Putra mengikutinya sampai ke kontrakan Kiara, hingga akhirnya sekarang di pagi hari Putra bertamu ke kontrakan Kiara.


Tamu yang tidak berakhlak, ketika pintu dibuka, Putra langsung nyelonong masuk, kemudian langsung mendudukan tubuhnya disofa.


"Mengukur cinta bukan dari berapa lama kita menjalani waktu percintaan dengan orang yang kita cintai. Kita tak akan lupa akan keindahan bunga mekar di musim semi,"


Kiara mengeryitkan dahi, memajukan wajahnya, menatap Putra yang sekarang sedang duduk disofa ruang tamu kontrakannya, Kiara tidak tahu, kenapa Putra sampai tahu tempat tinggalnya, dan ada apa Putra menemuinya? dengan tatapan bertanya apa maksud perkataan barusan?

__ADS_1


"Dari kesalahan aku belajar, tidak ada yang menginginkan perceraian setelah menikah."


"Apa maksudmu?" Kiara tidak tahan lagi. Apa maksud ucapan Putra.


"Andai waktu bisa kuputar, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu!" Putra menjambak rambutnya, frustasi, "aish!" Mengusap wajah dengan kasar.


"Penyesalan selalu datang belakangan!"


Kiara sudah nyambung, apa pembicaraan yang Putra maksud.


"Jangan pernah kau ganggu Killa lagi, karena kau tidak akan bisa! Killa berhak bahagia, karena mu ... Killa hampir mati!" suara Kiara melengking. Amarah Kiara tersulut, jadi mengingat sakitnya Killa. Mata Kiara memanas.


"Mungkin hanya sesaat, seperti pendeknya waktu mekarnya bunga. Tapi itu sangat membekas dihati. Aku masih mencintainya. Aku tidak bisa mengelak dari itu."


"Jangan melalukan kesalahan yang sama! Jika tidak mau terluka hal yang sama!" dada Kiara kembang kempis menahan amarah.


"Fokuslah, kau ke Bella, dan anak mu! Buang jauh-jauh pikiran untuk Killa."


Perselingkuhan Putra dan Bella, melampaui batas. Bella hamil saat Putra masih terbaring lemah di ranjang kesakitan, sehabis dihajar bebas oleh Ray. Putra, yang katanya hubungan dengan Bella hanya untuk memanas-manasin Killa, tapi nyatanya ... Bella sampai hamil!


Lelaki biadab!


Kiara mengepalkan tangannya.


"Aku ingin bersama dengan Killa lagi, apa itu masih bisa terjadi? Apa itu salah?" tatapan mata Putra kosong.


"Brengsek!" menggebrak meja, "apa kau tidak dengar ucapan ku? Buang jauh-jauh pikiran untuk Killa. Ada Bella, apa kau ingin melakukan hal yang sama? Killa sudah bahagia. Kau tidak tahu betapa hancurnya Killa, dulu! Aku ingatkan! Jika tidak mau terluka lebih dalam! Fokuslah terhadap keluarga kecilmu."


Kiara menarik paksa Putra untuk hengkang dari kontraknya. Lama-lama dengan Putra, Kiara muak, emosi. Kiara jadi mengingat Masa terpuruknya Killa.


"Mencintailah dengan sepenuh hati saat ini untuk Bella dan anakmu! Karena mungkin besok, kau tidak akan bisa bersama lagi denganya. Dan kau akan terluka lagi di kasus yang sama!"


Brakk! Kiara menutup pintu dengan kencang kemudian menguncinya.


 


//^^// Tiada yang abadi, tapi cinta


dan kenangan bisa menjadi abadi //^^//


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2