
Perubahan Ray tiap hari terlihat begitu jelas, berubah 180 derajat, Dia selalu mengerjakan sholat on time dan menjalankannya selalu berjamaah di masjid. Menarik semua pekerja yang laki-laki untuk ikut ke masjid, sedangkan pekerja wanita disuruh berhenti kerja untuk menjalankan kewajibannya terlebih dahulu.
Setelah sarapan Ray mengumpulkan semua pelayan Rumahnya, dan penjaga. Untuk membuang semua alkohol yang ada di Rumah Ray, bukan dibuang langsung di Tong sampah, Ray menyuruh untuk membuang isinya ke closet atau di wastafel terlebih dahulu, baru kemudian botolnya dibuang di Tempat sampah. karena begitu banyak jadi Ray meminta bantuan ke pelayan dan penjaga Rumahnya. Jika dilakukan Ray dan Ifan saja, sangat kwalahan. Anehnya pelayanan dan penjaga dibolehkan membantu, kenapa saat Killa mau membantu tidak boleh? Alasan Ray satu, Ray tidak mau Killa wanita suci harus memegang alkohol, cukup! kemaren-kemaren saja. Itu hal bodoh yang Ray sesali.
Hari ini hari Sabtu, jam 10 pagi Nadia sudah di rumah Ray, karena nanti malam, malam Minggu mau kepengajian bersama, seperti malam Minggu sebelum-belumnya.
Pengajian dimulai sehabis magrib dan biasanya berangkat jam 5 sore, Ray yang punya rencana lain, dia mengajak Killa dan Nadia untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum berangkat ke pengajian. Mengajak makan siang dan shoping untuk menghilangkan penat, bukanya seperti itu wanita? Menghilangkan penat dengan cara shoping membeli apa yang di inginkannya, Nadia sangat antusias, mengiyakan. Killa dengan terpaksa juga mengiyakan, meski dirinya aslinya tidak mau. Mau gimana lagi?yang ngajak bosnya, masa nolak?
Sehabis Dzuhur berangkat, yang dituju langsung masuk ke restoran didalam mall untuk makan siang.
"Ka Kill. Kaka mau apa? Ini atau yang ini?" Menunjuk gambar makanan yang terpapang di buku menu, "Ini yang rekomend ka. Atau Kaka mau yang lain?"
"Kaka apa aja Nad, samain aja seperti kamu." Killa tersenyum, rasanya Killa canggung.
"Ok, kalau gitu. Pesan satu menu saja. Sesuai selera Nadia. Iya kan Fan?" Sambar Ray.
"Iya tuan, sekalian saja di samain." jawab Ifan cepat.
__ADS_1
Kalau aku nolak juga, Tuan bakal marah kan? Ini kan yang tuan mau? makan sesuai menu yang Nona Killa makan! Huh.. meski makanan yang dipesan nona Nadia itu bukan selera Tuan? Ifan.
"Baik lah, berarti pesan makanan kesukaanku, haha. Apa benar ka Ray mau? Bukanya Kaka tidak suka pancake?" goda Nadia.
"Kata siapa? Kaka suka!"
"Suka terpaksa, karena ka--- ups." Menutup mulutnya "Hehe, hampir. Apa minuman juga disamaain?" Killa mengiyakan begitu juga dengan Ray dan Ifan.
Killa menatap Restoran dengan takjub, Restoran bernuansa klasik nan megah, dan sangat nyaman, ketika masuk juga disambut dengan hangat, ramah, dan sopan, tapi aneh, Restoran seindah ini dan seluas ini, sepi pengunjung. Tidak ada pengunjung lain selain dirinya dan rombongannya. Tidak mungkin kan, restoran ini tidak laku? Kalau tidak laku mana mungkin Ray mengajak kemari, dan tunggu satu lagi, ini katanya restoran favorit Nadia, jadi tidak mungkin kan? Tapi kenyataannya sepi pengunjung. Tidak ada sama sekali selain dirinya dan rombongan Ray. Entah lah?
Gimana Restoran ini mau ada pengunjung? sedangkan Ifan sebelum datang sudah menelpon manager untuk mensterilkan Restoran karena tuan Ray akan datang.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak sengaja." Pelayan itu mengambil hape Ray lalu mengelapnya dengan lap mulut yang ada dimeja. Sedangkan Ray langsung mengambil tisue untuk mengelap bajunya.
"Apa kau tidak bisa hati hati?" bentak Ifan menggetarkan. Sudah berdiri.
"Maaf, Tuan. Saya kurang hati-hati, maafkan saya." Pelayan itu menunduk, sedangkan teman pelayan yang lain juga ikut menunduk, tidak berani membela temanya.
__ADS_1
"Fan, dia tidak sengaja, apa pantas kau bentak?" Ray tersenyum, guratan wajahnya tidak terlihat marah. "Sudahlah, ini tidak sengaja. Nona, lain kali lebih hati-hati ya. Aku tidak marah, tapi bisakah Nona bersihkan ini? Dan bisakah beri saya minuman baru? Kami berempat pindah ke meja lain." tutur kata Ray yang jauh dari kebiasaannya, dia bertutur kata lembut dan tidak dingin atau datar.
"Terimakasih Tuan, segera mungkin saya lakukan, sekali lagi terimakasih kasih tuan. Dan saya minta maaf, tuan." Pelayan itu membungkukkan badan.
"Sudahlah, namanya juga tidak sengaja. maafkan teman saya sudah membentak kamu ya." Timpal Ray. "Fan, kamu minta maaf kepadanya, sudah membentak dia!"
"Saya minta maaf kepadanya, apa tuan tidak marah? Dia yang salah, tuan!" Raut wajah Ifan bingung.
"Kamu minta maaf kepadanya sudah membentaknya! untuk apa aku marah? Dia tidak sengaja. Bukanya aku sudah bilang, aku pengin berubah jadi baik, jadi bantulah aku untuk berubah jadi baik." Raut wajah Ray yang bersahabat.
Melihat hal itu Nadia dan Killa senang, dimana Ray yang suka marah hanya karena hal sepele, kini dia tidak marah. Hati Nadia dan Killa berbunga-bunga bahagia.
***
Setelah makan, dilanjut dengan belanja. Nadia sangat antusias memili milih, masuk toko satu lalu masuk ke toko satunya lagi, terus dan terus, sampai-sampai pengawal yang membawa belanjaan Nadia yang begitu banyak, mumpung gratis! mungkin begitu kata Nadia. Berbeda dengan Killa, dia tidak tertarik untuk beli sesuatu meski sudah ditawarin ini itu sama Nadia, Killa menolak tidak mau. Baiklah biar Nadia yang beraksi memborong semuanya, andai Nadia membeli semua yang ada di mall tersebut juga tidak masalah, toh mall ini juga punya kakanya, haha.
Bingung mau gimana, tujuan Ray ingin membahagiakan Killa, agar Killa belanja sepuasnya seperti Nadia, tapi malah Killa tidak mau belanja. Dia lebih suka melihat melihat saja seperti orang yang tidak punya uang, jengah, tapi yasudah, biarkan Nadia yang beraksi, lagian Nadia tahu kok, dia juga membelikan barang untuk Killa dan Ibunya tanpa sepengetahuan Killa, nanti juga, pulang-pulang barang belanjaan banyak yang buat Killa. Bukanya itu pesan dari Ray sebelum berangkat? Haha. Dimana Ray berpesan ke Nadia, jika Killa tidak mau beli sesuatu, Nadia lah yang harus berperan mebelikan barang belanjaan untuk Killa.
__ADS_1
Saat sedang jalan mau menuju keparkiran ada orang yang tidak sengaja menabrak tubuh Ray, tapi anehnya orang tersebut tidak minta maaf, dia malah memarahi Ray "kalau jalan pake mata!" ucapnya dengan nada tinggi, bentak dan tangan menujuk ke wajah Ray.
Bersambung...