
Apa kalian tahu? Jam tangan yang Killa beri untuk Ifan diminta sama Ray, begitu pun boneka milik Nadia yang di beri Killa, Ray juga memintanya. Kini disamping badan Ray, ada satu boneka lumayan besar milik Nadia pemberian dari Killa.
Masih ingatkan? Dimana Ray frustasi setelah mengantar Killa pulang ke kampung halaman, dan Ray berniat ingin melamar Killa, tapi gagal. Kerena kedatangan Putra. Dan Ray pulang-pulang marah, mengacak-ngacak kamar, tapi ada satu buah kotak kecil yang terletak di nakas tidak ikut di acak-acak, disenggol saja tidak, ingatkan? Ya, itu kotak kecil yang berisi jam tangan pemberian dari Killa.
Ray merenungi, dalam hatinya bercoba bertanya, kenapa takdir begitu kejam? kenapa takdir tidak mendukung menyatukan dirinya dengan Killa? KENAPA!
Cinta Ray menjadi harapan sia-sia. Dalam diam, Ray terpaku, mengingat kebersamaan dengan Killa. Sebentar, tapi sangat membekas di hati. Sedih hati Ray, tiada berbicara.
Ray lemah, sungguh tidak berdaya, kepergian Killa membuat tersiksa. Mengalir air mata Ray membasahi pipinya.
Terlalu tenggelam dengan pikirannya, sampai-sampai Ray tidak mendengar hapenya berbunyi. Ifan yang berada disitu, dia meraih hape Ray yang terletak di atas nakas.
Saat Ifan mengoyakan badan Ray ingin memberitahukan kalau Putra menghubunginya melalu via video call. Ray kaget.
"Apa! Putra video call?" bangkit dari tiduranya, kemudian duduk diatas ranjang. Shock, kaget dan juga bingung.
"Iya tuan." Ifan yang tahu gerak gerik Ray, Ifan langsung merapikan rambut tuannya, memberi minum untuk Ray, mengambil tissue basah untuk mengelap wajah Ray, agar jangan terlihat pucat.
Membiarkan suara panggilan telephone begitu saja, Ifan cekatan jangan sampai suara telephone mati sedangkan Ray belum rapih, harus sudah ke angkat, tapi dalam keadaan tuannya sudah rapih. Ifan mengerti kalau Ray tidak mau terlihat terpuruk dihadapan Putra dan Killa atau keluarga Killa. Harus terlihat baik-baik saja.
***
Killa harus menelan mentah-mentah pil pahit kehidupan.
Tidur harus perpisahan dengan suami barunya, sang suami tidur di ranjang, sedangkan Killa tidur di sofa, masih satu kamar si! Tapi ini sangat menyakitkan. Pengantin baru, tapi seperti penganti yang sudah lama, karena bosan akhirnya berpisah tempat.
Harus kuat, harus kuat. Mantra itu yang selalu keluar dari mulut Killa.
Layaknya seperti istri pada umumnya. Killa pagi-pagi buta memasakan sarapan untuk Putra dan dirinya, dan menyiapkan minuman hangat satu cangkir kopi untuk Putra. Tidak lupa juga Killa menyiapkan baju ganti untuk Putra.
__ADS_1
"Pagi mas, aku sudah siapkan sarapan, ayok sarapan dulu," ucap Killa menyapa Putra yang baru keluar dari kamar, ucapan Killa, Putra tidak menggubrisnya. Dia berjalan menuju keluar rumah.
"Mas, mau kemana? Ini masih pagi." Killa mencoba menghalangi Putra agar jangan pergi. Masih tetap tidak dihiraukan ucapannya.
Setelah sampai depan Rumah, Putra memutar tubuhnya ke belakang. Memeluk tubuh Killa lalu menghujani Killa dengan kecupan, membuat Killa terpaku, kaget, bingung.
"Jangan kepedean, aku lakukan ini karena ada orang!"ucapannya lirih di telinga Killa, tapi sangat menyayat hati.
Killa celingak celinguk mencari orang yang dimaksud Putra. Ternyata benar, didepan rumah ada wanita cantik dan laki-laki tampan sedang duduk di teras rumah, menikmati pagi dengan meminum, minuman hangat, entah itu kopi atau teh, terlihat sang lelaki itu sebelum meminum dia meniup-niup. Mungkin mereka berdua sepasang kekasih baru, dari keromantisannya nampak jelas.
"Selamat pagi, baru pernah lihat," sapa Putra, tangan Putra melingkar di pinggang Killa. Memerkan kemesraannya yang PALSU!
"Pagi juga," bangkit dari duduknya. Berjalan menuju Killa dan Putra. "Iya, kami baru pindahan semalam." Jelasnya.
"Oh pantesan baru melihat anda, sepertinya kalian pengantin baru? Kelihatan sekali kemesraan anda, seperti kami berdua." Putra mencium Puncak kepala Killa, Putra tidak tahu malu! bertanya tapi langsung menebak. Yang ditanya hanya tersenyum malu. Benar tebakan Putra, kalau mereka benar pengantin baru.
Mereka berempat akhirnya saling mengenal satu sama lain, menjalin akrab hubungan dengan tetangga baru.
Mobil Putra sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mata sudah belok ke kanan. Kemudian Killa pun pamit masuk ingin beberes-beres rumah, dengan ramah tetangga baru mempersilahkan.
"Tidak ada gelagat kecurigaan? Mereka berdua terlihat baik-baik saja hubungannya. Bahkan terlihat sangat romantis," bisik bisik Arga di telinga Reva, tetangga baru.
Tetangga baru itu bernama Arga dan Reva.
"Iya betul, tapi ya sudahlah, tugas kita awasi saja!" timpal Reva.
***
Badan Ray lemas terkulai, tak percaya mendengar kabar yang tak ingin dia dengar, tak percaya orang yang dicintai menghembuskan nafas terakhirnya diruangan UGD.
__ADS_1
Ditinggal nikah memang sakit, tapi ini jauh lebih sakit! Ray tidak rela Killa meninggal dunia.
Ifan dengan susah payah memberi tahukan jika Killa mengalami kecelakaan lalu lintas, kecelakaan parah, hingga muka Killa sulit dikenali dan sekarang sedang diruangan UGD.
"Jangan bercanda kamu, Fan!" Air mata keluar begitu saja.
"Saya tidak bercanda, tuan. Nona Kiara memberitahu."
Ternyata benar! Killa meninggal dunia. Ray sampai dirumah sakit. Semua orang sedang menangis, nyawa Killa tidak tertolong.
Nggak mungkin!
"Sayang, kamu jahat! Kenapa kamu ninggalin aku? Aku mohon bangun, jangan tinggalkan aku, bukannya kau ingin punya anak, ayok kita wujudkan, sayang bangun, jangan pergi, sayang!" Putra merengkuh tubuh Killa, menangis terisak, rasa penyesalan ada, Putra belum membahagiakan istrinya, tapi takdir berkata lain.
Ibu Killa pingsan. Tak percaya anak perempuannya meninggalkannya secepat ini, perasaan baru kemarin sang ibu menggendong, menimang-nimang, menggantikan popok, memandikan, menyuapi dan kini sang anak pergi begitu cepat, baru kemarin sang anak menikah, menikmati manisnya hidup dalam suasana yang berbeda. Killa menikah saja, ibu masih belum siap, tapi mau gimana namanya hidup perlu berpasangan, dengan berat hati ibu mencoba merelakan Killa menikah. Sementara ini, ibu tidak rela! Shock tidak percaya.
"Ka Killa! Ka Killa! Kaka!" Vino memeluk tubuh kakaknya yang terbujur kaku. Vino anak yang manja, seorang adik yang sayang dengan kakanya, harus siap ditinggal Kakanya tuk selama lamanya.
Bapak Killa tak peduli istrinya yang pingsan, sang istri dibiarkan diurus oleh kerabat. Yang terpenting sekarang melihat dan memeluk anak perempuannya. Seorang bapak yang tegas, yang kuat, yang tak pernah nangis dihadapan anaknya, kini menangis dihadapan jenazah anaknya. Seorang bapak juga manusia, dia tidak bisa menahan rasa sedihnya, anak perempuannya meninggalkannya dengan cara yang tragis, tertabrak truk.
Mau marah, tapi bingung, marah ke siapa? setiap mahkluk yang bernyawa pasti merasakan mati! Tapi kenapa secepat ini Killa dipanggil sang illahi, kenapa nggak dirinya saja yang dijemput dulu, kenapa harus Killa dulu.
Ray menatap jenasah Killa dengan tatapan nanar, Ray tidak bisa melihat wajah terakhir milik Killa, wajah Killa penuh dengan perban, Killa terbaring kaku diatas ranjang dan kedua tangannya sudah bertumpu diatas dada, hati Ray remuk, kaki Ray berubah menjadi agar-agar, lemas.
Baru kemarin mengikhlaskan Killa menikah dengan Pria lain dan kini harus mengikhlaskan Killa tuk pergi selama-lamanya? Oh tidak! Ray tidak terima! Luka di hatinya belum sembuh, kini malah harus bertambah menjadi lebih besar. Apa takdir sekejam itu?
Takdir tidak adil! Kenapa takdir sekejam itu? Kenapa? Air mata sudah sejak tadi keluar mengalir deras, jantung Ray seakan tidak berdetak lagi, sesak!
Ray berusaha keras untuk melangkah mendekat ke jenazah Killa, ingin memeluk tubuh sang wanita yang dicintainya.
__ADS_1
"Killa!"
Bersambung...