
Fisik yang masih lemah membuat Putra tak bisa melanjutkan amarahnya. Ayah Putra memampah jalannya Putra untuk kembali lagi ke ranjang.
"Maafin, Ibu, nak. Ibu mengaku salah." Ibu Putra beribu meminta maaf kepada Putra. Menunduk, saat Putra sedang marah-marah. Ibu hanya bisa menangis, kini disaat amarah Putra reda dan Putra dalam kondisi lemah terbaring.
"Ibu melakukan itu karena demi kebaikan untuk mu, Ibu hanya ingin kau mendapatkan istri yang baik, dan cocok untuk mu. Maafkan, ibu. Ibu, dulu hanya memikirkan harta, Ibu tidak memandang ternyata anak ibu sangat mencintai wanita itu. Ibu lupa jika kebahagian semuanya bukan bersumber dari harta. Ibu menyesal."
Ibu benar-benar menyesal, tindakan yang dianggapnya sepele, ternyata membuat masalah besar. Anak keduanya harus merasakan patah hati kedua kali, dan sialnya, di orang yang sama. Ibu tidak menyangka jika sang anaknya betul betul sangat mencintai Killa. Ibu takut jika Putra akan terpuruk lagi sampai sangat memprihatinkan kondisinya seperti dulu.
Ibu menyesali perbuatannya, ucapan yang pedas yang dilontarkan itu membuat Putra menumpahkan kekesalannya, amarahnya ke wanita lain sampai hamil. Andai, Andai, Andai, dirinya tidak mencaci maki Killa. Mungkin hal buruk itu tidak akan terjadi. Mungkin saat ini Putra sedang hidup bahagia dengan Killa, tanpa drama pura-pura selingkuh.
Kenapa penyesalan selalu datang belakangan?
"Keluar!!!" Putra benci dan muak, saat ini Putra ingin menyendiri "Keluar, semuanya," mengayunkan jari telunjuk mengarahkan menunjuk ke arah pintu, dengan napas yang bergemuruh, hempasan mengeluarkan napas sampai terdengar nyaring di telinga. Titik bening kristal terlihat di kedua sudut mata Putra.
"Ibu, kita keluar dulu ya, berikan waktu Putra untuk menyendiri," ayah Putra memegangi bahu ibu, menarik untuk keluar. Ibu enggan untuk keluar, rasanya masih ingin tetap berada di ruangan. Ibu bertahan agar tidak keluar.
"Pergi!" teriak Putra kembali.
"Ibu, kita keluar dulu ya, bu. Ayok, bu," kini Bara ikut memampah tubuh ibu, menyuruh untuk keluar.
Bara--sebagai kaka Putra, bisa merasakan betapa berkecamuknya Putra. Ikut sakit hatinya. Tidak bisa bayangkan jika dirinya yang di posisi Putra, dirinya yang mempunyai sifat keras lebih dari Putra. Mungkin sudah sejak dulu mengakhiri hidup dari pada harus terluka lebih dalam. Beruntung dirinya sudah menikah, dan pernikahannya di restui oleh kedua orang tuanya. Ya ... Karena selera Bara sesuai dengan posisinya, sama-sama orang kaya.
***
Terbaring lemah sambil merenungi nasibnya, kristal benih mengalir pelan. Putra bingung mau menyalahi siapa? Memang betul berawal yang salah orang tuanya, terutama ibu, tapi yang kedua ... Putra mencela dirinya. Kenapa dirinya harus berdrama terlebih dahulu. Kenapa dirinya menyakiti Killa. Kenapa dirinya tidak langsung hidup bahagia bersama wanita yang dicintai. Kenapa dirinya malah menyalahi kepergian Killa dulu, kenapa dirinya tidak memberi pelukan hangat ke Killa.
Aku dan Killa sama-sama menjadi korban dari ibu. Tapi kenapa kembalinya Killa aku malah melukainya. Menumpahkan kekesalannya ke Killa, bukan ke ibu? Bodoh!
Putra mengepalkan tangan, napas naik turun, bergemuruh amarah.
***
__ADS_1
Saat malam-malam dirinya sedang menelpon Bella, bernada bermesra-mesraan. Mata Putra memperhatikan Killa, terlihat jelas dari punggung Killa naik turun, meski tertutup selimut, tapi masih nampak. Putra segera mengakhiri telephonya, beralasan dirinya hendak ke kamar mandi, padahal dirinya tidak sanggup melihat Killa menangis dibalik selimut.
Dan saat dirinya pulang dari Masjid. Putra masuk kamar, baru membuka pintu mata Putra melihat Killa yang sedang meringkuk di atas sajadah masih menggunakan mukenah, Putra tersenyum. Menghampiri Killa, duduk disampingnya sambil memperhatikan wajah cantik Killa, mengamati inci demi inci.
Mengangkat tubuh Killa untuk dipindahkan di ke kasur. Lagi-lagi Putra nengecup seluruh wajah Killa. Gemas.
Ketika Killa terbangun, Putra akan pura-pura marah, menyalahi Killa.
"Enak sekali ya, kamu! Tidur di ranjang ku!"
Killa yang baru bangun kebingungan, kenapa dirinya tidur di ranjang?
"Maaf, perasaan tadi aku nggak tidur disini. entah sekarang kenapa bangun sudah tidur disini."
"Ck, Alasan!"
Wajah takut dan bingung Killa, buat Putra gemas, Putra suka. Ah ... rasanya segera ingin memakan Killa segera, tapi Putra tahan, sampai masa pembalasannya selesai.
Hanya sebentar, dan ini hanya pembelajaran. Begitu pembenaran yang Putra pegang.
Putra kemudian mengangkat Killa untuk pindah di ranjang. Mencium Killa ketika sedang tidur buat candu Putra. Putra melakukan lagi. Menciumi tanpa ampun. Berakhir Putra akan tidur sambil memeluk tubuh Killa seperti guling. Sebelum Killa bangun, Putra akan bangun terlebih dulu.
Dan ketika Killa bangun, Putra berdrama lagi. Memarahi Killa, kenapa tidur di ranjang.
***
Benar ekspektasi tidak seusai realita.
Putra berniat ingin mengakhiri semua drama itu. Sebagai tanda perpisahan dengan Bella dan sebagai tanda perpisahan drama perselingkuhan. Putra melakukan hal yang sama, bermesra-mesraan di depan Killa, pas, di hari libur.
Putra tidak mengira hari terkahir berdrama malah menjadi hari petaka untuk dirinya. Putra tidak menyangka jika Killa akan melakukan bunuh diri didepan matanya. Putra lupa jika kesabaran manusia itu berbeda, Putra lupa jika Killa punya kebatasan kesabaran.
__ADS_1
Mengingat kejadian itu Putra kecewa ke dirinya.
Ah ... Bodoh!
Putra menggeprak ranjang kesakitan.
***
Putra suka ke Killa sudah sejak dulu, dulu ketika Putra sedang duduk di kelas sembilan sekolah menengah pertama.
Berawal saat Putra memergoki Killa yang sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu ngikutin, aku?" Putra mengkerut kan dahi.
"Tidak!" Killa kelabakan, tertangkap basah. Mata terbelalak.
"Bohong! Terus ngapain kamu kesini?" Putra memberi tatapan tajam ke Killa.
"Aku ... anu, anu." Bingung sendiri mau jawab apa.
"Anu, apa!"
"Hmmm, anu!" jarinya menujuk keatas kebawah. "Ha, aku mau ke kamar mandi, tapi salah masuk, ah bodohnya aku!" Memukul kening, berbalik badan langsung berlalu pergi meninggalkan Putra.
Sejak itu Putra selalu memperhatikan Killa. Putra jadi tahu, ternyata dirinya sering diperhatikan oleh gadis kecil yang bernama Killa.
Killa yang mempunyai sifat nakal, bandel tapi lucu. Killa suka berangkat sekolah telat dan berakhir di hukum oleh guru BK. Suka tidak mengerjakan PR dan berakhir lagi di hukum oleh guru pelajaran, masih banyak kenakalan Killa. Yang bikin Putra gemas, meski Killa di hukum, dia tidak merasa marah, bete, atau sedih. Tidak! Killa malah terlihat bahagia, ketika sedang di hukum lari memutari lapangan, dengan suka cita Killa ketawa terbahak bersama Kiara. Seperti tidak ada beban hidup.
Hal itu buat Putra gemas dan benih benih cinta tumbuh. Tapi Putra jago menyembunyikan rasa sukanya Ke Killa, tidak mengungkapkan langsung. Dipendam nunggu waktu yang tepat.
Hingga akhirnya kepulangan Killa setelah merantau, Putra dengan semangat yakin ingin menikahi Killa, apalagi ditambah Killa sudah menjadi wanita yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Buat Putra gencar ingin memiliki Killa.
__ADS_1
Bersambung ...