Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Pindah rumah.


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, dan indah untuk sepasang kekasih pengantin baru.


Killa tidak menyangka ternyata mimpinya bisa terwujud, dan kini dirinya sudah sah menjadi istri Putra. Berapa banyak cobaan yang Killa lalui, mulai dari kabur menjelang pernikahan karena dapat cacian dari sang ibu Putra dan kini malah Killa sudah sah menjadi istri Putra, entah ... Apakah ibu Putra suka atau tidak! Killa berbuat sejauh ini, sampai menikah, karena satu alasan, CINTA. Killa akan berusaha melunakkan hati sang mertua agar menerima dirinya.


Killa ingin menjadi istri yang baik untuk Putra. Killa membuatkan kopi untuk Putra lalu duduk disampingnya, menemani ngobrol, sementara tangan Putra melingkar di pundak Killa dan tangan yang satu memainkan rambut Killa, hal sederhana, tapi bisa membuat Killa bahagia, senang, tersipu. Uwu!


"Terimakasih, kamu sudah mau memaafkan kesalahan ku. Dan mau menerima aku lagi. Terimakasih banyak sudah menjadikan aku istri kamu. Aku sangat bahagia, aku merasa aku wanita yang bahagia di seluruh dunia." Killa memegang tangan Putra.


"Ssstt," menaro jari telunjuknya di bibir Killa. "jangan dibahas, kau pantas bahagia. Dan aku juga merasa aku laki-laki beruntung di seluruh dunia ini bisa menikahi wanita seperti kamu. Terimakasih juga, sudah mau menjadi istri ku." Putra memeluk Killa, tidak lupa mencium kepala Killa, soswet!


Eh, Putra dan Killa! jangan bikin author terdzolimi napeh! eh, curhat! :v


***


Di saat sedang sarapan, Putra berkata akan membawa Killa pindah kerumah miliknya. Ucapan Putra membuat kedua orang tua Killa kaget.


"Apa tidak terlalu cepat nak Putra, tinggallah disini dulu, jangan terlalu terburu-buru. Rasanya Bapak masih belum siap melepaskan Killa pergi dari Rumah ini nak. kasihan Ibu, ibu masih rindu dengan Killa." Ucap bapak Killa mencegah Killa dibawa pindah kerumah Putra.


"Iya betul nak Putra, ibu baru saja bisa bersama dengan Killa, masa harus pisah lagi." timpal ibu.


"Bu, pak, Putra hanya ingin membangun rumah tangga agar mandiri, makanya lebih cepat lebih baik, Putra dan Killa pergi meninggalkan rumah ini dan pindah ke rumah Putra. Ibu dan bapak jangan khawatir, rumah Putra 24 jam selalu terbuka untuk ibu, bapak dan Vino. Rumah Putra juga dekat dari sini, Maaf iya bu, pak, bukanya Putra ingin memisahkan antara Killa dan Ibu, bapak. Putra hanya ingin membimbing bahtera Rumah tangga agar bisa mandiri. Kami berdua sudah membicarakan ini, dan Killa pun setuju, tapi itu terserah ibu dan bapak. Putra menerima apapun keputusan ibu dan bapak." Ucapnya penuh kelembutan. Membuat yang mendengar akhirnya mengizinkan Killa tinggal di Rumah Putra. Toh itu rumah Putra sendiri, bukan Rumah orang tua Putra.


Lagian benar juga kata Putra, biar mandiri membina hubungan rumah tangganya, tanpa campur tangan dari pihak kedua orang tuanya. Ibu dan Bapak sama sama berpikir seperti itu.


Putra sangat romantis, perhatian dan penuh kasih sayang. Mau pindah ke rumah yang dimiliki saja, Killa tidak boleh mempacking bajunya, dan barang barangnya. Putra yang melakukan mempacking.


Yang dibawa ke rumah Putra tidak banyak, karena di Rumah Putra semuanya sudah komplit terisi. Hanya membawa baju dan perlengkapan make up, Skin care yang Killa punya. Selain itu tidak ada yang dibawa. Bahkan kado- kado pernikahannya pun tidak dibawa, terbuka saja belum, semuanya masih rapih terbungkus kertas kado. Belum sempat unboxing.


Namun kelembutan, keromantisan, perhatian, kasih sayang itu sirna. Entah kenapa dengan Putra? selama dalam perjalanan ke rumah Putra, Putra berubah bersifat dingin, obrolan saja tidak ada. Setiap Killa berusaha mencairkan suasana Putra tidak menggubrisnya. Membuat Killa kikuk, risih.


"Ada apa dengan kamu, mas?" tanya Killa, berusaha mencari tahu apakah Putra sedang ada masalah.

__ADS_1


"Ada apanya?" balik bertanya dengan nada ketus dan tidak mau menengok ke arah Killa.


"Apa kamu punya masalah?" lanjutnya dengan takut-takut.


"Tidak!" masih dingin.


" Apa aku melakukan kesalahan?" Killa menatap Putra penuh tanda tanya besar. Killa mengira kalau perubahan Putra karena dirinya melakukan kesalahan kepadanya.


Putra tiba tiba mengerem secara mendadak membuat Killa kaget.


"Apa kamu tidak bisa diam!" Menatap tajam ke arah Killa.


Deg! jantung Killa berdebar sangat kencang. Takut dengan bentakan Putra. Ulu hatinya terasa nyeri, sakit dengan sikap Putra yang berubah drastis.


Di diamkan, di acuhkan saja sudah membuat Killa sesak, takut, apalagi ditambah dengan bentakan?


Ada apa dengannya?


"Maaf kan aku." Killa menunduk, rasanya berkecamuk. Susah dideskripsikan kesedihannya. Killa merenung, apakah dirinya melakukan kesalahan? Killa terus mengingat, Tapi perasaan Killa tidak melakukan kesalahan apapun kepadanya. Lalu kenapa dengan Putra?


"Ini kamarnya, silahkan kau rapihkan barang barang kau." Hanya itu yang di ucapkan tanpa ekspresi yang menyenangkan, lalu pergi ke dapur.


Apa yang dirasa Killa, campur aduk, bingung, takut, sakit dengan sikap Putra.


Hal itu masih wajar, dan kini ada yang lebih menyakitkan dari itu semua. Saat Killa sedang merapihkan bajunya di masukan ke lemari baju, bel rumah bunyi,


Killa diam sejenak, bertanya pada diri sendiri, siapa yang datang? Bukanya dirinya baru pindah kemari dan belum memberi tahu siapa-siapa kecuali kedua orang tuanya dan kedua orang tua Putra.


Siapa yang bertamu? Apa itu orang tuanya mas Putra?


Karena feelingnya itu orang tua Putra,

__ADS_1


Killa buru-buru untuk membukakan pintu.


Ketika pintu di buka Killa kaget, shock. Yang datang wanita cantik berambut panjang di guraikan, dres warna merah, dengan make up tipis tapi terlihat sangat cantik, menarik.


"Si--siapa anda? Mau mencari siapa?" tanya Killa yang berusaha tersenyum, meski didalam hatinya bertanya tanya.


"Saya Bella," tersenyum.manis sambil mengulurkan tangannya. Sedangkan Killa ma si mematung, masih shock.


"Apa mas Putranya ada? Apa kamu pegawai baru disini?" Ucapnya lagi.


Ucapannya mampu menggetarkan hati Killa, ucapannya sepertinya dia sering ke rumah Putra, tapi siapa dia? Apa dia temanya Putra, Killa tahu persis, Putra tidak punya kerabat yang bernama Bella, apalagi secantik ini. Gerak gerik Bella seperti sering ke rumah Putra, berarti Putra suka berdua-duan denganya dong. Berduan dengan wanita cantik. Pikiran Killa pun yang nggak-nggak tentang Putra dan wanita yang didepanya.


"Hallo mba?" Mengibaskan tanganya di depan wajah Killa yang terpaku, melongo.


"Oh iya--iya." Killa gelapan, kaget "mas Putra ada, silahkan masuk, nanti saya panggilkan beliau." Killa tersenyum.


"Iya, sayang... kamu sudah datang?" ucap Putra tersenyum bahagia. Saat Bella mau masuk dan Killa memutarkan badan ingin memanggil Putra, tiba-tiba Putra muncul lalu berucap seperti itu. Membuat Killa semangkin shock.


"S--sa--sayang!" Killa mengeryit kan dahi dan mulut terbengong.


"Hehe, iya sayang, seperti yang kamu lihat." jawab Bella dengan nada manja.


Hah! dia juga panggil sayang ke Putra?


Bersambung...


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukung penulis dengan kasih vote, like, komentar yang baik. Biar sang penulis semangat nulisnya.


Salam hangat dari Push🤗


__ADS_2