Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Tulus


__ADS_3

Kiara mengantar Killa sampai ke lobby mall. Kiara memeluk Killa dengan erat dan juga menitipkan Killa ke Ray dan Nadia.


Pertemuan ini adalah sebuah kebahagian yang berlipat ganda, Meski pertemuan Kiara dan Killa tidak bisa mengobrol lebih lanjut, tapi setidaknya Kiara sudah bisa lihat Killa baik-baik saja. Rasa khawatir,cemas, marah, sirna sudah.


Kiara adalah sahabatnya Killa, saat dengar Killa kabur dari Rumah, dia satu-satunya teman yang sangat khawatir, kiara berusaha semaksimal mungkin untuk mencari Killa, Kiara juga mendatangi tempat kerja Killa dan menanyakan keberadaan Killa ke rekan kerjanya Killa, tapi usahanya tidak membuaahkan hasil, BAHKAN Kiara sampai drop, karena terlalu khawatir dan capek mencari Killa kesana kemari. Dia marah ke Killa, kenapa Killa tidak memberitahukan kepadanya? kenapa ada masalah malah kabur? Kenapa Killa tidak berbagi cerita? bukanya sesorang sahabat itu harus jadi tempat keluh kesahnya? nomornya Killa saja tidak bisa dihubungi. bagaimana tidak Marah dan khawatir?


Saat ini Kiara sangat bersyukur bisa ketemu dengan Killa tanpa di sengaja, ketika Killa dan rombongan Ray sedang jalan terburu-buru ingin pulang mengobati kaki Nadia. Memeluk Killa erat, susunan amarah yang sudah disusun Kiara untuk diluapkan memarahi Killa ketika berjumpa, malah dia melupakannya, Yang tersisa meluapkan rasa rindu, khawatir yang selama ini di pedam. Rasanya Kiara ingin mengobrol dengan Killa lebih lama, keadaanya tidak tepat, Killa sedang terburu-buru, akhirnya hanya bertukar nomor telepon.


Mobil Ray yang dibawa oleh Ifan berhenti tepat didepan Ray,Killa, Kiara, dan Nadia. Ifan turun lalu membukakan pintu mobil belakang. Killa dan Kiara menumpu jalan membantu Nadia masuk ke mobil, setelah Nadia sudah duduk dengan nyaman, Killa masuk lalu mendudukan tubuhnya disebelah Nadia.


Salah satu Bodyguard yang dari tadi mengikuti, dia menarik kursi roda untuk mengembalikan lagi ke petugas Mall.


Kiara menutup pintu mobil dengan pelan lalu kemudian kaca mobilnya terbuka dengan sendiri. Ray pamit ke Kiara untuk masuk ke mobil, Ifan juga pamit masuk ke mobil. Kiara mengiyakan.


"Hati hati di jalan, bye. Sampai berjumpa lagi," Kiara melambaikan tangan kearah Kiara dan Nadia. Killa dan Nadia membalas lambain tangan, sambil tersenyum lebar.


Ifan menyalakan mobilnya melajukan mobil dengan kecepatan sedang lalu membunyikan klakson bertujuan pamit, begitu juga mobil yang di belakang yang ditumpangi orang-orangnya Ray, membunyikan klakson juga.


Setelah melihat mobil Ray dan rombongannya sudah tak terlihat, Kiara berjalan masuk ke mall.


Tak menyangka selama di lobby ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh kebencian "aku pastikan, kau akan segera lenyap! " ucap seseorang wanita berkaca mata Hitam, dengan mengepalkan tangannya, geram.


***


Killa membantu Nadia jalan masuk ke kamar, awalnya mau ke Klinik, Nadia menolak, merengek terus agar tidak dibawa ke rumah sakit atau ke Klinik. Akhirnya Ray pun mengiyakan rengekan Nadia, tapi ya gitu Ifan, paham apa yang di mau oleh Ray.


Ifan segera menghubungi Frans disaat tengah perjalanan dengan pesan singkat.


[Cepatlah datang ke Rumah tuan Ray , dan bawalah dokter wanita, kaki Nadi terkilir]


Ray mengikuti Nadia, mengekor dibelakangnya, begitu juga dengan Ifan, sendari tadi Ray menawarkan untuk membantu Nadia, tapi Nadia menolak. Nadia hanya mau di bantu oleh Killa.


"Ngapain kaka masih disini? "


tanya Nadia, Nadia sudah masuk ke kamar, dan duduk selojor diatas kasur.


"Mau jagain kamu, sampai Frans datang. Pertanyaan mu konyol!" tukas Ray lalu mendudukan tumbuhnya di tepian tempat tidur.


" Untuk apa jagain aku? lagian ada ka Killa! apa kaka lupa? ini sudah masuk magrib dan bentar lagi isya!" tukas Nadia dengan berkacak pinggang.


Ray menepuk keningnya "astaga, kaka lupa " Ray beranjak. Sebelum melangkah ia mencium kening Nadia terlebih dahulu "Kaka sayang dan cinta ke kamu, jangan bantah kaka, kaka memanggil Frans demi kebaikan kamu."


Nadia yang suka bolong-bolong sholatnya, sekarang dia sudah berubah, dia selalu menjalankan sholat wajibannya, tidak pernah ketinggalan. Kehadiran Killa menumbuhkan hal positif untuk Nadia, dan juga Ray dan Ifan.

__ADS_1


Selama Nadia menginap di Rumah Ray ia selalu menegur kakanya dan Ifan agar menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Awalnya Ray dan Ifan kesal dengan perintah Nadia yang terus terusan, crewetnya minta ampun, tapi dengan berjalanya Waktu. Hal itu sudah jadi hal biasa, tanpa disuruh pun, Ray dan Ifan dengan sendirinya menjalankan kewajibannya, walau terkadang masih lupa.


***


Suara burung berkicau di luaran sana menemani malam ini yang syahdu. Ray yang sedang duduk disofa Ruang tamu merasa kesal dengan Frans yang tak kunjung datang. Tidak berapa lama terdengar suara mobil dihalaman Rumah Ray.


"Selamat malam kaka ipar. " sapa Frans yang baru masuk, dan dibelangkanya ada Dokter perempuan yang mengekor.


"Selamat malam tuan." ucap Dokter wanita dengan membukuk kan badan.


Ray menyautkan alisnya, lalu berdecih "kaka ipar? kaka ipar nenekmu! " kesal Ray " malam juga dok." imbuh Ray tersenyum ke dokter wanita.


Frans ketawa mendengar sahabtnya kesal, Ifan memandang Frans dengan tatapan sinis.


"Ampun Fan, ampun." Frans mengaptukan kedua tanganya. Lalu ketawa "haha. gue takut Fan! Haha." Ifan ya Ifan, orang yang tidak suka jika tuan Ray sampai marah, orang yang tidak suka senda gurau dimasa pelik seperti ini.


"Tidak usah banyak bercanda! kau, Lama sekali datangnya. Hah! " Ray geram.


"Maaf bos, jalanan macet sekali." Frans tersenyum.


"Cih! alasan tak masuk akal! Memang semacet apa sampai selama itu. Hah? Jarak tempat kerja kamu dan rumah ini deket! apa kamu sudah bosan jadi Dokter!" timpal Ray geram, dengan berjalan menuju kamar Killa. Karna Nadia selama tinggal di Rumah Ray ,dia tidur bersama Killa.


"Maaf bos, aku baru baca pesan Ifan tadi, setelah selesai operasi pasien, membaca pesan Ifan aku langsung melaju kesini, aku sangat khawatir dengan Nadia. Sialnya jalanan macet, boss. Aku kesini pas jam pulang kerja! " jawab Frans sembari mengikuti langkah Ray


"apa kau tidak tahu? adiku sedang kesakitan, hah!"


"Maaf Tuan. Maafkan aku." Ray tidak tahu bagaimana paniknya Frans saat baca pesan singkat dari Ifan, dia seperti kesetanan, dia langsung menarik dokter wanita yang hebat untuk ikut, dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dengan ugal-ugalan, sialnya terjebak macet, yang bisa Frans lakukan didalam mobil hanya memukul-mukul setir, dengan mericuh mencaci maki kemacetan. ada kelelawar yang bertebaran di langit dan terlihat dari kaca mobil saja, Frans berucap ngawur, dia pengin merubah kelelawar itu jadi besar biar bisa dinaiki terbang oleh Frans, agar cepat nyampe ke rumah Ray dan dia juga berucap andai Frans punya kantong ajaib seperti doraemon dia pengin bikin pintu yang bisa langsung masuk kerumah Ray.


Ray tak mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu kamar Killa. Mata Ray begitu bahagia saat melihat Nadia duduk bersandar ke sandaran ranjang dan Killa duduk di tepi ranjang pas dibagian kaki Nadia, Killa sedang mengoleskan obat oles ke kaki adik kesayangannya, dengan dibumbui obrolan yang buat Nadia dan Killa ketawa. Sangkin asyiknya mereka berdua tidak dengar suara pintu kamar terbuka.


Frans tak segan segan menyapa Nadia dan Killa, padahal dirinya habis dimarahin Ray habis-habisan. Frans sangat khawatir dengan Nadia. Sapaan Frans membuat Killa dan Nadia kaget saat melihat banyak orang yang sudah masuk kamar.


"Kenapa Dengan calon istriku? kenapa sampai terkilir? " goda Frans ke Nadia. Membuat Nadia melotot dengan tangan mengepal menghadap muka Frans, Frans terkekeh melihat tingkah laku Nadia yang marah, bagi Frans pose seperti itu, Nadia sangat menggemaskan.


Dokter wanita yang dibawa Frans mulai memeriksa Nadia. Keseleo yang dialami Nadia Tidak terlalu parah, apalagi sudah mendapatkan pertolongan dengan dioleskan gel pereda nyeri. Obat gel yang di belikan Ifan tadi mengandung


Counterirritant (seperti metilsalisilat, mentol, dan camphor) yang menimbulkan sensasi dingin yang mengalihkan fokus dari rasa sakit.


Namun tetap Nadia kakinya diperban yang teksturnya elastis. Dokter itu ambil bantal untuk alas kaki Nadia, biar posisi kaki Nadia lebih meninggi, Dokter memberi resep obat pereda nyeri untuk Nadia, kemungkinan besar rasa nyeri itu akan kambuh jika tidak diberi obat yang diminum.


"Tuan Ray, saya menyarankan untuk nona Nadia, Berhentilah melakukan aktivitas atau gerakan yang dapat memperparah cedera, setidaknya dalam waktu 2-3 hari. Perbanyak istirahat dulu." tutur dokter. Ray pun mengiyakan.


Setelah itu mereka bareng bareng makan malam. Setelah makan malam dokter wanita itu pulang dengan diantar supir Ray. sedangkan Frans tidak segera pulang, karena disuruh Ray untuk ikut kumpul bareng kekumpulan Alex dan Gio. Frans pun dengan senang hati mengiyakan.

__ADS_1


***


Barang belanjaan yang Nadia beli ternyata bukan untuk Nadia, semuanya untuk Killa.


"Nih buat kaka."Nadia tersenyum, dengan menyodorkan paper bag ke Killa.


"Untuk kaka? " menunjuk ke dirinya "Bukanya ini yang tadi baru kamu beli? Kenapa buat kaka?" jawab Killa, menolak paper bag yang diberikan Nadia.


"Iya. ini, yang tadi baru aku beli, aku beli ini sengaja untuk kaka, terimalah," Nadia tersenyum lebar.


Killa menerima paper bag itu,


"kenapa kau lakukan ini? " Killa masih bingung dan juga tidak enak hati, lagi. menerima perilaku baiknya Nadia dan Ray yang selama ini.


"Karena aku sayang kaka. Hehe.


Ini sebenarnya dari ka Ray. Ka Ray yang menyuruh si." menyengir.


"Tuan Ray?" mulut Killa membentuk huruf 'o' mengangah.


"Iya, kaka! Kaka yang beri aku ide seperti ini." menyengir lagi. "Sudahlah ka. Itu hadiah untuk kaka, cobalah kaka pake, sepertinya cocok dipadukan dengan pakaian kaka."


Nadia langsung meraih paper bag di tangan Killa, lalu membuka semuanya dan mengambil isi paper bagnya.


Sebuah sepatu yang berwarna putih dan tas jinjing berwarna abu-abu, jam tangan elegan berwarna hitam, bahkan Hape yang tadi Nadia beli yang Killa pikir untuk Nadia sendiri ternyata untuk dirinya.


Bagaimana Killa tidak kaget, diberi barang sebanyak itu, bahkan harga barangnya tidak murah, semua barang barangnya yang bermerek terkenal kemahalnya, branded. Dan sebuah hape pengeluaran baru dari salah satu perusahaan hape yang terkenal. Padahal hape milik dirinya masih bagus dan beli juga baru 6 bulan yang lalu. Iya si, meski hape dirinya tidak sebagus hape yang baru dikasihkan oleh Nadia yang dari Ray.


"Cobalah pakai sepatu ini, sepertinya cocok untuk kaka. Ini hanya sebuah pemberian kecil,ka. Jadi kaka harus menerima! ini rasa terimakasih ka Ray ke Kaka, kaka selama ini sudah sangat baik sama aku, memberi perhatian yang luar biasa, kasih sayang kaka yang di beri ke aku itu lebih besar dari pada ini." Nadia berucap dengan mata berkaca kaca.


Selama Killa kenal dengan Nadia, Killa selalu memberikan kasih sayang yang dalam, tanpa di buat buat, tulus dari hati. Seperti kaka kandung yang sayang ke adiknya. Membuat Nadia bahagia mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari orang yang baru dikenal.


Killa lalu memakai sepatu itu, sepatu yang diberi Nadia pas di kaki Killa


"Terimakasih banyak Nad. apa ini tidak beelebihan, rasanya aku tak pantas mendapatkan ini semuanya."


Nadia menggelengkan kepala dengan tersenyum lebar, " Ini tidak berlebihan, kaka pantas mendapatkannya."


Bersambung...


.


.

__ADS_1


Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote dan komentar yang positif. Terimakasih, salam hangat dari Push🤗🥰


__ADS_2