Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Pantai


__ADS_3

Killa mengusap sisa air matanya di pipi dengan kasar, kemudian membuang ingus dengan tisu.


Killa tidak mau lama-lama larut dalam kesedihan, tersenyum getir meratapi nasibnya yang malang. Menarik napas panjang dan dalam untuk menetralkan suasana hati yang sedang kacau balau.


"Sekarang ini dimana, pak?" tanya Killa serak setelah mengedarkan pandangan keluar lewat jendela kaca mobil, Killa tidak terlalu paham sekarang dirinya berada.


"Jl. Merdeka nona, pinggiran Ibukota," jawab supir ragu-ragu, takut salah karena dibawa muter-muter dan berimbas dirinya kena semprot.


"Apa!" Killa kaget, mata yang sembab tidak bisa melotot, hanya mengangah. "Kenapa sampai kesini, pak?" imbuhnya dengan suara meninggi.


Tuh kan benar!


"Maaf nona, saya tidak tahu mau bawa nona kemana, sementara mau bertanya---," sang supir menggantung ucapannya takut menyinggung perasaan nona Ray.


"Iya, mau bertanya, tapi kerena saya menangis! Kalau begitu tolong antarkan saya ke pantai yang dekat daerah sini ya pak,"Killa yang paham jika sang supir ingin menyalahkan dirinya.


"Hah! pantai?" sang supir kaget jadi mengerem mendadak membuat Killa terjedut punggung jok.


"Awww, pelan-pelan pak," Killa mengusap kepala yang terkena jedutan.


"Maaf non, saya panik. Nona tidak apa-apa kan?" sang supir menengok kearah belakang, melihat kondisi Killa.


"Tidak apa-apa."


"Ini beneran jadi ke pantai?" tanya sang supir takut, pantai? sang supir mengira Killa akan menenggelamkan diri ke pantai. Tidak, jangan!


"Iya pak, butuh penenang." jawab Killa sendu. Pantai tempat terakhir Ray bisa meyakinkan Killa untuk membuka hatinya lagi.


Menghempaskan napas lega, ternyata hanya untuk menenangkan. "Saya kira nona mau bunuh diri ke pantai,"


"Saya tidak sebodoh itu pak, saya masih waras," jawab Killa berat. Padahal tadi Killa sempat berpikir seperti itu, tapi otak waras Killa yang mengingatkan, tidak mau melalukan hal konyol macam tuh lagi.


***


"Nona, sudah sampai,"


Killa bersegera mengambil beberapa lembar uang tanpa menghitung menyerahkan ke supir taksi, " terimakasih, pak," ucap Killa, dan Killa langsung keluar.


"Nona, ini kebanyakan!" teriak sang supir melongok di jendela kaca mobil.


Mendengar teriakan, Killa menengok ke arah belakang "kembaliannya buat bapak aja, tanda terimakasih bapak sudah ngajak saya muter-muter," jawab Killa. Killa bodo amat dengan bayaran taksi berlipat-lipat kali ganda, toh itu bukan uang Killa, melainkan uang Ray.


Meletakan tas di atas pasir, dan Killa duduk melepaskan sepatu yang dikenakan. Berjalan menelusuri bibir pantai, mencari tempat sepi pengujung.

__ADS_1


Menatap langit yang menampakan senja, melakukan hal yang sama bersedekap sambil menikmati sinar senja yang merah merekah.


"Kamu tahu nggak kenapa senja menyenangkan? kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia gelap berduka. Namun, langit selalu menerima senja apa adanya. Begitupun aku, aku menerima kamu apa adanya. Aku tidak peduli jika kau janda dan kasta kita berbeda. Cinta tetap cinta, aku suka kamu dari kekurangan mu dan kelebihan. Jadi apa kamu mau jadi pendamping hidup ku."


Mengingat perkataan Ray, kristal bening keluar dari sudut mata Killa.


Ucapanmu dan perbuatan mu terlalu manis, buat aku terbuai dengan rayuan busukmu! batin Killa.


"Berilah aku kesempatan untuk mengisi hati kamu, Kill. Aku berjanji tidak akan menyakiti kamu. Aku akan berusaha melindungi kamu. Jika aku sampai melukai mu, kau boleh membunuh aku."


Killa tersenyum getir.


Berilah aku kesempatan untuk mengisi hati kamu, Kill. Mengisi hati untuk melukai ku! Jika aku menyakitimu kau boleh membunuh ku. Batin Killa lagi sambil menggigit bibir bawahnya.


"Bodoh! Sebegitu mudahnya aku percaya dengan ucapan lelaki. Haha."


Killa berteriak keras memaki, mengumpat dirinya dan Ray. Killa benci dirinya dan juga benci dengan Ray. Air mata membasahi pipi Killa lagi. Killa menggelosor duduk bertumpu dengan lutut memukul-mukul pasir pantai. Seakan-akan itu pasir Ray.


Daffa, yang pas berada di pantai yang sama, ia samar-samar melihat wanita yang dicintainya. Mendekat dan ternyata itu ...,


"Killa!"


Tanpa pikir panjang Daffa langsung lari menghampiri Killa yang sangat menyedihkan. Daffa khawatir dengan Killa, kenapa Killa sebegitu menyedihkan ada apa dengannya?


***


"Syakilla! Syakilla! Sayang!" teriak Ray saat sudah masuk rumah orang tua Killa.


Ibu dan bapak kaget dengan kedatangan Ray yang tiba-tiba dan lebih kagetnya Ray teriak memanggil nama Syakilla.


"Ada apa, nak Ray?" tanya bapak.


"Syakilla ada disini, pak?" tanya balik Ray frustasi.


"Killa tidak kemari, nak. Emang Killa izin kemana, nak Ray?" tanya Bapak lagi, yang heran kenapa mencari Killa kemari, bukanya Killa pergi selalu bersama dengan pengawal. Kenapa tidak tanay ke pengawal penjaga Killa? pikir bapak.


"Iya, nak, memang Killa kemana? Killa tidak kemari, coba ditelepon nak Ray." timpal ibu.


"Killa pergi, sudah ditelephone beberapa kali tidak diangkat." jawab Ray frustasi dengan mengusap kasar wajahnya.


Kemana kamu pergi, sayang? batin Ray.


"Coba hubungi pengawal Killa, nak. Mungkin hape Killa dalam mode diam tidak dengar kalau ada telepon jadi tidak di angkat," kata bapak santai sembari menepuk bahu Ray pelan. Menenangkan.

__ADS_1


"Killa pergi sendiri, pak. Killa pergi dalam keadaan marah," jawab Ray jujur.


"Marah?" ucap bapak dan ibu berbarengan. Dan Ray mengangguk pasrah.


"Apa yang membuat anakku marah, nak Ray tidak menyakitinya kan?" tanya bapak Killa ragu.


"Tidak," Ray menggeleng lemah, "aku sudah berjanji untuk tidak menyakitinya, mana mungkin aku menyakitinya,"


"Lalu?"


"Ada kesalahan pahaman, kalau begitu Ray pergi dulu mau cari Killa, pak, buk." Memcium punggung tangan bapak dan ibu bergantian.


"Permisi pak, bu," ucap Ifan sembari membungkukan badan hormat lalu berlalu mengejar Ray yang sudah berlalu keluar rumah.


"Tunggu nak Ray, salah paham apa?" teriak bapak dengan mengejar Ray.


"Nanti Ray ceritakan, pak."


***


Di dalam mobil Ray bertanya ke Ifan apa anak buahnya sudah berhasil menemukan keberadaan Killa.


"Belum, tuan."


"Kemana kamu pergi, sayang?" ucap Ray sambil mengedarkan pandangan kanan-kiri mencari Killa.


Bodoh, Ray mengumpat kebodohannya, Ray baru ingat.


"Fan, kenapa tidak melacak keberadaan Killa, dia ka bahwa hape."


"Oh iya, tuan, bodoh!"


***


Ray menancap pendal gas mobil, melajukan mobil secepatnya. Pikiran Ray diselimuti ketakutan, takut Killa melompat ke dalam pantai.


Sampai di pantai Ray dan Ifan sama teriak-teriak memanggil Killa sambil menelusuri bibir pantai.


Badan Ray terkulai lemah melihat tas dan sepatu Killa terlongok diatas pasir.


"Syakilla ...," Ray memeluk tas dan sepatu Killa. Menangis. "Nggak, nggak mungkin ...," suara Ray bergetar air mata lolos keluar deras. Ray berlari ingin terjun ke pantai mencari Killa. Namun, Ifan segera mengejar lalu menahan Ray.


"Jangan lakukan, tuan!" pekik Ifan dengan sekuat tenaga menahan badan Ray tanh memberontak.

__ADS_1


"Lepaskan, istriku bunuh diri loncat ke pantai, Fan!"


Bersambung ...


__ADS_2