Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Malam Pertama.


__ADS_3

Lima mobil sedan, satu yang tumpangi Ray, Killa dan Ifan. Satunya lagi ditumpangi kedua orang tua Ray, Nadia dan supir. Dan lebihnya ditumpangi oleh pengawal. Memasuki halaman rumah mewah, besar, dan luas. Lima mobil terparkir rapih.


Rumah yang dulu pernah Killa tinggal didalamnya. Dalam kondisi menumpang.


Dan kini, Killa kembali lagi dirumah yang sama, tapi berbeda status. Dulu Killa hanya seekor serangga yang menggagu, sementara sekarang ... Killa, menjadi istri dari sang pemilik rumah.


Setelah acara pesta pernikahan, Ray meminta Killa langsung ikut pulang kerumah miliknya. Sebab itulah sekarang Killa berada didepan rumah Ray. Killa yang masih berada didalam mobil, mengamati rumah yang sama sekali tidak ada perubahanya.


"Ayok turun," ucap Ray, tersenyum. Setelah membukakan pintu mobil sambil mengulurkan satu tangan ke Killa.


Killa menerima uluran tangan Ray, lalu membalas senyumannya.


"Terimakasih," kata Killa setelah keluar dari mobil dan kini berjalan sejajar dengan Ray.


"Sudah kewajibannya sebagai seorang suami," menengok ke arah Killa, melempar senyum. Membuat Killa tersipu.


Pak Jay menyuruh semuanya untuk langsung beristirahat, karena sudah larut malam. Ifan dan Frans memilih menginap dirumah Ray, ketimbang harus pulang ke apartemennya. Mereka berdua langsung masuk ke kamar masing-masing.


***


Ceklek! Ray membuka pintu kamar.


Killa mengedarkan pandangannya, kamar yang dulu Killa sering bersihkan, sama, tidak ada yang berubah.


"Tak perlu grogi atau malu, Sekarang kau sudah sah menjadi istri ku, kamarku juga kamar mu," ucap Ray yang tahu persaan Killa. Ray melingkarkan tangan ke bahu Killa. Killa hanya membalas dengan senyuman malu.


"Aku akan membantu melepas gaun mu, sehabis tuh ... kau bisa membersihkan badan, handuk dan baju gantimu sudah disiapkan di atas meja itu," Ray menujuk kearah meja yang dimaksud, "Jadi kau tidak perlu mengambil baju didalam koper milik mu," tanpa menunggu jawaban persetujuan dari Killa, Ray langsung melepas sleting gaun yang melekat ditubuh Killa, yang terletak dibagian punggung.


"Tuan!" Killa terperanjak, kaget.


"Maaf, aku hanya membantu," Ray menyadari kalau Killa merasa risih. "Bersihkan badan mu segera, aku akan membersihkan badan di kamar mandi lain." Ray berlalu pergi meninggalkan kamar.


Killa hanya memandangi kepergian Ray.


Karena sleting sudah dibuka. Killa dengan mudah melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya. Killa mengambil handuk yang sudah terletak rapih diatas meja, disamping handuk juga ada satu set baju lengkap dengan baju dalam.


***


Setelah mandi Ray tidak langsung masuk ke kamar. Ray, masuk dulu ke dapur. Membuka lemari es, mengambil susu kotak berwarna biru, berukuran 1000ml. Menuangkan susu putih kepanci, kira-kira cukup satu satu gelas. Kompor dinyalakan untuk mengangati susu yang dingin. Ray melakukan itu tanpa minta bantuan ke pelayan rumah. Karena itu spesial untuk sang istri. Uhuy!


Ray kembali ke kamar dengan membawa segelas susu. Killa pun yang sudah selesai mandi, dan saat Ray masuk. Killa sedang duduk di atas sofa. Saling bertatap kenuduan saling melempar senyum.

__ADS_1


Ray duduk menyebelahi istrinya.


"Minumlah," menyodorkan segelas susu ke Killa.


"Untuk saya," menujuk kedirinya. Dan Ray mengangguk. Lagi-lagi Killa menerimanya dengan malu-malu. "Terimakasih banyak."


"Sama- sama istriku," tersenyum jail. Membuat wajah Killa tersipu.


Kemudian Killa menenggak susu pemberian dari Ray sampai tandas, tanpa tersisa. Killa beranjak, ingin menaruh gelas kotor ke dapur, tapi dicegah Ray.


"Tak perlu ke dapur," Ray merebut gelas kotor ditangan Killa, "taro dulu di nakas, besok baru di taro di dapur, sudah malam." Dan Killa hanya menyengir kuda sambil mengangguk.


Ray mengajak Killa untuk melaksanakan dua sholat Sunnah.


"Sudah berwudhu?"


"Sudah," mengangguk kecil sambil tersenyum.


Ray dengan semangat tinggi, menggelar sajadah untuknya dan untuk Killa.


Ray dan Killa melakukan sholat sunnah dua rakaat. Ray yang menjadi imam.


Setelah Killa selesai mencium tangan Ray, tanda hormat istri ke suami, tangan kanan Ray memegang ubun-ubun sang istri dan tangan satunya mengadah keatas.


Ray mengucapkan basmalah, mendoakan keberkahan untuk Killa, yang kini sudah berstatus istrinya.


"Allahumma barikly fiyha wa barik laha fiy."


(Ya Allah, berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya.)


"Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi."


(Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.)


***


Rasa malu, canggung, risih, kaku dan grogi pasti ada. Bukan Killa saja yang merasakan, Ray pun demikian.


Karena masih malu, Killa sampai tidak melepaskan hijabnya. Malu dan masih canggung.


Ray menepis rasa canggung itu, Ray mengajak ngobrol ringan dengan Killa yang kini sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dalam satu selimut bersama. Batal guling menjadi penghalang jarak diantara mereka berdua.

__ADS_1


Mengobrol dari yang tidak penting, sampai mengobrol ke obrolan garing, tak guna. Menanyakan pekerjaan Killa yang menjadi pelayan toko perhiasan, padahal obrolan itu sering diobrolin sebelum masa kini. Rasa canggung itu membuat obrolan terasa hambar, tak enak.


Karena Ray ingin menepis rasa canggung itu, Ray menyingkirkan kedua bantal guling. Menggeser tubuhnya mendekat ke sang istri. Menarik sang istri kedalam pelukanya.


Dag dig dug, suara detak jantung yang begitu keras, bukan milik Killa saja, jantung Ray pun berdetak lebih kencang.


Killa menggrutuki dirinya, kenapa dirinya harus canggung sepeti baru pertama kali merasakan pernikahan. Seharusnya Killa tidak merasakan hal itu. Karena bukan hal yang pertama. Tapi kenapa dulu saat malam pertama dengan Putra, Killa tidak merasakan secanggung ini?


Mungkin, karena terasa sangat grogi, membuat suara ledakan keras berbunyi dibagian belakang bawah tubuh Killa keluar.


Dut ... suara itu sangat keras.


Blush. Wajah Killa berubah menjadi sangat merah, seperti ketumpahan blush on. Killa malu, sangat malu. Kenapa di kondisi seperti Killa harus kentut. Malu bukan main.


kentut! kamu jahat! kenapa kau harus keluar dalam kondisi seperti ini. Ah ... rasanya ingin pindah planet!


Drama malam pertama macam apa ini!


Killa menunduk, meremas-remas selimut. Malu-malu-malu-malu-malu!


"Tolong keraskan suaramu barusan, aku tidak mendengarnya. Aku hanya sedikit mendengar kerjaan ... selanjutnya aku tidak mendengar." Ray berpura-pura menjadi tuli, Ray sengaja seperti itu agar jangan membuat Killa malu atas insiden barusan. Jujur Ray tadi mendengarnya, sekuat tenaga pun Ray menahan jangan sampai ketawa. Menjaga perasaan sang istrinya yang sudah pasti malu.


Killa merasa lega, Ray tenyata tidak mendengar suara ledakan bom barusan.


"Kerjaan ... sangat menyenangkan. Semua teman-teman baik, begitu juga atasan. Saya suka kerja disitu, tuan." jawab Killa antusias menjawab. Senyuman bahagia terlihat. Bahagia Ray tidak mendengar. Sungguh sangat bahagia. Rasa malu tadi yang singgah dihati, kini sirnah.


Bersambung ...


.


.


Push, mau ngucapin 'Selamat Hari Raya Idul Adha'


Tqaoballahu minna wa minkum.


.


Sebenarnya mau upload kemarin, tapi karena jaringan yang subhanallah, sudah bener, jadi hari ini upload.


,

__ADS_1


__ADS_2