
Harry yang sudah sampai di rumahnya , melemparkan botol-botol madu yang dibawanya tadi ke All Star Hotel sampai membuat botol kaca itu pecah dan mengeluarkan suara yang keras.
"Suara apa itu?" , tanya Caroline yang terkejut mendengarnya ketika dia memasak di dapur.
Karena tidak terdengar suara jawaban dari sana , Caroline berjalan keluar dari dapur dan menuju ke arah bunyi suara yang keras itu.
Ketika Caroline sampai di luar , terlihat ada madu yang berserakan di lantai dengan serpihan kaca disana.
"Pasti ini ulah Harry" , gumam Caroline dengan suara yang sangat kecil sambil berjalan menuju ke luar dengan hati-hati supaya tidak menginjak madu dan serpihan kaca.
"Sayang , kamu kenapa lagi?" , tanya Caroline dengan lembut.
"Itu adik ipar kamu , sudah dia gak mau berinvestasi di perusahaan madu aku , masa dia juga gak mau membeli madu aku. Katanya madu aku gak murni , dia hanya mau membeli madu yang murni saja" , ucap Harry dengan kesal.
"Makanya kalau kamu mau berusaha itu harus yang benar. Kalau kamu seperti ini terus , kamu gak akan bisa berhasil" , ucap Caroline.
"Aku udah usaha yang benar sayang , orang punya madu yang sama dengan aku formulanya saja bisa laku keras di pasaran. Kenapa aku punya gak bisa seperti itu?" , ucap Harry.
"Kenapa kamu gak membuat madu murni saja?" , ucap Caroline.
"Aku gak punya peternakan lebah sayang , modal aku terbatas , mana bisa aku mendapatkan madu murni sebanyak itu" , jawab Harry.
"Selama ini kamu dapat madunya dari mana?" , tanya Caroline.
"Aku belajar membuat madu dari teman aku" , jawab Harry.
"Aku mohon kamu jangan membuat madu palsu lagi sayang , nanti kalau ditangkap petugas yang berwajib , bisa panjang urusannya" , ucap Caroline.
"Kamu jangan menyumpahi aku dong. Teman aku yang sudah bertahun-tahun menjual madu seperti itu aja gak pernah ada masalah sampai sekarang. Bahkan dia sangat kaya raya dari hasil jualan madu saja" , ucap Harry dengan nada suara tinggi.
"Aku gak menyumpahi kamu , aku cuma gak mau nanti kamu terlibat dengan petugas yang berwajib. Gak lama lagi anak kita juga sudah mau lahir sayang , aku mohon kamu kerja yang benar" , ucap Caroline dengan nada suara yang tenang.
Harry hanya terdiam setelah mendengarkan perkataan istrinya.
Tidak lama tercium bau gosong disana.
"Astaga , ikan yang aku goreng pasti hangus" , ucap Caroline yang langsung berjalan dengan cepat untuk menuju ke dapur.
Karena dia mau bergegas , tidak sengaja Caroline malah terpeleset karena menginjak madu yang berserakan di lantai.
Membuat Caroline terjatuh dan terdengar suara "brukkkkkk".
Harry pun langsung berdiri dan melihat istrinya yang terjatuh di lantai.
"Sayang , ada darah di kaki kamu" , ucap Harry.
__ADS_1
"Anak kita sayang" , ucap Caroline.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" , ucap Harry yang mulai panik.
"Matikan kompor di dapur dulu sayang" , ucap Caroline.
"Iya...iya..." , jawab Harry yang langsung berlari menuju ke dapur dan mematikan kompor yang nyala dari tadi.
Setelah itu Harry berlari keluar dan melihat istrinya yang sedang meringis kesakitan.
"Sayang , perut aku sakit sekali" , ucap Caroline.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" , ucap Harry sambil membantu istrinya untuk berdiri dan memapahnya sampai ke dalam mobil.
Selama dalam perjalanan Caroline terus meringis kesakitan. Harry mempercepat laju mobilnya sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Harry memapah Caroline masuk ke rumah sakit sambil meminta bantuan kepada suster yang ada disana.
"Suster , tolong istri saya pendarahan" , ucap Harry.
Suster disana pun dengan cekatan mengambil kursi roda , sehingga Caroline bisa duduk disana dan membantu mendorongnya menuju ke ruangan IGD.
Di ruangan IGD terlihat suster dan dokter tengah sibuk memeriksa Caroline.
"Ada luka yang terkena serpihan kaca di kaki pasien dokter" , ucap suster yang melihat ada luka di kaki Caroline.
"Baik dokter" , jawab suster tersebut.
"Apa!!! Operasi???" , ucap Harry yang terkejut dan gak tau bagaimana caranya membayar biaya rumah sakit setelah ini.
"Iya pak , hanya itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan anak anda" , ucap dokter Sarah.
"Ba... ba... baiklah dokter" , ucap Harry terbata bata.
Tidak lama suster memberikan surat yang untuk di tanda tangani oleh pihak keluarga sebelum operasi dilaksanakan.
Dengan tangan yang gemetaran dan perasaan yang bimbang , Harry pun menandatangani surat tersebut. Setelah itu suster langsung membawa ranjang Caroline menuju ke ruang operasi.
Harry yang pusing setengah mati saat itu memikirkan cara membayar biaya rumah sakit , langsung pergi dari sana dan menuju ke rumah salah satu temannya.
Sampai di depan rumah temannya yang megah itu , Harry menekan bel yang ada disana. Tidak lama terlihat satpam penjaga rumah berjalan mendekati dia.
"Jonny ada di rumah gak pak?" , tanya Harry.
"Ada tuan , apakah tuan sudah membuat janji sebelumnya?" , ucap satpam tersebut.
__ADS_1
"Belum pak , tapi saya Harry temannya".
"Saya tanyakan ke dalam dulu ya tuan" , ucap satpam tersebut.
"Baiklah" , jawab Harry.
Satpam tersebut masuk ke dalam pos nya dan berbicara di telpon untuk beberapa saat. Terlihat satpam tersebut berbicara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan tidak lama dia pun meletakkan gagang telepon di atas meja.
Satpam tersebut berjalan keluar dari pos dan membukakan pintu pagar putih yang sangat tinggi tersebut.
"Silahkan masuk tuan" , ucap satpam tersebut.
Harry pun menjalankan mobilnya sampai masuk ke halaman rumah temannya yang sangat luas itu. Setelah Harry memarkirkan mobilnya , terlihat temannya Jonny sudah keluar dari pintu rumah.
"Apa kabar temanku? Tumben kamu hari ini mencari aku" , ucap Jonny.
"Kabarku kurang baik" , jawab Harry.
"Ada apa?" , tanya Jonny.
"Istri aku di operasi dan aku butuh uang hari ini juga. Apa kamu bisa membantuku?" , ucap Harry.
"Bukannya aku gak mau membantu kamu. Kemaren aku juga sedang berurusan dengan polisi karena madu palsu yang aku buat ketahuan dengan mereka" , ucap Jonny.
"Jadi kamu gak bisa meminjamkan uang sama aku?" , ucap Harry.
"Kalau dalam jumlah banyak aku gak bisa. Tapi kalau 25 juta aku bisa" , ucap Jonny.
"Ya sudah , kalau gitu aku pinjam segitu dulu aja. Yang penting aku bisa angsur bayar dulu" , ucap Harry.
"Kamu tunggu disini dulu ya , aku ambil uangnya ke dalam" , ucap Jonny.
Harry pun menganggukkan kepalanya sambil duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah Jonny.
Setelah beberapa waktu , Jonny pun keluar dari dalam sambil membawa uang tunai sebesar 25 juta di tangannya dan memberikannya kepada Harry.
"Nanti aku ganti kalau aku sudah ada uang ya" , ucap Harry.
"Iya , aku percaya sama kamu. Sekarang pasaran sedang panas , kamu jangan jualan madu dulu. Nanti kalau ketangkap petugas , kamu pasti akan kesulitan" , ucap Jonny.
"Baiklah , kalau gitu aku pergi ke rumah sakit dulu ya" , ucap Harry.
"Iya , maaf ya aku gak bisa melihat istri kamu" , ucap Jonny.
"Iya gak apa-apa. Aku ngerti sekarang kamu juga pasti sibuk" , ucap Harry.
__ADS_1
Jonny pun hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat Harry berjalan masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya.