
Sudah sebulan lebih waktu berlalu...
Tibalah konser piano Penelope yang diadakan di Singapura.
Keluarga besar Antonio dan Sandra mulai sibuk mempersiapkan baju , sepatu dan aksesoris yang akan digunakan saat menonton konser nanti.
Kali ini , mertua Angelica juga akan ikut melihat konser piano Penelope. Bahkan Kiki dan Friska juga akan pergi kesana. Acara konser Penelope di Singapura akan menjadi reuni keluarga besar.
Antonio pun sudah membooking presidential suite room di salah satu hotel terbesar di sana untuk mereka semua.
Oma Shinta , oma Amel dan Sandra juga lebih sibuk. Mereka sibuk membelikan berbagai macam snack dan makanan ringan untuk Alvaro.
Alvaro yang sudah mengetahui keluarga besarnya akan datang kesana pun langsung merasa bahagia.
Alvaro sudah gak sabar menantikan kedatangan orang tua nya dan opa omanya.
Alvaro langsung mengambil ponselnya dan ketika dia ingin menyentuh nama mama tercintanya di sana... Tiba-tiba ponsel nya pun berbunyi , ada telpon masuk dari Brandon.
Alvaro pun menjawab panggilan telpon dari temannya itu.
"Halo".
"Halo Alvaro , kamu ke taman sekarang juga. Gadis pelukis itu ada di taman sekarang" , ucap Brandon.
"Baiklah" , ucap Alvaro dengan cepat dan di penuhi oleh perasaan yang sangat bahagia.
Alvaro langsung mengganti bajunya dan bergegas keluar dari apartemen , menuju ke taman.
Alvaro pun sudah lupa kalau dia ingin menelpon mama tercintanya.
"Alvaro" , panggil Brandon yang sudah melihat Alvaro di sana.
"Iya" , jawab Alvaro sambil melihat ke arah gadis pelukis itu.
"Ternyata dia masih tetap melukis" , gumam Alvaro sambil berjalan mendekati Brandon.
"Hari ini pastikan kalau kamu harus berkenalan dengan gadis itu. Jangan seperti kemaren lagi" , ucap Brandon.
"Baiklah , tapi aku mau mempersiapkan diri dulu" , ucap Alvaro yang jantungnya mulai berdebar-debar tidak menentu. Entah karena dia berlarian ke sana atau memang perasaanya yang bergejolak melihat gadis pelukis di sana.
Alvaro menghirup nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya. Dilakukannya dalam beberapa kali.
"Ayo , sudah cukup. Kita langsung ke sana saja , sebelum gadis itu pulang" , ucap Brandon yang tidak mau membuang-buang waktu lagi.
Brandon langsung menarik tangan Alvaro menuju ke arah gadis yang sedang melukis di sana.
"Hi" , sapa Brandon.
"Hi" , ucap gadis kecil itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Melihat senyum manis yang terpancar di wajah gadis pelukis itu , membuat jantung Alvaro berdebar menjadi tidak menentu lagi.
"Teman aku yang tampan ini ingin berkenalan dengan kamu. Apakah kamu mau berkenalan dengannya?" , ucap Brandon sambil melihat ke arah Alvaro yang sudah berdiri membeku dengan perasaan yang tidak menentu di sana.
"Tentu saja boleh" , ucap gadis pelukis itu sambil tersenyum dengan ramah.
"Siapa nama kamu?" , tanya Alvaro dengan terbata bata.
"Aku Monika" , jawab gadis pelukis itu sambil mengulurkan tangannya.
"Alvaro" , jawab Alvaro sambil menjabat tangan gadis pelukis yang sangat manis itu dengan jantung yang masih berpacu dengan cepat di dadanya.
"Apakah kamu melukis untuk mendapatkan sejumlah uang?" , tanya Brandon memecahkan kecanggungan di sana.
"Tidak kak , melukis hanya hobby aku saja" , jawab Monika.
"Lukisan kamu sangat bagus sekali. Apakah kamu masuk ke sekolah seni?" , tanya Alvaro.
"Aku masih sekolah di tingkat menengah atas kak. Tapi aku memang mengikuti kursus melukis" , jawab Monika.
"Oh , ternyata kamu masih SMA ya" , ucap Alvaro.
"Iya kak" , jawab Monika.
"Kalau boleh tau , apakah kamu orang asli Singapura?" , tanya Brandon.
"Bukan , aku orang Indonesia. Karena mama menjalankan perusahaan orang tua nya di sini , makanya aku juga sekolah di sini" , jawab Monika.
"Sangat senang sekali aku bisa kenalan dengan kakak. Kakak di sini apakah untuk bersekolah juga?" , ucap Monika sambil tersenyum.
"Iya , aku kuliah di sini" , jawab Alvaro.
Hari pun sudah sore...
"Aku sudah harus pulang kak , karena sudah sore" , ucap Monika.
"Baiklah" , jawab Alvaro.
"Minta nomor telponnya , biar kamu bisa sering berkomunikasi dengan dia" , ucap Brandon di telinga Alvaro.
"Monika , apakah aku boleh meminta nomor telpon kamu?" , tanya Alvaro sambil melihat Monika yang membereskan peralatan lukisnya di sana.
"Boleh , tentu saja boleh" , jawab Monika sambil berdiri dan memberikan nomor ponselnya kepada Alvaro.
Alvaro langsung menyimpan nomor Monika di dalam ponselnya dan mencoba menelpon ke ponsel Monika.
"Itu nomor telpon aku. Kamu simpan ya" , ucap Alvaro , setelah melihat nomornya muncul di layar ponsel Monika.
"Baiklah kak , terima kasih" , ucap Monika.
__ADS_1
"Aku yang harusnya berterima kasih , karena kamu sudah mau memberikan nomor kamu kepada aku" , ucap Alvaro.
"Iya kak , sama-sama" , jawab Monika sambil tersenyum.
Alvaro pun hanya tersenyum melihat wajah manis Monika.
"Aku pulang dulu ya kak" , ucap Monika sambil memasukkan peralatan lukisnya di keranjang sepeda nya yang berwarna pink yang terparkir di sana.
"Iya Monika" , jawab Alvaro.
"Sampai jumpa lagi Monika" , ucap Brandon.
"Iya kak" , jawab Monika sambil mengayuh pedal sepeda miliknya.
"Sekarang kamu harus mentraktir aku makan" , ucap Brandon.
"Baiklah" , jawab Alvaro sambil terus melihat ke arah gadis pelukis itu , sampai sepeda pink itu sudah tidak terlihat lagi di sana.
"Aku ingin makan makanan yang paling mahal" , ucap Brandon sambil mengelus perutnya yang rata itu.
"Apa saja kamu mau , aku tidak masalah" , ucap Alvaro yang merasakan bahagia karena bisa berkenalan dengan gadis pelukis itu.
"Baiklah , aku mau makan seafood ya" , ucap Brandon.
"Ok , ayo kita pergi makan seafood. Kamu boleh pesan apa saja" , ucap Alvaro sambil tersenyum.
"Memang beda kalau di traktir oleh anak orang kaya" , ucap Brandon sambil tersenyum tipis.
"Kamu juga anak orang kaya" , jawab Alvaro sambil terkekeh.
"Ya sudah , ayo kita pergi cari restoran seafood , perut aku sudah gak sabar lagi mau makan enak" , ucap Brandon.
"Kayak kamu gak pernah makan seafood saja" , jawab Alvaro sambil berjalan dengan Brandon.
"Bukannya gak pernah , tapi kali ini berbeda dan rasanya pasti akan sangat enak sekali" , ucap Brandon.
"Apa bedanya?" , tanya Alvaro sambil mengerutkan keningnya.
"Karena gratis" , jawab Brandon sambil tertawa.
Alvaro hanya menggelengkan kepalanya melihat temannya yang satu itu.
Tidak lama , akhirnya mereka sampai juga di restoran seafood di sana.
Brandon langsung bersemangat memesan ikan , kepiting , cumi cumi , udang dan sayur.
"Apakah kamu bisa makan semua itu?" , tanya Alvaro yang mengetahui kalau Brandon tidak pernah makan dalam porsi yang banyak.
"Kan ada kamu yang akan menghabiskan semuanya" , jawab Brandon sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah , aku pesan lemon tea saja" , ucap Alvaro.
Setelah pelayan di restoran selesai mencatat semua pesanan mereka , pelayan itu pun berjalan pergi dari sana.