Kisah Cinta James & Angelica

Kisah Cinta James & Angelica
Episode 44


__ADS_3

"Alvaro , ternyata usaha keluarga kita sama ya. Orang tua aku juga pemilik hotel di Kanada" , ucap Brandon.


"Wah , kebetulan sekali. Apa nama hotel kamu di sana?" , tanya Alvaro.


"CLS Hotel" , jawab Brandon.


"Apa kepanjangan dari CLS?" , tanya Alvaro sambil mengerutkan keningnya.


"Castello Louise Salvataro" , jawab Brandon.


"Apakah itu nama orang tua kamu?" , ucap Alvaro.


"Bukan , itu nama kakek aku. Hotel itu usaha keluarga. Papa aku dan kedua saudaranya menjalankan hotel itu sekarang" , jawab Brandon.


"Apakah nanti setelah selesai kuliah , kamu akan melanjutkan usaha orang tua kamu?" , tanya Alvaro.


"Aku masih belum tau. Aku hanya ingin membuat rumah yang sesuai dengan keinginan aku" , jawab Brandon.


"Apakah orang tua kamu gak melarang kamu untuk melakukan hal yang kamu sukai?" , tanya Alvaro yang semakin penasaran.


"Dari dulu orang tua aku tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk melakukan sesuatu. Kita selalu di berikan kebebasan untuk menjalankan apa yang kita sukai" , jawab Brandon.


"Aku sangat iri sekali dengan kamu" , ucap Alvaro.


"Kenapa kamu iri? Apakah kamu diminta untuk menjalankan usaha papa kamu?" , tanya Brandon sambil memakan makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Iya , kamu benar" , jawab Alvaro sambil mengambil sushi nya dengan sumpit.


"Jangan-jangan kamu kuliah di jurusan ini , juga orang tua kamu yang memilihnya" , ucap Brandon yang asal menebak.


"Ya...kamu benar" , jawab Alvaro sambil menganggukkan kepalanya.


Brandon pun langsung tersedak , karena tidak menyangka tebakannya benar.


"Kamu minum dulu" , ucap Alvaro yang melihat temannya tersedak.


Brandon mengambil gelas yang berisikan air putih disana dan dia pun meminumnya.


"Aku tidak menyangka bisa menebak dengan tepat" , ucap Brandon sambil meletakkan gelas di atas meja.


"Apa yang kamu bilang itu benar adanya. Awalnya aku sangat ingin menjadi ilmuan , tapi gak diijinkan oleh papa aku. Papa meminta aku harus bisa menjalankan hotel nya nanti setelah aku lulus kuliah. Padahal saudara kembar aku sudah mau menjalankan usahanya , tapi aku tetap saja di paksa untuk menjalankan usahanya juga" , ucap Alvaro.


"Kamu punya saudara kembar? Cewek atau cowok?" , tanya Brandon.


"Cewek" , jawab Alvaro.


"Pasti saudara kembar kamu sangat cantik sekali. Kenalin sama aku dong" , ucap Brandon sambil tersenyum tipis.


Alvaro pun langsung tersenyum mendengar perkataan teman barunya itu.


"Kenapa kamu tersenyum?" , tanya Brandon.


"Iya , masalahnya aku gak bisa mengenalkan saudara kembar aku sama kamu" , jawab Alvaro sambil mengunyah sushi nya.

__ADS_1


"Kenapa gak bisa? Aku gak jelek-jelek amat kan" , ucap Brandon.


"Iya , memang kamu gak jelek" , jawab Alvaro.


"Terus?" , ucap Brandon.


"Masalahnya , saudara aku itu sudah menikah" , ucap Alvaro sambil tersenyum.


"Apa gak salah? Sekarang kan bukan jamannya orang menikah muda" , ucap Brandon dengan penuh tanda tanya.


"Iya benar , saudara aku sudah menikah" , jawab Alvaro untuk meyakinkan teman barunya.


"Apakah saudara kamu itu hamil duluan?" , tanya Brandon yang mulai penasaran.


"Bukan , bukan masalah itu. Masalahnya adalah mereka sudah saling mencintai. Suaminya juga 5 tahun lebih tua dari nya" , jawab Alvaro.


"Tapi tetap saja masih muda sekali" , ucap Brandon yang masih belum mempercayainya.


"Iya , memang masih sangat muda. Tapi itu sudah menjadi keputusan mereka berdua. Keluarga kami juga sudah mengenal satu dengan lainnya" , ucap Alvaro.


"Pantesan saudara kamu jadi cepat menikah , karena kedua keluarga sudah saling mengenal" , ucap Brandon.


Alvaro pun menganggukkan kepalanya.


Alvaro dan Brandon terus mengobrol sampai tidak terasa makanan yang mereka pesan pun telah habis mereka makan.


Tiba saat membayarnya , Alvaro dan Brandon memilih untuk membayar masing-masing makanan yang mereka makan.


"Sampai ketemu besok di kampus" , ucap Brandon.


"Iya , sampai ketemu besok" , jawab Alvaro.


Alvaro pulang dengan berjalan kaki menuju ke apartemen miliknya dan Brandon berjalan menuju ke MRT untuk pulang ke rumah bibinya.


Apartemen Alvaro memiliki jarak yang sangat dekat dari sana , sehingga tidak butuh waktu lama , Alvaro pun telah sampai di apartemen miliknya.


Alvaro meletakkan tasnya di atas kursi sofa dan langsung mengeluarkan ponselnya dari saku.


Alvaro menyentuh nama mamanya yang ada di layar ponsel miliknya.


Sandra yang sedang bekerja di toko elektronik , langsung tersenyum begitu melihat nama anak maja kesayangannya tertera di layar ponselnya.


"Halo sayang" , jawab Sandra.


"Halo mama , hari ini aku senang sekali" , ucap Alvaro.


"Apa yang membuat anak mama senang seperti ini?" , tanya Sandra yang mulai penasaran.


"Hari ini aku mendapatkan teman baru ma. Orangnya asik banget" , ucap Alvaro.


"Baguslah kalau begitu nak. Jadi kamu gak sendirian lagi disana" , jawab Sandra sambil tersenyum.


"Iya ma" , jawab Alvaro.

__ADS_1


"Apa kamu sudah makan nak?" , tanya Sandra.


"Sudah ma , tadi aku pergi makan bersama dengan Brandon" , jawab Alvaro.


"Jadi nama teman kamu itu Brandon?" , ucap Sandra.


"Iya ma" , jawab Alvaro.


"Apakah dia orang Indonesia juga?" , tanya Sandra.


"Bukan ma , dia orang Kanada. Orang tua nya juga menjalankan bisnis hotel di sana ma" , ucap Alvaro.


"Bagus dong nak , nanti siapa tau kamu bisa bekerja sama dengan dia" , ucap Sandra.


"Belum tentu ma" , jawab Alvaro.


"Kenapa begitu?" , tanya Sandra.


"Karena dia belum mau menjalankan bisnis orang tuanya" , jawab Alvaro.


"Oh begitu" , ucap Sandra.


"Iya ma" , jawab Alvaro.


"Ya sudah , kamu baik-baik ya di sana. Mama mau kerja dulu" , ucap Sandra.


"Iya ma , aku sayang mama" , ucap Alvaro.


"Iya nak , mama juga sayang banget sama kamu" , ucap Sandra sambil memutuskan sambungan telponnya.


"Alvaro ya nak?" , tanya papa Surya yang mendengarkan percakapan Sandra di telpon.


"Iya pa , dia sangat senang karena sudah mendapatkan teman" , ucap Sandra sambil meletakkan ponselnya di atas meja kerja.


"Baguslah , anak itu manja , tapi sebenarnya dia sangat pintar membawa diri" , ucap papa Surya.


"Iya pa , aku juga sudah bisa tenang sekarang meninggalkan dia sendirian di Singapura" , ucap Sandra sambil tersenyum.


"Iya nak , dia itu sifatnya benar-benar seperti kamu" , ucap papa Surya sambil tersenyum.


"Iya juga ya pa" , jawab Sandra sambil terkekeh.


Setelah itu Sandra pun mulai melanjutkan pekerjaannya lagi. Sampai tidak terasa hari pun semakin sore. Sandra dan papa Surya mulai bersiap-siap untuk pulang ke rumah.


"Aku pulang dulu ya pa" , ucap Sandra ketika sudah berada di luar toko.


"Iya nak" , jawab papa Surya.


Sandra berjalan ke parkiran menuju ke mobilnya yang dibawa oleh pak Maman dan papa Surya berjalan menuju ke mobilnya , mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


"Pak , kita ke toko bakery dulu ya" , ucap Sandra.


"Baik nona muda" , jawab pak Maman sambil menjalankan mobil.

__ADS_1


__ADS_2