Kisah Cinta Nayra

Kisah Cinta Nayra
Bab 14 Tak berharga


__ADS_3

nayra merapikan pakaian nya dilemari. nayra berharap semoga bian menerimanya suatu saat nanti. sebelum tidur, nayra mengambil kalung cantiknya.


"hai, kakak tampan. apa kau sudah tidur?


nay sedih kak. suami nay itu suara nya kuat sekali.. selamat tidur kakak tampan"


nayra mencium kalung itu lalu menyimpan nya dalam kotak di bawah lemari.


pukul 05 subuh. nay membersihkan segala sudut ruangan hingga bersih dan harum.


hari ini nay tidak memasak karena bahan makanan tidak ada di lemari pendingin.


bian keluar melewati ruang tengah, bian berhenti sejenak.


"rajin juga gadis malang itu ternyata"


batin bian. bian pergi begitu saja.


nay membuka pintu apartemen namun tidak berhasil, bian tidak mengkonfirmasikan kode apartemenya pada nayra.


"aduh bagaimana ini. perutku lapar.


minta tolong sama siapa ponsel tidak punya, telpon pasilitas apartemen tidak ada. apa tuan kejam itu sengaja tidak membuat telp diapartemenya?


astaga, nay ayo fokus pada perutmu kau bisa mati kelaparan!"


monolog nayra


ceklek. pintu terbuka


daddy teriak nayra girang. seakan dewi fortuna memihaknya. pertolongan disaat yang tepat.


"kamu kenapa nak?


daddy. nay lapar. nay tidak bisa keluar dad"


"memang nya bian tidak memberimu kode"


"nay lupa minta dad"


"xxxxxx itu kode nya" terima kasih dad.


baskoro membawa nayra belanja kebutuhan dapur.


"aku kan tidak bisa keluar apartemen. ponsel tidak punya, televisi juga tidak ada.


aku beli diary saja, mengurangi rasa bosan" batin nayra.


setelah selesai belanja baskoro mengantar nayra ke apartemen bian


"apa bian tidak memberimu uang?"


"belum dad, mungkin nanti"


nayra berbohong padahal bian sudah menegaskan tidak akan memberinya uang.


"pakai kartu ini"


"uang cas saja dad"


baskoro memberi nayra segepok uang diamplop coklat.


"ambil juga ini"


baskoro juga memberi black card pada nayra.


"baik - baik disini, daddy pulang"


nayra merapikan belanjanya di lemari pendingin.


sore hari nayra memasak untuk dirinya dan bian, setelah itu nay membersihkan dirinya dikamar mandi. nayra menyisir rambut panjang nya terdengar suara teriakan bian.


bian marah setelah mendapati makanan di atas meja.


"a ada apa tu tuan?" nayra gemetar


"dari mana kau dapat makanan ini?"


"saya. sa saya masak tuan!"


"dari mana kau dapat bahan makanan?"


"tadi daddy datang ke tempat ini, mengajak saya berbelanja di super maket"


"artinya kau keluar dari apartemen ini? kau mengabaikan perintahku. sialan"


bug


bug


bian memukuli punggung nayra


"ampun tuan. maafkan saya"


hiks, hiks.


nayra menangis karena kesakitan. badan nayra bergetar hebat.


"aku sudah bilang. jangan keluar apa pun yang terjadi"

__ADS_1


"sa saya la lapar tuan. makanya saya keluar"


"kau pikir aku peduli. hah? sekali pun kau tiada, tetap tidak ku ijinkan keluar. paham!! "


praaaannnggg...


bian membuang makanan yang sudah nay siap kan di meja makan.


"ingat. jangan pernah keluar dari tempat ini"


bian pergi menuju kamarnya. tak lama kemudian bian keluar dengan pakaian yang sudah berganti.


bian melewati nayra yang masih bersimpuh dilantai. bian melangkah keluar apartemen meninggalkan nayra.


***


satu bulan berlalu, bian masi tetap berlaku kasar pada nayra. penyiksaan secara fisik mau pun batin silih berganti nayra lalui.


stok makanan yang nayra simpan di lemari pendingin tersisa mie instan dua bungkus.


dua hari terakhir nayra selalu makan nasi beserta mie instan. nayra harus memasak mie instan satu bungkus untuk satu hari untuk tiga kali makan. nayra lesu mendapati isi lemari pendingin itu tersisa dua bungkus.


"lusa aku makan apa?" monolog nayra sedih


lian menghampiri saudaranya itu ke perusahaan bintaro, akan tetapi lian tidak mendapati bian disana. akhirnya lian pergi ke apartemen bian berharap saudara laknat nya itu ada disana.


ting tong


ting tong


nayra membuka pintu, melihat lian yang tersenyum dihadapan nya.


"hai nayra. aku lian saudara nya bian.


apa bian tidak ke kantor?"


tu. mas bian sudah tiga hari tidak pulang tuan, mas bian keluar kota"


"boleh saya masuk?"


silahkan tuan nayra mundur ke belakang seraya membiarkan lian masuk. lian dudu di sopa memperhatian sekeliling isi dari apartemen saudara nya itu.


"aneh. apartemenya mewah, namun fasilitasnya tidak lengkap" batin lian.


"kenapa kamu berdiri saja. kemarilah. duduk bersamaku"


tangan nayra bergetar, takut pria yang di hadapan nya ini melukai nya. pasalnya semua orang yang berada dekat bian adalah jahat kecuali om baik, itu lah yang ada dipikiran nayra.


"kenapa badan mu bergetar, kamu takut padaku? tenang. saya orang baik kok"


nayra duduk diseberang sopa menghadap lian.


"kamu pasti tidak pernah melihatku kan? saat pernikahan kalian aku datang, mungkin saja kamu lupa"


"kenapa kamu tidak pernah berkunjung ke mansion om baskoro. bian selalu datang sendiri!


apa kamu tidak menawarkan minuman padaku?


biar aku saja yang ambil.


kamu mau minum apa? jus jeruk atau mangga?"


lian terus mengoceh.


nayra bingung, pasalnya saat ini yang tersisa hanya dua bungkus mie instan.


lian bangkit berdiri berjalan menuju dapur. bian membuka lemari pendingin tidak menemukan apa pun kecuali dua bungkus mie instan.


lian terkejut mendapati keadaan dapur saudaranya itu. lian curiga dari gerak tubuh nayra hingga ekspresi takut yang didapati diwajah nayra menandakan bawa pernikahan mereka tidak baik - baik saja.


"apa kamu tidak memasak?


ahh, mungkin saja kalian makan delivery. secara bian punya uang yang banyak"


"nayra, sepertinya perutku minta makan. tadi pagi tidak sempat sarapan. boleh kau memasak untukku? hanya nasi saja nay. aku punya riwayat asam lambung"


lian masih saja mempermainkan perasaan nayra.


nayra masih diam mematung ditempat.


ya, sekarang mereka di dapur. nayra mengikuti lian kedapur itu.


"baik lah. biar aku saja yang melakukanya"


bian pura - pura mencari tempat beras.


"nayra, apa persediaan beras di apartemen mewah ini habis. kenapa kamu sebagai istri tidak mampu mengatur dapur? astaga perempuan seperti apa yang dinikahi saudaraku ini, mengurus dapur saja tidak mampu"


lian masih setia dengan aktingnya itu.


mata nayra berkaca - kaca mengingat pola makanya dua minggu terakhir. sedangkan dua hari terakhir ini nayra makan dengan seadanya


sebungkus mie instan untuk pagi hingga malam.


lian yang melihat mata nayra hampir mengeluarkan air bening mendekatinya.


"kamu kenapa nay? apa aku salah bicara? atau apa kamu sakit? "


nayra menggeleng

__ADS_1


"lalu?"


air mata nayra sudah tidak dapat lagi diajak kerja sama bulir bening mengalir dengan sempurna di pipi mulus nayra.


hiks, hiks, hiks.


"hey. kenapa menangis"


lian mendekati nayra.


"tu tuan maafkan saya"


lian menaikkan sebelas alis nya


"tuan?"


nayra bingung harus memanggil apa?


"kenapa kamu memanggilku tuan, aku bukan tuan mu. kamu bisa memanggilku apa saja, asal jangan tuan"


lian mengajak nayra kembali duduk di sopa.


"ayo duduk, ceritakan padaku ada apa?"


tangis nay semakin pecah. semenjak menikah dengan bian, nayra tidak pernah melihat matahari, dia terkurung di sangkar emas yang bagaikan neraka bagi nayra.


"kakak"


lian tersenyum mendengar nayra memanggilnya kakak. lian jadi teringat adik kecilnya yang sudah tiada.


"dua hari terakhir, saya cuman makan mie instan"


nayra bercerita sambil menangis.


hiks hik hik.


"saya cuman punya dua mie instan sekarang. kalau kaka mengambilnya besok nayra tidak makan lagi kak"


"Astagaaa...


benar dugaanku, pasti ada yang tidak beres.


apa yang kau lakukan bian?" umatnya kesal.


"kamu sudah makan?"


nayra menggeleng


"dari pagi belom makan apa pun"


nayra menggeleng lemah.


"astaga bian, tega sekali kau membiarkan istri mu kelaparan" batin lian lagi.


"kalau begitu yuk kita pergi cari makan"


nayra menggeleng


"kenapa"


nayra tetap menggeleng kepalanya tidak sanggub mengucap sepatah kata pun.


"kamu takut bian marah?"


nayra mengangguk.


"tenang saja. bian tidak akan marah jika kamu pergi bersamaku"


nayra tetap menggeleng.


"sekarang katakan padaku yang sebenarnya, sebelum aku menghajar bian keparat itu"


"tuan bian tidak mengizinkan nayra keluar apartemen apa pun yang terjadi"


"dan kamu menurutinya?"


nay mengangguk.


lian gemas serta emosi melihat kepolosan dan kebodohan nya itu


"bulan lalu daddy datang berkunjung, mengajak nayra berbelanja keperluan dapur. tuan bian marah. tuan bian memukulku


nay tidak mau dipukul lagi. sakit kak"


deg.


jantung lian berdetak cepat, tanpa sadar bibirnya menyebut nama nayra adik kecilnya.


pasalnya dulu adik kecilnya selalu mengadu dengan cara seperti yang baru saja lian dengar.


"nayra" lirihnya pelan.


"nay tidak mau dipukul lagi karena kakak mengajak nay keluar"


Bersambung!!


hai teman, Kisah cinta nayra tayang setiap hari


ikuti terus kelanjutan ceritanya ya.

__ADS_1


jangan lupa like, vote, koment


terima kasih.


__ADS_2