
Nayra keluar dari kamar mandi dengan tertatih, Nayra mengganti pakaian nya yang basah.
Nay melihat jam sudah menuju pukul 02 dini hari, tetapi suaminya tidak ada ditempat.
Nayra berjalan mengambil buku kehidupan nya.
Nayra mulai menggores tinta disana.
***
Dear dairy.
"Kenapa untuk mati saja sangat susah?
Kakak tampan, kenapa lama sekali datang menjemput Nayra?
Kakak tampan dimana? Apa kakak sudah menikah?
Perutku sakit, sering mual. Andai aku punya uang pasti sudah berobat ke dokter.
TIDAK.
Nay tidak butuh dokter, bukan lah aku ingin ke surga?
Kakak tampan, kalau kita tidak bertemu kembali jangan membenciku. Nayra tidak tau harus mencari kemana?
Mereka bilang Nay hamil! Nay tidak hamil kakak tampan. Nay bukan gadis nakal.
Kakak percaya kan?
Bagaimana Nay hamil, bahkan Nay tidak pernah melakukan itu dengan siapapun."
* Nayra Admaja*
Bian masuk kamarnya melihat istrinya sudah tertidur pulas.
Tangan Bian mengepal, saat melihat wajah sok polos Nayra menurut Bian.
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu Bian semakin dingin terhadap Nayra, berbeda dengan Baskoro yang semakin perhatian dengan Nayra.
Dimeja makan pagi itu.
mereka makan dengan lahap. Tiba saja Bian buka suara.
"Dad, mom. Minggu depan Bian mau ke jerman."
"Buat apa kesana? Apa ada masalah?" tanya baskoro.
Bian menggeleng.
"Bian kesana mau bulan madu."
Nayra bingung, semenjak sebulan ini Bian tak pernah menegurnya namun sekarang Bian ingin membawanya bulan madu.
Baskoro tersenyum.
"Bian akan menikahi kekasihku Siska."
Sendok Nayra berhenti mengaduk makanan nya
"Apa maksudmu bian?" Tanya baskoro marah.
"Daddy, Bian sudah menuruti semua kayak daddy. Bian sudah menikahi wanita ini, tiga bulan lagi pernikahan Bian dan wanita ini akan berakhir."
Deg.
Jantung Nayra lemas mendengar kenyataan pahit itu.
"Bian, istri mu lagi hamil. Tapi kau malah menikah! dimana pikiranmu Bian?"
Baskoro tidak habis pikir akan kelakuan putranya itu.
"Bian tidak peduli dad. Suka tidak suka Bian akan tetap menikahi Siska kekasihku."
Bian pergi meninggalkan meja makan. Baskoro juga pergi menyusul Bian.
Tinggal lah Santi bersama Nayra di meja makan.
"Puas melihat anak dan suamiku bertengkar hanya karena dirimu seorang?
__ADS_1
Puassssss?"
Teriak nya kencang.
Santi membanting sendok makan dieja, lalu pergi meninggalkan Nayra sendiri.
Seharian Nayra hanya berada dikamar hingga malam.
Ceklek pintu terbuka.
Nayra menoleh ke arah pintu melihat Bian masuk dengan wajah kusut nya.
"Tuan sudah pulang" sapa nya basa basi
Bian mengabaikan nya.
Nayra mencoba memberanikan diri tentang keputusan suaminya yang menikah lagi.
"Tuan, apakah tuan akan menikah lagi?"
"Bukan urusan mu!"
"Apakah tuan tidak bersabar menunggu tiga bulan lagi?"
"Jangan ikut campur urusanku."
"Tuan, Nay tidak mau di madu, bersabarlah sebentar lagi saja. Tiga bulan tidak akan lama."
"Pergilah menjauh dari hidupku, aku tidak pernah mencintaimu dan tidak akan pernah.
Kau adalah gadis yang dipilih Ayahku untuk di jadikan babu dirumah ini.
Aku akan segera menikahi kekasihku. Kau penghalang kebahagiaan ku.
Pergi kau sialan!"
Teriak nya marah
"Tuan, Nayra sakit. Seperti nya nay punya penyakit yang mematikan."
"Itu bagus. maka percepatlah kematianmu itu."
Air mata Nayra mengalir. Ia memandangi wajah bian.Sesaat mereka saling pandang, terlihat jelas mata itu memancarkan kesedihan, pertolongan.
Nayra sudah tidak sanggup melakukan apapun untuk menghalangi niat suaminya yang akan menikah lagi.
"Dengar dan buka telingamu lebar - lebar. Aku akan menikahi kekasihku dengan atau tanpa ijin darimu. Paham!"
Bian masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Karena tidak tahan dengan makian suaminya itu, Nayra mencoba mengambil posisi tidur. Memaksa mata untuk terpejam walau sulit untuk dipejamkan.
Andai takdir bisa diubah dengan sendirinya, mungkin semua orang akan menulis takutnya sesuai dengan keinginan hatinya.
Andai hidup bisa di ulang, mungkin semua orang akan memilih hidup yang mudah.
Seminggu berlalu, Bian berangkat ke Jerman untuk melangsungkan pernikahan nya secara privat.
Baskoro dan Santi tidak menghadiri pernikahan itu karena Baskoro tidak menyetujui Bian menikah lagi.
"Bebi, terima kasih sudah mengajak ku honey mohon ke Jerman."
ucap Siska bergelanyut manja di lengan Bian.
Bian cuek saja sembari berjalan menuju jet pribadinya.
Kevin yang setia mengekor tuan nya, kesal akan sikap Siska.
"Bebi, apa kita akan tinggal lama di Jerman?" Tanya Siska
Namun Bian diam saja.
Memasuki jet pribadi nya Bian menoleh sekilas pada Kevin memberi kode agar Siska dijauhkan kan dari Bian saat dalam penerbangan.
Kevin yang paham, mengambil langkah menuntun Siska memasuki ruangan untuknya.
Bian menyusul langsung masuk dalam ruangan yang disediakan buat Bian.
"Huh, semoga saja dia tidak mengangguk" gumam Bian
__ADS_1
Lian kembali ke ibu kota, langsung menuju mansion Baskoro sebab Lian sangat merindukan adiknya itu.
"Nayra kakak datang" teriaknya kencang
Baskoro yang sedang membaca koran di ruang keluarga menoleh ke arah suara.
"Datang bikin onar saja" seloroh Baskoro
Lian tersenyum berjalan menuju om nya itu lalu memeluk nya.
"Om Bas apa Kabar?"
"Seperti yang kau lihat. Om baik - naik saja."
"Nayra sama Bian mana om?" Tanya nya
"Bian ke Jerman, Nayra ada di kamar?"
"Bian ke Jerman? Apa ada masalah disana om?"
"Entahlah. Nanti kamu juga tau"
Jawab Baskoro.
Kini Nayra dan Lian duduk di pinggiran kolam renang.
"Kenapa wajah adik cantik ini sedih. Hemm?"
Tanya Lian yang memperhatikan wajah Nayra tampak murung.
"Tidak ada guna nya aku cerita pada mu kak, Bila aku cerita itu akan membuat masalah antara kakak dan tuan Bian.
Biarlah semua ini ku tanggung sendiri."
Batin Nayra.
Nayra menggeleng, "Nay tidak apa kak. Nay hanya sedikit lelah." Kilah nya.
"Kalau terjadi sesuatu cerita sama kakak!"
Nayra hanya mengangguk saja.
"Kata om Bas, adikku ini sedang hamil? Wah sebentar lagi kakak akan punya keponakan."
Lian tersenyum bahagia mendengar kabar kehamilan Nayra.
"Mau vc sama mami?" Tanya Bian.
Nayra hanya mengangguk lesu
Lian segera menekan tombol ponsel nya melakukan panggilan Video pada mami nya. Langsung saja wajah Ratna terpampang jelas di layar ponsel Lian.
"Hai mam,. Maaf mam disana sedang larut malam ternyata, Lian lupa mam."
Ucap Lian nyengir kuda.
"Ada apa anak mami yang ganteng ini telepon mami malam begini. Hem?"
Apa kamu bersama anak mami Nayra?
Lian langsung mengarahkan ponsel nya pada Nayra.
"Hai anak mami yang cantik, lagi apa hemm?"
Nayra melambaikan tangan nya.
"Mami Nayra kangen."
"Mami juga kangen sayang."
Mereka berbincang, seolah Nayra lupa akan kesedihanya.
"Mami kapan pulang ke tanah air sih mam. Nay pengin ketemu mami"
Bersambung!
Kisah Cinta Nayra terbit setiap hari
Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya.
__ADS_1
Terima kasih..