
Selesai meredam emosi dengan cara melampiaskan kepada Nayra, Bian pergi melanjutkan aktivitas di perusahaan.
Kita tidak akan pernah tau, apa yang akan terjadi lima menit kedepan.
Seperti Nayra tidak tau apa yang terjadi selanjutnya saat dia masih menikmati makan siang direstoran jepang.
***
Dear diary
Kakak tampan sakit.
Aku merasakan didalam tubuhku sesuatu seperti pecah.
Monster itu menendangku. Aku membencinya.
Tidak adakah sedikit saja dia kasihan padaku?
Jangan memukuli lagi Monster!
Tidak tau kah kamu, jika tubuhku banyak yang sakit, Sepertinya aku punya penyakit yang mematikan.
Hei sakit. apak kau mau berteman denganku?
Bawalah aku ke surga sakit!
( Nayra Admaja)
Ditempat lain.
Bian kembali menyibukkan diri nya dikantor.
Membuka file kerja sama Brahma.
"Sepertinya situa bangka itu sudah bosan hidup! Kau pikir bisa mengalahkan ku dengan cara selingkuh dengan istriku. Tidak akan.
Bahkan Nyawa istriku sekali pun kau ambil aku tidak peduli."
Bian bermonolog sendiri di ruangan nya.
"Kevin ke ruangan ku sekarang!"
Pinta nya pada kevin lewat inter phone.
Tok, Tok.
"Masuk" sambut Bian.
Kevin masuk dalam ruangan sang CEO
"Tuan ada yang anda perlukan?"
"Kevin, periksa dengan siapa saja Bintaro grup melakukan kerja sama 20 tahun terakhir ini!"
"Tapi tuan..."
"Tidak menerima penolakan" Titah Bian
"Baik tuan. permisi."
Kevin pergi meninggalkan ruangan tuan nya itu, belum selesai melakukan tugas yang rumit datang pula tugas yang lebih rumit lagi.
Drt. Drt. Drt Ponsel Bian berdering.
"Ya dad."
"Ok dad"
Tutt.. Panggilan berakhir.
"Huhhhh, Lusa daddy, mommy pulang."
Ya, Bian baru saja menerima panggilan telepon bersama baskoro. Baskoro akan kembali ke tanah air bersama istri nya.
Bian beranjak dari kursi kebesaran nya meninggalkan ruangan menuju lift, Bian menekan tombol lift lalu masuk.
Ting, suara pintu lift terbuka.
Saat pintu lift terbuka Bian mendapati Siska baru saja turun dari taksi.
__ADS_1
Akhir - akhir ini siska sangat sering berkeliaran diperusahaan Bintaro.
Siska yang melihat Bian keluar dari lift langsung menghampiri.
"Bebi mau kemana?" Tanya siska
"Kantor Lian "
jawab bian cuek sambil berjalan menuju parkir
"Buat apa babi?
Bukan urusanmu!"
Bian masuk mobil, langsung tancap gas tanpa memberi siska kesempatan untuk ikut serta dalam mobil.
"Sial. Dia mengabaikan ku. Awas kau bian"
Siska memanggil taksi lalu pergi menyusul Bian siperusahaan Lian.
Cekleekkkk. Pintu ruangan Lian terbuka.
Lian menoleh, melihat siapa yang datang.
"Ada apa kau kemari?"
Tanya nya cuek pada saudara nya itu, Lian masih kesal atas sikap Bian saat perdebatan mereka yang embuat Nayra sakit akibat perbuatan Bian.
Bian kembali menutup pintu itu, berjalan menuju sopa lalu menelungkupkan tubuhnya di sopa.
Lian kesal melihat Bian yang se enak nya saja berbuat dibuang kerjanya.
"Apa diruanganmu tidak ada sopa sehingga kau harus numpang tidur diruanganku?"
tanya Lian masih cuek.
"Bahkan diruanganku punya ranjang yang sangat empuk. Lebih empuk dari ranjang yang ada dikamar pribadinya itu"
Sambut bian sombong.
"Kalau begitu pergilah tidur diranjang empukmu itu, jangan ganggu aku." oceh Lian
Tok, Tok, Tok.
Tanya Lian memastikan, pasalnya sudah menjelang sore. Sementara dirinya tidak ada lagi jadwal janji temu dengan orang lain termasuk Bian.
"Saya Lian." Jawab siska sok akrab.
Lian mengangkat sebelah alis nya.
"Sialan, dia menyebut namaku se enaknya saja. Sepertinya dia harus aku pecat dari agensiku." Omel Lian.
"Pecat saja dia"
timbal Bian yang masih setia menelungkuokan tubuhnya.
Lian melihat Bian yang masih setia tidur tengkurap di sopa ruangan nya, Lian tau kalau Bian tidak tertidur walau matanya tertutup.
Senyum jahil terbit di sudut bibir Lian.
"Masuk"
Suara perintah dari Lian membawa siska masuk kedalaman ruangan sang CEO
Ceklekkk. Pintu terbuka lebar, Siska masuk berjalan melangkah sambil tersenyum.
"Lian aku.."
belum selesai Siska bicara Lian sudah memotong nya.
Lian mengangkat jari telunjuknya seakan kode mengatakan stop pada siska.
"Yang pertama kita tidak begitu dekat, jadi jangan sembarangan memanggil namaku."
"Yang kedua sepertinya sopan santun Anda semakin hari semakin menurun sehingga dengan begitu mudah nya mengabaikan peringatan dariku."
"Yang ketiga seperti nya, Anda sudah bosan bekerja di agenci perusahaanku"
"Maaf, maafkannn saya tuan. Sungguh saya hanya sedang menyusul kekasih saya Bian."
__ADS_1
Siska melirik ke arah Bian yang masih setia dengan tidur telungkup sambil memejamkan mata.
"Apa anda tidak tau kalau Tuan Bian ini sudah menikah?" Tanya lian
"Tapi mereka tidak saling mencintai!"
Jawab Siska cepat
"Sial, apa Bian menceritakan hal yang tidak perlu kepada orang lain, awas kau Bian." monolog Lian dalam hati sambil mengepal tangan nya.
"Saya tidak bisa menterorir artis atau model yang jika sampai tersandung skandal perselingkuhan atau orang ketiga atau pelakor atau apalah semacam nya"
Siska terdiam,
"Apa anda siap jika anda terkait skandal perselingkuhan karir anda akan hancur. Pikirkan sebelum bertindak. Sekarang pergilah."
Lian mengusir Siska dari ruangan nya, Lian geram dengan model yang tidak punya sopan santun itu.
"Dia pikir bisa sok akrab dengan ku bila dia dekat dengan Bian! Jangan harap. Aku bukan sibrengsek Bian."
Lian mengomel sendiri
"Aku mendengarnya, jangan mengumpatku sialan."
Jawabnya masih dengan posisi yang sama.
"Cepat bangun, kau masih tetap disini? aku mau pulang." Ucap Lian.
"Kenapa buru - buru. Matahari bahkan masih memancarkan sinarnya."
Sambut Bian mengoceh.
"Aku ingin mengunjungi adik cantikku."
Bian langsung membuka mata, duduk disandarkan sopa.
"Bagaimana ini? Aku dan Lian baru saja akur, lalu bila Lian berkunjung ke mansion Lian akan tau bila aku memukul gadis sialan itu tadi. Ahhh, Siallll."
Monolog nya dalam hati.
"Tidak bisa." Tolak Bian tegas.
"Kenapa tidak bisa?"
Kening Lian mengkerut, bingung akan sikap berubah - ubah saudara laknat nya itu.
"Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa!"
"Ia, tapi kenapa? Apa alasan nya?"
"Tidak ada alasan. Pokok nya tidak bisa. Titik"
Bian langsung berdiri menghalangi Lian yang ingin keluar dari ruangan nya itu.
"Aku tidak peduli dengan laranganmu,aku mau ketemu adik cantik ku. Minggir."
Lian mendorong tubuh Bian, pergi begitu saja seakan tidak peduli akan larangan dan perintahnya.
Tangan Bian mengepal dikala diri nya tidak akan bisa marah atau meninju saudara laknat nya yang keras kepala itu.
Bian mengejar Lian, namun sayang Lian sudah masuk lift.
"Sittttt, Sial. Aku ditinggal."
Bian terus menekan tombol lift namun tak kunjung terbuka..
tiga menit berikutnya pintu lift berbuka Bian masuk tekan tombol ke lantai dasar sampainya dilantai dasar Bian melihat Lian yang hendak membuka pintu mobil, Bian berlari menuju parkiran untuk mengejar Lian namun sayang seribu sayang Lian sudah menancap gas mobilnya menuju kediaman Bian.
"Sial. Dia benar pergi."
Bian berlari menuju mobil nya menuju pintu mobil langsung tancap gas.
"Sial. Jangan sampai Lian tiba terlebih dahulu.
Apa gadis lemah itu masih terbaring dikamar? Awas saja kalau gadis lemah madu pada Lian."
Monolog bian kesal dengan situasi yang dia hadapi.
Bersambung!
__ADS_1
Kisah cinta Nayra tayang setiap hari
Ikuti terus kisahnya yah!