
Nayra ketakutan mendengar kedua orang penjahat membahas kematian nya.
"Ogi pergi mengambil beberapa keperluan mereka menunggu malam hari saat pembantaian akan dilakukan pada gadis malang ini."
"Nona manis. Seperti nya yang di katakan teman saya ini ada benar nya. Aku sangat bernafsu melihat mu begini nona." Odi mencengkeram dagu Nayra hendak mencium. Nayra memalingkan wajah nya ke arah kiri.
"Jangan membantah nona. Mari kita nikmati sore indah dengan berbagai kilauan burung di pohon."
Tubuh Nayra gemetar, takut terjadi sesuatu dengan nya.
"Tuan tolong jangan sakiti saya. Pergi!" Teriak Nayra. "Tolong. Tolonggggg." Teriak nya kencang.
"Hahahahahah. Berteriaklah sepuas mu nona. Tidak akan ada yang mendengar mu, bahkan teman ku itu sudah pergi mencari makanan serta minuman. Mari kita nikmati berdua sebelum Ogi mengacaukan kehangatan kita."
Odi mendekatkan tubuh nya ke Nayra. Tubuh lemah Nayra tak mampu bergerak saat pria bejat itu menindih nya.
"Ternyata kau sudah tidak berdaya setelah tiga hari tidak makan. Akan lebih nikmat jika ikatan mu aku lepas." Odi melepas ikatan tangan dan kaki Nayra. Tubuh nya terkapar lemah akibat sesak serta sakit perut yang mendera, air mata mengalir begitu saja.
"Mari kita mulai nona ujar Odi." Mencium bibir Nayra secara kasar membuat Nayra semakin sesak. Odi melepas ciuman nya senyum semirik melihat gadis malang yang lemah tak berdaya.
"Aku suka melihat mu tak berdaya seperti ini nona. Membuat ku lebih mudah menikmati tubuh mu." Tangan Odi mulai membuka baju Nayra secara kasar. Tubuh Nayra yang lemah tak berdaya berusaha menahan tangan Odi, namun dengan mudah Odi menepis tangan Nayra hingga tersingkir di lantai.
Air mata tetap mengalir tanpa suara. Odi mencumbui leher putih gadis malang itu.
Drt. Drt. "Sial, siapa yang berani mengganggu ku. Berengsek." Umpat nya, berdiri merogoh saku celana nya.
"Ada apa Ogi?" Tanya nya geram
"Ban mobil pecah, jadi akan lebih lama sampai di tempat" jawab nya dari seberang telepon.
Terserah. Jangan mengganggu ku.
Tut.. Panggilan di akhiri Odi secara sepihak.
Berbalik, kembali melihat gadis malang berjalan dengan tertatih menuju pintu hendak kabur.
__ADS_1
"Sialan. berani nya kau kabur dari ku?"
Plak. Plak. Odi menampar Nayra dengan keras, Nayra tersungkur di lantai dengan sudut bibir berdarah. Nayra menutup mata menahan rasa sakit di wajah, sesak di dada, perih dalam perut nya. Lengkap sudah penderitaan mu Nay.
Odi melihat Nayra memejamkan mata, "Apa dia mati?" Tanya nya lirih. Hai bangun, Odi menggerakkan tubuh Nayra menggunakan kaki nya.
"Sial dia tidak bergerak sama sekali." Umpat nya.
Drt. Drt.
"Ada apa lagi Ogi?" Tanya nya kesal
Aku dapat info. Tuan sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri.
"Apa? Kalau bagai mana dengan gadis ini?" Tanya Odi.
"Tunggu aku. Kita lakukan tawarannya tadi, gadis itu cukup menarik untuk di cumbu. Ingat tunggu aku jangan bermain sendiri." Tut , panggilan berakhir.
"Huh. menyusahkan saja" umpat nya, di lirik nya Nayra yang masih setia menutup mata. "Tidurlah sepuas mu gadis malang, sebelum aku membangunkan mu untuk memuaskan kami berdua." Senyum semirik muncul di sudut bibir nya.
Selama menunggu ke datangan Ogi, Odi tidur tidak jauh dari Nayra. Melihat ada kesempatan Nayra membuka mata, mencoba bangkit berdiri namun gagal Nayra berulang kali melakukan nya. Hingga ke sekian kali Nayra berhasil berjalan secara perlahan menuju pintu. Nayra membuka pintu dengan sangat pelan, keluar dari sana dengan air mata yang terus mengalir. Menyeret kaki agar selamat dari bahaya pria bejat.
Baru melangkah sekitar 50 meter Nayra melihat mobil melaju ke arah nya. Nayra bersembunyi di balik pohon besar menghindari pengendara mobil yang membuat hati nya takut.
Melirik mobil itu ke belakang dan ternyata mobil berhenti tepat si rumah kosong tempat penyekapan nya. Nayra melihat Ogi turun dengan menenteng kantong plastik berwarna biru.
"Aku harus cepat berjalan, jangan sampai mereka menangkap ku. Pasti mereka sudah tau aku kabur." Monolog nya sendiri. Menyeret langkah kaki berjalan dengan sekuat tenaga tanpa memikirkan tubuh nya yang di sayat berbagai rumput hutan.
Nayra menoleh di belakang ternyata dua pria jahat itu mengejar nya dengan berlari kencang. Nayra masuk dalam hutan, menghindari pria jahat yang mengejar nya.
Menyusuri setiap pepohonan besar. Ya Allah. Nay sudah tidak kuat lagi. Sesak di dada membuat kepalanya pusing. Mata nya berlubang - kunang.
Terus berjalan dengan memegangi perut yang terasa perih. Haus membuat kerongkongan kering tak di gurau kan Nayra. Tubuh yang bergetar terus melangkah demi menjauh dari para pria jahat, hingga Nayra melihat jalan raya sudah di depan mata.
Citttt. Bruuggg. Nayra ambruk seketika.
__ADS_1
"Astaga! Apa itu?" Seorang pria menabrak tubuh gadis malang itu, keluar dari mobil melihat tubuh kurus seorang gadis terdapat di depan mata.
Ogi dan Odi melihat Nayra tergeletak depan mobil seorang pria, mereka menghampiri nya.
"Tuan maaf. Biar kamu yang membawa nya ke rumah sakit, kami mengenal nya." Lian masih melongo terkejut di tempat nya berdiri, tidak percaya bahwa dia sudah menabrak seseorang.
Ogi dan Odi membopong tubuh Nayra hendak di bawa pergi.
Deg.. Jantung Lian berdetak cepat melihat Nayra tepat di depan mata nya saat tubuh nya berbalik hendak di bopong pria jahat itu.
"Na. Nay. Nayra..
Tunggu. Mau dibawa kemana adik ku?" Tanya nya
"Anda pasti salah orang tuan. Kami mengenal nya, kami akan membawa nya ke rumah sakit." Kilah Ogi beralasan.
"Lepaskan adik ku!"
Bug. bug. bug. Lian menghajar Ogi dan Odi hingga babak belur.
"Nay. Bangun Nayra, ini kakak." Menepuk pipi Nayra pelan. Melihat tak ada respon membuat Lian panik membawa nya ke rumah sakit.
Lian mondar mandir menunggu Nayra di depan IGD sembari menunggu kedua orang tua nya.
Lian mengajari kedua orang tua nya serta baskoro saat Nayra mendapat pertolongan dokter.
"Lian, apa yang terjadi nak?" Tanya Ratna berurat air mata. Kedua orang tua nya serta baskoro tiba di rumah sakit secara bersamaan.
"Lian tidak tau mam. Lian menemukan Nayra di pinggir jalan dalam keadaan pingsan, seperti nya Nayra di kejar penjahat, entah lah Lian tidak ngeri mam."
"Bagaimana kondisinya sekarang Lian?" Tanya Baskoro.
"Entah lah om, dokter masih memeriksa nya." Jawab Lian cemas.
"Syukurlah Nayra sudah di temukan. Semoga Nayra baik - baik saja" ujar Abi.
__ADS_1
Ceklekkk. Pintu ruang IGD terbuka menampilkan raut wajah dokter Juan yang lesu.
Bersambung.