
Bila waktu bisa di ulang, apa masih ada jaminan tidak melakukan kesalahan? Tentu tidak! Banyak manusia melakukan kesalahan dengan sengaja. Matahari tidak akan lupa tempat dimana ia terbit dan terbenam.
Harapan demi harapan yang selalu di impikan, mengucapkan berharap, berharap dan berharap. Saat melakukan kesalahan hanya kepuasan yang dirasa. Kepuasan telah berhasil menyakiti orang yang di anggap salah.
Sepanjang malam Santi tidak dapat menutup mata. Hinaan demi Hinaan yang terlontar seakan terngiang di telinga, semua perlakuan buruk sudah terpatri dalam sanubari. Mengapa harus menyakiti perasaan jika fisik sudah lemah. Mengapa harus menyakiti fisik jika kesalahan tak terbukti.
"Nay. Hari ini kamu ditemani mami, Aku ada meeting pagi. Tidak apa kan ditinggal sebentar sebelum mami sampai?" Mami terjebak macet di jalan.
Nayra mengangguk paham. "Hati - hati kakak baik."
"Tunggu mami Nay. Aku tidak mungkin menunggu mami, takut telat!"
"Pergilah kak."
Lian pergi meninggalkan Nayra menuju kantor nya, Menunggu kedatangan Mami Ratna, Nayra menatap langit - langit kamar nya. Memikirkan kehidupan kedepan nya.
"Ya Allah. Nayra mau hidup lebih lama lagi Nay sudah menemukan keluargaku.
Nay ingin bertemu kakak tampan, om Abi pasti tau dimana kakak tampan berada! Nay ingin sembuh ya Allah. Nayra akan rutin minum obat." Monolog nya sendiri
Termenung memikirkan sakit nya, Nayra tidak mengetahui jika Bian berdiri di ambang pintu. Melihat Lian berangkat ke kantor membuat Bian mengambil kesempatan menguntungkan bagi nya. Melangkah mendekat, mendekat dan semakin mendekat.
"Sayang." Ucap nya. Nayra menoleh.
Deg..
Nayra ketakutan, tubuh nya terguncang. Takut melihat monster yang ada dihadapkan nya. Air mata lolos tanpa di undang.
"Mo - monster" lirih nya.
"Pergi, pergi sana. Dokter, suster tolong. Ada monster. Tolong. Tolong." Nayra berteriak histeris.
Bian gelagapan melihat reaksi Nayra membuat hati nya menciut. Refleks Bian mendekap tubuh Nayra.
"Nay tenanglah, ada aku disini. Tidak ada monster sayang. Tenang lah." Ujar nya memeluk tubuh kurus Nayra erat.
Nayra menggeliat kencang di brankar tidur nya.
"Pergi! Jangan sentuh aku. Lepas, lepaskan aku.
Tolong. Tolonggg." Nayra semakin berteriak.
__ADS_1
Dokter bersama suster masuk melihat kondisi pasien.
"Ada apa ini. Suster tolong beri suntikan" perintah dokter. Suster memberi suntikan penenang pada Nayra.
"Pergi! Jauhi aku. Pergi monster" lirih nya sebelum terpejam.
Bian sedih melihat Nayra histeris sebab diri nya.
Tak lama Santi datang bersama dengan Ratna.
"Bian, kau disini? Tanya Santi mommy nya. Ratna cuek melihat Bian mengingat ke egoisan nya membuat nya hingga memohon namun Bian tetap tak mengindahkan permohonan nya.
Bian mengabaikan mommy nya.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya dokter?" Tanya nya khawatir.
"Anda suami nona Nayra?" Tanya dokter Juan
Bian mengangguk lemah. "Untuk sementara mohon dijaga mental nona Nayra. Jika anda suami nya, tolong temui saya di ruangan saya."
Bian tetap mengangguk.
"Cucu? Cucu bagaimana maksud nyonya?" Tanya nya.
"Kandungan Nayra. Cucuku dalam kandungan Nayra baik - baik saja kan dok?" Tanya nya penuh harap.
"Kandungan seperti apa maksud nyonya?" Tanya nya lagi.
"Nayra sedang mengandung dokter, mungkin sekarang sudah menjalani usia kandungan 4 bulan" Ujar Santi.
"Mengandung? Mengandung bagaimana maksud ibu. Nona Nayra sedang tidak mengandung. Bagaimana mungkin seorang wanita virgin mengandung! Ada - ada saja." Seru nya tersenyum simpul berlalu meninggalkan ruangan Nayra.
Deg. "A - apa? Virgin! Jadi Nayra tidak selingkuh" batin Bian merasa bersalah.
Santi dan Ratna menoleh pada Bian, seolah mempertanyakan perkataan dokter Juan.
"Jadi selama setahun penuh, kau tidak menyentuh putriku? Bagus lah, setidak nya putriku tetap utuh, walau janda namun tetap gadis." Ucap Ratna memecah keheningan.
"Apa maksud tante dengan janda?" Protes nya tak suka.
"Bukan kah kau sudah menceraikan Nayra?" Nayra sudah janda sekarang kilah Ratna.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya mengucapkan talak. Nayra masih istriku, aku bisa kembali menikahi nya secara agama dan aku tidak akan pernah menceraikan Nayra."
"Cih, omong kosong. Bukan kah kemarin kau sangat membenci putriku. Apa kau masih ingat saat aku memohon bersujud di kaki mu?"
Deg.. Bian diam mati kutu.
"Tante. Maaf kan aku. Aku khilaf tante" Bian berusaha membela diri.
"Khilaf itu hanya sekali Bian, bukan berkali - kali. Apa kau lupa berapa kali tante memohon padamu, dan apa kau ingat saat mengusir tante di perusahaan mu karena tante ingin tau keberadaan Nayra yang ternyata kau buang di Jerman. Hah! Jawab tante Bian" teriak nya marah, emosi nya meledak saat melihat Bian ada ditempat ini.
"Ratna maaf, biar kan Bian dan Nayra menyelesaikan masalah kecil ini. Mereka masih muda, ke egoisan sangat kentara di jiwa muda mereka" Kilah Santi.
"Bukan mereka yang egois, tetapi Bian putramu yang egois Santi." Ratna marah karena Santi membela anak nya yang sudah terlalu jauh menyakiti Nayra.
"Maafkan saya tante Ratna. Saya benar - benar minta maaf." Ucap Bian tulus.
"Sudah lah, jangan membuat keributan disini. Putri ku sedang istirahat! Lebih baik kalian pergi lah."
Apa maksud mu mengusir kami Ratna? Kau lupa Bian ini suami nya dan aku ibu mertua nya" Santi tak terima perbuatan Ratna.
"Maaf Santi, aku tidak akan membiarkan Bian putra mu menyakiti Nayra lagi. Seorang ibu akan melindungi putri nya dari perbuatan jahat orang lain sekali pun itu suami nya."
Deg.. Santi menciut akan perkataan Ratna, dirinya mengatakan Nayra putri nya. Namun tidak pernah melindungi Nayra dari Putra nya bahkan ia turut andil menyakiti putri yang dia anggap itu.
"Pergilah! Kalian bisa datang nanti, sekarang biarkan saya menemani putriku." Ratna duduk dekat ranjang brankar Nayra, melihat Nayra yang terlelap. Ratna tidak mengetahui bila Nayra tidur pengaruh obat akibat ketakutan berlebihan pada Bian.
Saat ini Bian menemui dokter Juan dituangkan nya.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya dok?" Tanya nya khawatir.
Saat ini kondisi nona Nayra sedang tidak baik - baik saja. Sampai saat ini kami belum menemukan donor ginjal yang tepat untuk nona Nayra."
Deegg. Terkejut, itu lah yang Bian rasakan! "Apa dok donor ginjal?" Tanya nya, dokter mengangguk.
"Nona Nayra mengalami gagal ginjal. Kedua ginjal nya tidak berfungsi dengan baik. Semua keluarga sudah melakukan test kecocokan. Namun tidak ada yang cocok dengan mereka. Tuan Baskoro tidak dapat melakukan donor terhadap nona Nayra akibat hipertensi yang beliau derita."
"Ambil ginjal saya dokter. Mungkin ginjalku cocok dengan istriku." Ujar Bian khawatir akan penyakit istrinya.
"Anda bisa melakukan serangkaian test terlebih dahulu tuan."
Bersambung.
__ADS_1