
Memaafkann?
Memang mudah terucap, tapi sulit di lupakan!
Tak ayal bagi mereka yang berbesar hati memaafkan mereka yang dengan begitu keji menindas orang lemah. Pada umum nya yang berkuasa akan mudah melakukan apa saja sesuka hati mereka, tak terkecuali Bian. Ia lah pria kejam yang melakukan kekerasan fisik pada Nayra, selaku istri yang ia cap sebagai wanita rendah di mata nya.
Tak mendengar penjelasan dan tak mencari tau kebenaran.
Nayra adalah seorang gadis baik hati, santun. penuh kasih sayang. Nayra gadis miskin yang penuh dengan cobaan hidup.
Setelah puas memandangi wajah cantik Nayra, Bian pergi meninggalkan kamar dengan hati sedikit tenang. Bian mencoba menurun kan ego, agar tidak memaksakan kehendak.
Dalam kamar, Bian kembali memperhatikan kalung milik Nayra, kalung yang ia berikan pada anak kecil berusia 5 tahun.
"Maaf kan aku Nayra" gumam nya dengan hati yang terombang ambing. Pria itu terlelap dengan memeluk boneka milik Nayra.
***
Pagi hari, Nayra memberanikan diri duduk di meja untuk sarapan bersama. Diri nya sebenar nya takut sarapan bersama keluarga kaya ini.
Baskoro, Santi berbinar melihat Nayra turut serta sarapan bersama mereka. Tidak bisa di pungkiri bila kehadiran Nayra sedikit membuat mereka begitu percaya diri bila Nayra sudah menerima kehadiran mereka dalam hidup gadis malang itu.
"Nay, makan yang banyak sayang. Sebentar lagi dokter Juan tiba" Ujar Santi penuh perhatian.
Nayra mengangguk canggung akan perhatian Santi. Bagi nya, mami Ratna sudah seperti ibu nya. Nayra tak akan sungkan meminta apa pun yang diri nya ingin kan.Bahkan Nayra tidak akan segan bermanja ria dengan mami rempong satu itu.
Mereka bertiga sarapan dengan diam. Suasana meja makan berubah hening, hanya dentuman sendok yang terdengar.
"Selamat pagi, boleh saya gabung sarapan! Kebetulan sekali aku belum sarapan" tanpa tau malu dokter Juan langsung nimprung duduk manis, sarapan bersama keluarga yang ia kenal lewat Nayra.
"Kau ini, bahkan tidak tau malu makan di rumah pasien mu sendiri" Baskoro mencibir dokter Juan.
"Saya memang tidak tau malu om, jika itu urusan perut, langsung tancap gas" jawab nya tersenyum senang. Membuat Santi geleng kepala.
**
"Bagaimana keadaan putri ku Juan, ada yang di khawatirkan?" Tanya Baskoro penasaran
"Tidak ada yang perlu di khawatir kan om, semua baik - baik saja. Minggu depan datang lah kontrol ke rumah sakit. Jangan cemas om, keadaan pasti akan berangsur membaik."
__ADS_1
Santi, Baskoro mengangguk paham.
"Mohon perhatikan daftar makanan yang perlu di hindari, aku sudah membuat list daftar nya. Untuk sementar hindari semua makanan yang ada dalam list ini Nayra."
"Terima kasih dokter, Nay sehat karena kemurahan hati dokter" lirih nya pelan.
"Baik lah, aku permisi om, tante. Terima kasih untuk sarapan hari ini."
Juan, masuk kamar Bian tanpa ada yang tau, dokter itu memeriksa keadaan Bian kembali. Bian sudah lebih baik dari Nayra. Bian hanya di minta untuk tidak melakukan aktivitas berat.
"Ingat apa saja larangan untuk mu, jangan membantah." ucap dokter Juan tegas.
***
Bian keluar dari kamar nya, sudah hampir 2 minggu diri nya tidak bekerja, ia rindu suasana kantor. Pria itu bahkan berniat segera menyelesaikan proyek PACINA. Tak perduli dimana keberadaan Brahma saat ini, Bian sudah menghentikan pencarian terhadap Brahma, Bian mencoba berdamai dengan keadaan.
"Bian, kamu mau kemana?" Tanya Baskoro
"Kantor"
"Tumben sekali kau berangkat kantor siang begini!"
"Apa daddy lupa. Aku pemilik nya, mengapa aku harus repot pergi pagi sekali" sarkas nya cuek.
"Putra daddy juga kali" timpal Santi tak terima
Bian berjalan keluar mansion menuju garasi mobil nya.
"Huh, lupa bawa ponsel" gumam nya pelan. Kembali masuk mansion untuk mengambil ponsel milik nya. Saat berada di ujung tangga, Bian melihat Nayra berjalan pelan menuju kamar milik nya.
"Untuk apa gadis itu masuk kamar ku" batin nya. Berjalan mengintip apa yang sedang di lakukan Nayra dalam kamar nya, rasa penasaran timbul dalam diri pria monster.
Bian melihat Nayra mengambil buku harian Nayra, mengintip di cela pintu. Dapat ia lihat apa saja yang di lakukan gadis malang itu dalam kamar nya.
Nayra tidak menemukan kotak kecil milik nya, mencari di bawah bantal, di laci nakas Nayra tetap tidak menukan nya.
Terlihat raut wajah sedih terpancar di wajah gadis itu.
"Dimana kalung ku? Apa monster itu membuang nya" gumam Nayra.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa beretemu kakak tampan? Kakak tampan bisa marah jika kalung nya hilang."
Nayra kembali mencari di segala tempat, hingga ia berhenti di laci nakas milik Bian, gadis itu ragu membuka laci milik Bian.
"Apa mungkin kalung ku ada dalam sini, jika di buka apa monster itu tau? Pasti monster itu memukul ku lagi."
Nayra akhir nya tidak membuka laci nakas milik Bian, perlahan ia membuka Diary milik nya.
"Sudah lama sekali aku meninggalkan mu, kau tau aku sudah sembuh. aku sudah menemukan keluarga ku. Kakak baik ternyata kakak yang aku cari selama ini."
Nayra berbicara dengan diary milik nya. Semua yang Nayra lakukan tak lepas dari pantauan Bian, sedih hati nya saat melihat Nayra tidak berani menyentuh nakas milik nya.
"Setakut itu kah kau padaku Nay" batin nya. Akhir nya Nayra keluar dari kamar Bian membawa buku diary milik nya. Bian bersembunyi di balik tangga menghindari Nayra yang keluar dari kamar milik nya.
Kembali gadis itu menulis dalam buku harian milik gadis malang itu.
***
Dear diary.
"Kakek, Nay sudah bertemu keluarga kita, kakek benar, paman yang ada dalam poto itu adalah keluarga kita kek. Nay sudah bersama mereka, mereka merawat Nayra dengan baik.
Kakek Nay juga bertemu dengan kakek baik, nama nya kakek Brahma. Tapi Nay sedih kek, Nay sudah lama tidak bertemu dengan kakek Brahma. Saat Nayra sudah sehat, Nay pasti mengunjungi kakek Brahma.
Pasti kakek bersama mama dan papa kan di surga? Jika semua nya sudah membaik, Nay akan mengunjungi kakek di desa. Semoga makam kakek ada yang mengurus disana. Nay rindu kakek."
Nayra kembali menutup buku, merasa bosan dalam kamar, gadis itu pergi mencari suasana lain. Nayra menghampiri para maid yang dulu kerap menemani nya.
"Mbok, temanin Nayra ke kolam renang" cicit nya pelan.
"Nay, biar mommy yang menemani mu nak. Nay mau kemana?" Tanya Santi yang muncul menimpali mereka
"Kolam renang" cicit nya takut
"Ayo mommy temani, tapi kamu jangan berenang ya. Kamu belum bisa banyak gerak nak."
Nayra mengangguk setuju.
Bian mengekori kedua nya, Bian tak jadi berangkat ke kantor hanya jadi penguntit sejati dalam rumah sendiri.
__ADS_1
"Sial, apa yang ku lakukan? Mengapa aku jadi begini" gumam nya merasa jengah dengan diri sendiri.
Bersambung.