
Kekuatan cinta dan kasih sayang mengalahkan segalanya, seberapa benci kita terhadap orang yang kita sayang dan seberapa sayang kita terhadap orang yang kita benci.
Berkorban untuk orang yang di sayang kerap kali di lakukan mereka yang tulus mencintai dan menyayangi. Akan tetapi, sering juga melakukan sebaik nya. Menyakiti orang yang di cinta dengan sengaja akibat ke egoisan.
Seminggu telah berlalu, selama itu pula baik Bian dan Nayra masih betah berada di rumah sakit. Dokter Juan belum mengijinkan kan kedua nya meninggalkan rumah sakit.
Dokter Juan beralasan, masih butuh waktu untuk pulih total.
Drt, Drt.
"Hem!" Brahma berdehem, menanggapi ponsel dari anak buah nya.
"Tuan, kami sudah menemukan keberadaan gadis itu. Gadis itu berada di rumah sakit selama seminggu penuh. Kami mendapat info jika gadis itu sempat sekarat.
Apa yang harus kamu lakukan tuan?" Tanya orang di seberang telepon.
"Culik dan bunuh gadis itu, jangan sampai gagal lagi. Ingat, jangan melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak ingin salah membunuh seperti puluhan tahun lalu."
"Baik tuan, kami paham."
"Lakukan dengan rapi, cari tau. Selama ini gadis itu tinggal dengan siapa? Bunuh sekalian orang - orang yang melindungi nya."
"Baik tuan, akan kami laksanakan segera."
"Bagus. lakukan segera." Tut.
Brahma mengakhiri panggilan sepihak.
"Cih, seperti nya putri mu punya banyak nyawa Cindi. Kau akan bertemu segera dengan putri mu, keponakan ku sayang." Ucap nya dengan senyum iblis.
"Putri mu akan lenyap bersama mu, Aku harap ayah mertua mu sudah tiada juga saat ini. Tidak akan ada penghalang bagi ku, untuk mencapai titik sukses." Brahma bermonolog sendiri. Tersenyum senang membayang kan nama nya akan masuk 10 besar daftar orang terkaya di negeri ini.
"Seperti nya masih ada penghalang, Cih bocah tengil itu selalu menghalangi jalan ku. Apa urusan nya dengan proyek pulau milik suami Cindi? Seakan bocah itu mengenal keluarga Cindi. Awas saja kau bocah tengil. Kau itu anak kemaren sore, berani nya menentang ku."
__ADS_1
Brahma geram, akan keterlibatan Bian dalam urusan bisnis nya. Diri nya menganggap jika Bian hanya anak kecil yang terlalu naif. Brahma akan menghancurkan Bian yang menjadi penghalang bagi nya.
"Aku akan mengambil kembali proyek itu bocah sialan. Tidak peduli berapa uang yang sudah kau keluar kan untuk proyek itu. Kau tidak akan paham dunia bisnis yang sebenar nya bocah tengil. Hahahahahahahahhaahaha."
Brahma berbahak, Saat membayang kan wajah marah Bian saat bangkrut. Brahma yakin, Bian tak akan sanggup melawan nya.
"Jangan meremehkan kan pria tua seperti ku bocah."
"Tuan. Minggu lalu kami melihat nona Nayra berada di rumah sakit bersama seorang pria muda." Lapor kepala pelayan pada pria tua.
Deg. Brahma menoleh, melihat ke arah pelayan nya dengan suasana hati yang tadi nya senang, sekarang berubah gusar.
"Lalu, dimana sekarang Cucuku?"
Pelayan menggeleng lemah. "Kami kehilangan jejak tuan. Kami tidak dapat mengikuti nona saat itu."
"Agghhhh. Dasar. Kalian memang tidak bisa di andalkan. Pasti Cucuku sedang sakit parah sekarang."
Brahma menarik rambut nya kasar, pria tua itu frustrasi. Ia takut terjadi sesuatu pada Nayra.
Brahma marah, segera menghubungi seseorang lewat ponsel nya.
"Cepat, periksa seluruh rumah sakit di kota ini. Cari pasien bernama Nayra. Aku butuh informasi secepat nya." Tutup, Brahma mengakhiri panggilan.
"Dimana kamu Nay? Mengapa kau tidak mencari ku nak! Apa mungkin suami mu menahan mu? Mungkin saja suami mu mengurung mu di suatu tempat." Lirih nya lesu.
"Tapi tidak mungkin, bukan kah Nayra bilang, mereka sudah bercerai? Agghhh. Sialan. Andai ku tau siapa suami mu nak, akan ku beri pelajaran untuk nya."
"Aku harus bertindak cepat, sebelum Nayra semakin parah penyakit nya. Aku bahkan sudah menemukan pendonor buat Cucuku."
Brahma terpuruk saat ini. Di satu sisi ia ingin sekali menyelesaikan putri Cindi yang selalu menjadi ancaman bagi nya. Tapi di sisi lain, diri nya juga ingin segera mencari keberadaan Nayra yang menurut nya sangat butuh pertolongan.
Brahma prustasi, pria tua itu tak tau harus melakukan apa. Siapa yang harus diri nya pilih. Putri Cindi kah yang menjadi ancaman bagi nya? Atau Nayra, cucu yang sangat ia sayangi. Brahma halau memutuskan kan antara dua pilihan.
__ADS_1
Mengambil ponsel untuk segera melakukan panggilan pada Ogi dan Odi.
"Ogi, Odi. Cepat bereskan putri nya Cindi. Aku hanya terima berita beres saja. Jika kalian menemukan nya, segera kabari aku. Aku ingin melihat putri Cindi, sekaligus menitip salam untuk Cindi dan suami nya sebelum mengantar anak nya bersama mereka."
"Baik tuan, segera di lakukan" jawab anak buah nya dari seberang telepon.
"Biar kan saja mereka mengurus putri Cindi, aku harus mencari cucu ku sebelum semua nya terlambat. Aku harus menemukan ahli waris ku" gumam nya pada diri sendiri.
Brahma menjadikan Nayra sebagai ahli waris nya. Brahma melihat ketulusan dalam diri Nayra. Ia berharap penuh pada Nayra, yang akan merawat diri nya di hari tua nya. Brahma sangat yakin bila Nayra akan menemani hari - hari nya hingga ajal menjemput nya.
Suasana rumah sakit saat ini. Ruangan Nayra selalu ramai di kunjungi oleh kedua keluarga itu secara bergantian, Nya di banjir dengan banyak cinta dan kasih sayang dari kedua keluarga tersebut. Berbeda dengan Bian, selalu kesepian. Sendiri saat siang hari, ditemani oleh Kevin saat malam hari. Bian benar - benar kesepian.
"Dokter, kapan aku boleh pulang, aku sudah sehat" ujar nya yang merasa bosan di rumah sakit.
"Sabar Bian, kau ingin segera meeting di perusahaan mu? Aku duga kau tidak akan jatuh miskin hanya tidak masuk kantor beberapa hari" canda dokter Juan yang berhasil membuat Bian kesal.
"Pria ini, tidak pernah tersenyum. Raut wajah nya selalu datar. Bagaimana mungkin Nayra yang cantik akan jatuh cinta pada mu? Cih, ke inginkan mu sangat besar memiliki nona Nayra, namun raut wajah mu sungguh menjengkelkan kan" batin dokter Juan.
"Ada apa kau melihat ku seperti itu dokter?" Tanya nya curiga.
"Jangan bilang, dokter jatuh hati padaku" ucap nya asal.
"Cih, aku mengenal mu baru beberapa bulan, kau yang mengajak ku untuk bersahabat dengan mu. Sebenar nya aku keberatan menjadi sahabat mu, rasa kemanusiaan yang mendorong sanu bari ku untuk menjadikan mu sahabat." Ujar dokter Juan yang mampu memancing emosi Bian.
"Dasar dokter tak punya akhlak." Bian melempar bantal pada dokter Juan, merasa terhina atas ucapan dokter muda itu.
"Heheheheheheh. Rasai. Aku mendoakan semoga nona Nayra berjodoh dengan ku" canda dokter Juan membuat Bian semakin kesal.
"Pergi. Keluar kau dokter sialan" teriak nya kencang.
"Kevin. Kevin, beli rumah sakit ini sekarang juga, dan segera pecat dokter sialan ini." Teriak nya
Dokter Juan tersenyum. "Hai pria pemarah, apa kau lupa saat ini siang hari, tentu saja sekretaris mu berada di perusahaan mu. Teriak lah sekuat mungkin hingga urat lehermu putus. Sekretaris mu tidak akan mendengar mu."
__ADS_1
Bersambung.