Kisah Cinta Nayra

Kisah Cinta Nayra
Bab 38 Perceraian


__ADS_3

"Kita harus segera menemukan Nayra sebelum terlambat. Kita harus segera membawa Nayra ke rumah sakit."


Saran Baskoro pada mereka semua.


"Kevin, dimana terakhir kali Bian menyembunyikan Nayra?" Tanya Lian


"Di kontrakan kumu daerah selatan tuan."


"Ayo kita kesana!"


Seru Ratna hendak berjalan namun langkah nya dihentikan oleh Kevin.


"Nyonya Nayra sudah tidak ada disana Nyonya. Tuan Bian sudah memindahkan nya di tempat lain, saya sudah memeriksa tempat itu tapi kosong."


"Astaga, dimana Bian menyembunyikan Nayra?"


Ratna hampir menangis.


Seminggu berlalu Bian sudah menyelesaikan urusan bisnis nya. Siska sedang memanjakan dirinya berbelanja selama berada di Jerman.


Nayra seperti mayat hidup yang berada di sangkar emas. Tubuh kurus wajah pucat yang selalu menghiasi wajah nya, tetapi tidak sedikit pun Bian prihatin akan keadaan istri yang sangat di benci nya itu.


"Hari ini kita pulang ke tanah air. Persiapkan dirimu jangan membuatku menunggu."


"Ok bebi."


Siska kegirangan akan kepuasan dirinya berbelanja.


"Dan kau." Tunjuk Bian pada Nayra.


"Mulai hari ini kita selesai, kita bercerai.


Nayra Sudrajat mulai hari ini kau bukan istriku lagi, kau aku talak.. Dan surat cerai akan aku urus saat berada di tanah air."


Duarrrrrr..


Hati Nayra sakit sekali gus bahagia. Sakit karena diceraikan dengan kondisi sakit, bahagia karena bisa lepas dari Bian.


Air mata Nayra mengalir begitu saja tanpa di undang.


"Ayo kita pergi. Biarkan pelayan membereskan belanjaanmu. Sekarang kita pulang."


Bian meraih tangan Siska membawa dalam mobil menuju bandara.


Nayra mengekori mereka dari belakang.


"Mau kemana kamu?"


Tanya Bian melihat Nayra mengikutinya.


"Pulang." Lirih nya pelan.


"Siapa yang mengajak mu pulang. Sialan!"


"Lalu saya harus bagaimana tuan?"


"Bukan urusanku. Kau pergilah dari hidupku, aku tak peduli bagaimana nasib mu selanjut nya di negara ini."


Bian masuk mobil meninggalkan Nayra yang menangis kencang.


Nayra menangis mengejar mobil Bian. Bian melihat Nayra berlari mengejarnya dari kaca spion mobil nya. Siska tersenyum senang akan kekejaman Bian.

__ADS_1


Hiks, hiks, hiks.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya uang sama sekali, bagaimana hidupku selanjutnya.."


Nayra menangis pilu.


Nayra kembali kerumah mewah Bian, namun Nayra tidak di ijinkan masuk oleh para maid, Nayra memohon agar di ijinkan tinggal di tempat itu akan tetapi Nayra harus menelan pil pahit akan kekejaman maid tuan nya.


Nayra menyusuri kota Jerman dari pagi hingga malam hari, Nayra memegang perutnya yang terasa lapar. Ia berjalan sambil menangis, Nayra ketakutan entah dimana dia harus merebahkan dirinya. Nayra melintasi sebuah restoran mewah, menelan ludah saat melihat orang - orang bersantap makan malam nya. Nayra takut masuk karena tidak mengerti bahasa mereka. Akhirnya Nayra pergi meninggalkan restoran itu.


"Nay harus kemana ya Allah."


Nayra menggiring kaki nya melangkah sampai kaki itu merasa tak berdaya, Nayra pasrah akan menghembuskan napas terakhir nya malam ini.


"Jika hidupku berakhir malam ini juga, akan kah ada orang lain yang akan menaburkan mawar putih di makam ku." Lirih nya lemah.


Nayra menjatuhkan dirinya dikursi pinggir jalan, napas nya tersengal - sengal.


Entah keberuntungan atau nasib sial bagi Nayra melihat insiden pembantaian.


Sekelompok manusia memakai baju hitam sedang menghajar seorang wanita seksi, Nayra menjerit ketakutan melihat kejadian itu. Lelaki bertubuh kekar melihat ke arah Nayra yang menjerit.


"Tuan ada seorang gadis melihat tindakan kita." Laparnya pada bos yang setia berada dalam mobil.


"Habisi gadis itu untuk menghilangkan bukti." jawab sang bos dari dalam mobil.


Brahma penasaran, kenapa ada seorang gadis di malam hari di tempat sepi seperti ini? Brahma turun dari mobil melihat gadis yang dimaksud anak buahnya.


Sedang Nayra sudah amat sangat ketakutan saat melihat para bodyguart mendekatinya. Nayra melihat Brahma turun dari mobil dengan stelan jas hitam.


"Kakek."


Nayra menangis dalam pelukan Brahma, dipeluk nya Brahma dengan sangat erat. Nayra bersyukur Tuhan telah mengirim nya penolong saat waktu yang tepat.


Hiks, hiks.


Brahma melonggarkan pelukan Nayra. Brahma terkejut melihat wajah pucat Nayra berlinang air mata.


Para bodygard mendekat ingin mengambil Nayra, Brahma memberi kode untuk menghentikan aksi nya.


"Apa yang kau lakukan disini nak?"


"Nay diceraikan suamiku, lalu meninggalkan ku di negara asing kek." Adu nya pada Brahma.


Hiks, hiks, hiks.


Nayra berbicara sambil sesegukan.


Brahma membawa Nayra dalam mobil mewah nya.


"Sekarang kamu tinggal dimana nak? Biar kakek mengantarmu!"


Nayra menggeleng lemah.


"Aku tidak punya tempat tinggal kek, ini di negri asing. Aku ditinggal suami ku setelah diceraikan ditempat ini kek."


Brahma mengepalkan tangan nya, merasa marah akan perlakuan suami dari gadis yang pernah menyelamatkan nyawa nya.


"Apa kamu mau tinggal bersama kakek?"


Nayra mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih kakek."


Nayra memeluk Brahma yang duduk bersebelahan dengan nya dalam mobil itu.


Deg..


Jantung Brahma berdetak cepat. Brahma merasa nyaman saat di peluk Nayra.


Brahma mengelus kepala Nayra dengan sayang.


"Jangan khawatir, semua akan baik - baik saja. Mulai sekarang kamu tanggung jawab kakek."


Nayra melepas pelukan nya, tersenyum melihat Brahma yang tulus membantu nya.


"Terima kasih kakek." Ucap nya tulus.


Brahma membawa Nayra di hotel tempat Brahma menginap.


"Untuk sementara, kamu tinggal dikamar ini. Kakek tinggal di kamar sebelah. Besok kita kembali ke tanah air.


Apa kamu masih berniat pulang ke tanah air atau betah tinggal di negri ini?"


"Nay akan ikut kakek kemana pun kakek pergi, Nay akan mengurus kakek."


Ucap nya tersenyum.


Brahma mengelus kepala Nayra, Brahma senang melihat kepolisian Nayra.


"Istirahatlah. Sebentar lagi akan ada petugas hotel mengantar makanan serta kebutuhan mu yang lain nya."


Nayra mengangguk.


Ditempat lain, di tanah air. Bian sudah dicerna dengan berbagai pertanyaan.


"Katakan pada daddy, dimana Nayra?"


Tanya Baskoro.


Bian diam saja sembari meminta Siska pulang dengan kode gelengkan kepala. Siska yang sudah paham langsung pulang meninggalkan kedua keluarga itu.


"Nak Bian, tante mohon katakan dimana Nayra nak?"


"Bian sudah menceraikan Nayra, jadi bukan urusan Bian dia ada dimana." Kilah nya


"Bian katakan dimana kamu bertemu Nayra terakhir kali nya nak? Tante mohon."


Ratna memohon dengan berlinang air mata.


"Bian, kenapa kamu masih bungkam! Bukankah kamu sudah menceraikan Nayra, buat apa kamu melarang kami bertemu dengan nya."


"Aku tidak sudi bila keluargaku masih memenuhinya, aku juga tidak sudi jika keluargaku menganggapnya Nayra Admaja.


Aku sungguh tidak sudi tante."


Bentak Bian dengan suara keras.


Plakkk. Baskoro menampar Bian karena dianggap tidak sopan terhadap Ratna.


"Kau memang sudah hilang akal Bian, daddy malu punya anak seperti mu."


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2