
"Percuma saja kek."
"Kenapa?"
"Umur Nay tidak lama lagi. Dokter mengatakan jika penyakit Nay itu mematikan kek. Ginjal, rahim semua nya sakit."
Brahma terkejut mendengar cerita polos Nayra.
"Apa benar dia sakit? Jika benar Ginjal dan rahim nya bermasalah kasihan sekali gadis malang ini. Pantas saja tubuh nya sangat kurus wajah nya pucat, ternyata itu akibat sakit yang di deritanya.
Astaga. Kenapa malang sekali nasib mu nak. Siapa yang mengakibatkan dirimu semenderita ini?" Monolog Brahma dalam hati.
"Jangan khawatir. Semua pasti baik - baik saja."
Mata Nayra sudah berkaca - kaca membayangkan akhir dari kisah nya.
"Terima kasih kek." Ucap nya tulus.
Dinegara lain, Lian mencari keberadaan Nayra kesegala tempat. Lian berusaha meyakinkan hati nya menemukan Nayra.
"Semoga kamu baik - baik saja Nay."
Lirih nya sambil menyetir mobil.
Baskoro juga mencari keberadaan Nayra, bahkan Baskoro menghampiri tempat kerja Nayra yang dulu sekali gua tempat tinggal nya. Namun hasil nya NIHIL.
Sedang Bian termenung dikursi kebesaran nya, sepanjang hari ini Bian tidak fokus melakukan pekerjaan nya. Berkas semakin menumpuk di meja kerja nya, Kevin tidak berani masuk kamar tuan nya akibat wajah garang yang di tampilkan oleh Bian.
Suara Baskoro seta Abi seakan terus mencerca nya secara bergantian.
"aagggghhhhh. Sialan."
Bian menghempaskan semua berkas yang ada di atas meja kerja nya.
Memijit kepala yang terasa pusing.
"Apa aku sudah keterlaluan meninggalkan nya di Jerman?" Lirih nya pelan
"Tidak. Aku sudah melakukan hal yang tepat." Ucap nya lagi.
Wanita itu bukan Nayraku. Dia Nayra yang licik, dia pasti utusan Brahma untuk menghancurkan ku karena sudah mengambil proyek besar." Monolog Bian pelan.
Hingga sore hari Bian tidak fokus melakukan aktivitas nya. Bian meninggalkan ruangan nya dengan keadaan berantakan.
Bian pulang ke apartemen nya untuk menenangkan giliran sejenak, akan tetapi Bian mendapati Siska sedang santai duduk di sopa.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Siska bangkit menghampiri Bian. "Aku merindukan mu bebi!"
"Pergilah. Aku sudah tidak membutuhkan mu lagi."
"Apa maksudmu bebi?"
"Pergi."
"Aku tidak akan meninggalkanmu, bukan lah kita sepasang kekasih?"
"Kau bukan kekasihku. Kita tidak punya ikatan. Pergi dan jangan pernah memperlihatkan wajah mu di hadapanku."
"Bebi, aku yang selalu menemani mu. Apa kau tidak melihat pengorbananku?"
"Pengorbanan apa? Menghabiskan uangku pengorbanan yang kau maksud?"
Bian tersenyum mengejek Siska.
"Bebi. Aku.."
__ADS_1
Belum selesai Siska bicara, Bian sudah menghentikan nya.
"Aku tidak pernah memintamu berada di sisiku, kau yang selalu mendekati ku. Aku tidak pernah menganggap kau sebagai teman, orang dekat apa lagi kekasih. Ingat itu.
Dan..
Dan sekarang pergilah."
Bian menarik tangan Siska secara kasar, mendorong nya keluar. Bian langsung mengganti sandi apartemen nya.
Malam hari nya sesuatu mengusik Bian dalam tidur nya. Bian mendengar suara menjerit Nayra mengejar Bian saat meninggalkan nya di Jerman.
"Tuan jangan tinggalkan aku!"
"Tuan aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian tuan!"
"Tuan tolong.."
Agghhh.. Bian bangun dari mimpi buruk nya, wajah nya di penuhi dengan keringat sebesar biji jagung. Mengusap wajah secara kasar.
Beranjak dari kasur, keluar menuju dapur untuk minum.
Melihat kamar Nayra saat melewati dapur, berhenti tepat si depan pintu kamar yang ditempati oleh gadis malang itu.
Masuk kamar tersebut melihat kamar kecil yang pengap.
"Apa aku keterlaluan membiarkan wanita hamil tinggal di kamar seperti ini" gumam nya.
Bian melihat buku diary yang sering Nayra tulis saat mereka berada di mansion Baskoro.
Berjalan menghampiri buku itu, penasaran akan tulisan yang di buat oleh sigadis malang.
"Pasti dia mengataiku yang tidak - tidak di buku ini." Lirih nya.
Bian duduk di kasur mengambil buku di meja kecil samping kasur itu.
Dukk... Sebuah kotak jatuh di lantai.
Bian mengambil kotak itu di lantai, membuka kotak dan..
Deg..
Jantung nya berdetak kencang. Nafas nya tak beraturan, tubuh terasa dingin sedingin salju.
" Ka - kalung ini. Ini kalung Nayra.
"Astaga Nayra." Tangan Bian gemetaran.
Ada apa ini?
Nayra!
Apa itu artinya Nayra adalah Nayra ku?
Tidak mungkin.
Astaga. Apa maksud nya ini?"
Bian membuka buku, dann..
Deg.
Lagi - lagi Bian di kejutkan dengan kebenaran yang sangat menyayat hati nya.
"Om - om Pandi."
Bian melihat poto Pandi dan Cindi merangkul Nayra di tengah - tengah mereka.
__ADS_1
Dipoto itu Nayra kecil sangat bahagia.
Tubuh Bian sejenak tersungkur di lantai, Bian lemas, menari rambut nya kasar.
"Jadi dia adalah Nayra! Benar - benar Nayra.
Astaga, apa yang sudah aku lakukan?"
Bian menangis memandangi poto keluarga Pandi.
"Maafkan Bian om, tante. Bian telah menyakiti anak tante. Maaf kan aku.
Maaf kan aku. Maaf kan aku.
Apa yang harus ku lakukan? Ya Tuhan. Maafkan aku.
Maafkan aku Nay."
Bian merogoh ponsel nya menghubungi seseorang.
"Cari gadis yang bersamaku minggu lalu, periksa seluruh cctv yang ada di kota itu. Pastikan kalian menemukan nya."
Bian menjatuhkan tubuh nya di kasur Nayra.
"Maafkan aku Nayra. Maafkan aku sayang.
Kau istriku, selama nya kau hanya milik ku.
Tak peduli Brahma menanam benih pada mu. Kau tetap milik ku, aku tidak peduli."
Bian terus menggenggam Kalung milik Nayra dalam genggaman nya sampai Bian terlelap.
"Jangan tinggalkan aku tuan.
Ampun tuan
Sakit tuan
Hiks, hiks, hiks..
Lepaskan tuan, jangan tarik rambutku. kepalaku sakit tuan. Aku mohon tolong jangan sakiti aku tuan."
Aaahhhjh. Lagi - lagi Bian mimpi akan penderitaan Nayra selama menjadi istri nya.
Bian ngos - ngosan sebab mimpi buruk itu.
Bian kembali mengambil telepon genggam nya.
"Kevin. Atur keberangkatanku ke Jerman malam ini juga."
Ditempat lain berbanding terbalik dengan Bian. Saat ini Nayra merasa lebih baik dari sebelum nya. Nayra menikmati hari nya bersama Brahma. Brahma menyayangi Nayra layak nya cucu sendiri.
"Nayra. Hari ini kakek ke kantor, jika butuh sesuatu minta pada maid."
Nayra mengangguk. "Terima kasih kakek baik."
Brahma tersenyum senang.
Nayra menyusuri kediaman Brahma, Nayra menikmati angin sejuk yang ada di kebun belakang rumah itu.
"Bila saat nya tiba jiwaku dipanggil oleh Nya, maka diriku sudah ikhlas menghadapNya.
Ternyata hidupku sudah menemukan takdir yang begitu pelik. Papa, mama sebentar lagi kita bertemu. Nay sangat merindukan kalian."
Nayra memejamkan mata nya, menikmati udara sejuk.
Bian pontang - panting menyusuri kota itu, seakan menggilai hati yang sesak.
__ADS_1
Saat hati tak mampu berucap maka jangan menyesali sesuatu yang sudah berlalu. Semua tak semudah membalik kan telapak tangan, penyesalan tak mampu mengembalikan keadaan yang sudah berubah.
Bersambung!