
Agghhhh.
"Kemana aku harus mencarimu Nay? Dimana kamu sayang? Maafkan aku."
Bian duduk di kursi pinggir jalan, para pejalan kaki berjalan melewati Bian yang tampak kusut,
wah tampan yang selalu tampil tegas, dingin nan berwibawa tak terlihat di wajah sang CEO angkuh yang sekian lama menyakiti seorang gadis malang baik secara fisik maupun batin.
Bila saja Bian tidak terlalu dalam menyakiti Nayra mungkin tidak akan sekacau ini perasaan si pria.
Aaggghhhhh. Bian berteriak kencang mengacak rambut mengusap wajah kusut secara kasar.
"Dimana kamu Nay" lirih nya pelan "aku mohon jangan pergi."
"Tuan jangan tinggalkan aku. Tuan aku mohon jangan tinggalkan aku tuan. Hiks, hiks."
Suara jerit tangis Nayra terngiang di telinga Bian , saat Nayra mengejar mobil Bian di Jerman kala itu.
Air mata nya luruh tanpa di undang, sesak di dada tak mampu membuat hidung kembang kempis.
Para pejalan kaki memandang aneh akan Bian, layak nya seorang anak kecil yang kehilangan ibu nya.
"Kemana kau harus mencari mu di negara asing ini Nayra?
Maafkan aku. Maafkan aku sayang."
Hiks, Hiks, hiks.
Di negara lain Lian tidak fokus melakukan aktivitas nya. Meeting yang harus nya selesai dari dua jam yang lalu kini harus menambah waktu tiga jam kedepan.
"Maafkan saya. Meeting kita lanjutkan hari berikut nya. Yanto akan mengatur ulang waktu meeting selanjutnya. Permisi."
Lian pergi meninggalkan ruang meeting, bagaimana Lian bisa fokus bila saat ini pikiran nya terbagi dengan berbagai masalah. Nayra yang tidak tau keberadaan nya kemudian mami Ratna sakit akibat makan tidak teratur memikirkan Nayra yang disayangi tak kunjung dapat direngkuh tubuh gadis malang itu.
"Huhh. Dasar bos, sesuka hati saja membuat waktu meeting kapan pun. Sia - sia kan waktu hari ini berlalu selama lima jam."
Sungut salah satu manajer perusahaan Lian.
__ADS_1
Lian pergi pulang menemui mami Ratna yang terbaring lemah dalam kamar.
"Mami" sapa nya mengecup kening mami Ratna dengan sayang. "Mam, Lian mohon mami harus makan, mami harus sehat. Saat Nayra ketemu melihat mami sakit pasti Nayra sedih mam.
Mami harus minum obat teratur, Lian sudah beli obat resep dokter mam."
Ratna hanya mengangguk lemah.
"Lian, mami sangat antusias pulang ke tanah air untuk bertemu Nayra. Mami tidak tau kenapa hati mami begitu damai saat berbicara dengan nya, melihat wajah Nayra hati mami begitu damai."
"Mami yang sabar saja, kita pasti bertemu dengan Nayra mam."
Mami Ratna mengangguk. "Sayang, janji sama mami untuk membawa Nayra pulang ke rumah kita." Pinta nya penuh harap
Lian mengangguk.
"Sekarang mami makan lalu minum obat, Lian suapan mami ya!"
Mami Ratna mengangguk kepala patuh pada anak nya.
Baskoro mendapat informasi jika Bian membawa Nayra ke Jerman meninggalkan Nayra disana setelah putra nya itu menceraikan gadis malang yang bersalah itu.
"Aaggghhhhh. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menghancurkan kehidupan seorang gadis yatim piatu menikahkan nya dengan putraku.
Kenapa aku begitu kejam pada hidup seseorang. Maafkan aku Nayra, gara - gara om hidup mu jadi hancur. Om yang harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini. Om lah yang harus di salahkan dalam hal ini."
Baskoro mengusap wajahnya secara kasar. Santi melihat wajah prustasi suaminya menghampiri Baskoro dengan secangkir kopi.
"Diminum dad kopinya." Baskoro menoleh.
"Daddy mungkin semua ini sudah takdirnya, daddy harus ikhlas dan melupakan semuanya."
Baskoro geram akan istri nya.
"Bagaimana mungkin mommy bisa berbicara seperti itu mom? Apa mommy tidak pernah prihatin dengan segala kesakitan Nayra. Mom seandainya Nayra itu putri nya Pandi, apa yang mommy lakukan? Menuduh daddy selingkuh dengan nya? Membencinya karena telah menikah dengan Bian?"
"Daddy. Dia bukan putri Pandi. Putri Pandi sudah tiada, sadarlah daddy."
__ADS_1
"Mom, daddy tidak bilang jika Nayra itu putri Pandi, daddy bilang seandainya mom SEANDAINYA." Baskoro kesal jadi nya.
"Dad, seandainya putri Pandi masih hidup maka kelakuan nya tidak akan seperti kelakuan gadis itu!"
"Memanahnya ada apa dengan kelakuan Nayra mom? Selama ini Nayra tidak melakukan hal yang tidak wajar. Nayra itu penurut, mommy yang sudah menutup hati mommy untuk melihat kebaikan orang lain."
"Daddy, mommy tidak ingin berdebat hanya karena orang asing."
Seketika Baskoro berdiri dari sopa duduk nya.
"Mom, Nayra itu bukan orang asing. Nayra menantu kita, anak kita juga mom" bentak nya marah.
"Mommy tidak habis pikir dengan sikap daddy. Daddy membentak mommy hanya karena gadis sialan itu, menantu yang daddy banggakan yang bahkan kita tidak tau asal usulnya. Bagaimana jika gadis itu anak dari seorang perempuan penghibur apa daddy tidak malu mengakuinya sebagai menantu?"
"Mommyyy." Teriak Baskoro dengan suara keras.
"Daddy selalu belanin gadis itu, bahkan daddy membentak mommy hanya karena gadis itu juga. Semenjak kehadiran gadis itu rumah ini bagaikan neraka dad."
Baskoro geleng kepala akan sikap istrinya yang egois, tubuh Baskoro lemas. Baskoro kembali duduk dengan tak berdaya tak sanggup menjawab setiap untaian kata yang dilontarkan istrinya itu. Baskoro menarik nafas panjang lalu menghembus nya secara perlahan berusaha meredam emosi.
""Apa mommy pernah berfikir. Seandai nya mommy memiliki seorang putri yang lahir dari rahim mommy diperlakukan seperti Nayra rasakan. Apa mommy dapat memaafkan suami putri mommy itu? Apa mommy bisa memaafkan keluarga suami putri mommy?
Deggg.. Santi diam, jantungnya dag, dig, dug.
Santi ketakutan membayangkan hal itu.
"Atau, jika saja daddy yang melakukan hal itu pada mommy. Apa mommy sanggup menjadi istri daddy selama setahun?"
Deg... Lagi - lagi Santi berdebar, jantung nya melemah, nafas naik turun tak beraturan.
"Mommy tidak akan paham akan kondisi Nayra saat mommy tidak merasakan penderitaan Nayra. Bila mommy memakai hati mommy memahami Nayra, mommy pasti bisa merakan penderitaan orang lain."
Setelah mengatakan itu Baskoro pergi meninggalkan istrinya itu.
Santi duduk lemah di sopa empuk nya. Air mata nya mengalir tanpa di undang.
Mengingat betapa menyedihkan nya diri nya jika saja apa yang menimpa Nayra menimpa diri nya. Santi merinding membayangkan bila Baskoro bersikap sama seperti Bian apa diri nya sanggup menjadi seorang istri. Santi terus merenung akan sikap nya terhadap Nayra selama menjadi menantu keluarga Baskoro.
__ADS_1
Hati nya kalut tak sanggup membayangkan setiap kalimat yang terucap dari bibir suami. Apa yang tidak dimiliki diri nya sehingga tidak dapat melihat ketulusan Nayra?
Bersambung.