
"Tetap lah memperhatikan kondisi anda setelah operasi selesai."
"Saya pasti baik - baik saja dok. Jika istri saya sehat itu sudah lebih dari cukup."
"Semoga anda dan istri anda sukses menjalani operasi ini hingga kalian sehat."
"Terima kasih dokter, tiga hari lagi saya datang untuk menjalani proses operasi nya. Permisi dokter Juan."
Bian menjabat tangan dokter Juan dengan haru.
Ditempat yang sama Nayra juga konsultasi untuk menjalani serangkai test pasca operasi terhadap diri nya sendiri.
"Semua terlihat normal dan baik - baik saja, empat hari lagi nona kembali ke rumah sakit. Jika tidak ada kendala operasi akan kita lakukan segera."
Abi, Ratna dan Nayra senang mendengar kabar bahagia itu.
"Dokter. Apa saya boleh bertemu dengan malaikat penyelamat hidup ku? Saya ingin berterima kasih dokter." Lirih Nayra penuh harap.
"Maaf nona, pendonor itu minta merahasiakan identitas nya, kami pihak rumah sakit tidak dapat membantu anda untuk saat ini."
"Berarti besok dokter bisa membantu kami untuk mengetahui identitas pendonor itu kan?" Tanya mami Ratna, ngotot.
"Huh." Dokter Juan menarik napas untuk menghadapi ibu - ibu satu ini.
"Maaf bu, saya pribadi tidak dapat membantu ibu untuk masalah identitas pendonor." Dokter Juan tersenyum simpul mengingat bagaimana karakter ibu satu ini.
"Kami hanya ingin mengucap kan terima kasih pada pendonor itu dokter. Bahkan beliau tidak menerima imbalan sepeser pun dari kami. Keluarga kami sangat berhutang budi pada nya karena atas bantuan nya putri kami akan segera sembuh." Tutur Papi Abi meluruskan semua nya.
"Terima kasih dokter. Siapa pun orang yang telah berbaik hati pada ku, semoga Allah selalu melindungi nya. Saya berharap suatu hari nanti bertemu dengan nya, kami permisi pulang dokter" ucap Nayra lembut.
Mereka bertiga pergi meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan lorong rumah sakit, senyum terbit di bibir cantik mereka hingga mereka masuk mobil.
"Akhir nya putri mami mendapat donor ginjal juga, mami sangat senang sayang."
Nayra tersenyum bahagia, saat mendapat perhatian tulis dari keluarga sahabat papa nya.
"Mami. ternyata benar kata papa dan mama, kalau keluarga Nayra sangat baik, selama ini Nayra kira mami sama Papi itu saudara nya mama. Ternyata Nay salah! Ternyata Papi dan mami sahabat nya papa dan mama aku.
Nay jadi kangen papa sama mama, Nayra ingin kembali ke zaman Nayra masih kecil mam. Papa dan mama sangat memanjakan Nayra saat itu." Curhat nya.
__ADS_1
"Sayang. Mami kan selalu memanjakan mu selama kita bersama ujar nya.
Kamu boleh lebih manja lagi sama mami sayang, mami senang bila putri mami yang cantik ini manja pada mami." Ratna mengeluh rambut Nayra dengan sayang. Sedang Abi tersenyum senang melihat kedekatan istri dan putri sahabat nya melalui kaca spion mobil.
"Nay akan segera bertemu daddy mommy dan kakak tampan kan mi" ujar nya.
"Sehat dulu, baru bahas masalah itu nak" Sambung Abi.
Nayra mengangguk pasrah, pasal nya setiap diri nya bahas mommy daddy serta kakak tampan pasti keluarga itu akan mengalih kan pembicaraan.
"Mi, Nay ingin kakak tampan" lirih nya pelan, namun masih dapat terdengar oleh Abi.
"Sabar ya nak, kita pasti akan bertemu dengan mereka" ujar nya.
Mereka masuk dalam rumah melihat Lian sedang bersantai di ruang keluarga menonton acara televisi sambil makan camilan.
"Lian, kenapa kau sudah di rumah? Tidak kerja?" Tanya mami Ratna, heran melihat anak nya yang sudah tiba di rumah di jam sekarang.
"Mami kenapa sih? Pulang malam salah, pulang cepat juga salah. Mau mami apa?" sungut nya kesal.
"Mau mami cari uang yang banyak agar mami dan Nayra menikmati hasil jerih payamu. Mami ingin membawa Nayra ke paris, Nayra seperti nya sangat suka dengan istana Disney yang ada disana."
"Sekarang pun kalian bisa kesana tanpa mengomel ku mam." kilah nya tak mau kalah.
"Kak Lian kenapa membantah mami ku." sungut nya ngambek.
"Mami mu sangat cerewet, telinga ku sakit Nay"
"Dasar kakak menyebalkankan." Nay beranjak ingin pergi masuk kamar nya namun di cegah oleh Lian.
"Ikut kakak ke taman belakang, ada sesuatu yang ingin kakak katakan pada mu."
Lian membawa Nayra menuju taman belakang, susuk santai menghadap bunga milik mami Ratna.
"Nay. kakak ingin tanya sesuatu mengenai Bian suami mu."
Nayra langsung melihat wajah kakak baik nya.
"Ke-kenapa kak?"
__ADS_1
"Apa takut pada nya?"
Nayra mengangguk
"Kenapa?" Tanya Lian ingin tau.
"Nay takut di pukul kak, monster itu pernahbuat Nayra hampir mati" lirih nya menunduk kepala.
Lian membawa Nayra dalam pelukan nya. "Tenang kakak hanya ingin kamu sembuh secara fisik dan mental Nay. Kakak juga tidak ingin kamu mengalami trauma teramat dalam.
Nay takut kak. Nay takut di pukul monster itu. Nay juga takut di siksa tuan monster. Nay takut kelaparan karena tuan monster kak." Nayra terisak dalam pelukan kakak baik nya.
"Sstttt. Tenang lah Bian tidak akan bisa menyakiti mu lagi. Sekarang ada kakak di sini Nay."
"Apa kamu mau memaafkan Bian?" Tanya Lian sendu
Nayra diam membisu tidak tau harus berbuat apa?
"Nay takut memaafkan kan dan takut juga membenci nya kak, Nay tidak tau kak. Apa yang harus Nay lakukan kak?" Tanya Nayra
"Memaafkan kan adalah perbuatan yang mulia, bila kita memang kan seseorang maka hati kita akan damai, jangan pernah takut akan hal apa pun, buang rasa takut mu. Jangan biar kan trauma mengganggu hidup mu Nay."
Nayra mengangguk pasrah, diri nya akan mencoba untuk membuang rasa takut dalam diri nya.
"Nay akan coba kak" lirih nya mengusap air mata di pipi mulus nya.
"Adik ku yang sangat cantik ini memang sangat mengemaskan, aku bangga punya adik secantik diri mu."
Nayra tersenyum senang saat di puji cantik, sifat narsis yang sudah ia miliki sejak kecil masih melekat hingga dewasa.
"Nay, apa kamu mau bertemu dengan Bian?" Nayra langsung diam, senyum nya hilang entah kemana. Melihat ekspresi wajah Nayra membuat Lian yakin jika Nayra belum siap untuk bertemu.
"Tidak apa jika belum siap, Kakak hanya ingin kamu bebas dari trauma rasa takut Nay" tutur nya mencoba.
"Terima kasih untuk kebaikan kakak, Nay belum siap untuk bertemu saat ini kakak baik."
"Kakak tidak akan memaksa Nay, ingat Nay kakak akan selalu melindungi mu.
Jangan pernah takut menjalani hidup ini Nay. Kamu harus kuat."
__ADS_1
Nayra mengangguk paham.
Bersambung.