
"Dokter bagaimana keadaanya?"
Tanya Kevin khawatir
"Huh.. Mari ikut ke ruangan saya."
Dokter itu berjalan lebih dahulu di ikuti oleh Kevin.
Dalam ruangan Dokter mengatakan kalau kondisi Nayra tidak bisa di anggap remeh.
"Begini tuan, sebaiknya pasien dirawat inap. Kami masih harus manatap keadaan pasien.
Saya menduga pasien mengalami kerusakan ginjal dan..."
"Dan apa dokter?" Tanya Kevin tak sabar mengetahui kondisi nyonya nya.
"Dan pasien mendapat benturan pada dinding rahim nya.
Apa pasien pernah mengalami benturan pada bagian perut?"
Kevin diam tak tau harus menjawab apa.
"Besok kami akan melakukan cek ulang terhadap pasien untuk memastikan sesuatu.
Kami harus segera melakukan tindakan, bila di biarkan kondisi pasien akan semakin buruk."
Deg..
Napas Kevin naik turun.
Kevin ingin meninju tembok ruangan dokter itu, namun Kevin berusaha meredam emosi nya.
Kevin menghampiri Nayra yang sudah dipindahkan di ruang rawat inap.
Kevin menangis akan nasib sial yang menimpa nyonya nya yang baik hati itu.
Nayra membuka mata memperhatikan langit - langit rumah sakit yang terasa asing bagi nya.
Nayra melihat ruangan yang seluruh nya ber cat
putih.
"Nyonya, anda sudah bangun?" Kevin sedih melihat bola mata Nayra.
Nayra melihat Kevin yang berusaha menghapus air mata nya, tetapi air mata sekretaris itu seakan tidak mau berhenti seakan air mata itu ikut merasakan kesedihan sang nyonya.
"Sekretaris Kevin! Saya dimana?"
Tanya nya lemah.
"Anda ada dirumah sakit nyonya."
"Saya kenapa Sekretaris Kevin?"
"Anda baik - baik saja." Jawab nya cepat
Nayra ingin duduk di ranjang pasien, namun kevin menghalangi nya.
"Anda harus banyak istirahat nyonya, dokter menyarankan anda untuk tidak banyak bergerak."
"Bukankah anda mengatakan saya baik - baik saja?" Tanya Nayra
Kevin diam dengan pernyataan Nayra
"Sekretaris Kevin apa yang terjadi?"
Kevin tetap bungkam
"Sekretaris Kevin, tolong jangan merahasiakan apa pun pada saya. Saya berhak tau."
"Nyonya maafkan saya!
Nyonya. Sebaiknya istirahat."
__ADS_1
Kevin pergi meninggalkan Nayra, tidak tahan dan tidak sanggup untuk menyampaikan berita yang sangat menyakitkan itu.
Ceklekkk
Pintu kembali terbuka, Dokter menemui Nayra guna untuk memeriksa kondisi pasien setelah siuman.
"Hai nona. Sapa dokter tersenyum ramah.
Apakah keadaanmu baik - baik saja?"
Nayra mengangguk.
"Perkenalkan saya dokter Juan yang menangani anda, mohon perhatikan pola makan anda dan jangan melakukan aktivitas yang berat! Anda juga tidak boleh stressss agar kondisi anda tidak drop."
"Kapan saya boleh pulang dokter?"
Dokter juan menaikkan sebelah alis nya. Bingung, kanapa pasien nya yang sakit parah minta pulang apa dia tidak ingin sembuh. Pikir nya saat mendengar permintaan Nayra.
"Kenapa anda ingin pulang?"
"Karena saya baik - baik saja." Jawab Nayra lugas.
Apa anda tidak diberitahukan oleh saudara anda tentang kondisi anda? Tanya dokter memastikan, khawatir salah mengambil tindakan.
"Saudara yang mana dokter? Saya tidak punya saudara. Saya tidak punya siapa - siapa lagi. Saya sebatang kara di dunia ini."
Deg.
Jantung dokter bergetar mendengar penuturan Nayra.
"Bagaimana seorang pasien yang sakit parah tidak memiliki keluarga? Lalu siapa yang akan mengurus nya?" Batin nya
"Dokter apa saya sudah boleh pulang? Saya tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini dokter!"
Nayra takut dipenjarakan karena tidak sanggup bayar tagihan rumah sakit.
"Maaf sebelum nya nona.
Kami harus memantau perkembangan nona."
"Begini nona... "
Dokter juan menjelaskan penyakit yang di derita Nayra. Air mata nya mengalir tanpa di minta.
"Jadi saya harap anda mempertimbangkan tawaran saya."
Saran dokter juan pada Nayra
"Saya tetap akan pulang hari ini dokter, jika saya sudah punya uang. Saya akan menemui dokter."
"Baiklah, saya tidak bisa menghalangi anda.
Tetap perhatikan kondisi fisik anda nona."
Nayra hanya mengangguk.
Nayra berjalan menyusui koridor rumah sakit.
Nayra melamun, suara dokter Juan seakan menempel ditelinganya. Pandangan Nayra kosong. Nayra terus berjalan tanpa mendengar suara Kevin yang memanggilnya.
"Cobaan apa lagi ini ya Tuhan. Kenapa hidupku sangat menderita?
Kenapa takdir sangat senang mempermainkan hidupku?
Apa salahnya? Kenapa harus aku?"
Nayra terus menerus membantin.
Seolah mempertanyakan takdir yang tidak adil pada nya.
Nayra tersentak dari lamunan nya saat Kevin menyentuh lengan Nayra.
"Nyonya, apa nyonya baik - baik saja?"
__ADS_1
Nayra melihat Kevin yang khawatir pada nya.
Air mata Nayra mengalir, Kevin menyaksikan betapa hancur hati Nayra saat ini.
"Kenapa anda keluar dari ruangan anda nyonya?" Tanya nya khawatir
"Saya ingin pulang! Sudah sore saya harus menyiapkan makan malam buat tuan Bian dan nyonya Siska, bila tidak makan mereka akan memukulku."
Lirihnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Tuhanku. Setakut itukah nyonya dengan tuan Bian. Apa tuan juga sering memukulnya?" Batin Kevin.
"Tapi nyonya... "
"Sekretaris Kevin. Anda sudah tau tentang penyakit saya?" Tanya Nayra
Kevin mengangguk lemah.
Kevin mengajak Nayra duduk si kursi koridor rumah sakit.
"Sekretaris Kevin. Tolong rahasiakan penyakit saya ini dari siapa pun, saya mohon jangan sampai ada yang tau."
"Tapi nyonya.."
"Saya mohon."
Nayra memohon dengan mengangkat kedua telapak tangan nya di depan dada dengan air mata yang tetap mengalir.
"Apa anda tau sekretaris Kevin! Hidupku tidak lama lagi. Tuhan itu baik, telah mendengarkan doa ku untuk membawaku ke surga."
Deg.
Sekretaris kevin langsung melihat wajah Nayra yang putus asa.
"Apa anda tau, saya tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Kedua orang tuaku sudah tiada saat usiaku lima tahun. Kakakku meninggal di bunuh orang jahat.
Saya sebatang kara sekretaris Kevin!
Saya ingin pergi ke surga dengan tenang."
"Tapi nyonya penyakit nyonya masih bisa sembuh jika anda rutin kontrol."
"Saya tidak punya uang sekretaris Kevin."
"Anda itu istri dari seorang pebisnis hebat, anda bisa melakukan pengobatan dimana pun nyonya."
Nayra menggeleng.
"Tidak. Sebelum saya tau jika saya sakit parah, saya sudah sering merakan pusing dan sakit perut saya sering mual. saya sudah bilang pada tuan Bian jika saya merasakan rasa sakit.
Tuan Bian meminta saya untuk segera mati."
Deg.
Kevin merinding mendengar cerita Nayra
"Tuan Bian juga melarang saya menggunakan uang nya untuk keperluan pribadi saya.
Bila saya memakai uang nya untuk berobat maka tuan akan memukul saya lagi sekretaris Kevin.
Biarlah rasa sakit penyakit ini cukup saya rasakan, saya tidak mau lagi menambah rasa sakit dipukul sekretaris Kevin"
Deg..
Lagi - lagi Kevin berdetak kencang jantungnya
"Saya mohon rahasiakan sakit saya ini baik itu dari daddy Baskoro mau pun Kak Lian. Saya tidak ingin di sisa umur saya ini membuat mereka bertengkar hanya karena saya."
"Saya akan pergi ke surga dengan tenang jika mereka tidak bertengkar karena saya."
Kevin menangis pilu mendengar curahan hati Nayra. Bagaimana mungkin ada manusia setegar nyonya nya itu.
Bersambung!
__ADS_1