
"Tuan. Apa kita membawa nya berobat keluar negri?" Tanya pak sopir
"Tidak. Kita ke rumah sakit terdekat. Jika membawa nya ke luar negri, akan semakin bahaya dengan kondisi seperti ini."
Mereka membawa Nayra ke rumah sakit.
Brahma setia menunggu Nayra di depan IGD, Brahma belum siap kehilangan Nayra. Hari - hari nya semakin baik saat Nayra tinggal bersama nya.
Ceklek. Dokter keluar dengan wajah lesu.
"Bagaimana kondisi Cucuku dokter?"
"Sebaik nya kita bicarakan di ruangan. Mari tuan."
"Begini tuan Brahma. Cucu anda akan di rawat untuk beberapa hari ke depan. Ginjal nya harus segera di angkat. Kami sudah berusaha mencari ginjal yang cocok dengan cucu tuan. Namun sampai sekarang belum ada ginjal yang tepat untuk cucu anda."
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?"
"Kita berdoa saja semoga ada ginjal yang cocok dengan cucu anda.
Satu lagi tuan. Rahim cucu anda harus segera di angkat. Jika cucu anda masih mengalami mual dan muntah. Seperti nya cucu anda tidak minum obat secara teratur, mengakibatkan kan rahim nya semakin buruk."
Deg.. Brahma hilang kendali. Tubuh nya merosot di lantai.
"Tuan. Tenanglah diri anda."
Dokter membawa Brahma duduk kembali di tempat nya.
"Kenapa nasib Cucuku seperti ini dokter?"
Hiks, hiks. Brahma menangis.
Ceklek. Brahma masuk ruang rawat inap, melihat Nayra yang sudah di pindah kan di ruang rawat VIP untuk kenyamanan pasien.
"Kenapa kamu lakukan ini pada kakek nak? Kenapa kamu tidak rutin minum obat?"
Nayra masih setia memejamkan mata akibat pengaruh obat yang diberikan oleh dokter.
"Apa kamu tidak menyayangi kakek? Kenapa kamu menyerah dengan penyakit mu nak?
Apa yang harus kakek lakukan? Katakan apa yang harus kakek lakukan, agar kamu tetap hidup!"
Nayra membuka mata, mendapati Brahma menangis tersedu di samping nya.
"Kakek."
Brahma mengangkat kepalanya, melihat Nayra sudah membuka mata.
"Kenapa kakek menangis?"
"Apa yang kamu lakukan nak? Kenapa kamu menghancurkan harapan kakek? Kenapa kamu menyerah dengan penyakitmu? Kenapa kamu tidak minum obat nak? Kenapa?"
Nayra menangis melihat ketulusan Brahma.
"Maafkan Nayra kek. Nay lelah. Nayra pasrah kek. Nayra ingin ke surga kek."
__ADS_1
Brahma menggeleng. "Tidak nak, jangan katakan itu. Apa kamu tidak menyayangi kakek? Apa kamu akan meninggalkan kakek sendirian? Apa salah kakek? Kenapa kamu menghukum kakek nak?"
Nayra semakin menangis.
"Maaf kan Nayra kek. Nayra sayang kakek."
Huuuu huuu. Nayra semakin bangus kencang.
"Jika kamu sayang kakek, semangatlah. Kamu pasti sembuh.
Mau janji dengan kakek?"
Nayra mengangguk.
"Terima kasih sayang. Kakek akan berusaha untuk kesembuhan mu."
"Kek. Nay tidak mau berobat di luar negri. Nay tidak mau berobat jauh!"
"Kenapa Nay?"
"Nayra ingin ketemu keluarga Nayra sebelum ke surga kek."
"Ssttt. Jangan katakan itu. Cucuku pasti sembuh dan bertemu dengan keluargamu."
"Tapi Nay tidak ingin berobat jauh kek."
"Baik lah. Tapi janji, harus teratur minum obat. Mengerti!"
Nayra mengangguk.
"Apa kakek tidak ke kantor?"
"Bagaimana mungkin kakek ke kantor jika cucu cantik ku butuh kakek tua di sampingmu?"
Nayra tersenyum bahagia akan ketulusan Brahma.
"Terima kasih kakek."
"Mommy. Kunci mobil daddy mana mom. Daddy mau hampir telat ini."
Santi yang masih di kamar mandi tidak menyahut. Semenjak perdebatan mereka bulan lalu Baskoro jarang berkomunikasi dengan istrinya, Hanya seperlu nya saja.
"Momm. Mommy dengar tidak." Mengedor pintu kamar mandi karena tidak ada jawaban.
"Mommy tidak tau dad."
"Tidak tau bagaimana? Kemarin mommy pakai mobil daddy mom."
"Mommy bilang tidak tau. Ya tidak tau dad. Kenapa daddy jadi makan itu sih!" Santi kesal pada suaminya.
"Ahhh. Dasar ibu - ibu egois." Baskoro kesal pada ibu dari anak nya itu. Santi yang mendengar umpatan suaminya mendiamkan saja, menikmati acara mandi nya dalam bathup.
"Dimana sih mommy simpan kunci nya. Bisa telat kalau begini." Monolog nya terlihat kesal.
Baskoro membuka laci malas dilihatnya ponsel rusak Nayra yang dulu dia minta dari Nayra.
__ADS_1
"Ini ponsel Nayra yang dulu. Apa masih bisa di perbaiki? Lebih baik di bawa ke toko saja. Siapa tau masih bisa di perbaiki. Siapa tau juga ada petunjuk dari sini. Bisa saja kan Nayra tinggal bersama teman nya sekarang."
Sudah seminggu Nayra dirawat dirumah, sakit. Kondisi Nayra sudah berangsur lebih baik dari sebelumnya.
Saat ini Nayra berada di kediaman Brahma dengan berbagai aturan yang harus di taati demi kesembuhan nya.
"Nay ingat. Kakek akan ke luar kota. Jangan lupa minum obat, jangan ke luar rumah dan jangan... "
"Melakukan pekerjaan apa pun. Itu kan selanjut nya kek?"
Brahma tersenyum. Kakek tidak ingin kamu lelah nak.
"Nay sudah sehat kek. Nay pasti baik - baik saja. "
"Kakek akan tenang ke luar kota jika kondisimu baik - baik saja."
Brahma pergi ke luar kota J untuk urusan proyek pulau.
Bian juga tak ketinggalan, Bian ikut serta meninjau proyek yang ada di pulau kota J.
"Kevin pulau ini sangat indah. Beli pulau ini, aku ingin memiliki nya."
"Bagaimana kita membeli pulau ini tuan, jika pemilik nya sudah tiada!" Lirih Kevin pelan.
"Jika om Pandi pemilik pulau ini, berarti pulau ini milik Nayra.
Awas kau Brahma, apa yang sebenar nya kau sembunyikan dari publik?"
Tak lama Brahma muncul dari jarak yang tak jauh, turun dari mobil di dampingi beberapa pengawal. Berjalan mendekat ke arah Bian.
"Cihh. Situa bangka itu. Berani nya muncul di hadapanku."
"Selamat siang tuan Bian yang terhormat. Ada angin apa yang membawa tuan sampai tertarik datang ketempat seperti ini? Biasa nya tuan yang sibuk ini tidak akan melakukan hal seperti saat ini."
"Bukan urusan mu tua bangka." Jawab Bian menantang.
Tangan Brahma mengepal, merasa terhina akan ucapan Bian.
"Lalu mengapa tuan sampai repot datang ke tepat seperti ini?"
"Terserahku. Proyek ini milik ku. Aku sudah membayar segala kerugian yang kau keluarkan saat melanjutkan pembangunan ini. Lalu kenapa tua bangka seperti mu masih mengurus proyek ku?" Tanya Bian dengan wajah tak bersahabat.
"Proyek ini milik ku." Tegas Brahma.
"Tidak. Proyek ini milik ku, jika kau keberatan silahkan buat tuntutan di pengadilan.
Aku sudah mengambil alih tanggung jawab proyek ini. Semua yang ada di pulau ini milik ku. Termasuk pohon dan rumput yang tumbuh."
Wajah Brahma memerah saking emosi menyelimuti hati nya.
"Pulau ini milik ku. Aku akan menghancurkan kan semua bangunan yang ada di pulau ini." Ucap Brahma.
"Tidak. Kau tidak berhak atas apa yang ada si pulau ini. Baik tanah mau pun bangunan nya."
"Pemilik pulau ini sudah lama meninggal, Pandi Wijaya pemilik pulau serta proyek yang ada di pulau ini. Sekarang proyek ini milik ku. Aku akan membeli pulau ini sesuai aturan dan peraturan yang berlaku.
__ADS_1
Bersambung.