Kisah Cinta Nayra

Kisah Cinta Nayra
Bab 46 Melarikan diri


__ADS_3

"Bibi kemana sih? Baru di tinggal sebentar sudah gak ada."


Nayra yang baru saja keluar dari toilet rumah sakit mencari keberadaan maid.


Nayra, menyusuri lorong rumah sakit. Tanpa sepengetahuan nya seseorang mengintai diri nya.


"Permisi sus. Apa suster melihat bibi Mery? Maksudku seorang ibu pakai baju hitam."


"Sepertinya di arah sana nona." Jawab suster.


"Terima kasih suster." Nayra pergi menuju tempat yang di tuju suster.


"Bibi dimana sih? Tunggu sebentar saja tidak sabaran0" Lirih nya


Nayra melangkah hingga parkir, tetap tidak menemukan bibi Mery.


Seorang pria memakai baju hitam serta topi membius mulut Nayra membawa dalam mobil.


"Ayo jalan." Perintah pria itu.


"Kabari tuan Brahma" jika kita sudah berhasil menemukan gadis ini!


Drt. Drt. Drt


"Tuan. Kami sudah menemukan gadis itu!" Lapor anak buah nya.


"Habisi dia. Buang jasad nya ke jurang, berikan binatang buas hadiah dengan tubuh nya."


Jawab Brahma, tanpa tau siapa yang akan di persembahkan pada hewan buas.


"Baik tuan." Akan kami lakukan segera.


Nayra di bawa ke rumah kosong tempat terpencil.


"Ogi. Ayo kita pergi. Biar kan gadis malang ini menikmati tidur terakhirnya sebelum menikmati tidur selamanya."


"Ayo." Ujar teman nya.


Dirumah sakit. Bibi Mery mencari ke beradaan Nayra. Mery khawatir akan kindisi Nayra. Bahkan bibi Mery sudah mendatangi dokter konsultasi, sia - sia sudah bibi Mery. Akhir nya Mery pulang menceritakan semua pada rekan nya.


Mery juga sudah mencoba menghubungi Brahma, namun tetap seperti biasa nya diluar jangkauan.


Pagi hari. Bian kembali meninjau proyek si pulau kecil yang sudah belasan tahun tak kunjung selesai.


"Kevin apa pun yang terjadi pembangunan nya sudah harus selesai tahun ini. Percepatlah semua nya. Tambah karyawan untuk tenaga yang maksimal."


"Baik tuan. Akan saya lakukan"


Bian terus menyusuri tiap tembok yang sudah berdiri.


"Apa yang om Pandi lakukan dengan proyek ini.


Aku kira daddy yang lebih kaya dulu, ternyata om pandi sudah beli pulau.


Cihh. Bahkan kau tidak apa - apa nya di banding om pandi dulu dad."


Bian seolah mengejek daddy nya yang masih di bawah Pandi.


Tetap menyusuri tiap bangunan hotel disana, Bian berhenti pada pulau kecil dalam pulau itu. Melihat betapa indah nya bangunan yang satu itu.


"Kevin. Kemarilah." Kevin yang sedang sibuk berbincang menghampiri tuan nya


"Saya tuan."

__ADS_1


"Kenapa harus ada bangunan seperti ini. Dan kenapa ada pembatas nya. Bagaimana cara menuju kesana Kevin?" Bian kesal kurang puas akan kerjakan Kevin.


"Maaf tuan. Berdasarkan desain pemilik sebelum nya memang seperti itu tuan. Pulau kecil ini konon buatan sendiri. Sengaja di buat untuk istana boneka."


"Maksudmu Istana Disney?"


"Seperti nya begitu tuan. Jalan menuju kesana, melalui jalur sebelah sana tuan." Kevin menunjuk arah barat.


Bian hanya mengangguk paham.


"Apa yang di pikirkan om Pandi dengan membuat hal seperti ini. Bahkan om Pandi tidak memikirkan modal yang begitu banyak."


Bian bahkan merinding membayangkan nominal sebanyak itu.


"Antar aku kesana Vin"


"Baik tuan." Mereka pergi menuju bangunan bagian tengah yang menjadi viuw pulau itu.


"Astaga om Pandi benar - benar luar biasa.


Sejak kapan om Pandi suka hal - hal seperti ini?"


"Mungkin tuan Pandi membuat itu untuk istri nya tuan."


"Bisa jadi." Bian mangkuk - mangkuk.


Mereka masuk di lorong bangunan setengah jadi.


"Kenapa semua berlebel PACINA Vin?"


"Saya belum menemukan jawaban nya tuan."


Bian menoleh ke belakang melihat Kevin yang gugup akan jawaban nya.


"Baik tuan."


"Heh. Bangun. Bangun cepat."


Nayra membuka mata dengan perlahan.


"Dimana aku?" Tanya nya pelan.


"Sudah siap mati?"


"Saya dimana tuan?" Tanya nya takut


"Menuju neraka!" Hahahahaha. Obi dan obi tertawa.


"Nih. Makan. Mati juga harus bertenaga bukan!"


Ogi membuka ikatan tali Nayra.


"Tuan. Tolong saya. Dadaku terasa sesak. Tolong tuan."


"Kau pikir kami peduli."


Bug.. Obi menendang punggung Nayra.


"Aaaaaa. Tuan sakit.."


"Diam. Tutup mulut mu. Sialan"


Hiks. Hiks. Hiks.

__ADS_1


"Kenapa hidup ku selalu berakhir dengan siksaan orang jahat." Batin Nayra sedih.


"Ingat dua hari ke depan kami akan balik lagi untuk menghabisi nyawa mu. Salam pada penghuni neraka nona."


Hahahahahahah. Tertawa berbahak akan penderitaan Nayra.


"Di, ikan tangan nya kembali!"


"Tapi dia belum makan Gi."


"Biar kan saja. Bukan urusan kita."


Odi mengikat tangan Nayra kembali.


Dua hari kemudian. Brahma murka setelah tau jika Nayra hilang. Akan tetapi Brahma tidak bisa pulang karena Bian sedang mengincar Brahma yang mengacau proyek nya.


"Mery. Berikan maaf biru pada orang yang akan datang setengah jam lagi. Mereka yang aku tugasi mencari Nayra. Untuk sementara aku belum bisa pulang. Aku ada perjalanan bisnis ke luar Negeri." Tutur nya lewat telepon pada asisten rumah tangga nya itu.


"Baik tuan."


"Aku jadi terjebak sendiri karena ulah bocah sialan itu. Bahkan aku tidak bisa mencari keberadaan cucuku.


Maaf kan kakek Nayra. Untuk sementara kakek harus bersembunyi dahulu. Kakek sudah meminta anak buah kakek untuk mencari mu.


Tetap lah sehat nak. Kakek mendatangimu."


"Abi. Abi. Dimana kamu?"


"Ada apa Baskoro. Teriak teriak tidak jelas."


"Bi. Aku sudah dapat info soal Nayra. Minggu lalu ada yang melihat Nayra di rumah sakit."


"Benarkah?"


Baskoro mengangguk.


"Apa Nayra di rawat disana? Tunggu apa lagi. Ayo kita ke rumah sakit Bas."


Mereka berdua pergi menuju rumah sakit.


Sedang Lian sedang sibuk meninjau tempat untuk pembangunan panti jompo.


"Pak. saya rasa tempat ini sangat cocok di jadikan panti jompo. Suasana nya tenang, para opa oma pasti nyaman tinggal disini." Lian menuturkan pemikiran nya.


"Apakah anda yakin tuan ingin membuat panti jompo? Bukankah membuat gedung hotel lebih menguntungkan!"


"Tidak pak. Saya sudah cukup kaya. Saya hanya ingin berbagi dengan para opa oma di sini."


"Baik lah, jika itu keinginan tuan."


"Segera urus semua nya. Saya permisi pak." Lian pergi meninggalkan salah satu manajer nya di lapangan yang sedang meninjau tempat.


"Nona. Apakah anda sudah siap ke Neraka? Sayang sekali jika gadis secantik dirimu harus mati terlebih dahulu." Obi menyentuh dahi Nayra.


"Tuan. Tolong lepaskan saya. Perut ku terasa mual tuan. Perut ku sangat sakit."


"Di. Sebelum membunuh nya ijinkan aku menyentuh gadis ini Di."


"Jangan gila Ogi Jika tuan tau maka nyawa kita akan melayang."


"Untuk itu jangan beri tau tuan ini Odi."


"Jangan macam - macam. Pergi sana beli beberapa makan ringan sebelum kita menghabisi nya. Nanti malam kita harus membunuh gadis ini."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2