Kisah Cinta Nayra

Kisah Cinta Nayra
Bab 42 Kecau nya hati Bian


__ADS_3

Selama satu bulan lama nya Bian berada si negara lain mencari keberadaan kesayangan nya itu.


Setiap tindakan pasti akan ada akibat nya, tergantung apa yang kita lakukan untuk setiap tindakan itu. Plus minus berdampingan dalam waktu bersamaan mengapa penyesalan itu datang nya belakangan.


Orang bijak bilang jangan pernah menyesali tindakan mu dikemudian hari, jika itu terjadi maka tidak akan berarti apa pun saat itu juga.


Kevin kelimpungan menangani perusahaan Bintaro Grup sejak Bian pergi mencari Nayra nya. Brahma semakin gencar merebut kembali proyek pulau yang ada di kota J. Beberapa kali Kevin menginformasikan akan kondisi perusahaan nya namun sang CEO hanya cuek tak bersemangat.


Minggu lalu Bian mendapat informasi bila seseorang yang dia cari telah merenggang nyawa di tepi sungai, ada juga info yang lain mengatakan seorang gadis meninggal dengan tubuh kurus akibat kelaparan. Berbagai informaai Bian terima dari anak buah nya.


Hati Bian miris akan info yang dia terima. Bagaimana mungkin seorang istri Bian meninggal akibat kelaparan. Sungguh miris hidupmu Nayra.


"Ada apa kau selalu mengganggunya Kevin? Apa kau bosan hidup. Hah?"


Amuk nya pada Kevin disambungan telepon.


"Tuan gawat, Brahma bertindak di luar dugaan kita. Brahma berusaha merebut kembali proyek pulau itu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghadapi Pak Brahma tapi saya gagal tuan. Pak Brahma tidak mengindahkan setiap tindakan saya, pak Brahma bahkan tidak akan mengganti rugi semua suntikan dana yang sudah kita keluarkan dalam upaya kelanjutan pembangunan proyek tersebut."


"Sialan" amuk Bian


"Lalu apa Brahma sudah berhasil mengambil proyek itu kembali?"


"Saat ini belum tuan. Untuk itu saya mengabari tuan, sebaik nya tuan segera kembali."


"Siapkan kepulanganku detik ini juga Kevin."


Tut. Panggilan di akhiri.


Darah Bian mendidih membayangkan Brahma yang selalu mengusiknya.


"Awas saja kau Brahma sialan, akan ku buat perhitungan padamu."


Tangan Bian mengepal, rahangnya memegang bahkan gigi nya menimbulkan bunyi mengerikan.


"Kakek. Nayra pulang!" serunya memasuki kediaman mewah Brahma.


Brahma yang sedang membaca koran di balkon kamar nya menoleh tersenyum menatap wajah teduh Nayra.


Nayra mencium tangan Brahma, lelaki tua itu tersenyum senang dengan sikap Nayra.


"Apa kamu tidak lelah?" Tanya Brahma


Nayra menggeleng.


"Bulan depan kakek akan membawamu berobat keluar negeri."


"Percuma saja kek, pak dokter mengatakan jika Nayra akan menemui ajal. Nay hanya menunggu saat nya kek!"


ujar nya dengan sedih.


"Hei, cucu kakek yang sangat cantik. Kenapa kamu menyakiti kakek dengan berbicara seperti itu. Hem?"


"Maafkan Nayra kek." Sahut nya dengan mata berkaca - kaca.


"Sudah jangan sedih kakek akan selalu ada untukmu."

__ADS_1


"Terima kasih kek."


Nayra berhamburan memeluk Brahma.


Selama sebulan lebih Nayra tinggal bersama Brahma. Brahma membawa Nayra ke rumah sakit untuk medial cek. Betapa terkejut nya Brahma saat mengetahui kondisi fisik Nayra.


Brahma membuat jadwal rutin konsultasi Nayra ke dokter setiap minggu nya.


"Kamu harus rajin minum obat sayang."


Ujar brahma sambil mengelus rambut Nayra.


Nayra hanya mengangguk dalam pelukan Brahma.


"Jangan patah semangat, kamu pasti sembuh. Usia kita bukan si tangan dokter. Asal kamu teratur minum obat, sakit mu pasti pergi menjauh. Sakit penyakit itu sangat takut pada obat."


Hibur Brahma pada Nayra.


"Tapi kek, obat itu hanya sekadar penghilang rasa sakit nya saja buka penyakit ku."


Hati Brahma sakit mendengar perkataan Nayra.


Brahma melepas pelukan Nayra, menatap wajah cantik cucu angkat nya itu.


"Dengarkan kakek, kamu harus melawan rasa sakitmu. Kamu harus sembuh, apa kamu tega ninggalin kakek sendirian. Hem?"


Nayra langsung memeluk Brahma dengan erat.


"Maafkan Nayra kek. Nayra sayang kakek."


Sekarang istirahatlah, kamu pasti lelah sepulang dari rumah sakit.


Nayra mengangguk pasrah. padahal Nayra masih ingin berbincang dengan pria tua itu.


Saat Nayra pergi ponsel Brahma berbunyi.


Drt, Drt, Drt.


"Ada apa?" Tanya Brahma to the poin


"Tuan, putri Pandi masih hidup."


"Apa?" Brahma langsung bangkit berdiri seketika.


"Iya tuan. Berita anak kecil yang hangus terbakar 18 tahun yang lalu tetnyata anak dari sepasang suami istri pegawai sipil."


"Lalu dimana putri Pandi itu sekarang?"


"Kami sudah mendapat info terbaru jika putri Pandi saat ini berada di ibu kota."


"Cari putri Pandi dan habisi dia"


"Baik tuan. Dilaksanakan."


Tut. Pandi memutuskan telepon nya.

__ADS_1


Pandi geram, bisa - bisa nya dia kecolongan selama belasan tahun.


"Jadi putri Pandi masih hidup? Sialan.


Tunggu saja Pandi. Jika selama ini putri mu masih hidup, maka tak lama lagi putri mu akan ku kirim segera bersama mu."


Senyum semirik muncul di sudut bibir Brahma.


Bian sampai di tanah air langsung menghampiri Kevin di perusahaan nya.


"Kevin, bawa semua data proyek pulau yang ada di kota J"


"Baik tuan."


5 menit kemudian kevin kembali dalam ruangan tuan nya.


"Tuan, ini berkas nya. Semua data proyek pulau ada dalam berkas itu."


Bian melihat setiap lembar kertas yang tertera di meja nya.


"Kevin. Apa alasan Brahma mengambil kembali proyek itu? Bukankah kita sudah resmi memiliki proyek itu satu tahun yang lalu?"


"Benar tuan, akan tetapi ada beberapa orang para pegawai disana berkhianat pada kita."


"Sialan. Bawa orang itu itu padaku."


"Mereka berada di gudang penyekapan tuan."


"Bagus. Jangan lepas sebelum semua nya jelas. Jika aku tidak sibuk, akan ku beri mereka pelajaran."


"Kevin. Minta para kepala proyek bekerja lebih cepat. Tak akan ku biarkan Brahma situa bangka itu mengambil proyek ku.


Sepertinya aku harus mencari tau dasar pembuatan proyek itu."


Kevin mengangguk setuju.


"Cari tau seluk beluk proyek itu jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun. Pulau itu milik om Pandi, aku yakin jika proyek itu bukan milik situa bangka itu. Bagaimana mungkin Brahma mendirikan bangunan begitu besar dan mewah di pulau orang lain."


Bian tersenyum aneh. "Dasar Brahma tua bangka, cara bermain kurang cerdik. Jika sampai Brahma ada hubungan nya dengan om Pandi maka tunggu sentilan kecil dariku. Dan jika saja Brahma mencoba mengambil keuntungan dari pulau milik om Pandi akan ku habisi situa bangka itu. Beraninya dia mencari masalah dengan keluargaku? Jangan harap bisa lolos dariku!"


Bian mengepalkan tangan nya.


Brahma meminta pengacara pribadinya berkunjung keruma mewahnya.


Mereka berbincang panjang lebar tentang keputusan Brahma yang membuat pengacara heran bak tujuh tingkatan.


"Apa anda yakin dengan keputusan yang anda buat?"


Brahma mengangguk


Coba anda pikirkan kembali keputusan ini


"Keputusan saya sudah bulat.


Surat kuasa ini saya perbuat dengan hati yang tenang dan pikiran yang waras."

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2