
Bian berjalan menyusuri koridor rumah sakit, stiap kalimat yang terucap oleh dokter bagaikan belati yang menancap di ulu hati. Apa yang harus ia perbuat untuk menebus semua kesalahan terlanjur menyakitkan itu. Andai waktu bisa di ulang, mungkin diri nya tidak akan berbuat kesalahan patal seperti ini.
Jiwa nya terguncang, meratapi kekejaman yang ditorehkan pada gadis yang sangat ia cintai.
Di lain tempat Baskoro tidak jauh beda dengan putra nya. Jiwa nya juga terguncang, merasa bersalah tidak dapat menjaga Nayra 18 tahun lalu, merasa bersalah telah menikah kan Nayra dengan putra nya, merasa bersalah tidak mampu melindungi Nayra dari kekejaman putra nya. Saat sudah terjadi siapa yang patut disalahkan? Siapa yang bertanggung jawab akan semua hal. Mengingat betapa mereka sangat menyayangi anak kecil bernama Nayra 18 tahun silam. Kecewa terhadap diri sendiri, kecewa terhadap putra sendiri, kecewa terhadap istri sendiri.
Begitu pula dengan Santi menangis di taman rumah sakit, menumpahkan penyesalan terbendung dalam raga. Betapa sangat lantang melontarkan kata Hinaan demi Hinaan, anak kecil yang begitu disayangi 18 tahun silam, anak kecil yang dengan manja nya memanggil nya mommy di masa lampau. Andai saja diri nya mendengar perkataan suami pasti penyesalan tidak akan menusuk ulu hati nya. Menebus kesalahan tidak cukup dengan air mata. Satu keluarga itu menangisi penyesalan nya di lain tempat. Tidak Baskoro, Bian begitu dengan Santi. Ketiga nya meneteskan air mata, air mata kesedihan serta penyesalan.
Nayra membuka mata perlahan mendapati mami Ratna dengan setia menunggui nya bangun dari tidur panjang nya.
"Kamu sudah bangun nak? Sepertinya semalaman tidur mu diganggu Lian.Maaf kan mommy tidak menemani mu semalaman." Merasa bersalah melihat Nayra tidak dapat tidur dengan nyenyak. Ratna tidak mengetahui jika Nayra tidur akibat pengaruh obat penenang.
"Mami." Lirih nya. "Ia sayang, mami disini? Sarapan dulu ya, mami akan membantu sarapan." Nayra hanya mengangguk pasrah.
"Mami. Nayra mau sembuh mam. Nay ingin tinggal bersama mami. Apa mami tau dimana makam papa mama ku?" Tanya nya berharap dapat mengunjungi makan kedua orang tua nya.
Ratna mengangguk. "Apa mami mau membawaku kesana?" Tanya nya lagi.
"Sayang, mami janji akan membawa mu kemakam Pandi dan Cindi setelah dokter mengijinkan mu pulang."
"Terima kasih mami." Kedua perempuan berbeda generasi itu sama - sama mengeluarkan air mata dengan versi yang berbeda.
Bian kembali ke mansion tanpa sengaja bertemu baskoro duduk bersandar di sopa sedang memejamkan kedua mata nya. Bian dapat melihat air mata Baskoro masih tampak disudut mata. Berjalan melewati Baskoro yang bersedih meratapi kesukuan nya.
Bian menangisi dirinya dalam kamar seorang diri. Siapa yang dapat membantu nya untuk menyembuhkan perasaan yang hancur? Hanya Nayra lah yang mampu membuat hati mereka terobati. Kata maaf yang mereka butuhkan, bagaiman mungkin Nayra memberi nya maaf jika melihat diri nya saja Nayra sudah ketakutan. Meninggalkan diri nya di Negara asing penyebab trauma terdalam dalam jiwa gadis itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Nay. Aku salah menilai mu selama ini. Maafkan aku" lirih nya tersedu - sedu.
Baskoro masuk kamar anak nya melihat anak nya berantakan.
"Apa dari kemaren kau tidak membersihkan diri? Kenapa kau menangis? Apa kau kalah tender triliunan? Apa yang membuat mu seperti ini?" Tanya nya prihatin pada putra nya.
"Bersihkan dirimu, daddy ingin membicarakan sesuatu." Baskoro hendak melangkah meninggalkan Bian, namun di cegah.
"Bicaralah dad, aku akan mendengar nya!"
"Ini soal Nayra, mantan menantuku."
"Aku sudah tau, Nayra tetap jadi menantu daddy apa pun yang terjadi."
"Nayra masih sah istriku, kami belum ketok palu."
"Daddy akan membantu Nayra lepas dari mu dan menikah kan Nayra dengan Lian. Lian bisa menjaga Nayra dengan baik." Kilah baskoro.
"Tidak." Bian marah melihat daddy nya berniat menikah kan istri nya dengan pria lain.
"Jangan egois Bian, apa kau ingin membunuh Nayra secara perlahan? Melihat daddy saja Nayra tidak sudi, lalu bagaimana denganmu?" Tanya nya seakan mengejek putra nya.
"Jika saja kau tidak mengabaikan nasihat daddy selama ini, mungkin rumah tangga mu sudah bahagia. Pernikahan mu sudah lebih dari satu tahun sesuai perjanjian kau harus menceraikan Nayra. Daddy akan menuntut mu jika kau tidak melaksanakan perjanjian sesuai prosedur."
Bian bersimpuh di kaki Baskoro menangis sesegukan. "Maafkan aku daddy. Aku mencintai Nayra, daddy tau betapa sakit nya aku saat mendengar Nayra tiada. Aku kehilangan jati diriku dad. Aku mohon biar kan Nayra tetap jadi istriku. Aku mencintai nya dad, sangat."
__ADS_1
"Cih, baru sekarang kau bilang cinta. Selama ini dimana cinta mu itu? Bahkan kau dengan tega nya menikah lagi tanpa memikirkan perasaan istrimu? Kau sudah terlalu banyak menyakiti hati gadis malang itu Bian, saran daddy lepaskan Nayra biarkan dia bahagia dengan pria lain."
"Tidak dad. Nayra itu hidup ku, aku tidak akan melepaskan Nayra. Bahkan jika aku harus mengorban kan nyawaku sekalipun akan ku lakukan dad."
"Bagus. Berikan kehidupan untuk Nayra lalu pergilah dari dunia ini makan Nayra akan bahagia jika kau sudah tiada."
Deg... Bian terdiam, tidak mampu melawan daddy nya yang membuat dirinya mati kutu. Mulut nya terkunci rapat.
"Jangan memaksakan kehendakmu Bian. Kau tau, perasaan daddy pada Nayra saat ini. Daddy merasa bersalah tidak mampu menjaga nya, daddy bersalah telah menikahkan mu dengan Nayra, daddy bersalah tidak mampu melindungi Nayra dari kekejaman istri dan anak ku. Kau tau Bian, Nayra bahkan enggan melihat daddy. Daddy sangat menyayangi Nayra, saat mendapati Pandi dan Cindi tiada tekat daddy sudah bulat akan selalu melindungi nya. Akan tetapi daddy malah membawa Nayra dalam ruang lingkup penderitaan yang sangat mengerikan bagi gadis itu."
"Kau tidak mencintai Nayra dengan tulus, jika kau mencintai nya, kau akan mengenal nya dengan menggunakan hatimu.
Jangan kata kan cinta, jika kau tidak tau apa itu cinta. Belajar lah dari kejadian ini, Jangan berlaku sesuka hati pada orang lain."
"Daddy tidak Akan tinggal diam jika Kau Terus mengusik nya." Baskoro pergi meninggalkan putra nya yang diam membisu.
"Apa yang harus ku lakukan Tuhan, aku tidak mau berjauhan dengan Nayra. Aku tidak sanggup kehilangan nya."
"Nayra ku, istriku, kesayanganku. Maafkan aku. Jangan membenciku Nay"
Bian teringat saat dirinya memukul Nayra secara ambigu, membayangkan wajah Nayra diam membisu mengeluarkan air mata. Pancaran mata nya saat itu sangat menyedihkan.
"Apa yang aku lakukan saat itu" Lirih nya frustrasi. "Aku sudah membuat jarak diantara kita Nayra."
Bersambung.
__ADS_1