
Malam hari Ratna, Abi serta Lian berkunjung di kediaman Baskoro.
Dengan semangat mereka membawa kue coklat untuk Nayra.
Ting tong
Ting tong.
Suara bell berbunyi.
Seorang maid membuka pintu mpersilahkan mereka masuk
"Den Lian." Ucapan maid
Lian tersenyum dengan sapaan maid tersebut.
"Silakan masuk. tuan ada di dalam."
Maid menuntun mereka bertiga menuju Baskoro yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama istri nya.
"Abi!"
Seru baskoro berdiri menghampiri Abi serta memeluknya.
Mereka semua saling berpelukan.
"San. Mana Nayra putri cantikku?"
Tanya ratna tidak melihat keberadaan Nayra bersama mereka dibuang keluarga.
"Apa Nayra sudah tidur?
Astaga putriku itu, baru pukul delapan malam sudah tidur saja."
Oceh nya panjang kali lebar.
"Santi. Apa aku boleh ke kamar menantumu? Aku sangat merindukan nya."
Baskoro dan Santi hanya diam. Mereka gugup tidak tau harus memulai dari mana untuk menjelaskan kepada Ratna.
"Tante, Nayra sama Bian kemana?" Tanya Lian.
"Cepat panggilan mereka Bas, aku sudah tidak sabar melihat putri dari istriku ini.
Kami selalu berdebat memperebutkan Nayra dirumah dengan Ratna."
Abi kesal mengingat keposesifan istrinya itu.
"Kamu kenal Nayra Rat? Kalian, apa sudah pernah bertemu?"
Tanya Santi penasaran.
"Awal nya Lian sering cerita tentang menantumu, berlanjut dengan vc. Jadinya akrab. Aku sudah menganggap nya sebagai putriku. Habis nya menantumu sangat cantik."
Ratna dengan semangat menuturkan betapa bahagia nya dirinya berkenalan dengan Nayra.
"Mantu mu itu sangat baik, aku sangat menyukainya San, sinar matanya memancarkan ketulusan, kesepian, kesedihan.
Aku ingin membawa nya berbelanja besok."
Ratna masih dengan wajah berbinar.
Santi hanya bisa berdiam diri mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Mas Bas, mana Nayra menantumu? Biar aku panggilan saja."
Ratna berdiri hendak melangkah menuju kamar Bian, namun di hentikan oleh Baskoro.
"Rat, Nayra dan Bian tidak tinggal disini mereka tinggal di apartemen!"
Ratna duduk kembali.
"Astaga. Kenapa mas Bas tidak bilang dari tadi."
Sungut nya.
Lian.Ayo, antar mami ketemu adikmu!" Perintahnya kepada sang putra.
"Tunggu."
Cegah Baskoro.
"Ada apa lagi sih Baskoro.
Kami mau ketemu putri kami secara langsung."
Kilah Abi yang merasa kesal terhadap baskoro berusaha mencegah mereka bertemu Nayra.
__ADS_1
"Dengarkan saya. Abi, Ratna, Lian.
Sebaiknya besok saja bertemu mereka. Ini sudah malam, tidak enak mengganggu sepasang suami istri yang sedang kasmaran di malam hari."
Kilah Baskoro.
Abi berpikir membenarkan saran dari sahabat nya itu.
"Benar juga. Ya sudah, besok kita kesana."
Tegas Abi memutuskan bertemu besok hari.
"Papi."
Ratna kesal dengan keputusan suami nya.
Akhirnya mereka mengeringkan niat untuk bertemu dengan Nayra. Mereka membicarakan seputar bisnis dan kegiatan mereka selama berada di negeri seberang.
Sedang di tepat lain.
Bian meminta Nayra serta Siska untuk berkemas, mereka akan pindah ke apartemen Bian yang lain nya.
"Bebi, kenapa kita tidak tinggal rumah pribadi mu saja?"
Nayra hanya mendengar sesekali melirik kemesraan mereka sambil menata barang bawaan nya.
"Jangan protes.
Lakukan apa saja yang aku perintahkan!"
Titah Bian tegas.
"Kau bereskan semua ini. Perintah nya pada Nayra."
Nayra hanyaengangguk paham.
"Dua bulan ke depan kau tinggal disini, jangan pernah keluar dari tempat ini. Kau paham?"
Nayra mengangguk lemah. Tubuh nya sudah semakin tak berdaya.
Bian mengambil langkah untuk membuat Nayra tidak bisa di jangkau oleh daddy nya. Bian akan menceraikan Nayra tepat satu tahun pernikahan nya. Bian tidak ingin Baskoro melindungi Nayra sehabis perceraian mereka.
Bagi Bian Nayra bagaikan gadis kecil yang pintar bersandiwara.
Bian menuju kamar nya untuk istirahat.
"Ada apa kau masuk kamarku?"
"Bebi. ada apa denganmu?"
Tanya Siska.
"Ingat. Kita tidak pernah menikah, kita tidak punya ikatan. Aku mengaku menikahimu untuk menyiksa gadis sialan itu.
Setelah aku bercerai dengan nya, maka kau juga pergi lah dari hidupku."
Ucap Bian dengan tegas.
Siska takut di usir oleh Bian, Siska tidak ingin kehilangan fasilitas yang membuatnya sangat nyaman.
"Bebi. Kenapa kau jadi berubah. Bukan lah kita saling mencintai?"
"Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai gadis masa kecilku."
Siska marah mendengar pengakuan Bian.
"Kau tidak bisa mencintai orang mati Bian." Teriak Siska.
"Gadis masa lalu mu itu sudah mati. Ingat Bian
SUDAH MATI."
Tangan Bian mengepal mendengar Siska mengatakan kesayangan nya MATI.
Bian mencengkeram dagu Siska dengan keras.
"Dengar sialan.
Kesayanganku tidak pernah mati. Dia selalu hidup dihatiku."
Siska melepas tangan Bian. Siska tertawa dengan pernyataan Bian.
"Hahajajahhahaha."
"Sampai kapan kau akan mencintai orang mati Bian? Kau lupa jika om Baskoro hanya memiliki satu anak, yaitu kau Bian Bintaro.
Lalu bagaimana hidup kedua orang tua mu melihat putra satu - satu nya tidak mau menikah! Siapa yang akan menjadi pewaris kekayaan keluargamu. Hah? Apa kedua orang tua mu dapat menerima keputusan mu? Saya rasa tidak!"
__ADS_1
Siska pergi keluar kamar Bian.
agggghhhhjj.
Bian berteriak prustasi.
"Sialan. berengsek."
Kenapa kau pergi begitu cepat meninggalkan ku Nayra. Teriak nya.
Bian menjatuhkan tubuh nya di kasur. Memejamkan mata, mengingat setiap kenangan nya bersama Nayra kecil di masa lalu.
Andai Bian tau bahwasanya Gadis yang dia inginkan selama ini berada di dekat nya. bahkan sangat dekat.
Siska menghampiri Nayra yang sedang membereskan barang di dapur.
"Dasar gadis sialan."
Maki nya lalu pergi.
"Ada apa dengan nya. Aneh."
Lirih nya pelan.
Melanjutkan menata keperluan dapur.
Pagi hari tiba malam telah berlalu mengisahkan segala kepenatan dalam hati Ratna yang ingin sekali bertemu dengan Nayra secara langsung.
Sesuatu yang di inginkan apa bila tak terpenuhi memang sangat mengesalkan, bila saja semua bisa dilakukan sesuai ke inginkan hati. Pasti Ratna akan sangat berbahagia.
"Lian, Papi."
Ratna berteriak memanggil suami dan anak nya. Serah tak sabaran berkunjung ke apartemen Bian
"Ada apa mami ribut - ribut?"
Tanya Lian duduk di meja makan berniat sarapan.
"Sekarang juga antar mami ke apartemen Bian, mami ingin memeluk putri cantik mami."
"Mam. Pagi ini Lian ada meeting."
Jawab Lian cepat.
"Mami tidak mau tau. Antar mami"
"Tidak bisa"
"Lian"
"Mami"
"Ayolah Lian, mengertilah dengan kondisi mami."
"Ayolah mam, mengertilah dengan kondisi Lian."
"Lian, kamu memang anak durhaka sama mami."
Lian diam.
"Kenapa kamu ngikutin apa yang mami ucapkan. Hah? Kamu sungguh menyebalkan Lian."
"Huhhh."
Lian menarik napas panjang. Berusaha mencari alasan agar Ratna tenang.
"Mam. Pagi ini Lian ada meeting, Lian janji. Selesai Meeting Lian bakalan antar mami ke tempat Bian. Bagaimana? Mami setuju?"
Taranya terhadap sang mami mencoba bernegoisasi.
Ratna menggeleng lemah.
"Ayolah Mam. Plissss. Lian ada meeting penting mam."
"Lebih penting mana dari pada mami?"
"Mam."
Lian kehabisan kata - kata menghadapi mami Ratna.
Bersambung.
Hai teman. Kisah Cinta Nayra tayang setiap hari
Ikuti terus kisah nya ya.
Terima kasih.
__ADS_1