Kisah Cinta Nayra

Kisah Cinta Nayra
Bab 45 Bian VS Brahma


__ADS_3

"Tidak bisa. Pulau ini milik ku." Brahma ngotot dengan pendirian nya.


"Tidak. Bukan kau pemilik pulau ini. Pemilik pulau ini adalah Pandi Wijaya, istri nya Cindi Pradiga pasangan suami istri ini meninggal saat kecelakaan mobil 18 tahun yang lalu memiliki satu orang putri bernama Na.."


"Tuan. Sebaik nya kita melihat para pekerja. Apa tuan tidak penasaran dengan konsep bangunan ini."


Sela Kevin mengakhiri perdebatan Bian dan Brahma.


"Ingat tua bangka. Jika kau keberatan ajukan tuntutan. Aku pemilik resmi proyek ini. Aku membeli nya sesuai aturan yang berlaku."


Bian pergi meninggalkan Brahma yang terlihat marah.


"Aku salah melakukan kerja sama dengan nya tahun lalu. Jika melawan nya, maka rahasiaku bisa terbongkar. Tapi aku tidak rela jika harta Pandi ada yang tidak aku kuasai. Sial."


Brahma pergi meninggalkan tempat, merogoh saku nya mengambil ponsel.


"Lakukan tugas dengan rapi, jangan sampai ada yang tau. Daerah disini tidak ada hotel. Mungkin mereka akan menginap keluar dari pulau itu."


Perintah nya pada orang di seberang.


"Baik tuan, akan segera kami lakukan. Kami akan menghabisi mereka saat perjalanan menuju hotel."


"Bagus."


Hingga sore hari Bian masih mantap proyek yang ada disana.


"Kevin. Bangunan disini kenapa ada seperti Istana Disney?" Tanya nya.


"Tuan semua akan kita ketahui jika kita sampai di hotel. Saya sudah dapat info terbaru mengenai proyek ini."


"Tunggu apa lagi. Mari kita ke hotel."


Bian dan Kevin berangkat menuju hotel menggunakan hellikopter.


Gagal sudah rencana Brahma menghabisi Bian.


"Ini berkas yang saya terima dari anak buah kita tuan."


Kevin menyerahkan berkas info terbaru pada Bian.


Membuka lembar demi lebar, semua Bian amati secara beruntun.


"Astaga. Jadi kepergian om Pandi pada saat itu ke pulau J dalam rangka pembangunan proyek ini. Proyek itu bahkan milik om Pandi. Sialan kau tua bangka." Umpat nya kesal.


"Kevin. Kirim orang terpercaya untyk mengawasi Brahma situa bangka itu."


"Baik tuan." Kevin pergi meninggalkan tuan nya menuju kamar.


"Apa yang terjadi sebenar nya? Seperti nya aku butuh penjelasan daddy atas kejadian 18 tahun silam."


Di tempat lain Baskoro mengunjungi toko elektronik yang tiga hari lalu disinggahi.


"Permisi pak. Pesanan saya sudah selesai?" Tanya Baskoro pada pemilik toko servis.

__ADS_1


"Maaf tuan. Sebagian data hilang. Kami tidak bisa menginput semua data sebelum nya. Berhubung ponsel nya sudah lama rusak jadi kami hanya bisa menginput sebagian data dalam memori ponsel."


"Tidak apa. Berapa upah yang harus saya bayar?" Tanya Baskoro


"Silahkan di kasir saja pak. Saya tidak tau menu akan harga."


"Terimakasih." Baskoro tersenyum, berjalan menuju kasir toko servis.


"Huhh. Lebih baik aku pulang. Semoga dalam ponsel ini ada nomor yang bisa aku hubungi." Monolog Baskoro berharap dapat petunjuk keberadaan Nayra.


Baskoro mulai membuka setiap aplikasi ponsel, namun tak ada satu pun nomor yang tersisa.


"Astaga. Bahkan satu pun tidak ada kontak yang tersisa."


Baskoro membuka menu galeri, menemukan beberapa potong Nayra kecil bersama kedua orang tua nya. Bahkan Nayra juga menyimpan poto keluarga saat mereka berkunjung ke rumah kakak Idris.


Deg.. Baskoro kandungan. Tangan nya gemetar. Seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Pa. Pan. Pandi. Pandi ini. ini maksud nya apa?"


Di lihat nya potong selanjutnya, banyak potong Nayra bersama Cindi serta kakek Idris.


"Astaga. Apakah artinya Nayra menantuku putri mu Pandi?"


Baskoro menarik rambut nya prustasi. Ia sedih sekaligus bahagia.


"Dosa apa yang sudah aku lakukan ya Allah, Kenapa jadi begini.


Nayra kau putri ku sayang. Pirasat ku tidak salah. Kau memang putri ku. Daddy akan menemukan mu."


"Abi. Lian." Teriak nya saat melihat kedua nya keluar dari ruang meeting.


"Ada apa kau teriak Bas? Seperti penghuni hutan saja!" Ledek nya pada sahabat tua nya itu.


"Ayo masuk. Aku ada info menarik buat kalian."


Baskoro meraih kedua tangan ayah dan anak itu. Seakan Baskoro yang punya ruangan.


"Ada apa sih om? Main tarik tangan Lian sembarangan, kasar pula lagi." Sungut nya.


"Duduk dulu." Baskoro merogoh saku celana nya memperlihatkan ponsel hasil Nayra.


"Buat apa kau nunjukkan ponsel jaman ngorok pada ku Bas? Apa kau sudah jatuh miskin membeli ponsel seperti itu?" Ejek Abi


"Ponsel ini milik Nayra, aku meminta nya saat kondisi ponsel nya rusak akibat ulah Santi."


"Maksud nya apa om? Lian gk ngeri."


"Om baru saja memperbaiki ponsel Nayra, kalian tau apa yang terjadi?"


Abi dan Lian saling pandang.Lalu menggeleng.


"Dalam ponsel ini aku menemukan banyak hal yang mengejutkan. Ini lihat lah."

__ADS_1


Baskoro memberikan ponsel nya pada kedua pria baik itu.


Deg. Jantung kedua nya berdetak kencang. Nafas nya naik turun. Sesak di dada dirasakan oleh kedua nya.


"Pa. Pandi. Ini pandi kan Bas. Sahabat kita?"


Baskoro mengangguk


"Ini Cindi kan Bas. Lalu Nayra. Lelaki paru baya ini siapa Bas?" Tanya nya menunjuk Poto Idris.


"Mungkin itu ayah nya Pandi Bi."


"Jadi. Nayra itu anak nya om Pandi om Bas."


Baskoro mengangguk. Air mata Baskoro mengalir tanpa di undang.


"Jadi Nayra itu memang adikku?" Tanya Lian memastikan.


Lagi - lagi Baskoro mengangguk.


"Astaga Tuhan. Kenapa Nay tidak bilang kalau dia anak nya om Pandi!"


"Kenapa Nay menyembunyikan ini dari kita om?"


"Om tidak tau Lian. Tugas kita sekarangencari Nayra sampai ketemu."


Ketiga nya terisak bahagia akan fakta yang baru saja mereka temukan.


Ditempat lain Nayra bosan setiap hari berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa pun. Banyak nya larangan membuat nya tidak betah akan kondisi yang dialami nya.


"Bibi, kapan kakek pulang bi? Sudah seminggu lebih kakek berada di luar kota!"


"Saya juga tidak tau nona."


"Huh. Kakek tidak tepat janji, kakek bilang cuman sebentar tapi sekarang sudah lebih dari seminggu bi. Nay bosan bi."


"Sabar non. Tuan juga akan pulang kok."


"Bi. Hari ini Nay cek ke dokter. Bibi temani Nayra ya bi."


"Ok nona cantik."


"Ayo bi." Mereka pergi menuju rumah sakit.


"Nona. kondisi anda masih sama seperti sebelum nya. tidak ada kemajuan dan tidak ada penurunan. Masih stabil, usaha kan kondisi anda tetap seperti ini sampai kita menemukan pendonor ginjal yang tepat. Apa anda masih mengalami mual?"


Nayra menggeleng.


"Bagus. Minum obat teratur, jangan sampai anda kehilangan rahim itu."


Nayra mengangguk. "Terima kasih dokter."


"Ok. Anda sudah bisa pulang nona. Semoga cepat sembuh."

__ADS_1


Bersambung!


__ADS_2