Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Kecemasan Yaya


__ADS_3

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Damar memutuskan untuk,


"Oke, aku akan menginap di apartemen kamu sayangku. Biar nanti aku yang akan cari alasan."


Miho tersenyum senang karena Damar mau menerima ajakannya. Itu artinya, malam ini dirinya dengan Damar bisa bermesraan sepuasnya, sepanjang malam. Sudah agak lama, Miho tidak mendapatkan kehangatan dari Damar di dalam apartemen Miho. Miho merindukan itu. Terakhir kali bobo bareng Damar adalah satu bulan yang lalu.


Malam ini, Miho merasa harus tampil secantik dan seseksi mungkin. Selain bobo bareng, Miho juga ingin dibelikan sesuatu yang baru yang ia inginkan oleh Damar. Sesuatu itu adalah sesuatu yang mahal dan tentu saja menjadi impian banyak perempuan.


Sampailah mereka di depan gedung apartemen tempat Miho tinggal. Keluar dari mobil, Damar terpaksa memakai masker agar tidak ada orang lain yang curiga. Penguntit ada dimana-mana. Mengejar dan menguntit seorang yang cukup penting seperti Damar ini. Direktur dari perusahaan besar. Bahkan mobil yang mereka pakai saat mengantarkan Miho pulang, adalah mobil yang disewa dari rental mobil.


Rahasia yang ia sembunyikan pasti akan dikulik-kulik oleh orang yang tidak menyukainya. Itu dilakukan agar karir dan keluarganya hancur.


Mereka berdua akan masuk kedalam unit. Namun peraturan yang diterapkan di gedung apartemen itu cukup ketat. Tidak boleh ada orang asing yang boleh masuk selain keluarga dari penyewa. Tapi dengan bantuan orang dalam dan bayaran yang mahal dari Damar, mereka berdua bisa keluar masuk dengan aman dan nyaman. Selingkuh di apartemen tempat Miho tinggal adalah salah satu tempat yang paling aman. Miho selalu yakin bahwa dirinya bisa bahagia meski dengan cara selingkuh seperti ini.


Miho menatap penuh gairah kepada Damar, memegang lembut kedua pipi laki-laki beristri itu.


"Malam ini kita bersama yank. Aku ingin malam ini menjadi malam yang menggairahkan?" ucap Miho seraya memeluk hangat Damar.


Damar tersenyum puas. Dirinya kembali bergairah, lalu mendorong Miho keatas kasur. Damar menjadi agresif, tidak sabar memadu kasih dengan sekretaris cantiknya itu.


***


Tepat pukul sepuluh malam, Yaya masih belum bisa tidur karena suaminya, Damar belum juga pulang. Ponsel Damar tidak aktif, membuat Yaya jadi cemas dan berpikir yang macam-macam.


Aku takut dia sedang bermain api dengan wanita lain lagi. Tapi aku juga takut mas Damar bertemu begal dan dia sedang dalam bahaya. Apa dia sedang lembur ya di kantor?


"Ayo dong mas, nyalain ponsel kamu! Kamu lagi dimana sih? Jangan bikin aku cemas." ucapku cemas dan penuh dengan tanda tanya.


"Kantor pasti udah tutup sih jam segini. Tapi ga ada salahnya kan kalau aku pergi kesana sekarang? Tapi sama siapa ya? Hmm, jangan dulu Yaya! Sebaiknya kamu telpon Miho. Dia kan sekretaris mas Damar. Mungkin dia tahu mas Damar sekarang lagi ada dimana?"


Aku menghubungi Miho, untung saja HP dia aktif. Tapi bisa jadi dia udah tidur, aku ga enak kalau mengganggu waktu istrirahatnya. Tapi ternyata, Miho langsung mengangkat telpon dari aku.

__ADS_1


"Bu Yaya, ada apa bu?"


"Maaf mengganggu, Miho, kamu tahu mas Damar sekarang ada dimana? Dia belum pulang sampai sekarang. Aku khawatir dia kenapa-napa dijalan. Tapi aku juga khawatir kalau dia sedang selingkuh lagi!"


"Kekhawatiran kamu terlalu berlebihan bu. Itu ga baik buat kesehatan mental kamu. Aku pulang jam delapan tadi. Pak Damar masih sibuk kerja di kantor. Pak Damar ada urusan mendadak dengan kliennya dari perusahaan lain. Jadi dia belum sempat pulang deh sepertinya."


"Tapi HPnya sama sekali ga aktif Miho. Dia ga ada kabar dulu kalau dia mau pulang lebih malam?"


Miho tersenyum licik, tatapannya melirik ke samping, dimana ada seorang laki-laki yang sedang tidur berselimutkan hangat kain tebal berwarna putih.


"Aku gak tahu bu. Aku cuma sekretarisnya. Apakah ibu ingin aku pergi cari dia sekarang?"


"Tentu tidak Miho. Biar aku saja yang cari mas Damar. Hmm, sama mama aku aja ah."


Tapi Damar tiba-tiba batuk. Karena Yaya belum mematikan telepon, Yaya pun mendengar suara batuk itu. Dan suara batuk itu, Yaya seperti tidak asing. Miho terkejut bukan kepalang karena Damar tidak sengaja batuk.


"Suara siapa itu Miho? Suara batuk itu, seperti tidak asing. Aku gak asing lagi sama suara itu?"


"Masa sih, tapi suaranya mirip dengan suara batuk suamiku?"


"Udah dulu ya bu. Aku akan segera cari pak Damar. Semoga saya cepat ketemu dia biar bu Yaya ga paranoid terus seperti itu."


Miho menutup telpon dariku. Dia seperti terburu-buru. Hah, apa mungkin mas Damar? Apa mungkin suara batuk itu adalah suara batuk dari mas Damar? Apa mungkin sekarang, mas Damar sedang berdua bersama teman baikku, Miho? Tapi kenapa Miho bilang dia sedang tidak bersama mas Damar? Apa ada sesuatu yang ia tutup-tutupi?


Aku jadi bingung, bertambah cemas, dan juga berprasangka buruk. Apakah benar teman baikku, dia menjadi orang ketiga didalam rumah tanggaku dengan mas Damar?


Apa mungkin gadis sebaik dan sempurna seperti Miho itu, tega merebut kekasih orang lain?


Mungkin sebaiknya mulai sekarang, aku jangan terlalu percaya sepenuhnya kepada Miho. Menyelidikinya dulu akan jauh lebih baik. Kalau benar mas Damar selingkuh dengan Miho, aku pastikan aku akan pergi dari kehidupan mas Damar, bersama dengan anak-anak aku nanti.


Aku memejamkan mata, lalu air mataku menetes. Aku memutuskan untuk tidak pergi mencari mas Damar saja. Lebih baik aku tidur. Kesehatanku yang tengah mengandung calon anak keduaku ini jauh lebih penting daripada pergi mencari keberadaan mas Damar."

__ADS_1


Lantas, beberapa saat kemudian ketika aku sudah bermimpi indah, aku dibangunkan dengan suara nada dering ponsel aku. Aku melihat siapa yang telpon, ternyata Miho.


"Hoaams, ada apa Miho?"


"Pak Damar udah ketemu. aku pergi mencarinya, ke kantor, itu semua aku lakukan demi kamu. Ternyata pak Damar ketiduran di kantor bu."


"Ya ampun, maaf merepotkan. Tadinya aku sih mau pergi buat mencari mas Damar, tapi aku ngantuk. Mulai sekarang aku gak akan terlalu cemas kalau suamiku belum pulang tepat pada waktunya. Dia sudah dewasa. Kecuali kalau dia hilang tanpa kabar selama lebih dari sehari. Baru aku akan khawatir. Makasih ya Miho? Kamu emang teman baikku!"


"Sama-sama Yaya. Udah ya, mulai sekarang jangan suka bersikap terlalu cemas lagi. Itu bukan sikap yang baik untuk kita,"


"Iya Miho."


"Yaudah nih, pak Damar udah mau pulang. Aku tutup dulu ya telponnya?"


"Iya."


Miho melempar pelan HPnya keatas meja. Kesal karena istri sah yang terlalu ribet jadi orang. Malam ini rencana berdua semalaman bersama Damar jadi kacau.


"Jangan jutek begitu dong, sayang. Udah resiko untuk orang-orang yang melakukan hubungan gelap seperti kita ini." ucap Damar lalu mengecup bahu Miho.


"Ya kamu lakuin sesuatu dong mas biar aku ga badmood terus kaya gini!"


"Gampang sayang, kamu mau dibelikan apa, bilang?"


Karena penawaran yang menyenangkan ini Miho pun tersenyum riang kemudian wajahnya yang tadi jutek berubah menjadi ceria. Miho melirik senang ke wajah tampan Damar.


"Mobil baru dong mas?"


Damar memikirkan sejenak, apakah akan menyanggupi permintaan selingkuhannya atau tidak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2