
Tumpukan kayu yang menutupi diriku dari ketahuan oleh orang jahat. Tapi untung saja, salah satu dari binatang yang paling aku tidak suka, yaitu tikus keluar dari balik tumpukan kayu ini dan membuat orang itu enggan untuk melanjutkan aksinya. Ternyata binatang yang paling aku benci itu bisa jadi bermanfaat ketika diriku ini sedang dalam bahaya.
Tidak semua hal yang aku benci itu adalah sesuatu yang buruk dan menjijikkan, tapi adakalanya akan membuatku beruntung dan bahkan mengucapkan rasa terimakasih.
Orang itu pergi, aku merasa tenang. Setidaknya aku telah selamat dari ketahuan oleh orang misterius yang sepertinya dia adalah PEMBUNUH BERWUJUD MANUSIA YANG MEMATIKAN.
"A," hampir saja aku menjerit saat aku melihat kebagian kaki aku.
Kalau aku sampai keceplosan berteriak, orang itu pasti akan kembali lagi kesini dan menangkap aku. Belatung yang tadi kulihat masih ripuh dalam merangkak diatas lantai berdebu sekarang sudah meliuk-liuk dengan lenggoknya diatas kaki aku.
Sedari tadi aku kurang begitu fokus hingga aku tidak menyadarinya. Kalau malam ini tikus tadi adalah penolongku, maka belatung, binatang yang lemah ini hampir saja membunuhku lewat aksinya yang diam-diam merayap diatas kaki aku.
Aku langsung menyentil belatung itu menggunakan jari jemariku dan aku bergegas keluar dari balik tumpukan kayu. Tapi aku tetap siaga. Aku mengambil salah satu balok kayu yang bisa aku gunakan sebagai senjata jika aku bertemu orang itu lagi. Kemudian, aku melangkah dengan pelan.
Setiap detail dari lantai yang gelap ini aku lihat dengan usaha yang keras, beruntung ada sinar bulan purnama yang menerobos masuk kedalam rumah tua ini.
Sedikit membantu aku untuk menetra keadaan sekitar. Aku sangat berhati-hati dalam melangkah, takut menimbulkan suara berisik yang bisa membuat orang itu dengar dan datang kembali.
Takut kaki aku menyenggol benda saat aku sedang menggunakannya untuk melangkah. Hingga akhirnya, aku seperti melihat ada secarik kertas usang berwarna coklat yang diam dengan tenang dibawah sebuah meja usang.
Aku tidak tertarik untuk mengambilnya, itu hanya sekedar kertas sampah biasa, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang membuatku tertarik untuk bergerak mengambil kertas itu. Kertas apa sih ini, bikin aku penasaran aja.
Lalu aku mengambilnya, perutku sudah mulai terasa lebih mendingan. Mungkin rasa takut membuat fisikku menjadi lemah dan kewalahan. Aku melihat isi dari kertas itu, sangat tidak jelas ini apa. Ini seperti sebuah peta. Saat aku melihat-lihat terus, terus aku menemukan sebuah gampar kotak kecil. Peta apa ini? Apakah ini adalah peta harta karun?
__ADS_1
"Aku lagi ngapain sih ini? Gak jelas banget. Mendingan aku segera kabur dari sini."
Aku tidak membuang kertas ini melainkan aku menaruh ke tempatnya semula. Lalu aku berusaha untuk keluar dari dalam tempat yang mengerikan ini. Usaha yang keras tidak akan mengkhianati hasil.
Yes, aku berhasil untuk keluar dari tempat yang sepertinya terpencil ini, jauh dari keramaian orang.
Aku lagi-lagi mengamati keadaan sekitar dengan detail yang aman. Setelah dirasa aman, aku berjalan dengan cepat mencari jalan raya. Semoga saja ada jalan dan aku segera menemukan kendaraan. Kendaraan yang lewat yang akan mengantarkan aku kembali ke hunian yang nyaman. Disekitarku banyak rumput liar yang hanya mengirim penderitaan kepadaku dengan rasa gatal yang ditimbulkan.
Bejat banget orang yang udah bikin aku tidak sadar dan membuangku di tempat seperti ini. Apa itu Arif? Entah kenapa aku curiga kesana. Akan aku selidiki! Sekali lagi, akan aku selidiki! Aku tidak akan mematung lemah meski aku selamat nanti.
Bulan purnama mengiringi langkahku di tepi jalan. Di sekeliling aku adalah pohon-pohon rimbun yang menyimpan misteri kelam saat malam mendera. Tiba-tiba, aku merasa sentuhan bulir-bulir air kecil yang dingin. Itulah yang dinamakan dengan gerimis.
Sepertinya hujan lebat akan turun sebentar lagi. Benar saja, tak berselang lama petir menyambar-nyambar di angkasa malam.
Aku menatap kearah langit, aku bersedih, tambah bersedih. Semoga aku tidak sampai pingsan karena akan terguyur hujan pada malam ini.
Bahkan, saat aku berusaha melihat ke suatu tempat di sampingku, itu adalah sebuah pemakaman terpencil yang kurang terawat. Berkat bantuan cahaya kilat, aku bisa melihat ada beberapa gardu yang kecil dibangun di tengah area kuburan. Bisa aku gunakan untuk berteduh sejenak.
Aku berusaha menepis rasa takutku, aku berpikir ini hanya ilusi saja. Aku sedang berada di tempat yang ramai namun ini bukan kuburan. Ini bukan kuburan Yaya! Ini adalah sebuah tempat yang ramai dan tidak menakutkan. Kamu tidak sendirian disini. Aku melangkahkan kaki, menerjang kubangan-kubangan air yang becek di tengah-tengah pemakaman.
Lalu aku sampai di dalam bangunan kecil ini. Ukurannya sangat kecil, bisa digunakan untuk berteduh dengan kapasitas sebanyak tiga orang. Tidak ada tempat duduk disini, namun dibawahku adalah keramik. Kakiku menjejak diatas keramik coklat ini. Dingin kurasakan, karena aku tak memakai alas kaki. Dingin dan lemas, itu yang kurasakan sekarang.
Aku memejamkan mata cemas. Semua bercampur menjadi satu. Rasanya akan memejamkan mata dalam kedinginan, dan mati berdiri dalam aura ketakutan. Aku hanya bisa menangis pasrah malam ini. Ini benar-benar menguji mentalku.
__ADS_1
Sekarang ilusi yang tadi aku bangun, semuanya sudah bayar. Ini bukan ilusi, ini adalah kenyataan, kenyataan kalau aku sedang berada ditengah-tengah kuburan yang menyeramkan. Sendirian dan menakutkan. Tidak ada orang lain disini.
Disisi lain, Arif dan Elma sedang ketawa-ketiwi di dalam paviliun. Mereka berdua tengah puas menertawakan majikan mereka yang sudah dihempas ke sebuah bangunan tua yang katanya berpenghuni psikopat.
"Mungkin Yaya sudah jadi daging cincang mas, hahaha. Buktinya, sekarang dia belum balik juga, hahahaha." riang Elma.
"Pasti saldo rekening kita bakal semakin gendut kalau bos Miho mendengar kabar ini. Besok kita beri tahu kabar bahagia ini kepada Miho bahwa kita, sudah berhasil membuang jauh musuh besarnya itu, hahaha."
"Gasabar mas, hahaha."
Saking riangnya tertawa, Arif hampir saja keselek biji rambutan, buah rambutan yang sedang ia kunyah.
"Argh! Sial! Uhuk-uhuk. Hampir saja biji rambutan sialan ini nyangkut dalam kerongkongan mas."
"Bego banget sih jadi orang! Makannya jangan makan sambil marah, hahaha."
"Kamu yang bego Elma, ini bukan marah, ini mah nangis, hahahaha."
"Hahahahaha."
"Hahahahaha."
"Hahahahahaha."
__ADS_1
Tawa mereka berdua menggelegar sepanjang malam hujan diiatas penderitaan Yaya.
Bersambung...