Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Ending


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan kepada mama aku sehingga mama aku jadi kena stroke seperti itu?! Berarti benar ya perkataan Viona yang malam itu melihat bayangan misterius di belakang jendela kamar mama aku dan bayangan misterius itu adalah kalian yang berencana menyakiti mama aku sampai mama aku kena pendarahan otak seperti itu? Kalian pasti pelaku yang sudah mendorong mama aku sampai mama aku kena stroke seperti itu! Mengaku kalian! Aku barusan mendengar dengan jelas apa yang kalian ucapkan!" lantang Yaya sembari menabok wajah Arif dan Elma menggunakan kresek berisi daging ayam segar.


"Waduh, dia udah tahu mas! Aku gak mau dipenjara mas, lebih baik kita kabur saja." bisik Elma di telinga Arif.


"Kamu benar Elma, lebih baik kita kabur saja."


Arif mendorong Yaya sampai Yaya terjatuh diatas tanah kemudian mereka berdua berlari meninggalkan Yaya. Tapi kejadian mengerikan menimpa mereka berdua. Yaya menjadi saksi peristiwa mengerikan yang terjadi didepan matanya. Arif dan Elma ketika berlari di tengah jalan mereka malah tertabrak truk yang melaju dengan sangat cepat.


"Aaaaaaaaa!" teriak Yaya super panik menutup wajahnya setelah melihat darah yang berceceran di tengah jalan.


Martin berlari menghampiri Yaya membantu Yaya untuk segera berdiri. Martin memenangkan Yaya setelah melihat peristiwa mengerikan di depannya. Orang yang telah menjahati ibunya telah tiada. Mereka semua telah mati tertabrak truk.


"Martin aku takut Tin. Kejadian mengerikan didepanku barusan benar-benar membuatku shock."


"Kamu tenang Yaya, ada aku disini."


Martin terus berdiri disamping menenangkan Yaya namun Martin ikut memejamkan matanya karena Martin juga ngeri melihat darah yang berhamburan dimana-mana. Banyak orang yang berlarian melihat peristiwa mengerikan itu. Ada yang berdiri merekam dari pinggir jalan. Ada juga yang berlari kabur karena panik. Semua orang panik melihat kejadian berdarah di hari ini.


***


Malamnya, Yaya sedang duduk sendirian di teras depan rumahnya. Yaya sedang memikirkan soal kejadian yang sudah terjadi pada mantan suaminya Damar, wanita yang memusuhi dirinya Miho, dan dua orang yang ternyata jahat dan mereka adalah pelaku yang sudah membuat ibunya mengalami pendaragan otak.


"Mereka semua sudah pergi untuk selama-lamanya. Jujur hidupku jadi terasa aman ketika orang-orang yang menjahati aku sudah pergi. Mas Damar mengancam akan mengacaukan kehidupan aku jika dia sudah bebas dari dalam penjara nanti. Miho juga akan terus memusuhi dan mengganggu aku jika dia terus hidup. Arif dan Elma dua orang yang sudah membuat wanita yang paling aku sayangi bisu dan lumpuh. Salahkah aku jika aku merasa tenang setelah mereka semua mati? Tapi jika mereka masih hidup aku juga tidak pernah takut kepada mereka." ucap Yaya seraya menatap sedih keatas.


Satu bulan kemudian...


Viona telah kembali dari Amerika di masa liburan sekolahnya. Viona pulang ke rumah mama Sera tempat Yaya, Bakti, dan mama Sera berkumpul. Viona kangen sekali dengan rumah sederhana ini.

__ADS_1


"Vio kangen banget dengan rumah nenek ini. Vio ingat dulu sewaktu Vio masih TK, Vio suka main disini, dirumah nenek. Semoga nenek cepat kembali pulih ya biar nenek bisa segera bermain lagi dengan Vio dan juga Bakti adik Vio." ucap Viona sembari menyisir rambut mama Sera.


Disisi lain Yaya sedang mengemban Bakti dibawah pohon jambu depan rumah mama Sera. Yaya tersenyum bahagia melihat Viona sedang ngobrol sembari menyisir rambut neneknya. Yaya bisa melihat raut wajah bahagia ibunya. Yaya yakin pasti mama Sera sedang bahagia karena anak dan cucunya semua sedang berkumpul disini dan menjaganya.


"Melihat mama bahagia itu adalah kebahagiaan yang sangat berarti di hidupku." ucap Yaya pelan.


Sebuah mobil berwarna hitam mewah mendarat di pelataran rumah mama Sera. Itu adalah Martin. Martin selalu memperhatikan keluarga Yaya. Martin keluar dari dalam mobil seraya membawa hadiah untuk Viona dan Bakti.


"Selamat pagi semuanya?" sapa Martin seraya melangkah gagah menuju Viona dan mama Sera.


"Pagi juga Martin." sahut Yaya dari bawah pohon jambu.


"Wah Viona kamu udah tambah gede ya sekarang? Ini om kasih hadiah untuk kamu." ucap Martin sembari memberikan sebuah tas berisi baju baru.


"Makasih banyak om Martin, om baik banget sama aku." ucap Viona berterimakasih sekali.


Viona menerima hadiah dari Martin dengan senang hati.


Sore harinya Martin mengajak Yaya berbicara empat mata diatas sebuah bukit yang indah.


"Kamu ngapain mengajak aku kesini Martin?"


"Aku ingin membicarakan ini kepada kamu Yaya. Mungkin ini adalah kali terakhir aku ungkapin hal ini."


Dari jawaban itu Yaya bisa menerka kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung.


"Aku ingin melamar kamu menjadi istriku Yaya? Apa kamu mau menerima lamaranku?"

__ADS_1


"Martin, aku bisa menebaknya, pasti kamu mau bilang soal ini."


Kemudian Yaya berdiri melangkah ke tepi bukit. Melihat pemandangan kota dari atas sini. Lantas Martin juga turut melangkah dan berdiri di belakang Yaya.


"Apa kamu mau menerima lamaranku atau justru kamu akan menolaknya lagi, Yaya? Kamu jangan takut untuk menerima lamaranku, aku tidak seperti Damar. Aku berjanji akan selalu setia mencintaimu dengan setulus hatiku. Aku akan selalu bekerja keras untuk dirimu, diriku, ibu kamu, anak-anak kamu dari Damar, dan juga anak-anak kamu dari aku? Aku mohon Yaya? Sedari SMA aku sudah memendam perasaan cinta ini kepada kamu. Perasaan ingin memiliki kamu setulus hati aku. Perasaan ini selalu terbayang dalam hidupku Yaya seperti hantu yang menerorku." urai panjang Martin dan saat mendengarkan omongan Martin, Yaya memejamkan matanya sembari meneteskan air mata.


"Baiklah Martin aku akan menjawabnya." jawab Yaya sembari berbalik badan.


"Aku bisa merasakan kamu adalah orang yang benar-benar tulus meski kamu terkadang suka rese. Tapi aku memutuskan untuk tidak menikah lagi. Aku hanya ingin berjuang sendirian kedepan. Itu adalah keputusan vang aku pilih, Tin. Aku bisa menjadi orang sukses meski aku seorang janda asal aku mau selalu berusaha dan bekerja keras. Martin, masih banyak wanita lain diluaran sana. Jodohmu sedang menantimu Martin dan jodohmu bukanlah aku." ucap Yaya dengan tegas menolak lamaran Martin.


Martin hanya bisa berlapang dada menerima keputusan Yaya.


"Tapi aku berharap meski aku menolakmu kamu jangan pernah sakit hati ya sahabat? Kita akan selalu bersahabat sampai kapanpun karena kita ditakdirkan untuk menjadi sahabat sejati selamanya. Bukan begitu sambel terasi?" ucap Yaya lalu memeluk hangat Martin.


Dalam pelukan itu Martin menangis dan air mata itu jatuh ke punggung Yaya. Betapa perihnya hati Martin ketika lamarannya ditolak lagi. Namun Martin tidak mungkin bisa memaksa kehendaknya.


"Iya Ya Ya, kita akan selalu bersahabat sampai kapanpun itu." ucap Martin seraya menangis sesenggukan. Yaya juga ikut menangis akan pilihan yang terasa sangat nyata dan sulit ini.


Akhirnya Martin menikah dengan Anjar. Mereka hidup bahagia dan sudah dikaruniai sepasang anak kembar yang menggemaskan .Anjar juga merawat Akiara dengan baik.


Yaya bisa hidup bahagia walau tanpa suami yang baru. Lima tahun kemudian kondisi mama Sera sudah kembali normal. Mama Sera sudah bisa berjalan dan berbicara seperti orang sehat pada umumnya.


Bisnis butik yang dikelola Yaya juga sudah berkembang semakin pesat dan Yaya sudah bisa membeli rumah baru yang sangat mewah hasil kerja kerasnya selama ini.


Aku sangat bersyukur akan kehidupanku sekarang yang jauh lebih indah dan menyenangkan. Aku bisa membuktikan kepada semua orang bahwa kerja kerasku, seorang janda beranak dua bisa berakhir dengan kesuksessan seperti ini.


Aku juga bahagia melihat Martin sahabatku sekarang hidup dan membangun rumah tangga yang harmonis bersama dengan Anjar dia adalah sahabat terbaikku juga. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok.

__ADS_1


Aku bersyukur untuk semua kebahagiaan yang telah aku dapatkan.


TAMAT...


__ADS_2