Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Desi Ingin Membakar Miho hidup-hidup


__ADS_3

Aku sedang makan gelato di sebuah cafe. Aku mau habiskan waktu hari ini untuk menikmati kuliner-kuliner yang aku sukai. Sementara itu mama Sera sudah pulang ke rumah Damar. Mama Sera mencari keberadaan Yaya tapi tidak ada. Mama Sera melihat Damar yang sedang duduk santai diatas sofa, sembari membaca sebuah berkas ditemani segelas kopi.


"Hei mantuku, dimana anakku?"


"Gatau. Dia pergi ma."


"Kalian pasti ribut lagi ya?"


"Gak kok ma."


"Kamu harus bisa jaga perasaan istri kamu Damar. Kamu tahu perasaan wanita yang sedang hamil itu sangat sensitif. Mama pernah mengalami itu."


"Yaudah si ma, jangan bilang itu terus. Kuping Damar panas dengernya seolah Damar itu gak becus jaga perasaan Yaya. Damar sedang ingin memperbaiki rumah tangga kita."


"Awas aja kalau dikit-dikit baikan! Dikit-dikit ribut! Mama hajar lagi muka kamu!"


"Galak banget sih mama."


Lantas setelah itu mama Sera masuk kedalam kamarnya. Elma yang sedang mengelap meja kaca tersenyum senang melihat hal yang sedang terjadi. Di cafe, Yaya sudah menghabiskan dua cup gelato. Rasanya manis, Yaya butuh sesuatu yang manis untuk melawan rasa pahit yang selalu saja menerkamnya.


"Aku udah habisin dua porsi. Ini sudah cukup, aku ga mau berlebihan. Tapi rasa pahit ini masih saja kurasakan. Makanan atau minuman hanya sedikit membantu. Orang yang berniat jahatin aku, harus aku usut sampai tuntas!" ucap Yaya pelan sembari memandang menu yang masih terpampang diatas meja. Ingin rasanya Yaya memakan banyak sekali menu, tapi nanti hanya hanya kekenyangan saja. Dan itu hanya akan menambah rasa yang tidak nyaman.


Tiba-tiba, terdengar suara seorang laki-laki yang berdehem di sampingnya.


"Sendirian aja neng?"


"Siapa kamu, pergi dari dekatku, aku lagi nggak mood!" jawab Yaya sembari memegang dahinya.


"Bestiemu."


Jawab Martin, lalu duduk satu meja dengan Yaya.


"Ah lu! Tambah bete gue. Katanya lo udah mau dead kok masih ada aja sampai sekarang?"

__ADS_1


"Jahat banget mulut lu bestie. Gue bukan mau mati, gue mau menetap lagi di Amerika. Tapi gimana gue bisa kalau lihat lo masih sering sedih kaya gini."


"Emang gue sepenting apa buat lo? Kita cuma teman, gak lebih! Gak usah peduliin gue."


Dari dalam mobil, Arif sedang mengamati percakapan mereka. Akhirnya, muncul ide licik dalam pikiran Arif. Arif ingin membuat Yaya seolah sedang berselingkuh dengan laki-laki itu. Alhasil Yaya akan difitnah dan semua orang akan membencinya. Arif senyum-senyum licik sebelum berusaha mengerjakan rencananya. Apakah rencana kejam Arif kali ini akan berhasil?


"Lo adalah teman sejati gue. Sebagai teman udah seharusnya kita saling bantu kan. Dari dulu, kita juga saling bantu kalau salah satu dari kita sedang membutuhkan bantuan."


"Tapi gue ga butuh bantuan apa-apa lagi dari lo. Udah deh gue mau pergi."


Yaya berdiri ternyata lantai cafe sangat licin karena habis dipel. Karena itu Yaya kaget dan hampir saja terjatuh. Namun Martin bergegas menangkapnya dan mereka pun berpelukan . Dan disaat yang bersamaan, Arif gak mau kehilangan momen dengan memotret itu.


"Hahaha, dapat! Dengan foto ini aku bisa manfaatin buat bikin huru hara." ucap Arif puas.


"Lepasin tangan gue! "


Yaya langsung menepis pegangan tangan Martin. Dan setelah itu, Martin juga ikutan berdiri. Tatapan bola mata Martin begitu tajam dan gagah. Disaat dia sedang simpatik, maka wajah pedulinya benar-benar terlukis dengan perfect.


"Lu butuh sesuatu, sesuatu yang bisa menghibur hati lu, tapi bukan gini caranya!"


"Ikut gua."


Martin menarik tangan Yaya menuju mobilnya, kemudian Martin memaksa Yaya untuk ikut bareng dia.


"Jangan Martin! Gue datang kesini bareng Arif, sopir gue. Nanti dia mikir yang aneh-aneh."


"Yaudah, kalau gitu dia boleh ikut aja gapapa."


"Lu ngaco banget sih jadi orang! Nggak! Nggak usah lu repot-repot mau sok bikin gue bahagia. Gue gabakal bisa bahagia dengan kekalutan yang sedang gue alami ini." marah Yaya kemudian berjalan pergi meninggalkan Martin.


Martin hanya bisa menarik nafas lalu masuk kedalam mobilnya.


Yaya juga masuk kedalam mobilnya lalu menyuruh Arif untuk mengantarnya pulang ke rumah.

__ADS_1


***


Bulan ini adalah bulan terakhir Miho bekerja di kantor. Mulai bulan depan Miho tidak akan muncul lagi di kantor tempat Damar bekerja menjadi direktur.


Tapi saat Miho sedang keluar dari dalam mobil, tepat di depan aula, Desi berlari dan menyiram sekujur tubuh Miho dengan benda cair berbau tidak sedap bernama bensin. Tentu saja Miho menjadi shock karena sepertinya, dirinya akan dibakar oleh Desi. Desi juga membawa sebuah korek api yang artinya memang benar Desi mau membakarnya, di tempat umum seperti ini?


"Gila kamu Desi! Kamu mau membakarku di tempat umum seperti ini! Apa salah aku hah! Bau banget sumpah bensin ini."


"Kamu emang pantas dibakar dasar pelakor munafik!"


"PLAAAAK!"


Kali ini setelah disiram bensin, tamparan kencang juga mendarat di wajah Miho. Beberapa karyawan yang mendengar keributan di depan aula bergegas berlari ke lokasi kejadian. Suatu pemandangan yang membuat mereka tegang. Ketika seorang wanita ingin membakar wanita lainnya. Desi sudah kehilangan akal sehatnya, gara-gara rasa dendam yang berlebihan kepada Miho.


Desi sudah tahu kalau dulu Miho yang menjebaknya, hingga ia difitnah telah berselingkuh dengan Damar lalu dilabrak mama Sera dan Yaya habis-habisan. Sekarang Desi ingin mengeluarkan dendam yang tersimpan dihatinya kepada Miho.


"Gue udah tahu ya, lo yang dulu bikin gue dilabrak sama istri dan mertuanya pak Damar. Padahal gue ga pernah ada selingkuh sama dia!"


Miho terkejut mendengar penuturan Desi.


"Tahu darimana kamu! Kemarin yang viralin fotoku dan mas Damar kan kamu! Kamu dapat darimana dasar wanita sinting!"


"Tidak penting gue dapat darimana, yang pasti gue udah tahu kalau lo yang udah bikin hidup gue jadi ancur. Sekarang gue nganggur! Lo tahu kan betapa susahnya cari kerja! Dan lo tahu betapa gue butuh uang untuk mempertahankan hidup gue! Sekarang ini adalah balasan yang pantas buat lo pelakor sialan!"


Desi dengan hati yang penuh kemurkaan mulai menyalakan satu batang korek api. Desi menatap licik kearah korek api yang sudah menyala, yang ia pegang itu dan siap dilempar ke badan Miho. Miho menjerit histeris meminta bantuan orang-orang yang sedang memperhatikan mereka.


"Hei! Kalian semua kenapa diam aja! Kalian bantuin aku lah! Kalian ingin lihat aku mati terbakar ya!" teriak Miho dengan wajah yang super panik.


Karyawan lain yang melihat itu juga bingung mau berbuat apa. Tapi salah satu dari mereka mencoba melunakkan hati Desi.


"Desi kamu nggak boleh sejahat itu. Meski Miho udah kambing hitamkan kamu, tapi apa kamu mau lebih menderita lagi dengan kamu mendekam di penjara?" ucap salah satu karyawan.


"Kalau kamu butuh pekerjaan, kamu juga bisa gantikan aku kok Desi. Bentar lagi aku mau resign dari kantor ini." lanjut Miho berusaha melunakkan hati yang sedang dipenuhi oleh dendam itu.

__ADS_1


Desi masih memegang korek api itu, karena kelamaan ia pegang sampai habis apinya. Bukannya berhenti, Desi malah menyalakan satu batang korek api yang baru lagi!


Bersambung...


__ADS_2