
Sepasang kekasih selingkuh itu berpelukan dengan mesra diatas gedung kantor. Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama pergi ke tempat penjualan mobil-mobil mewah. Damar mengajak Miho pergi ke dealer mobil terbesar di Jakarta.
Miho diajak untuk memilih beberapa tipe mobil, mana yang paling ia sukai. Sebagai hadiah atas kesalahannya, Damar mau membelikan Miho dua sekaligus!
Miho sangat speechless. Bahkan Miho sampai menjerit histeris saat Damar mau merogoh kocek dalam-dalam demi membahagiakan hatinya.
Jeritan Miho didalam tempat itu begitu nyaring. Bakalan punya dua mobil mewah sebelumnya menjadi impian Miho yang tak ia sangka bisa ia dapatkan hanya dalam waktu sekejap saja. Hari ini yang sedari pagi dipenuhi tangisan dan amarah, berubah menjadi senyum kegembiraan.
Miho si pelakor memilih dua mobil yang mewah, yang paling ia suka warnanya. Biru muda dan merah. Mobil dari merk terkenal. Total harga dari kedua mobil itu lima ratus juta! Uang sebanyak itu adalah jatah bulanan istri sah (Yaya) selama lima bulan. Bahkan Yaya yang pandai mengatur keuangan yang notabene dia diizinkan Damar untuk menghabiskan uang itu, Yaya menyisihkan separuh untuk ia tabung, sebagai jaga-jaga kalau suatu saat ada kondisi darurat yang memerlukan banyak uang untuk dikeluarkan.
Usai memilih-milih mobil dan Damar sudah deal dengan pemilik dealernya, mereka berdua bergegas pulang. Damar mau mengantarkan Miho sampai apartemennya dulu sebelum kembali ke rumah.
Di dalam mobil, Miho terus saja tersenyum senang. Gembira, jelas! Miho tidak sabar lagi pergi pulang kantor naik mobil yang berbeda-beda. Tetapi Damar melarang Miho membawa mobil-mobil itu ke kantor.
"Kenapa mas? Aku kan mau pamer sama temen-temen aku?"
"Jangan. Nanti mereka curiga, dapat uang darimana kamu bisa punya mobil mewah yang berbeda-beda."
"Yah, ga asyik kamu mas! Aku kan bisa ngarang cerita. Misalnya, mobil itu dibelikan sama keluargaku di Jepang. Mereka kirim uang ke Indonesia buat aku beli ini."
"Ternyata kamu tidak secerdas yang aku kira Miho sayang."
"Maksud kamu apa mas! Kamu meragukan kepintaranku?"
"Hahaha. Kalau orang tua kamu kirim uang sebanyak itu, kamu kira mobil yang aku belikan itu mobil bekas yang harganya murah apa! Buat apa kamu kerja jadi pegawai biasa di kantor, dengan gaji tidak seberapa kalau kamu beralasan, orang tua kamu kirim uang? Artinya kamu berasal dari keluarga yang kaya raya."
Miho menarik nafas lalu menghembuskan dengan perlahan. Benar juga apa kata Damar. Miho merasa bingung karena mobil-mobil yang ia punya, tidak bisa dipamerkan ke teman-temannya di kantor. Mobil-mobil itu, hanya bisa ia nikmati sendirian. Itupun sebenarnya teman kantornya bisa curiga kalau lihat Miho memakai mobil itu di tempat lain.
Singkat waktu, Damar mengantar Miho pulang sampai ke depan gedung apartemen. Sebelum turun, dengan skill pelakornya, Miho kembali merayu Damar biar Damar mau menginap lagi di apartemennya.
"Mas, nginep lagi yuk? Kita bermain itu lagi malam ini?"
"Gabisa, malam ini aku pulang. Kalau terus-terusan aku nginep, bisa-bisa istri aku curiga lagi. Ingat sayang, bulan depan kita liburan seminggu ke luar negeri. Kita bisa bermain cinta sepuasnya disana, tanpa khawatir ada orang lain yang tahu sama perselingkuhan kita."
Miho manyun lalu bersandar di bahu kekar Damar. Miho mengeluh, Miho juga khawatir akan suatu hal.
"Kamu janji ya mas, kalau istri kamu udah melahirkan, kamu langsung ceraikan dia, dan menikah sama aku?"
"Sayang, aku janji."
__ADS_1
"Aku takut hamil mas. Kalau aku hamil, kamu mau kan bertanggungjawab?"
"Kenapa tidak untuk menikahi perempuan secantik kamu sayang?"
Miho menatap sendu kepada Damar, karena gemas, Damar langsung mengecup bibir seksi Miho.
"Setelah anak aku dan Yaya lahir nanti, aku akan segera membuang Yaya dari hidupku dan kedua anaknya akan aku ambil."
Miho sebenarnya tidak suka jika Damar merawat anak-anaknya dengan Yaya. Tapi untuk saat ini Miho mau berpura-pura tidak mempermasalahkan itu terlebih dahulu.
"Yang penting kita bersatu dan bahagia sayang." ucap Miho namun diam-diam tatapan matanya terlihat sinis tanpa sepengetahuan Damar. Miho tidak menyukai anak-anak itu.
Miho kembali memeluk hangat Damar sebelum dia keluar dari dalam mobil. Disaat yang sama, Damar mengusap halus rambut Miho. Mereka berdua berbahagia, tidak dengan Yaya yang sedang duduk gelisah di kursi taman.
Kenapa malam ini begitu sepi. Kenapa mas Damar tadi pergi tanpa pamit.
Hatiku sangat sensitif disaat sedang hamil seperti ini. Ingin sekali rasanya aku selalu bersama denganmu suamiku. Aku butuh kamu teman hidupku, yang selalu ada menemani dan menjagaku. Aku juga akan menjagamu, menjaga hatimu.
Tiba-tiba, ponsel yang ditaruh di sampingku berdering, tanda ada panggilan masuk. Aku menatap layar ponsel, panggilan dari nomor tak dikenal. Aku langsung angkat saja telpon itu.
"Halo, siapa nih?"
"Hah? Suami? Jangan ngaco deh. Suara suamiku ga seperti ini. Siapa kamu?"
"Suami."
"Woy, jangan bikin gue emosi! Gue lagi hamil nih, mau lo tanggungjawab kalau terjadi apa-apa!"
Dari suaranya, aku bisa menebak ini siapa!
"Wah udah bunting aja lu telur asin. Bentar lagi jadi emak."
"Sialan lu sambel terasi! Hei apa kabar lu? Tau darimana nope gua!"
"Dari emak lu, gua lagi dirumah emak lu nih."
Aku tersenyum geli. Dia adalah sahabat lamaku semasa SMA. Namanya Martin. Dia melanjutkan kuliah ke Amerika dan sekarang, sepertinya dia kembali lagi ke Indonesia. Dia adalah sahabatku yang nyebelin, usil, tapi baik kok.
"Ngapain lu kesana?"
__ADS_1
"Nyari lu. Kirain lu masih tinggal disini. Ternyata lu sukses bikin gue patah hati ya. Lu udah married tanpa kabar ke gua! Fix, kita bukan temen lagi!"
"Wih, santai cuy jangan ngegas! Gue mau kasih kabar tapi kan kita lost contact. Kirain lo udah sombong mentang-mentang lo kuliah di Amerika, cuih."
"Tidak menerima alasan apapun! Kan lu bisa dateng kesini, cari dan temuin gua!"
"Lu dari dulu ga pernah berubah ya. Tetep aja, menyebalkan!"
"Kalau ga nyebelin bukan gua namanya, hahah. Lu tinggal dimana? Gua samperin lu dah, besok."
"Ntar gue share loc ya. Tapi gue harus izin dulu ke suami gue kalau ada temen laki-laki yang mau dateng ketemuan."
"Yoih beres. Udah dulu ya, gue mau gosip sama emak lu dulu."
"Awas ya, jangan gosipin gue yang aneh-aneh!"
"Iye!"
Martin menutup telponnya, sekarang Martin sedang duduk-duduk santai bareng mama Sera di depan rumah. Ditemani setoples cookies dan segelas kopi.
"Seandainya saja, dulu Yaya jadi istri kamu, pasti dia akan selalu bahagia."
Martin menyeruput kopi lalu meletakkan kembali gelas itu diatas meja. Martin melihat netra perempuan paruhbaya itu, memandang sendu kearah depan.
"Apa yang terjadi dengan Yaya bu?"
Mama Sera menarik nafas lesu. Lalu menatap Martin.
"Biasalah, masalah kesetiaan. Damar suaminya Yaya berselingkuh."
"Ebuseet! Terus mereka bakal cerai gitu?"
"Tidak. Yaya memberikan kesempatan kedua untuk Damar. Kalau sekali lagi Damar berselingkuh, bisa dipastikan, mereka akan bercerai."
"Ouh. Ya moga aja si Damar selingkuh lagi." harap Martin.
"Ih kamu mah!" balas mama Sera seraya melempar satu buah cookies kearah Martin.
Bersambung...
__ADS_1