Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Menggeledah Apartemen Miho


__ADS_3

Pertama-tama, kita berdua akan pergi ke kantor tempat mas Damar dan Miho bekerja. Kita akan meminta data tempat tinggal Miho kalau bisa. Bertanya secara japri via WA tentu saja aku takut Miho merasa tidak nyaman.


Ujung-ujungnya nanti ga dikasih tahu lagi. Apalagi dia sedang keluar negeri. Aku tidak bisa beralasan apa-apa lagi jika aku ingin tahu dimana dia tinggal.


"Emang lu mau ngapain sih cari tahu tempat tinggal perempuan yang lu maksud? Siapa namanya, tadi? Miho? Kenapa dengan perempuan itu? Dia orang Jepang atau Korea?"


"Keturunan orang Jepang yang menetap di Indonesia. Iya bawel! Nanti kalau udah tahu alamatnya, kita segera kesana. Gue tuh curiga dia itu adalah orang ketiga dibalik rumah tangga gue dengan mas Damar. Kalau sampai benar kecurigaan gue terbukti, gue pasti akan langsung minta cerai dari mas Damar dan gak mau lagi kenal sama perempuan kurang ajar itu!"


"Cerai itu bukan perkara simple bestie. Apa jadinya kalau anak lu hidup tanpa adanya figur seorang ayah nanti?"


"Mana mungkin gue mempertahankan rumah tangga dengan suami yang terus terusan menyakiti hati istrinya. Kalau dibutuhkan figur seorang ayah untuk anak, gampang kok, gue bisa jadi sosok ibu dan ayah sekaligus untuk anak-anak gue nanti."


"Oh, keren lah bestie gua ini. Yaudah nih kita udah sampai di kantor yang lu maksud."


Martin mengerem mobilnya kemudian aku turun. Lalu aku masuk kedalam dan Martin aku suruh untuk menunggu di mobil saja. Aku tidak ingin ada orang lain yang lihat kalau aku datang ke kantor bersama dengan seorang pria yang bukan suami atau kerabat aku.


Aku berusaha mencari tahu data Miho. Sulit untuk aku dapatkan, karena perusahaan melindungi data para pekerjanya. Tapi dengan power of money, akhirnya aku bisa tahu dengan mudahnya. Uang berbicara! Pantas saja orang-orang kaya itu bisa melakukan apapun yang mereka mau akan tujuan yang ingin mereka capai.


Dimana tempat Miho tinggal, dia tinggal di sebuah apartemen. Tak berlama-lama lagi, aku dan Martin bergegas pergi menuju sana.


Sesampainya di depan gedung apartemen, aku melihat dengan tatapan takjub. Harga sewa apartemen ini tidak main-main untuk orang biasa yang bekerja sebagai sekretaris saja di kantor. Kisaran biaya sewa satu unit apartemen mencapai lima belas juta dan itu adalah harga termurah yang aku tahu.


Apa semua gaji Miho ia habiskan langsung untuk membayar biaya sewa, atau biaya sewa apartemennya ditanggung sama orang lain? Daripada penuh tanda tanya, lebih baik aku masuk saja kedalam.


Kali ini aku tidak bisa masuk tanpa Martin. Aku butuh bantuannya dan juga power of money akan kembali terjadi. Aku menghabiskan banyak uang untuk membayar keamanan dimana keinginan aku adalah, aku ingin bisa leluasa masuk kedalam unit apartemen Miho.


Tidak perlu masuk kedalam seperti seorang pencuri, dimana pencuri kalau mau mencuri pasti masuk dengan cara membobol pintu. Setelah aku berhasil membayar seorang penjaga, aku langsung masuk dan disambut dengan segala kemewahan yang ada. Beberapa bingkai foto Miho terpajang di ruangan santai. Aku melihat satu persatu dari foto itu.


"Lu mau apa didalam sini?"

__ADS_1


"Mencari bukti perselingkuhan lah. Dimana lemarinya?"


"Ngapain cari lemari? Modus jadi maling nih lu?"


"Diem lu sambel terasi!"


Aku melangkah masuk membuka pintu yang lain. Akses pintu yang menghubungkan kedalam kamar Miho. Harum banget ruangan ini. Barang yang aku cari ada. Aku mencoba membukanya dan sudah kuduga, pasti itu terkunci!


"Hayo loh. Lu bisa ga buka lemarinya?"


"Gabisa. Harus pakai peniti atau apa nih?"


Aku bingung pakai apa. Aku coba bentar browsing lewat internet. Mungkin pakai gunting akan bisa. Aku dan Martin mencari benda tajam itu tapi tidak kita temukan. Tapi Martin tidak kehabisan ide, dia bergegas pergi kebawah untuk membeli gunting ke warung terdekat. Satpam keamanan yang aku bayar terlihat risau. Dia membuka pintu dan masuk kedalam apartemen Miho.


"Kalau kalian mau mencuri bisa berabe urusannya! Saya kembalikan saja uangnya ya dan kalian lekas pergi dari sini."


"Nggak pak, kita nggak akan mencuri. Saya ini orang tajir ngapain saya mencuri? Tolong bantu saya pak, saya cuma sedang mencari bukti perselingkuhan pemilik kamar ini."


"Tenang pak, sebentar lagi teman saya balik kok."


Duh, si Martin lama amat sih cari guntingnya. Bahkan aku sampai miscall dia, suruh supaya cepet kembali kedalam unit apartemen Miho. Tak berselang lama Martin datang juga membawa gunting.


"Kalian beneran gak mau maling kan? Awas loh, saya akan segera telpon polisi kalau kalian ambil barang-barang berharga disini."


"Pak keamanan ini bawel banget sih. Buat apa saya kasih anda banyak uang kalau seandainya pemilik unit apartemen ini hartanya gak jauh lebih banyak daripada uang yang barusan saya kasih ke anda. Rugi dong saya! Martin, buruan buka lemarinya."


Penyelidikan pencarian bukti perselingkuhan yang ribet. Untung saja si keamanan ini kembali diam.


"Baik, saya ga akan lapor polisi. Tapi beri tambahan uang lagi untuk saya?"

__ADS_1


What? Oh jadi si keamanan ini licik juga ya. Berani banget memeras aku!


"Saya gak akan kasih anda sepeserpun lagi! Itu aja udah kebanyakan yang saya kasih."


"Oh yaudah. Selamat mendekam di penjara."


"Udah siap dipecat bos belum pak keamanan? Karena kamu udah membantu saya masuk kesini, hehehe."


"Sialan! Yaudah, kalian cepatlah! Saya tunggu diluar."


Satpam itu kesal lalu pergi, tapi saya memanggilnya kembali.


"Jaga baik-baik! Jangan sampai ada orang lain tahu."


"Orang lain ga bakal tahu mbak, tapi CCTV disekitar sini mendokumentasikan perbuatan mbak dan mas, yang masuk secara tidak berizin kedalam. Sebenarnya, kerjaan saya juga terancam nih. Kalau saya sampai dipecat atasan gimana?" sahut keamanan itu dengan wajah sedih, lalu dia pergi keluar. Menjaga didepan sana.


"Saya akan kasih bapak pekerjaan baru. Yang penting saya ga maling pak disini." sahutku dengan nada suara yang agak keras.


"Berisik lu telur asin! Kalau pemilik kamar sebelah denger gimana!" tegur Martin panik.


"Ya maap." sahutku.


"Nih udah kebuka." ucap Martin dengan nada suara yang berusaha pelan, menunjukanku pintu lemari yang sudah terbuka.


Aku bergegas mengecek isi lemari. Membongkar pakaian-pakaian Miho. Lalu aku menemukan, kwitansi pembelian mobil. Jumlahnya ada dua. Aku baca isinya. Ternyata belum lama ini, Miho habis membeli dua mobil baru dengan harga yang tidak main-main!


Aku sangat terkejut mengetahui ini semua. Darimana sekretaris biasa seperti dia punya uang sebanyak ini buat beli dua mobil mewah? Aku kembali melanjutkan penggeledahan, aku terus mencari, dan mencari, lalu aku kembali menemukan, sesuatu yang membuatku kaget bukan main. Aku menatap sesuatu itu selama beberapa saat.


"Cincin ini mirip punyaku? Tapi bukannya cincinku dicuri sama mama?" bingungku dalam hati.

__ADS_1


Sebenarnya, apa yang terjadi? Cincinku dicuri mama atau mama dan Miho punya cincin yang sama dengan cincinku yang hilang tiba-tiba?


Bersambung...


__ADS_2