Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Niat Menguping Pembicaraan


__ADS_3

Singkat waktu aku sudah mendapatkan resep obat dari dokter untuk mengatasi gatal-gatal dan nyeri akibat serangga itu. Aku dan mas Damar kembali pulang ke rumah. Tapi nanti saat siang mas Damar sudah harus kembali ke kantor. Nah saat mas Damar kembali bekerja lagi nanti, aku akan segera datang kerumah buat menemui Martin dulu dirumah mamaku. Setelah itu baru pergi ke kantor buat menemui si pelakor.


Siang yang kutunggu akhirnya tiba. Aku mengantar mas Damar sampai depan rumah sebelum ia berangkat kerja. Mas Damar mencium keningku lalu aku mencium juga tangannya. Rumah tangga kami masih tampak harmonis seperti biasa. Tapi malam ini adalah waktu yang pas bagi aku untuk bertanya soal cincin aku yang hilang.


Lalu setelah mobil yang dikendarai mas Damar melaju pergi, aku bergegas memanggil Arif. Aku ingin diantarkan dia menuju rumah mama. Arif bergegas mempersiapkan mobil. Semoga saja nanti Martin tidak bersikap rese lagi kepadaku, didepan mama aku.


Kemudian aku masuk kedalam mobil. Hari ini aku memakai daster berwarna putih yang motifnya simple. Aku memikirkan soal liburan ke Norwegia bulan depan, sungguh aku sangat tidak sabar. Aku ingin memanasi pelakor itu.


Aku ingin menjejakkan kaki disana dan menggunakan kamera untuk mendokumentasikan liburan indahku disana.


***


Beberapa saat berlalu sampailah aku dirumah mama. Mama sedang tidak ada di butik, dia sepertinya sedang memasak untuk menu makan siang hari ini. Aku bisa menghirup aroma gurih menggugah selera yang menusuk kedalam indera penciuman aku.


Aku membuka pintu mobil lalu menyuruh Arif untuk menunggu sebentar disitu. Aku masuk kedalam tanpa mengetuk pintu. Aku cari mama di dapur tapi ternyata, aku dikejutkan dengan orang yang sedang memasak ternyata bukan mama, melainkan si sambel terasi. Dia beneran lagi bikin sambel terasi, Martin lagi ngulek sambel terasi!


"Kok lu yang masak Tin? Mama gue dimana? Jangan-jangan lu masuk rumah tanpa izin ya?" tegurku marah.


"Hei telur asin jaga mulut lo. Belum pernah dalam sejarah Martin masuk ke rumah orang tanpa izin. Jelas sudah izin dong,"


Mama datang dari belakang aku.


"Dia udah izin sama mama kok nak. Sekarang, Martin pemuda yang baik ini lagi bantuin mama buat masak. Uuh, bener-bener mantu idaman. Seandainya mama punya satu anak lagi, pasti mama udah jodohin dia sama nak Martin, hehehe." cakap mamaku lalu mencubit gemas wajah Martin.


Martin emang baik sih tapi sikapnya yang rese itu dari dulu selalu aja bikin aku kesal!


"Martin gue mau bicara sama lu. Kita bicara di belakang rumah saja?" ajakku terburu-buru.


"Bentar dulu telur asin, gua masih sibuk masak nih dan nanti, lu wajib coba masakan gua, ya? Haha."

__ADS_1


Mendengarnya saja udah mau muntah apalagi mencoba. Emang dia bisa bikin makanan enak ya? Perasaan dulu aku pernah mencicipi nasi goreng buatannya, rasa masakan Martin sukses bikin nafsu makan aku menjadi sirna.


"Yaudah gue tunggu di belakang, jangan lama-lama ya!" titahku ketus.


Aku berjalan pelan menyusuri area dalam di rumah mama. Aku melihat suasananya, rapi, bersih, dan juga aroma wangi pengharum ruangan yang menyegarkan.


Aku menatap sebuah bingkai foto yang terpasang di dinding. Foto aku, mama, dan almarhum papa aku. Almarhum papa aku sangat tampan. Beliau tampak semakin gagah dengan brewok tipis di wajahnya.


Beliau adalah sosok laki-laki yang sangat bisa menghargai seorang wanita. Dia mencintai mama dan juga aku. Semoga papa udah tenang disana ya. Kita dari sini akan selalu mengirimkan doa yang terbaik untukmu papa.


Lantas setelah puas memandangi foto keluargaku, aku kembali melangkah menuju ke belakang rumah. Hampir satu jam aku menunggu, duduk di kursi kecil pada bagian taman belakang, si rese itu akhirnya menyusulku juga. Tapi dia datang dengan membawa satu piring makanan dan aku yakin, aku pasti akan dipaksa untuk mencicipi masakan buatannya. Bersiap untuk mual Yaya!


"Hai bestie. Nih masakan gua udah jadi. Sebelum kita membahas hal yang ingin gue bahas, wajib habisin dulu masakan buatan gua ya!


"Masak apaan nih?"


"Kek lu sambel terasi!"


"Habisin dulu baru bahas apa yang ingin gue bahas."


"Lah kok lo maksa sih? Gue ga mau, masih kenyang nih! Buruan! To the poin! Gue pengen cepet-cepet ketemu si pelakor nih!"


"Sekarang udah waktunya makan siang jadi nggak ada alasan untung berpura-pura kenyang, silahkan habiskan dulu masakan gue bestie!"


"Dasar cowok rese nyebelin! Nyesel juga gue temenan sama lo! Iih! Yaudah, gue makan! Awas kalau ga enak, jangan salahin gue kalau sampai jidat lo bocor gara-gara kena lemparan piring!"


"Sadis amat sih bestie."


Aku menerima piring berisi makanan buatan Martin, lalu aku mulai menyendoknya dengan perlahan. Mencampurkan nasi beserta lauk-lauknya dalam satu sendok, lalu makanan itu masuk kedalam mulutku.

__ADS_1


Diluar dugaan ternyata rasanya enak juga. Aku gak menyesal udah nyicipin makanan buatan Martin. Belajar masak dimana dia ya? Tanpa sadar seporsi makanan ini udah ludes. Udah masuk semua kedalam perutku. Bahkan sebenarnya aku ingin nambah lagi tapi gengsi.


Martin tersenyum senang melihatku yang udah habisin makanan buatannya.


"Udah abis nih, enak juga masakan buatan lo."


"Hahaha terimakasih. Sekarang langsung aja ke pokok pembahasan ya."


Dari balik dedaunan ada seseorang yang sedang nguping pembicaraan mereka. Dia adalah Arif. Arif disuruh oleh Elma untuk menguping dan menyelidiki pertemuan Yaya dengan laki-laki itu.


Tidak mau kehilangan kesempatan, Arif juga merekam pembicaraan Yaya dan Martin.


"Yaya, kita bicara didalam rumah aja ya. Karena hal yang mau gue bahas sama lo ini adalah hal yang sangat privasi, jadinya gue ga mau ada orang lain yang mendengarkannya."


"Emang siapa yang mau nguping sih? Ada-ada saja lo Tin!"


"Please Yaya?"


"Ya oke. Ayo masuk kedalam. Tapi didalam kan ada mama gue?"


"Gapapa kalau mama lah, dia bukan orang asing dan gue sangat percaya sama mama lo. Mama lo pasti bisa jaga hal-hal privasi. Udah yuk kedalam, piring ini biar gue yang bawa?"


Arif terlihat emosi karena Yaya dan Martin malah masuk kedalam.


"Ah sial! Gagal deh gua rekam mereka. Masa gua harus masuk kedalam rumah juga sih, lewat mana ya?" bingung Arif seraya menggaruk kepalanya meski tidak terasa gatal.


Sebenarnya apa yang ingin Martin bicarakan dengan Yaya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2