Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Perjuangan Seorang Yaya


__ADS_3

Aku tiduran sedih diatas kasur, air mata mengalir membasahi bantal. Aku peluk guling untuk mencari kehangatan dan kenyamanan. Aku hanya bisa menangis dalam kesendirian ini. Betapa sakit menjalani pernikahan dengan mas Damar.


Keesokan harinya, aku bersiap untuk kembali ke rumah sakit untuk menjaga mama. Tapi, dari semalam mas Damar belum juga pulang. Tapi aku juga udah siapin sarapan buat mas Damar kalau dia pulang nanti. Saat aku sedang merapikan lengan dasterku di depan cermin, aku mendengar seseorang membanting sesuatu di luar kamar.


Tepatnya dari arah meja makan. Aku buru-buru berjalan kesana. Ya ampun, aku lihat masakan yang aku buat untuknya dibanting dan dibuang dengan begitu saja ke lantai. Seolah itu adalah makanan sampah yang udah basi.


Aku hanya bisa menghela nafas, gak mau berdebat dengan mas Damar pagi ini.


"Aku mau ke rumah sakit, kalau kamu gak mau makan masakan aku yaudah, kamu sarapan aja masakan buatan Elma mas." kataku lalu aku lanjut melangkah menuju depan rumah.


Tapi mas Damar malah meraih tanganku, memegangnya dengan tenaganya. Aku merasa tanganku agak sakit dengan dipegang mas Damar kali ini.


"Lepasin mas! Sakit tahu!"


"Bayar biaya pengobatan ibu kamu sendiri, aku gak sudi bayarin."


Kalimat yang terucap dari mulut mas Damar barusan membuatku merasa semakin terpukul.


"Lepasin tangan aku!"


Mas Damar pun melepaskan genggamannya. Matanya terus mendelik kearahku. Rambutnya acak-acakan, entah semalam dia habis darimana.


"Aku ga butuh bantuan kamu, kamu pikir aku ga bisa biayain pengobatan ibu aku? Biar aku yang menanggungnya sendiri!"


"Ya bagus, aku ga perlu buang-buang uang buat orang-orang yang menurut aku gak penting."


Aku lekas pergi daripada makin sakit hati. Tapi mas Damar memanggilku lagi.


"Stop!"


Mas Damar melangkah menghampiri aku dengan cepat.

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Jangan pergi bersama sopir. Jangan pakai fasilitas yang ada disini. Semua yang ada disini adalah punyaku!"


"Ok fine!"


Aku akan pergi mencari taksi saja. Mas Damar semakin memperlakukan aku dengan kegilaannya.


"Yang tabah ya nak." ucapku seraya mengelus perutku.


Di dalam taksi, aku melamun sembari menangis.Sopir taksi yang sedang menyetir, diam-diam mencuri pandang melihatku. Dia pasti berpikir aku kenapa sedang menangis. Aku lekas menghapus air mataku. Habis ini, aku mau fokus menjaga mamaku dulu.


Hari terus berlalu, aku kurang merawat diriku lagi. Aku hanya fokus menjaga dan mengurus mamaku di rumah sakit, tanpa bantuan siapa-siapa selain suster. Maka tidak heran kalau penampilanku tidak sebening biasanya.


Belum lagi disaat kehamilanku ini, aku harus bersusah payah mencari uang buat biaya pengobatan stroke mama. Untung mama punya butik, yang bisa aku gunain sumber penghasilannya buat biaya pengobatan beliau. Aku juga udah menjual sawah mama buat biaya pengobatan stroke yang diderita oleh mama.


Biaya pengobatan penyakit stroke yang diderita mama memakan biaya yang besar.


Dari pagi sampai sore aku di butik, lalu aku tutup. Setelah itu aku fokus menjaga dan menemani mamaku di rumah sakit.


"Dok, apa mama saya masih bisa sembuh setelah terapi?"


"Doakan saja yang terbaik mba. Perdarahan yang terjadi di kepala ibu anda tidak terlalu hebat. Tapi kami benar-benar akan memantau ibu anda dengan ketat."


Untuk sekarang dan sebulan kedepan sebaiknya mama dipantau dulu oleh tim medis.


Seminggu kemudian, sore ini, aku sedang duduk diatas kursi kecil disamping ranjang mama. Mama sedang menatap ke langit-langit ruangan, kemudian dia perlahan menoleh kearahku. Mama ingin berbicara sesuatu tapi dia tidak bisa.


Dia menangis. Aku bisa merasakan apa yang mama rasakan sekarang. Pasti rasanya sangat menyiksa. Semoga mama cepat sembuh ya. Aku akan selalu ada untuk mama.


Aku akan selalu berusaha mencari biaya pengobatan untuk kamu, ma. Dan aku juga akan merawat mama, sama seperti dulu mama merawatku hingga aku tumbuh menjadi gadis remaja yang bersemangat.

__ADS_1


"Mama mau bicara apa? Mama lapar? Mama haus?"


Mama hanya bisa menggerakan-gerakan bibirnya saja. Mengeluarkan sedikit suara yang terdengar tidak jelas. Kemudian aku raih tangan beliau, aku kecup dengan perlahan. Aku ingin berbakti, dengan menjaga dan mengurusinya.


Mama, telah memberikan arti ketulusan yang sebenarnya. Mama, telah memberikan arti cinta dalam kekeluargaan. Mama, telah memberikan arti bahwa berbuat baik, alangkah baiknya dibalas dengan hal yang baik juga.


Mama adalah salah satu jembatan untuk aku untuk meraih surga.


"Mama, aku akan selalu doain kamu." ucapku seraya tersenyum. Dan mama langsung membalasku dengan sebuah mimik wajah yang dimana dia terlihat sedikit tersenyum.


Selepas itu aku pulang ke rumah. Aku meninggalkan mama sebentar dan mama akan dijaga oleh seorang suster yang siap sedia menjaganya selama dua puluh empat jam nonstop.


Sebenarnya aku merasa canggung untuk pulang ke rumah. Aku seperti sudah tidak dianggap lagi oleh mas Damar, karena fitnahan yang tidak jelas itu dia langsung percaya saja.


Aku keluar dari taksi lalu aku tatap lurus rumah yang biasa aku tempati ini. Didepan sana keluar seorang laki-laki yang akhir-akhir ini memperlakukan aku dengan keji.


Mas Damar berdiri mematung manakala dia melihat aku sedang berdiri didekat pagar rumah. Mas Damar menatapku dengan tatapan dingin. Dia memanggilku dengan isyarat tangan, jari telunjuk yang ia acungkan kearahnya. Aku bergegas berjalan menghampirinya. Apa dia akan memukulku lagi?


"Apalagi mas? Mau mukul aku atas kesalahan yang gak pernah aku lakuin sebelumnya?"


"Plaaaak!"


Benar saja, mas Damar kembali menamparku. Hatiku kembali sesak. Jiwaku kembali goyah. Ragaku kembali terkena dera meski tidak sampai berdarah. Kemudian, mas Damar menunjukkan sebuah foto dimana didalam foto itu ada aku yang sedang dipeluk oleh Martin saat aku hampir jatuh di cafe waktu itu.


"Lihat ini istri sialan! Udah jelas ini buktinya. Dari HP Arif sopir kita."


"Oh." jawabku singkat lalu aku masuk kedalam rumah.


Aku meninggalkan mas Damar didepan rumah. Aku malas meladeni hal-hal yang menurut aku hanya akan membebani pikiran aku. Selama ini aku susah payah cari uang di butik dan menjaga mama, ditambah lagi tuduhan yang salah itu.


"Yaya! Keluar kamu!" panggil mas Damar dengan nada membentak dari luar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2