
"Menyingkir dari depan wajahku. Aku jijik melihat wajah jahat kamu! Apalagi dengan jarak sedekat ini."
Miho menaikkan salah satu alisnya, kemudian akhirnya dia pergi dari hadapan aku. Aku lihat Miho berjalan dengan ceria dan santai menuju mobil mewahnya. Mobil yang dibelikan oleh suami aku. Dia masih bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, diatas penderitaanku yang menyesakkan ini.
Aku menggelengkan kepalaku, aku berusaha untuk tetap tersenyum lalu aku lanjut masuk kedalam mall, membeli buah-buahan untuk mamaku. Buah sangat bagus, cukup membantu proses penyembuhannya nanti.
Di dalam mobilnya, Miho memasang sebuah earphones. Sembari menyetir mobil dia menelpon Damar. Damar masih duduk santai di rumah sembari bermain game, rebahan santai diatas sofa. Memainkan permainan yang dia sukai sebelum pergi ke kantor sebentar lagi. Miho ingin menghasut Damar lagi sembari menuduh Yaya. Tuduhan bukan fakta.
Mendapatkan telepon dari Miho, Damar tidak langsung mengangkatnya. Damar membiarkannya dan memilih untuk fokus bermain game terlebih dulu. Tapi Miho terus menelponnya hingga Damar langsung mengangkatnya dengan kesal.
"Ada apa sih, ganggu aja orang lagi main game!"
"Hidup kamu nggak guna banget sih mas, buruan ke kantor, nanti kalau kamu sering datang sesuka hati bisa-bisa jabatan kamu diganti sama yang lain. Mau kamu, turut jabatan!"
"Suka-suka aku lah, mana berani atasan ganti direktur yang handal sepertiku. Ada apa?"
"Mas barusan aku ketemu sama Yaya didepan mall. Dia mau beli sesuatu buat selingkuhannya." tuduh Miho.
Miho tersenyum licik dengan rencana barunya ini.
"Tahu darimana kamu kalau dia punya selingkuhan? Maksud kamu si sinting Martin? Sahabat lamanya itu?"
"Aku memergokinya sedang telepon dengan selingkuhannya tadi. Dari situ aku tahu kalau Yaya memakai banyak uang buat beli sesuatu untuk selingkuhannya. Aku dengar, mereka mau ketemuan di taman nanti sore."
"Sore ini aku akan pastikan itu di taman. Kasih tahu mereka bakal ketemuan di taman mana? Aku ingin melihat perselingkuhan mereka secara langsung!"
"Taman Seruni mas."
Kemudian Miho mematikan sambungan teleponnya dengan Damar. Miho berucap senang "Yes!" sembari menggengam salah satu tangannya keatas.
"Selanjutnya, atur pertemuan Martin dengan istri sah keparat itu."
Miho membelokkan mobilnya menuju ke tempat yang ingin dia tuju. Yaitu, rumah Martin. Singkat waktu, sampailah Miho didepan rumah Martin.
Melihat kedatangan seseorang, Martin yang sedang push up didepan rumah segera berhenti, lalu bangkit berdiri. Martin hanya sedang mengenakan celana boxer saja. Saat turun dari mobil tampak Miho terpana melihat bentuk badan Martin yang sempurna.
"Bagus juga ya tubuhmu. Kesukaan tante-tante girang banget ih."
"Siapa lu? Tahu darimana rumah gua?"
__ADS_1
"Kenalin, aku Miho Misaki. Aku pernah berteman dengan Yaya. Wanita yang kamu taksir itu."
"Oh, lu yang merebut suaminya kan? Itu artinya, lu udah hancurin hidup sahabat gua."
Martin berbalik badan, sangat malas melihat perempuan ular itu datang kesini.
"Tahu darimana rumah gua?"
"Itu gak penting. Tapi aku kesini cuma mau bilang, temui aku ditaman sore ini. Aku janji ga akan ngusik kehidupan rumah tangga Yaya dan mas Damar lagi, setelah kita ketemuan."
"Kenapa harus ketemuan sama gua? Apa hubungannya sama urusan lu dan rumah tangga mereka ya?" tanya Martin sembari berbalik badan lagi menatap Miho bingung.
"Kamu akan tahu jawabannya nanti. Temui aku di taman Seruni, dekat sini kok. Makasih, sampai ketemu ya?" ucap Miho sembari tersenyum cantik lalu bergegas berjalan cepat menuju mobilnya.
"Sebenernya ada hal apa wanita ular itu ngajak gua ketemuan? Atau jangan-jangan, ini adalah bagian dari rencana liciknya? Datang gak ya?" dilema Martin.
Siang hari yang ditunggu-tunggu oleh Miho pun tiba. Kali ini adalah usaha supaya Yaya bisa datang ke taman yang sama sore ini bersama Martin. Miho ingin menelpon Yaya tapi ternyata, Yaya udah ngeblok nomor HPnya.
"Sial! Si muna pakai ngeblok segala lagi, dasar baperan!" gerutu Miho kesal. Karena hal ini Miho pun memakai SIM lain untuk menelpon Yaya.
"Untung pake dua SIMcard. Telpon si muna ah."
"Siapa?"
Miho langsung mematikan teleponnya saat Yaya sudah mengangkat telepon darinya.
"Siapa sih nih, iseng banget." ucap Yaya kemudian kembali menyuapi sesendok bubur oatmeal untuk mamanya.
Dering tanda pesan masuk terdengar. Yaya langsung membuka pesan itu.
"Temui aku di taman Seruni sore ini. Ini penting, menyangkut orang yang udah bikin ibu kamu jadi sakit. Ibu kamu dicelakai."
Membaca pesan ini membuatku penasaran. Siapa pemilik nomor ponsel ini? Tapi aku cemas kalau datang sendirian kesana. Aku takut kalau aku yang jadi korban berikutnya. Selama ini aku merasa ada orang yang ingin mencelakai aku.
Tapi aku harus mengajak siapa juga? Aku balas pesan dari orang misterius ini terlebih dulu.
"Apa yang kamu katakan itu benar?"
"Iya, aku bersungguh-sungguh. Aku tahu siapa pelakunya, tapi temui aku dulu di taman Seruni. Kita bicarakan ini empat mata, ini sangat penting. Menyangkut keselamatan kamu juga loh."
__ADS_1
"Oke aku akan kesana. Tapi tidak sendirian!"
"Ya, terserah kamu. Aku tunggu."
Setelah selesai mengurus makan siang mama, aku segera bersiap-siap pergi ke taman itu.
Aku mengajak seorang sahabatku untuk menemaniku pergi kesana. Namanya adalah Anjar. Aku pergi ke taman Seruni bersama Anjar, naik mobilnya Anjar.
Dia yang menyetirnya. Anjar adalah salah satu sahabat terbaikku. Dia teman lamaku dari waktu SMA. Aku dan Anjar sering saling menolong satu sama lain jika sedang ada yang butuhkan bantuan diantara kami.
"Makasih ya Njar, udah mau temani aku?"
"Iya sama-sama Yaya. Mana mungkin aku tega biarin wanita hamil seperti kamu datang kesana sendirian. Ketemu orang misterius pula."
Aku tersenyum untuk sahabatku yang real ini. Bukan sahabat yang fake, yang menikam aku dari belakang, seperti Miho. Lalu, sampailah mobil ini di dekat taman Seruni.
Aku turun dari mobil langsung disambut dengan sebuah kotak kecil berwarna coklat yang terjatuh. Aku menatap sejenak kotak itu.
Aku kemudian mengambil kotak itu dan isinya sebuah jam tangan yang tampak keren, pasti harganya mahal.
"Ada apa Yaya?" tanya Anjar menghampiriku.
"Ini ada kotak berisi jam tangan mahal, punya siapa ya kira-kira?"
"Mungkin punya orang yang barusan habis datang kesini tapi lupa mau bawa pulang. Yaudah, pegang dulu gih, siapa tahu orangnya lupa dan dia masih ada disini."
"Oke, sambil cari orang yang ngajak aku ketemuan ya?"
"Iya."
Aku dan Anjar mulai berjalan masuk ke dalam area taman. Suasana taman benar-benar sepi. Masa cuma ada aku dan Anjar saja. Aku melihat-lihat taman ini, dimana orang itu? Aku bergegas mengirimkan pesan untuknya.
"Dimana?"
"Aku ada dibalik pohon."
Aku melihat-lihat pohon yang mana?
"Pohon paling besar ditaman. Kamu lekas kesini, jangan bersama teman kamu itu. Kita bicarakan ini empat mata." lanjut orang misterius itu mengirimkan pesan.
__ADS_1
Bersambung...