Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Berlibur Ke Finlandia


__ADS_3

Mereka berdua terkejut dengan suara gebrakan meja yang diciptakan oleh Damar. Mereka saling menatap kemarahan Damar satu sama lain.


"Dua menit sisa waktu kita untuk berbicara. Jangan sia-siakan waktu ini. Sekarang, Desi, saya akan kasih kamu uang itu asal kamu berhenti mengganggu Mihoku."


"Oke, deal. Gue terima. Gue terima uang seratus juta itu dan gue ga akan menuntut lagi pelakor ini." jawab Desi seraya melirik senang ke wajah Miho.


Miho dengan wajah manyun membalas lirikan Desi, merasa kesal karena Damar akan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Desi.


"Yaudahlah, kalau gitu kamu jangan pernah nyerang aku lagi Desi!"


"Belum tentu. Dendam gue ini bisa hilang atau timbul dengan sendirinya."


"Maksud kamu apa!" tanya Miho keras seraya menarik lengan Desi.


"Sudah-sudah, Desi kalau kamu mengganggu Mihoku lagi, jangan harap hidup kamu akan aman!" ancam Damar.


"Iya, aku akan pergi sejauh mungkin. Santai aja aku cuma asal ngomong aja kok alias bercanda."


Masalah pertikaian antara Desi dan Miho pun usai. Beberapa hari kemudian, setelah masalah itu tidak berlanjut kembali, Damar dan Miho akan pergi bersama ke sebuah butik yang terkenal dalam memproduksi gaun pengantin yang indah.


Mereka datang kesana naik mobil, tapi kebetulan pemiliknya belum datang. Miho langsung turun, Miho memilih tempat ini selain karena terkenal juga bergengsi. Miho akan masuk duluan sembari menjunjung tasnya yang bermerk. Miho membaca plang besar di atasnya, Nagora Fashion.


"Hari pernikahanku meski akad nikahnya dilakukan secara tertutup, tapi suatu saat aku yakin pasti resepsinya akan besar-besaran. Aku bersumpah, akan menyingkirkan si Yaya dari dunia yang indah ini." batin Miho seraya menatap tajam kearah plang itu.


Mereka masuk kedalam butik. Melakukan pengukuran badan pada tubuh Miho. Setelah pengukuran badan selesai dilakukan, Miho mulai request gaun seperti apa yang ia inginkan menjadi saksi dari momen sakralnya. Dan gaun itu harus selesai dalam waktu 14 hari. Karena hari pernikahan akan dilakukan dalam waktu dua minggu lagi.


"Makasih ya mba atas waktunya?"

__ADS_1


"Sama-sama."


Ucap Miho kepada pegawai butik, lalu Miho melihat-lihat lagi pakaian lain yang dijual dalam butik ini. Miho melihat-lihat, rasanya ingin dibelikan banyak baju baru yang mahal saat ini juga. Tapi karena takut keuangannya terlalu cepat berkurang. Damar menolak permintaan Miho untuk dibelikan banyak baju-baju baru yang mahal.


Sontak saja Miho jadi kesal, keinginannya untuk membeli baju baru pada hari ini tidaklah terwujud. Sampai di apartemennya, Miho membanting tasnya ke meja.


"Sejak istri sah mau baikan lagi sama mas Damar, aku takut keuanganku aku jadi agak seret. Aku harus gimana ini?"


Miho berpikir-pikir kiranya rencana apa yang paling brilian untuk dilakukan. Tentu saja Miho butuh bantuan Arif dan Elma. Miho menghubungi mereka, tak berselang lama, Arif mengirimkan foto yang waktu itu ia potret di sebuah cafe. Dimana Martin secara tidak sengaja sedang memeluk Yaya yang hampir terjatuh karena lantai licin.


Miho tersenyum licik melihat foto itu.


"Ternyata dibelakang suaminya, si istri sah ini adalah orang yang pandai menutupi kebusukannya! Lihat foto ini, pasti mas Damar akan marah besar saat tahu istrinya berselingkuh."


Miho pikir Yaya berselingkuh dengan laki-laki yang ada di foto ini, tapi Arif langsung membantahnya lewat balasan pesan.


"Itu adalah teman laki-laki bu Yaya. Mereka tidak berselingkuh, tapi kita bisa jadikan itu sebagai fitnah untuk mereka."


"Jadikan fitnah yang akan kita lakukan jauh lebih panas lagi, kita buat Yaya hancur sehancur-hancurnya."


"Baik bos."


***


Didepan rumah aku selalu setia menunggu mas Damar pulang dari kantor.


Aku menetra ke area jalan. Samar-samar kulihat mobil mas Damar mulai memasuki area depan rumah. Arif yang sedang berjaga lekas membukakan pintu gerbang untuk suamiku. Aku langsung berbalik badan sembari memegang perutku.

__ADS_1


"Yaya!"


"Mas?"


Mas Damar berlari keluar dari dalam mobil kearahku, dengan membawa sebuah bingkisan.


"Ini untuk kamu."


Aku langsung menerima bingkisan itu dan membukanya. Ternyata itu adalah sebuah kertas kecil. Seperti tiket pesawat. Aku baca tulisannya, ternyata ini adalah tiket pesawat menuju destinasi wisata impian aku, Finlandia


"Kamu udah beli tiket ini?"


"Apa sih yang nggak buat kamu."


Dengan liburan kesana, kesedihan yang aku alami akan berubah kembali menjadi senyuman yang mencerahkan wajah senduku.


Singkat waktu, hari keberangkatan aku dan mas Damar menuju Finlandia sudah tiba. Pagi-pagi sekali, embun tampil ceria di dedaunan taman, kini aku sedang berpamitan dengan mama di depan rumah. Mama tampak senang melihatku yang akan pergi berlibur ceria ke Eropa.


Mas Damar sampai mengeluarkan uang ratusan juta untuk kami berlibur kesana. Biaya yang sangat fantastis hanya untuk berlibur satu minggu saja. Tapi kenangan ini akan selalu terukir di benak kami.


"Have fun ya kalian disana. Yaya kamu janji sama mama, jangan sedih selama kamu berlibur kesana. Nikmatilah masa liburanmu, jangan sia-siakan itu untuk bersedih terus. Come on nak, siapa yang gak senang kalau liburan ke luar negeri." ucap mama sembari memelukku.


"Iya ma, aku janji akan berusaha untuk selalu bahagia disana. Aku gamau sedih lagi. Aku gamau sia-siakan momen ini."


"Mama doakan semoga nak Damar dan juga kita jadi orang yang semakin sukses."


"Semoga saja ma."

__ADS_1


Selepas itu, mas Damar dan aku mencium tangan mama dan kami pun masuk ke dalam mobil. Arif yang akan mengantarkan kami hingga ke bandara.


Bersambung...


__ADS_2