
"Semoga aja mas Damar habisin masakan aku. Aku udah bikin dengan susah payah tadi." ucapku berharap, didalam lift.
Saat pintu lift sudah terbuka, aku melangkah dengan anggun menuju tempat parkiran. Disana aku kembali berpas-pasan dengan Miho.
"Loh, Yati mana?"
Aku melihat, Miho kembali tanpa bersama Yati.
"Dia sakit. Aku yakin pasti tadi dia ga sengaja numpahin kopi karena dia lagi pusing atau sakit. Sekarang dia dirawat di klinik."
"Oh jadi dia sakit. Yaudah lah semoga dia cepat sehat. Terus bekas air kopi yang panas itu, udah gapapa kan?"
Miho menggeleng sembari tersenyum.
"Aku gapapa."
Aku juga turut membalas senyuman Miho dengan senyuman juga. Senyuman Miho betul-betul luar biasa. Siapapun yang melihatnya pasti merasa senang. Itu adalah suatu kelebihan yang dimiliki oleh Miho.
"Aku pulang ya. Mungkin mulai beberapa hari kedepan, aku bakal jarang main ke kantor ini. Karena situasi udah aman."
Aku senang sekali. Miho juga tersenyum puas.
"Yaudah, aku masuk dulu kedalam ya. Hati-hati dijalan ya bu?"
"Iya Miho."
Miho berjalan kedalam ruangan, lalu aku pun masuk kedalam mobilku. Aku menyetir mobilku menuju kediamanku. Tapi saat aku melintasi suatu klinik terdekat dari kantor, aku melihat ada Yati yang tengah duduk sedih didepan klinik, tepatnya diatas kursi tunggu. Dia terlihat sedang menangis. Dan wajahnya seperti wajah bonyok habis dipukuli? Why? Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa wajahnya bonyok seperti itu? Aku terus menatap heran dari dalam taksi. Siapa yang habis memukuli wajahnya?
Aku ingin berhenti dan bertanya ke dia, tapi rasanya itu tidak penting. Biarlah masalahnya menjadi urusannya. Aku gak mau ikut campur kedalam ranah kehidupan orang lain.
***
Di dalam ruangan kerja Damar. Miho sekarang ada disana. Miho sedang ngopi cantik bareng suami orang.
"Akhirnya kita bisa berselingkuh tanpa adanya rasa cemas, karena takut ketahuan."
"Ide kita bagus sayang. Meski kita harus mengorbankan karir Desi.
"Tak apalah, yang penting kita aman mas Damar, aaah."
Dengan gaya seksi dan menggoda, Miho mendesau seksi lalu duduk diatas pangkuan Damar.
"Maaf, maaf atas dua karyawanmu yang udah aku bikin mereka sengsara mas?"
"Siapa lagi? Apa yang kamu perbuat?"
"Si Yati office girl jelek kurang ajar itu! Punggungku perih dan agak melepuh karena dia tadi sengaja menyiramku dengan kopi mendidih mas!"
"Kenapa dia berani kepadamu?"
__ADS_1
"Dia tahu perselingkuhan kita. Bahkan dia memanfaatkan situasi ini. Tadi didepan klinik, dia meminta sejumlah uang tutup mulut. Hahaha, tapi aku tutup mulut dia tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Aku ancam, aku akan menghabisi keluarganya jika dia berani macam-macam mas. Lalu diam-diam setelah itu aku menyuruh preman buat menghajar dia mas."
"Aku nggak salah pilih, kamu memang perempuan hebat Miho. Selain cantik, kamu juga cerdik sekali! Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu juga mas."
Lalu mereka berdua, pasangan selingkuh itu berciuman sepuasnya disela jam makan siang.
***
Malam ini, hujan turun dengan derasnya. Aku menatap hujan itu dari balik jendela kamar. Rasanya sekarang hidupku kembali sempurna. Tapi entah kenapa, rasanya masih ada yang mengganjal dihatiku. Kenapa Yati tampak membenci Miho? Saat itu, dia terlihat sinis saat Miho membahas masalah perselingkuhan.
Seolah-olah Miho itu, pura-pura mendukungku, padahal dia sendiri juga berselingkuh? Apa iya seperti itu? Lalu hari ini, Yati sampai tak sengaja menyiram Miho dengan kopi panas. Aku tadi melihatnya dengan wajah lebam dan sedih didepan klinik.
Aku ingin menceritakan hal ini kepada mama. Aku menghubungi mama lewat ponsel.
"Halo mama?"
"Apa sayang? Damar berulah lagi?"
"Ga kok ma. Tapi, aku lagi bingung nih."
"Bingung kenapa?"
"Sekarang rumah tanggaku dengan mas Damar kembali seperti dulu ma. Kami bahagia, tidak ada orang ketiga yang mengganggu rumah tangga kami. Tapi entah kenapa, masih ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Aku curiga sama seseorang lagi ma!"
"Ini cuma sebatas kecemasanku aja yang berlebihan ma. Aku gak mau berprasangka buruk kepada temanku sendiri."
"Kenapa sih kamu? Yaya, kamu tiba-tiba aneh. Sana bikin teh hangat, tenangkan diri kamu."
"Iya ma, makasih udah dengerin curhatan aku?"
"Kamu anakku. Kalau ada apa-apa, selalu curhat ya sama mama?"
"Iya ma."
Aku mematikan panggilan, lalu aku duduk diatas sofa putih dalam kamar. Aku menatap ke foto besar di tembok, foto pernikahanku dengan mas Damar dulu.
Apa perlu sekarang aku menyelidiki Miho? Dia memang bekerja sebagai sekretaris mas Damar, yang artinya, Miho juga sering bareng mas Damar. Apa perlu aku mencurigai temanku sendiri? Padahal dia orang yang baik dan sempurna. Dia juga yang membantu aku mengungkap perselingkuhan mas Damar dan Desi. Mana mungkin dia menusuk aku dari belakang!!! Nggak! Itu konyol!
Ayolah, hentikan semua pikiran gak jelas kamu Yaya!
Setan selalu berusaha membuat manusia saling bermusuhan.
Aku berusaha meyakinkan diri aku sendiri, bahwa sekarang, semuanya baik-baik saja.
Mungkin aku masih parno, setelah kemarin terbukti kalau mas Damar memang benar-benar selingkuh.
Aku takut kisah tercela itu kembali terjadi untuk yang kedua kalinya. Jika itu terjadi lagi.
__ADS_1
Maka aku akan benar-benar akan pergi meninggalkan kamu mas.
***
Di depan kantor, Miho menghampiri Desi yang sedang membuka payung. Desi akan pulang ke rumahnya. Desi terus saja memasang wajah sedih. Hatinya benar-benar sedih karena hujatan yang ia terima.
"Desi kamu udah mau pulang?"
"Iya nih. Mungkin kedepan kita ga akan bercanda ria disini lagi Miho."
"Yang sabar ya beb, orang-orang di kantor bisanya cuma menghakimi kesalahan orang lain. Seolah-olah mereka sendiri suci alias sama sekali ga punya kesalahan! Mereka pasti menyimpan kesalahan juga kok!"
"Makasih atas supportnya. Kamu selalu ada untukku, Miho."
"Bentar beb!"
Desi menatap Miho, menunggunya yang sedang keluarin sesuatu dari dalam tasnya. Miho mengeluarkan sesuatu dari dalam tas cantiknya.
"Ini untukmu."
"Sebuah kotak kecil, untuk apa ini? Aku ga lagi ultah atau anniversary. Udah lama aku ga menjalin hubungan sama laki-laki lain tapi ada aja tuduhan orang, sekarang aku malah dikira selingkuhan pak bos."
"Buka aja."
Desi menghimpit payungnya di ketiak, lalu Desi perlahan membuka kotak kecil itu. Isinya adalah cincin emas yang harganya sepertinya cukup untuk menguras isi dompet. Karena ukurannya yang cukup besar.
"Buat apa kamu kasih aku cincin emas? Ini kan mahal beb,"
"Buat kenang-kenangan dari aku. Kamu kan mau resign, sedangkan kita adalah best friend!"
"Aaaaa so sweet beb, makasih ya?"
"You're welcome!"
Malam ini, Miho membuat Desi ceria kembali. Miho dan Desi saling berpelukan manja. Namun dalam pelukan itu, diam-diam Miho menatap penuh kelicikan. Dibalik sikapnya yang kelihatan baik itu, Desi ia jadikan korban untuk menutupi aib perselingkuhannya!
"Maaf Desi, semoga suatu saat kalau pelakor yang sebenarnya terungkap, kamu ga ikutan menghakimi aku. Kamu kan udah aku kasih cincin emas, mahal lagi, jadi gak boleh ikutan nyerang juga ya, hahahaha." batin Miho licik.
Setelah Desi pulang, Miho juga akan pulang. Tapi Miho pulang satu mobil diantar Damar. Di dalam mobil, Miho terus saja menggoda Damar. Miho ingin malam ini bobo bareng Damar di apartemennya Miho.
"Mas, malam ini nginep di apartemenku ya?"
"Gabisa. Nanti istri aku nyariin aku."
"Sekali ini aja mas, please? Nanti kamu bisa cari alasan lain kek! Malam ini, kamu bisa menikmati aku sepuasnya. Kamu yakin gak mau senang-senang sama aku malam ini?"
Damar berpikir-pikir sebentar. Apakah dia akan menginap?
Bersambung...
__ADS_1