
Miho menyimak lagi kearah Damar yang masih terlelap dalam mimpinya. Segitu besar ambisinya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Termasuk menghilangkan nyawa orang lain!
***
Yaya baru terbangun dari pingsannya pukul dua dinihari. Di sampingnya ada Elma dan Arif yang menunggunya. Sudah hampir tiga jam Yaya pingsan. Elma juga sudah mengganti pakaian Yaya yang basah dengan pakaian yang kering.
Aku masih merasa sangat lemas.
Tapi setidaknya, aku ingat rasa basah dan lembab yang tadi menyiksaku sekarang sudah berubah menjadi rasa hangat dan nyaman yang menghangatkanku.
Kulihat ada dua orang di sampingku, Elma dan Arif tengah menungguku.
"Elma, Arif," ucapku menyebut nama mereka.
"Bu Yaya, ini minum air putih hangat dulu." ujar Elma bergegas mengambilkan segelas air diatas meja lalu meminumkan kepadaku. Menyembuhkan rasa dahagaku. Memberikan sedikit suplay energi untuk tubuhku yang lemas.
Setelah aku minum rasanya tubuhku kembali segar dan bersemangat. Menyambut waktu yang menantiku untuk kembali bergelut dengan kerasanya kehidupan ini.
"Makasih Elma. Ngomong-ngomong mas Damar dimana? Kok dia nggak ada di kamar?"
Elma kembali duduk diatas kasur lalu dia memijat kaki aku.
"Dia belum pulang nyonya. Nyonya dari tadi kemana aja? Nyonya kehujanan ya?"
"Aku dipukul sampai pingsan tepat di depan rumah. Lalu dengan teganya orang yang memukul aku membawaku dan membuangku di sebuah tempat yang sepi dan terpencil. Bahkan tadi aku bertemu dengan orang aneh yang menyeramkan. Dia memakai topeng zombie. Untung saja aku bisa selamat dan bertemu dengan kakek tua yang baik hati. Dia seorang sopir pengangkut bahan pangan. Dia mengantarkan aku sampai depan rumah tadi." jawabku menceritakan.
"Ya ampun, tega banget orang itu. Mulai sekarang nyonya harus lebih berhati-hati lagi ya? Untung saja nyonya masih diberikan keselamatan. Kita tadi resah waktu nyonya belum pulang juga ke rumah, ya mas? Terus kita juga nemuin HP nyonya di depan rumah tadi. Kita bingung nyonya kemana." tukas Elma dengan wajah resah.
Arif dan Elma tampak peduli kepadaku tapi aku sendiri tidak sepenuhnya percaya kepada mereka. Aku harus menyelidiki dua orang ini, harus!
__ADS_1
"Yaudah aku mau tidur ya. Kalian juga istirahat sana kan besok harus kembali bekerja."
"Baik nyonya." jawab mereka kompak.
Lalu aku menarik selimutku, bersiap untuk menyambut esok hari yang tentu saja menjadi misteri bagi aku. Kemana lagi mas Damar? Apa dia sedang berjumpa lagi dengan Miho? Kalau iya, sungguh keterlaluan. Tapi aku gak mau negatif thinking dulu.
***
Keesokan harinya pkl 05.30 WIB.
Matahari pagi menyambutku. Pagi ini aku habiskan waktuku untuk merawat bunga-bunga indahku di kebun. Tetiba, terdengar suara mobil yang mulai memasuki area garasi. Aku yakin itu suamiku, aku bergegas menyambutnya pulang.
"Mas semalam kemana saja?"
"Mendadak lembur sayang, maaf mas gak ngasih kabar dulu."
"Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan hal itu kepada istriku! Kamu gak apa-apa kan sayang? Ada yang luka? Ayo kita lapor polisi?" tanya mas Damar panik sembari merangkul tubuhku.
"Percuma ah, yang penting aku udah selamat. Aku gak apa-apa kok. Tapi semalam aku ketakutan banget. Sepertinya keamanan rumah kita harus diperketat deh mas."
"Iya sayang, yaudah kalau gitu kita masuk kedalam ya."
"Bentar mas,"
"Apa?"
"Kamu nggak ketemuan sama Miho lagi kan?"
"Demi Tuhan, tidak sayang!"
__ADS_1
"Kamu udah bawa-bawa nama Tuhan loh, keterlaluan sekali kalau sampai ternyata kamu itu berbohong. Yaudah, ayo sarapan dulu mas?"
Aku mengambil sebuah buku bersampul coklat. Akan kujadikan ini sebagai tempat untuk menuliskan keluh kisahku. Dengan ini aku bisa merangkai alur kehidupanku, dengan detail diatas lembaran kertas putih. Aku menulis kisah-kisah memilukan yang terjadi selama masa menikahku. Membangun rumah tangga bersama dengan seorang suami yang sempat gagal menjaga perasaan istrinya.
Air mata menetes diatas kertas, membasahi warna putih ini dengan cairan yang tercipta karena sebuah kisah, kisah yang menyedihkan. Seandainya bisa, aku ingin menjadi air saja, yang selalu tenang walau menghadapi ganasnya api yang membakar.
***
Di dalam paviliun, terdengar suara orang yang marah lewat telepon. Yang sedang dimarahi adalah Elma dan Arif, oleh si jahat Miho.
"Ga becus kalian! Buat apa aku bayar mahal kalian kalau kalian ga bisa aku andalkan! Cepat! Kembalikan uangku!"
"Ya maaf bos, kita janji akan coba terus sampai bisa. Jangan minta uangnya balik lah bos, ga adil banget sih."
"Elma! Bego banget jadi orang. Gagal terus! Sekali lagi kalian gagal, aku akan cari orang yang lebih pinter dari kalian! Ngerti!"
"Ngerti bos. Kita akan berusaha supaya ga gagal lagi."
Miho langsung menutup telpon tanpa berbasa-basi. Setelah itu Elma berteriak kesal. Udah gagal, Miho juga marah mulu. Makin pusing mereka rasakan.
"Kita harus ngapain mas? Kenapa ya niat jahat kita gagal mulu?"
"Elma, itu keberuntungan Yaya dan ibunya saja. Next, kita pasti akan berhasil!"
"Udah deh mas jangan menghibur aku terus. Yang penting hidup kita banyak uang! Sekarang gimana caranya supaya kita bisa nyingkirin mereka dari dunia ini. Bos Miho memberikan kita kesempatan satu kali lagi."
"Iya Elma. Yaudah, kita pikirin dulu rencana baru kita."
Bersambung...
__ADS_1