
Martin dan Yaya duduk berdua di ruang makan. Piring makan sudah Yaya letakan di dapur.
"Mau bicarain apa?" tanya Yaya dengan tampang penasaran.
"Gue berusaha berani buat bilang ini. Tinggalin suami lo Yaya biar suatu saat gue bisa nikahin lo. Gue cinta sama lo dan gue gak ingin lihat lo terus-terusan disakitin sama suami lo yang brengsek itu!"
Aku kaget banget waktu Martin bilang demikian.
"Gak! Gue mau bertahan dulu! Gue mau bikin mas Damar luluh kepada gue dan ninggalin Miho. Maaf Tin, lo harus buang jauh-jauh niat lo itu."
Martin tampak terpukul mendengar jawabanku. Arif tengah mengendap-endap di samping jendela rumah, Arif berusaha mencari cara agar bisa masuk kedalam lalu menguping pembicaraan mereka berdua secara diam-diam.
"Mereka sedang ngomongin apa sih ga terlalu kedengaran?" ucap Arif pelan.
Arif memegang jendela, mencoba membukanya. Saat Arif mau membuka jendelanya, keburu ketahuan oleh mama Sera.
"Eh eh eh eh eh! Mau ngapain kamu! Siapa kamu! mau maling ya!" lantang mama Sera marah.
Mama Sera yang sedang berdiri didekat sumur bergegas berjalan cepat kearah Arif, lalu dengan marahnya mama Sera memukul wajah Arif sampai Arif tersungkur. Arif memegangi wajahnya yang habis kena tonjok, rasanya sakit. Tidak dinyana hari ini dirinya akan apes kena bogem dari emak-emak yang barbar.
"A ampun mak, saya bukan maling!" tutur Arif dengan ekspresi yang takut.
"Kalau bukan maling terus siapa dong! Ngapain kamu diam-diam berdiri di pinggir jendela, kaya maling yang mau masuk! Kalau mau masuk bisa lewat pintu kan!" marah mama Sera, tampak wajah mama Sera yang semakin murka.
Mendengar keributan di samping rumah, aku dan Martin bergegas berlari keluar rumah.
__ADS_1
"Mama ada apa sih ribut? Loh, Arif, kamu ngapain disini?" tanyaku penasaran.
"Ini nak, dia mau maling sepertinya. Masa barusan mama lihat dia mau masuk kedalam lewat jendela!" sahut mamaku.
"Arif, ngapain kamu mau masuk lewat jendela? Kan ada pintu?" tanyaku heran.
Arif terlihat seperti kebingungan mau menjawab apa, aku jadi curiga sama laki-laki yang berstatus sebagai sopirku ini.
"Bukan bermaksud apapun nyonya Yaya, barusan saya cuma lagi iseng aja lihat jendela rumah ini. Saya suka aja sama bentuknya. Nanti kalau saya udah gajian, rencananya saya mau beli jendela yang seperti itu nyonya." jawab Arif. Tapi jawabannya malah membuatku semakin curiga.
"Kamu kan ngontrak, ngapain kamu mau beli jendela? Bukannya uang gajian harusnya buat bayar biaya sewa aja?" tanyaku semakin penasaran.
Arif terlihat semakin kebingungan saat aku mencecarnya dengan pertanyaan ini.
"Orang ini mencurigakan telur asin, pecat dia!" sahut Martin dari samping aku.
"Jangan nyonya, jangan pecat saya? Nanti anak istri saya mau makan apa kalau saya dipecat? Sumpah nyonya, saya tidak bermaksud apa-apa, sungguh," jawab Arif dengan wajah memelas, dia terus membela dirinya.
"Yaudah Arif, kamu kembali saja ke mobil. Bentar lagi aku pulang kok. Aku tidak akan memecatmu. Aku masih berpikir positif sama kamu. Tapi kalau kamu berniat jahat sama aku atau keluarga aku, aku gak akan segan-segan laporin kamu ke polisi!" ucapku masih memberikan dia kesempatan.
Arif langsung bersimpuh di kakiku, jelas aku merasa tidak enak dengan hal demikian. Aku memegang kedua bahu Arif menyuruhnya untuk bangun.
"Maaf nyonya, saya janji nggak akan mengecewakan nyonya, permisi." ucap Arif lalu berjalan pergi menuju mobil.
Aku, Martin, dan mama memandang Arif yang sedang melangkah menuju mobil. Mama melirik kearahku, dia yang mudah marah masih terlihat emosional.
__ADS_1
"Tapi kamu harus pikirkan baik-baik kata-kata Martin nak! Jangan percaya sepenuhnya sama orang-orang yang mencurigakan. Waspada itu perlu diterapkan nak." kata mama memberi saran.
Aku hanya mengangguk saja lalu kembali masuk kedalam rumah bersama dengan Martin. Di dalam mobil, Arif memukul-mukul stir mobil selama beberapa kali. Kesal karena gagal dalam niat menguping pembicaraan Yaya dan Martin.
"Sial, sial, sial!" teriak Arif di dalam hatinya.
Arif langsung mengirim pesan singkat kepada Elma kalau dirinya gagal mencari tahu info tentang pertemuan Yaya dan Martin, malahan, tadi hampir ketahuan sama ibunya Yaya.
Elma sedang makan siang enak bak seorang majikan di ruang makan. Selama Yaya sedang pergi, Elma memaksa bi Surti buat melayaninya, menyajikan makanan untuk Elma di meja makan.
Elma kalau orang rumah sedang pergi langsung bertingkah seperti majikan. Membaca pesan dari Arif, Elma menggebrak meja dengan keras saat diberi tahu info kegagalan suaminya dalam misi itu. Elma membuat bi Surti yang lagi pegang gelas berisi jus jeruk, hampir saja menumpahkan jus tersebut ke lantai karena kaget.
"Bodoh kamu mas!" teriak Elma membahana seisi ruangan.
Bi Surti menaruh jus jeruk itu diatas meja lalu kembali lagi ke dapur. Bi Surti takut untuk melawan. Selain dirinya yang sudah tua, ancaman Elma begitu menyeramkan. Tapi jika sudah pas waktunya, Bi Surti akan spill kebusukan Elma dan Arif kepada Yaya!
Bi Surti masuk kedalam dapur, duduk diatas kursi dengan air mata yang mengalir, merenung di dalam dapur, mengingat ancaman Elma waktu itu.
"Kalau kamu berani ngadu ke nyonya Yaya, kamu dan keluarga kamu akan celaka! Jangan salahin aku kalau kita sampai nekat habisin keluarga kamu. Aku juga tidak akan segan buat habisin nyawa bu Yaya juga kok. Karena aku, tidak akan segan-segan melakukan itu kepada kalian! Aku gak takut! Aku akan melakukan apapun demi ambisiku punya banyak uang!" bisik Elma ditelinga bi Surti waktu itu.
Sampai sekarang, bisikan bernada ancaman mematikan itu masih terngiang-ngiang di telinga bi Surti.
Bi Surti tidak ingin orang-orang yang dia sayangi dibunuh oleh pasutri gila itu. Tapi bi Surti merasa, dia tidak mungkin diam terus seperti ini. Bisa-bisa dirinya akan terus diperbudak dan mereka akan semakin menjadi-jadi.
Bi Surti akan cari cara apapun, supaya bisa mengungkap kejahatan Arif dan Elma, mencari momen yang tepat untuk bicara empat mata dengan Yaya. Bi Surti juga harus punya bukti yang kuat biar Yaya bisa percaya.
__ADS_1
"Aku sudah belasan tahun bekerja di rumah ini. Nyonya Yaya adalah majikan yang sangat baik. Aku tidak akan membiarkan nyonya Yaya celaka karena ulah dua manusia jahat itu. Aku akan berusaha mendapatkan bukti dan memberikan bukti kalau Arif dan Elma itu adalah orang jahat kepada nyonya Yaya." batin bi Surti.
Bersambung...