
Melihat Damar bisa sekejam itu, tentu saja perasaan Miho menjadi berbunga-bunga. Itu yang ia inginkan. Dengan seperti itu, itu artinya Damar tidak ingin kehilangan dirinya.
"Kecantikanku adalah aset utamaku untuk menaklukkan dunia. Meluluhkan hati pria paling kaya di dunia sekalipun aku yakin aku bisa. Mas Damar, aku suka gaya kamu mas!" Miho membatin kelam.
Tuhan memang memberikan Miho kelebihan berupa kecantikan alaminya yang diatas rata-rata itu. Tetapi Miho malah mempergunakannya untuk perbuatan jahat.
Selepas itu, mereka berdua dinner bersama ditepi pantai. Tidur bersama di dalam kamar yang mewah. Hingga berkali-kali sudah Damar dan Miho melakukan hubungan intim.
***
Keesokan harinya, Yaya sedang sarapan sendiri. Untuk mengusir rasa sepinya, Yaya sudah menghubungi mama Sera tadi pagi. Mama Sera akan menginap selama beberapa hari kedepan, menemaninya selama Damar bertugas di luar negeri.
Entah mengapa aku merasa tidak terlalu nafsu makan. Aku ingin segera sampai ke kantor dan harapanku semoga Miho ada disana. Suara perempuan yang semalam itu, semoga bukan suara Miho, sahabat terbaik aku.
Singkat waktu akhirnya mama sampai ke rumah. Aku langsung menyambutnya dan mengambilkannya nasi beserta lauk untuk dia sarapan. Tapi mama bilang dia sudah sarapan di rumah dan dia sudah kenyang.
"Gimana kabar kamu nak? Nanti siang kita ke butik kecil mama yuk?"
"Boleh ma. Tapi, aku mau pergi ke kantor tempat kerja mas Damar dulu ma."
"Mau ngapain kesana nak?"
Mama Sera mulai duduk diatas kursi.
"Mau cari Miho ma,"
"Siapa tuh?" tanya mama Sera sembari mengambil minum.
"Teman baikku. Gini, kemarin katanya mas Damar dia pergi ke Jepang tapi Miho nggak ikut. Eh semalam, pas aku dan mas Damar lagi video call, aku dengar suaranya Miho. Kan aku jadi bingung ma. Aku takut mas Damar bohongin aku lagi."
__ADS_1
"Yaudah. Nanti kita pergi bareng ya. Kalau temen kamu ga ada di kantor, fix dia selingkuh sama suami kamu yang brengsek itu!"
"Semoga aja mas Damar nggak mengkhianati aku untuk yang kedua kalinya ma. Semoga aku nggak pernah murka ke dia lagi karena sesuatu hal yang bernama perselingkuhan. Semoga Miho ada di kantor dan dia sedang bekerja dengan nyaman." harapku. Aku sama sekali tidak ingin kejadian yang paling aku benci dalam hidupku itu terulang kembali.
Usai sarapan, aku dan mama bergegas berangkat ke kantor naik mobil pribadiku. Dia yang menyetir mobil. Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku harap-harap cemas. Kira-kira, Miho ada di kantor nggak ya. Aku terus meremas jari-jari tanganku.
Sesampainya di kantor, aku lekas keluar dari dalam mobil. Aku melangkah kedalam diikuti oleh mamaku. Aku bertanya kepada seorang staff, apakah Miho sedang bekerja? Tapi staff itu menjawab kalau Miho sedang pulang ke negaranya untuk beberapa hari. Katanya ayahnya sedang kritis di rumah sakit.
Perasaanku berubah menjadi lebih tidak tenang lagi. Ternyata sekarang Miho sedang tidak ada di Indonesia. Aku terus menatap kebawah sembari melangkah memikirkan hal-hal yang membuatku merasa cemas. Mama menegurku dari belakang, beliau memegang pundakkku. Beliau pasti bisa memahami hatiku yang sedang gelisah ini.
"Kita pulang ke rumah aja yuk?" ajak mamaku lembut.
Sesampainya dirumah mama menyuruhku untuk rebahan diatas kasur. Mama mengambilkanku segelas teh hangat. Aku di suruh untuk tenang dulu dan jangan berpikir yang macam-macam. Mama juga curiga akan hal yang sama. Jangan-jangan, untuk hal yang terburuk, mas Damar dan Miho sama-sama sedang bersekongkol dengan alasan kepergian mereka masing-masing.
Mulai detik ini juga, aku gak mau percaya seratus persen dulu sama Miho. Bahkan aku akan mulai kembali menjadi detektif dalam rumah tanggaku. Seorang detektif istri sah yang berusaha mengungkap suatu hal yang
***
Malamnya, aku masih duduk diatas kasur sembari bermain ponsel. Mama dan bibi sedang masak di dapur. Aku ingin VC mas Damar karena sedari pagi, mas Damar belum juga VC ke aku.
Tapi, sebaiknya aku jangan mikir yang macam-macam dulu. Bisa jadi emang benar ortu Miho lagi sakit dan disaat yang bersamaan datang tugas yang mengharuskan suamiku pergi ke Jepang.
Daripada gabut nonton serial di aplikasi terus menerus, lebih baik aku melihat perhiasan-perhiasan aku yang aku simpan di dalam kotak perhiasan.
Aku mengambil kotak itu lalu aku membukanya. Barang indah kesukaan para wanita. Mas Damar banyak membelikan aku ini tapi sesungguhnya, hidup sederhana dengan suami yang setia jauh lebih mewah untukku. Kemewahan tidak selalu diukur dengan banyak materi, tapi kesetiaan itu adalah suatu kemewahan yang tak ternilai harganya.
Harga kesetiaan itu sangat mahal. Seseorang yang sudah mengkhianati janji setia kepada pasangannya, artinya dia adalah orang yang telah menyakiti hati pasangannya. Sampai kapanpun aku akan setia sama mas Damar. Aku tidak akan pernah bosan dan berpaling kepada yang lain. Kecuali kalau dia merusak janji setia kita!
Cincin, kalung, dan gelang emas yang tersimpan, aku cek satu persatu. Tapi ada yang aneh. Salah satu cincin kesayangan aku hilang! Kenapa bisa hilang?
__ADS_1
Apa aku yang lupa naruh atau ada maling di rumah? Tapi kalau maling kenapa dia cuma ambil satu aja. Harusnya semua diambil kalau itu perbuatan maling. Tapi aku merasatidak mungkin lupa menaruh cincinku yang hilang itu? Cincin yang hilang adalah cincin yang paling mahal harganya. Sekitar dua puluh juta.
Aku tidak tinggal diam. Aku coba mencari di kolong kamar, kolong meja, kolong lemari, di dalam lipatan baju sampai aku berantakin isi lemari, cincin itu tetap tidak ketemu.
"Apa mungkin bi Surti mencuri cincin aku?"
Aku segera pergi ke dapur. Aku akan bertanya baik-baik dan aku sama sekali tidak mau menuduh orang sebelum ada bukti yang kuat.
"Bi Surti?" panggilku.
"Iya nyonya ada apa?"
Bi Surti yang lagi memasak sup, dia segera menghampiriku. Sedangkan mama masih sibuk membumbui daging.
"Salah satu cincin aku hilang. Bukan bermaksud menuduh bi Surti, tapi apa bibi tahu sesuatu?"
"Bibi nggak tahu apa-apa nyonya, sungguh jangan curiga ke bibi ya nyah?"
"Aku tidak akan menuduh seseorang tanpa adanya bukti yang kuat kok bi."
Netraku langsung mendelik kaget saat melihat cincin yang aku maksud itu sekarang berada di jari manis mamaku.
"Ya ampun, mama?" batinku berkata, terkejut! Jelas!
Tapi aku belum mau bertanya ke mama sekarang. Tapi kenapa mama bisa senekat itu? Kenapa mama diam-diam mengambil cincin aku? Kenapa kamu mengecewakan aku ma? Kenapa mama jadi pencuri barang anaknya? Aku terus menatap kearah jari mama dengan tatapan yang tidak percaya sembari menitik air mata karena rasa kagetku.
"Yaudah bi. Kamu lanjut lagi ya masaknya. Perkara cincin biar dibahas besok aja." titahku sembari memperhatikan mama yang seperti tidak peduli perihal cincinku yang hilang. Mama sibuk banget sama masakannya.
Bersambung...
__ADS_1