
Mama Sera berteriak kaget. Orang misterius itu tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Dia memakai jubah hitam dan topeng seram. Dia juga membawa sebuah suntikan beracun. Mau apa orang misterius ini!
"Siapa kamu! Jangan berani macam-macam sama saya ya! Saya akan telepon polisi!"
Orang misterius itu diam saja, kemudian karena gelagat orang itu mencurigakan, mama Sera bergegas berlari tapi tangannya keburu dipegang dan ditarik oleh orang misterius itu.
"Tolong! Tolong! Pak satpam!"
Orang misterius itu menyuntik mama Sera. Suntikan yang membuat badan mama Sera jadi lemas. Kemudian orang itu mendorong mama Sera hingga kepalanya membentur tembok. Mama Sera pingsan seketika.
*
*
*
Sebuah elusan tangan mengusap rambut indah Yaya. Yaya masih bersandiwara diatas ranjang resort. Yaya masih memejamkan mata. Sudah cukup lama ia pingsan. Damar masih setia menunggunya dari samping. Damar juga beberapa kali mengoleskan minyak angin di lubang hidung Yaya. Sampai Yaya merasa risih dengan aroma itu.
"Bangun sayang, maafkan mas. Gara-gara mas kamu jadi gini."
"Maaf mulu berubah kaga." balas Yaya dari hatinya.
Damar terus menunggu Yaya hingga Damar ketiduran disisinya. Setelah dirasa Damar sepertinya sudah tertidur karena lelah, Yaya sedikit membuka salah satu matanya mengintip. Ternyata Damar sudah tidur. Kemudian Yaya bangkit dan perlahan berdiri. Rasanya haus sekali, Yaya pergi mengambil air minum diatas meja.
"Capek juga ya pura-pura pingsan." batin Yaya.
Yaya mengelap keringat dingin yang membasahi dahi dan lehernya. Yaya menatap pepohonan kelapa indah yang saling berjejeran di tepi pantai. Diatas ada bulan dan bintang yang bertahan. Hingga benda langit malam itu berubah menjadi benda langit siang yang memancarkan cahaya lebih terang. Sebentar lagi liburan mereka di Eropa akan segera usai. Sekaligus menjadi hari-hari terakhir mereka berlibur kesini.
Mas Damar mengajakku untuk rebahan ditepi pantai, di sebuah alas empuk yang nyaman tepian pasir putih. Ditemani segelas lemon tea dan sandwich lezat. Fasilitas disini benar-benar super mewah dan memanjakan pengunjungnya. Memang selama disini berasa seperti seorang ratu yang dimanja, dengan fasilitas yang ditawarkan dan juga resort yang keren banget.
Aku dan mas Damar masih agak canggung. Cuma dia yang mengajakku berbicara, aku masih malas dan kecewa. Bayangan pelakor hamil itu masih menghantui pikiranku. Aku benci banget mengingatnya. Entah kedepannya akan gimana jika ternyata benar mereka akan menikah dan Miho menjadi maduku.
Aku menyeruput segelas lemon tea yang aku pegang sembari rebahan dengan relax diatas alas pantai yang nyaman. Aku juga memakai kacamata hitam ini. Hari terakhirku disini, akan aku nikmati. Aku tinggalkan HP aku didalam resort. Tadi pagi aku udah sarapan dan berjalan pagi mengitari pulau, sebuah olahraga kecil biar moodku kembali bagus.
Tanpa Yaya tahu kalau sudah puluhan kali seseorang menelponnya. Begitu juga dengan ponsel Damar. Banyak sekali misscall.
__ADS_1
Mas Damar menyampingkan tubuhnya, menatap kearahku dengan lembut. Tapi aku membalas tatapannya dengan wajah yang malas.
"Masih ngambek ya sama aku?"
"Ngambek? Lebih dari itu! Kamu pikir ini adalah hal yang sepele? Nggak mas! Perempuan itu hamil dan pasti kamu akan bertanggung jawab. Kamu pasti akan menikah dengan dia kan? Marah banget aku sama kamu mas."
"Iya. Mas akan menikahi dia. Mas mohon kamu terima ya?
Hatiku terasa semakin sakit, nafasku terasa semakin sesak, air mataku kembali mengalir. Tidak kusangka, janji yang dulu diucapkan berubah menjadi pengingkaran yang kejam dan melukaiku.
"Kamu udah jahat sama aku, sama Viona dan calon bayi di perutku ini!" ucapku pelan tapi dengan penekanan yang tajam, sembari menatap penuh mimik amarah kepada mas Damar.
Mas Damar hanya menarik nafasnya kemudian menghembuskan dengan perlahan. Apa dia gak mikirin perasaan aku dan Viona? Dia terlihat cuek, tidak peduli, begitu egois.
Aku kembali ke dalam resort, aku duduk dengan sedih diatas kasur. Lalu, lamunan sedihku dibuyarkan dengan suara ponselku yang berdering. Ada telepon dari Elma. Ya ampun, aku lihat banyak sekali misscall dari Elma. Ada apa ini?
"Ada apa Elma?"
"Halo nyonya, gawat! Nyonya kemana aja sih baru ngangkat!"
"Nyonya Sera masuk rumah sakit, dia mendadak kena stroke nyonya. "
"Ya ampun, mama? Aku harus segera pulang."
Aku buru-buru mematikan telepon, aku terlihat gugup, aku ingin segera pulang untuk mengetahui keadaan mamaku sekarang. Kenapa mama bisa tiba-tiba stroke, padahal kemarin mama tampak sehat-sehat aja?
Tak berselang lama mas Damar masuk kedalam kamar. Dia melihatku yang sedang gugup. Mas Damar langsung bertanya ada apa?
"Kamu kenapa sayang kok kaya cemas?"
"Aku ingin pulang sekarang mas, mama masuk rumah sakit."
"Kenapa mama kamu?"
"Dia tiba-tiba stroke."
__ADS_1
"Yaudah, malam ini kita on the way."
*
*
*
Keesokan harinya, mereka berdua baru sampai di rumah sakit. Yaya dan Damar berjalan dengan cepat menuju kamar tempat mama Sera dirawat. Sesampainya di depan ruangan, Yaya langsung membuka pintunya. Yaya sangat sedih melihat wanita yang paling ia sayang sedang terbujur lemas diatas ranjang rumah sakit. Wajahnya yang kemarin segar sekarang terlihat pucat.
Aku langsung duduk diatas kursi kecil disamping ranjang tempat mamaku sedang berjuang menghadapi penyakitnya. Yang aku tahu mama punya riwayat darah tinggi, apa ini adalah komplikasi dari penyakit itu?
"Mama, mama sadar dong ma." lirihku sembari memegang lembut tangan mama.
Mas Damar ikut bersimpuh di sampingku. Mukanya tidak sesedih aku, tapi dia menunjukan kepeduliannya dengan mengusap pelan lengan mamaku.
"Mama, cepet sadar ya ma. Semoga mama bisa sehat seperti biasanya." harap mas Damar lirih.
Yaya mendengarkan harapan Damar, tapi Yaya tidak tahu kalau itu hanya sebagai bentuk pura-pura kepeduliannya saja kepada mama Sera. Di hatinya, Damar malah merasa senang melihat mertuanya yang galak terbujur sakit seperti ini!
*
*
*
"Berhasil nggak rencana kita?"
"100% berhasil nyonya. Suamiku udah bikin si nenek lampir itu jadi lumpuh tak berdaya, hanya dengan satu dorongan fatal itu. Pembulu darah di otaknya pecah dan nenek lampir itu sekarang kena stroke, hahaha."
"Bagus! Aku puas mendengar hasil kerjaan kalian. Yaudah aku akan segera transfer uangnya. Kali ini aku puas dengan kerjaan kalian. Next, istri sah sialan itu harus menyusul penderitaan ibunya yang gila itu. Lakukan yang jauh lebih sadis ya!"
"Beres bos."
Bersambung...
__ADS_1