Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Memberikan Kesempatan Lagi Demi Anak?


__ADS_3

Ternyata, orang yang sedang bersembunyi dibalik sekumpulan karyawan itu adalah Desi. Desi datang untuk membalas dendam atas fitnah yang Miho tebar beberapa bulan lalu. Hingga dia memutuskan resign alias kehilangan pekerjaan atas suatu keterpaksaan yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Desi? Mau apa kamu kesini lagi? Kamu masih punya muka buat datang kesini?"


Desi melangkah beberapa langkah kedepan Miho, menatap Miho dengan tatapan jijik, lalu Desi membuang muka ke samping sembari berkacak pinggang. Setelah melakukan itu, Desi kembali menatap Miho dengan senyuman kecil.


"Butuh cermin? Kalau mau ngomong tuh ngaca dulu pelakor. Gara-gara lo, gue jadi kehilangan pekerjaan gue disini!" bentak Desi lalu mendorong Miho sampai Miho jatuh ke aspal. Lalu Miho bangkit dan membalas Desi dengan mendorongnya juga sampai Desi jatuh. Bahkan Miho menginjak kaki Desi menggunakan heels-nya.


"Aaah!" rintih Desi agak kesakitan. Seorang teman wanita menjambak rambut Miho dari belakang lalu Miho mencubit tangan dari teman wanita itu hingga jambakan terlepas.


"Aku gak ada waktu buat meladeni orang-orang yang sukanya urusin permasalahan orang lain seperti kalian! Minggir!" ucap Miho kesal.


Tapi Desi buru-buru bangkit, kemudian menarik tas yang dibawa Miho sampai isi-isinya keluar. Banyak kartu penting, HP, alat make up, dan dompet yang keluar. Miho berteriak marah!


"Sialan kamu Desilakor!"


Desi mengambil ponsel milik Miho. Lalu Desi mulai merekam Miho. Desi ingin Miho merasakan hal yang sama. Menjadi viral di sosial media, sama seperti dulu yang ia alami, waktu mama Sera termakan fitnah Miho dan memviralkannya.


"Setelah ini bukan cuma orang-orang kantor aja yang jijik sama kamu pelakor! Tapi masyarakat umum pun akan jijik! Kamu gak tahu gimana rasanya saat belanja ke mall, jadi bahan gosip ibu-ibu! Itu yang aku rasain selama ini!" lantang Desi dengan wajah mendendam.


"Hentikan! Balikin HP aku!"


"Nggak."


"Ayo rekam terus si pelakor ini, viralkan dia!"


"Setuju."

__ADS_1


Sahut semua teman-teman wanita lain. Miho sangat membenci situasi di pagi ini. Kedatangan Desi yang berniat balas dendam hanya membuatnya bertambah sengsara. Namun bukan Miho jika tidak ada akal untuk lolos. Miho pura-pura pingsan didepan mereka.


"Lah, kok pingsan pelakor biadab ini? Padahal cuma gitu doang. Emang lemah ini orang." kata seseorang yang ikut menghakimi Miho pagi ini.


Miho kesal banget di dalam hatinya. Desi tidak yakin Miho pingsan beneran. Desi mencopot kaos kakinya yang bau lalu dia taruh diatas hidung Miho.


"Kaos kaki gue bau bangkai guys. Mari kita lihat apa yang akan terjadi jika kaos kaki busuk ini gue sumpelin ke hidung si pelakor muna ini." ucap Desi seraya tersenyum senang.


Namun Miho berusaha menahan aroma menjijikkan itu. Miho berhasil menahan aroma yang bisa beneran bikin pingsan itu.


"Pingsan beneran dia. Yaudahlah, kita tinggalin aja. Pelakor kaya dia, gausah dikasihani! Let's go." ajak Desi kepada yang lain.


Setelah semua orang pergi meninggalkan Miho pingsan didepan kantor, Miho pun membuka matanya. Terpaksa melakukan drama pingsan demi keselamatan. Ponsel dan barang-barangnya masih berhamburan diatas aspal. Miho benar-benar kesal, mengambil barang-barangnya dengan cepat, lalu memasukan lagi kedalam tasnya.


"Heran deh sama orang-orang. Suka banget ngurusin hidup orang lain! Padahal harusnya mereka gak ikut campur masalah aku! Apalagi menghakimi aku!" gerutu Miho benci.


Kemudian Miho bangkit dan mengamati sekeliling. Sepertinya Damar belum datang ke kantor. Miho melihat belum ada mobil Damar yang terparkir di lobi.


***


Dirumah mama Sera


Daripada aku gak ngapa-ngapain, mendingan aku berkebun saja di taman kecil bagian belakang rumah mama. Aku sedang memasukkan tanah ke dalam pot kecil.


Sungguh menyibukkan. Aktifitas kecil seperti ini membuat aku sejenak bisa melupakan masalah yang sedang ada. Tapi tiba-tiba, aku mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


"Pasti itu mas Damar." ucapku pelan.

__ADS_1


Aku lekas berjalan cepat ke dalam rumah, mengintip dari balik gorden depan, benar dugaan aku. Pasti dia cari aku kesini. Bersembunyi bukan hal yang lebih baik, lebih baik aku menghadapinya saja. Aku membuka pintu depan rumah mama, kemudian aku melangkah beberapa langkah.


Mas Damar berjalan kedepanku. Wajahnya terlihat manis dan tidak marah. Apa dia mau mengajaku baikkan?


"Sayang, mari pulang ke rumah? Rumah terasa sepi tanpa kamu. Mas minta maaf atas semua kesalahan yang sudah mas lakuin ke kamu. Mas janji akan berubah dan mas janji akan meninggalkan Miho, selamanya. Kasih mas kesempatan lagi?"


Rasa sakit hati ini...


Mas Damar bersimpuh di depanku. Lagi lagi dia melakukan ini.


"Mas cuma selingkuh sekali, dan itu cuma sama Miho. Sama Desi, mas gak pernah selingkuh sama dia. Mas dan Miho cuma menjebak Desi aja, menjadikan dia sebagai kambing hitam, demi menutupi perselingkuhan mas dengan Miho."


Penuturan yang diutarakan oleh laki-laki buaya ini membuatmu semakin membencinya saja. Meski dia adalah ayah dari janin yang tengah aku kandung. Rasa sakit hati bertubi-tubi aku rasakan. Dia semakin membuatku benci dengan sikapnya yang sampai tega mengkambinghitamkan orang lain.


"Ampuni aku sayang? Selama ini aku telah khilaf. Aku ingin kembali membangun rumah tangga yang baik dengan kamu. Kita mulai lagi dari awal. Seperti di awal, tanpa kebencian, tanpa kesedihan, dan tanpa adanya orang ketiga dalam rumah tangga kita. Kamu harus memikirkan anak kita nanti. Kamu tega, biarin anak kita jadi anak yang besar tanpa adanya figur seorang ayah?"


Aku menangis lagi. Aku mana mungkin tega biarin anak aku hidup dengan tidak bahagia. Gimana kalau dia besar tanpa adanya figur seorang ayah yang selalu menemaninya setiap waktu. Apa itu artinya, aku harus bertahan dengan mas Damar? Meski dia membohongi aku? Tapi diposisi ini akulah yang menderita jika mas Damar tetap mempertahankan hubungan dia dengan Miho.


Aku mempertimbangkan mental anak aku nanti. Bisakah dia akan berkembang tanpa adanya seorang ayah yang mendidiknya dan padahal ayah kandungnya masih hidup? Aku benar-benar pusing dengan kedatangan mas Damar. Aku belum mau memberinya jawaban apa-apa.


"Izinkan aku disini menginap selama beberapa hari, baru aku kasih keputusan yang terbaik menurut aku."


Mas Damar mengangguk lalu memeluk aku. Seandainya dalam pernikahan ini aku belum punya anak, sudah pasti kita akan segera bertemu di pengadilan agama mas. Tapi aku sudah punya Viona dan calon anak kedua yang tengah aku kandung.


Singkat waktu, malam pun tiba.


Hari terus bergulir. Hingga tiba saatnya mas Damar menagih janji aku untuk memberikan jawaban. Mas Damar datang lagi ke rumah mama. Kali ini mama masih di rumah, dia sedang minum teh hangat diatas teras rumah. Melihat kedatangan mas Damar jelas aja mama langsung terpancing emosi.

__ADS_1


"Si menantu brengsek itu datang kesini mau apa dia! Akan kujadikan dia manusia geprek!" pekik mama Sera kemudian melangkah cepat menuju Damar.


Bersambung...


__ADS_2