
"Ibu kenapa menatap suami saya seperti itu bu? Ada masalah apa?" tanya Elma dengan ekspresi penasaran.
"Oh dia suami kamu ya? Waktu itu suami kamu bersikap mencurigakan. Dia seperti mau mencuri di rumah saya. Sampai sekarang saya masih belum yakin sama suami kamu. Yaudah kalau gitu, saya masuk dulu kedalam. Semoga nggak ada barang yang hilang di rumah menantu saya." ucap mama Sera sembari terus memperhatikan dengan detail Arif.
Mama Sera berjalan masuk kedalam rumah. Auranya benar-benar nyeremin. Wajahnya yang antagonis banget dan galak membuat Arif dan Elma menganggap kedatangan mama Sera kesini sebagai ancaman bagi mereka yang cukup tangguh.
"Kedatangan muka galak itu bakalan bikin usaha kita buat bikin Yaya sengsara jadi agak sulit mas. Ada nenek lampir dateng." bisik Elma di telinga Arif.
"Jangan khawatir sayang, bi Surti aja udah kita singkirkan, kita bikin itu nenek lampir bernasib sama seperti pembantu goblok itu." balas Arif berbisik juga.
Arif dan Elma senyum-senyum licik kemudian mengikuti mama Sera masuk kedalam rumah.
***
Di dalam sebuah rumah sakit, Miho tengah memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena akhir-akhir ini dirinya merasa sering mual. Miho sedang berbicara dan bertatap mata dengan seorang dokter. Dokter itu tampak tidak memasang wajah yang terlalu serius, yang mungkin menandakan kalau Miho baik-baik saja.
"Saya cuma masuk angin biasa kan dok?" tanya Miho.
Dokter itu menggeleng.
"Bukan itu. Anda tidak sakit. Selamat ya, bentar lagi anda akan menjadi seorang ibu. Oh iya, dimana ayah dari calon bayi anda?"
Jawaban dari sang dokter membuat Miho terkejut sampai Miho membuka sedikit mulutnya. Itu bukan hal yang aneh kalau Miho sampai hamil. Miho cukup sering berhubungan badan dengan Damar. Dan sekarang, Miho harus menghubungi Damar, meminta pertanggungjawaban dari Damar.
"Halo mas Damar?" ucap Miho di depan rumah sakit, seraya berjalan menuju mobil mewahnya.
"Ada apa? Sepertinya aku akan segera mengakhiri hubungan kita."
__ADS_1
"Aku ingin ngomong penting sama kamu mas. Di cafe Bintang? Bisa gak datang kesana sekarang?"
"Aku mau makan siang di rumah. Disini lagi ada mertuaku, dia mau tinggal disini. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan istri dan mertuaku."
"Aku mohon mas?"
"Sudah, kamu mau bahas apa? Buruan bilang sekarang, bentar lagi aku mau makan siang sama mereka."
"Yaudah sekarang aja aku bilang, aku hamil mas! Barusan aku udah cek ke dokter. Dan ini adalah hasil dari perbuatan kita selama ini. Buruan nikahin aku mas? Sebelum perut aku membesar? Kamu gak bisa pergi ninggalin aku begitu aja! "
Damar terkejut mendengar penuturan Miho yang bilang kalau dirinya sedang hamil. Damar bingung harus berbuat apa. Apa dia menikahi Miho atau lebih baik memilih opsi lain, yaitu menyuruh Miho untuk menggugurkan kandungannya saja?
"Oke, karena ini adalah permasalahan yang sangat penting, kita ketemuan di apartemen kamu saja, jangan di tempat umum."
"Baik mas, aku akan segera pulang ke apartemen."
Dan Miho pun pulang ke apartemen. Miho menunggu Damar di dalam. Miho sedang tersenyum senang karena dengan kehamilannya ini, dirinya besar kemungkinan akan segera bersatu dengan Damar.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Miho buru-buru bangkit lalu membukanya dengan tidak sabar. Itu adalah Damar, Miho langsung memeluknya sembari menangis manja.
"Mas, akhirnya kamu sampai. Ayo masuk sayang?"
Miho mengunci kembali pintu kamarnya dari dalam. Lalu Miho dan Damar, sama-sama duduk diatas sebuah sofa. Wajah Damar masih kelihatan bingung untuk mengambil keputusan yang sangat berat ini.
"Kalau gitu, kapan kita nikahnya mas?" tanya Miho sembari memegang tapak tangan Damar dengan lembut.
"Kamu mau gak kalau kamu gugurin saja kandunganmu? Aku janji, akan kasih kamu uang satu milyar kalau kamu mau gugurin janin yang ada di dalam perut kamu itu?"
__ADS_1
Sontak saja Miho langsung marah besar mendengar jawaban dari Damar, yang menyuruhnya untuk menggugurkan saja kandungannya. Miho langsung menampar Damar lalu mendorong Damar hingga Damar tersungkur di lantai. Air mata mengalir dari kedua mata sipit Miho.
"Gila kamu mas! Katanya kamu mau menikahi aku dulu? Tapi kenapa kamu seperti tidak senang setelah tahu aku hamil? Ini anak kamu mas! Kamu ayah biologisnya!" teriak Miho kencang.
Damar kemudian bangkit dan membungkam mulut Miho, takut penghuni apartemen sebelah mendengar keributan mereka.
"Tenang sayang, jangan marah!" bisik Damar. Lalu Damar memeluk Miho dengan hangat.
Disaat yang bersamaan, di dalam rumah, Yaya sedang mencari keberadaan Damar, yang tak kunjung ia temukan di dalam rumah.
"Mas Damar pergi kemana sih?" bingung Yaya di depan pintu kamar. Kemudian Yaya pergi keluar rumah.
"Mas, kamu tega sama aku! Aku gak mau gugurin kandungan, aku takut mas." isak Miho pilu dalam dekapan laki-laki beristri itu.
"Mas baru aja baikan sama Yaya. Dia kasih mas kesempatan lagi setelah mengetahui perselingkuhan kita. Jujur, mas tidak ingin berpisah dengan Yaya. Gimana kalau kita menikah secara diam-diam saja? Kita nikah siri? " tawar Damar dengan nada suara yang lembut.
"Menikah siri? Jadi nanti, pernikahan kita dilangsungkan secara sembunyi-sembunyi gitu mas? Dari aku remaja, aku bermimpi pernikahan yang megah, ramai, dan disaksikan oleh banyak orang. Aku gak mau mas kalau nikah diam-diam." jawab Miho seraya mengusap air matanya.
"Tapi gimana lagi? Kalau aku menceraikan Yaya, kemudian menikah sama kamu, hujatan dari orang-orang akan semakin parah. Memang kita bisa bahagia dengan kehidupan seperti itu? Mas ingin menjalani hari-hari mas dengan nyaman. Bekerja dengan nyaman. Jabatan mas yang sangat besar. Mas udah putusin ini, kamu sebaiknya resign dari kantor, nanti mas belikan kamu rumah yang baru. Kamu tinggal disitu. Biaya kehidupan kamu setiap bulan, biar mas yang tanggung. Kita nikah siri dulu oke?"
Daripada opsi menggugurkan kandungan, Miho tidak mau mengambil risiko, itu menakutkan. Lebih baik menikah siri saja dengan Damar. Meski hal itu bukan hal yang Miho inginkan juga. Miho ingin pernikahannya dengan laki-laki yang sukses, disaksikan oleh banyak orang, termasuk keluarganya di Jepang. Itu adalah sebuah momen yang indah dan membanggakan untuknya.
Tapi keinginannya belum akan terwujud dalam waktu dekat, atau mungkin itu tidak akan pernah terwujud? Karena Damar tidak mau menceraikan Yaya dan malah memutuskan Miho menjadikannya sebagai istri simpanan?
"Ternyata mas Damar lebih takut sama hujatan orang ketimbang mikirin perasaan aku. Aku harus mencari cara untuk singkirin Yaya dari dunia ini! Cuma itu cara satu-satunya yang bisa aku lakuin. Biar aku bisa hidup dengan bahagia bersama laki-laki yang kaya raya ini." batin Miho dengan tatapan sinis.
Miho ingin membunuh Yaya! Suatu rencana yang mengerikan! Segala cara ia lakukan untuk mewujudkan keinginannya. Termasuk cara yang kejam seperti itu. Miho sudah berubah menjadi perempuan psikopat yang sangat ambisius!!!
__ADS_1
Mengerikan!
Bersambung...