Kisah Istri Yang Terluka

Kisah Istri Yang Terluka
Hampir Saja Celaka


__ADS_3

"Baik bos. Tugas ini sungguh berat. Saya dan suami saya, ga janji bisa melakukannya. Resikonya besar, saya dan suami saya bisa dijeblosin kedalam penjara loh bos."


"Kamu tenang aja. Kamu harus yakin kamu dan suami kamu pasti bisa menjalankan tugas saya. Bayaran tiga kali lipat menanti kalian loh."


Sontak, Elma yang dibutakan dengan uang itupun tersenyum licik. Dia akan melakukan segala cara supaya Yaya dan mama Sera celaka. Beberapa saat kemudian, Arif sedang membuat rem mobil punya mama Sera jadi bermasalah. Yang jika digunakan oleh mama Sera untuk berkendara, maka rem akan blong dan bisa saja mama Sera mengalami kecelakaan.


Setelah selesai, Arif buru-buru kembali kedalam paviliun. Mama Sera melangkah dengan mengecek isi tasnya di depan rumah. Kemudian mama Sera masuk kedalam mobil dan mulai mengemudikan mobil. Mama Sera akan pergi ke butiknya seperti biasa. Hari ini banyak pesanan kebaya.


Mama Sera berkendara dengan santai sembari menikmati alunan musik dan suasana sekitar.


Memandang kendaraan-kendaraan yang melintas juga di sampingnya. Kemudian, saat mobil mulai memasuki persimpangan jalan, mama Sera merasa haus dan ingin membeli air minum di pinggir jalan. Namun ada yang aneh saat kakinya menginjak rem. Seperti tidak mau berhenti.


"Loh kenapa ini!" ucap mama Sera panik.


Berkali-kali mama Sera mencoba mengerem mobilnya tapi tidak bisa. Mobilnya melaju begitu kencang hingga mama Sera bingung mau berbuat apa.


"Aduh gimana ini! Remnya blong!" panik mama Sera berkata.


Mama Sera menatap kedepan, berusaha menguasai keadaan. Mama Sera masih berusaha menyetir dengan santai. Tidak ada cara lain selain menyetir dengan tenang sampai mama Sera menemukan sebuah objek yang bisa ia tabrak dengan aman.


"Aku harus tenang. Oh iya, dipinggir ladang itu ada pagar kayu. Aku sebaiknya menabrakkan mobilku kesana." ucap mama Sera bersiap-siap menabrakkan mobilnya ke sebuah pagar kayu ditepi ladang.


BRUAAAAAK


Mobilnya yang remnya blong itu pun berhenti melaju. Badan mama Sera sedikit membentur setir mobil ketika mobil itu menabrak pagar kayu.


"Aw, untung udah berhenti ini mobil. Aku harus segera telpon bengkel nih. Kenapa rem mobil bisa tiba-tiba blong ya?" ucap mama Sera penuh tanya kemudian mama Sera membuka pintu mobil.


***


Aku sedang membaca majalah kesehatan. Tiba-tiba HPku berdering. Saat aku cek, ternyata yang menelpon aku adalah si rese itu, Martin. Sudah beberapa minggu kita tidak saling berkabar. Aku langsung mengangkat telepon dari Martin tanpa ragu, karena Martin adalah bestfriend ku dari masa sekolah.


"Halo ada apa sambal terasi?"

__ADS_1


"Aku sedih. Aku ingin kita ketemuan, ini penting!"


"Gak mungkin. Mas Damar gak mungkin izinin aku. Kita baru saja baikkan."


"Kenapa sih kamu mau balikan lagi sama laki-laki bajingan seperti dia? Kamu gak peka-peka ya telor asin! Ada seseorang yang lebih mencintaimu! Mengerti keinginanmu! "


Aku mendengar Martin berbicara sembari menangis, lebay banget sih! Ini orang dari dulu lebanynya emang ga ketulungan.


"Peka apaan! Yaudah mau ketemu dimana? Tapi besok pagi aja ya."


"Boleh deh daripada ga ketemu. Soalnya mungkin ini kali terakhir gua akan ketemu lagi sama lu."


"Lo ini ngomong apa sih! Biuh, jangan bikin gue jadi sedih dong. Lo udah mau mati ya?"


"Sialan lu! Besok ditunggu di taman Kencana."


"Ngapain disitu, sepi! Mendingan di taman yang lain aja. Gue benci kalau ketemuan di tempat yang sepi."


"Gapapa lah. Pagi-pagi mana sepi sih. Bisa gak?"


Aku mengamati sekeliling, langsung mematikan sambungan telepon dengan Martin. Aku tahu ini kurang sopan, tapi aku gak mau lama-lama ngobrol sama dia. Maafin aku ya Tin? Aku takut pembantu aku denger terus mikir yang nggak-nggak. Disisi lain, didalam kamarnya Martin dirumahnya.


"Sialan bener dah ini cewek satu! Tapi dari dulu gua suka sih sama lu Yaya. Cuma gua aja yang pengecut, belum berani nyatain perasaan ini ke lu dari dulu. Hingga akhirnya, lu diserobot duluan sama si bajingan itu." ucap Martin menyesal di dalam kamarnya, sembari menatap foto Yaya di ponselnya.


Seandainya dulu dirinya lebih berani mengutarakan rasa sukanya kepada Yaya kemudian Yaya menerimanya, pasti Martin berjanji akan selalu berusaha membuat Yaya bahagia.


Saat Yaya mau mengambil ancang-ancang untuk duduk diatas teras depan rumah, ponselnya kembali berdering tanda ada telepon yang masuk lagi. Itu dari mama Sera.


"Halo ma, ini udah sore dan mama lagi dalam perjalanan pulang ya? Aku bentar lagi mau masak tuh buat makan malam mama sama mas Damar."


"Duh mama pengin, rasa masakan kamu udah gak perlu diragukan lagi, tapi mama masih dibutik dan tadi mobil mama remnya blong."


"Loh kenapa gitu mam? Mama baik-baik aja kan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, mama selamat. Mama tabrakkan mobil itu ke pagar kayu dan mobil itupun bisa berhenti."


"What? Yaudah nanti aku suruh sopir buat jemput mama ya kesitu. Kok bisa sih mobil mama remnya blong?"


"Kan musibah nggak ada yang tahu nak. Yaudah, mama tunggu kedatangan sopir. Ini mama lagi makan soto nak di butik."


"Mama baik-baik aja kan? Mobil mama gimana?"


"Lagi dibenerin di bengkel terdekat. Mama bersyukur ga kenapa-kenapa."


"Kasihan banget mama, yaudah ya, mama tunggu disitu. Mama jaga diri baik-baik ya? Kalau ada apa-apa hubungi aku segera."


"Iya nak."


Mama lalu menutup teleponnya. Aku bingung, kenapa mobil mama bisa tiba-tiba remnya blong? Atau ada orang yang sengaja berniat mau mencelakai mama? Mobil itu biasanya tidak ada masalah apa-apa. Apa aku harus menyelidiki masalah ini?


Dari belakang Yaya, tepatnya dari balik pintu, Elma sedang mengintai dengan tatapan jahat. Elma merasa gagal karena ternyata mama Sera bisa selamat.


"Sial, si nenek lampir selamat lagi! Aku harus mencari cara baru biar mereka berdua segera celaka!" batin Elma.


Namun Elma ceroboh dan malah ga sengaja membuat bagian pintu yang ia pegang menjadi berdecit. Sontak saja Yaya langsung melihat ke belakang.


"Elma, kamu ngapain disitu?"


Elma melihatku dengan wajah gugup.


"Saya nggak ngapa-ngapain bu, cuma saya mau ngomong sesuatu aja sama bu Yaya."


"Mau ngomong apa? Kesini kamu."


Elma melangkah ke depanku, dia menunduk dan kulihat dia memasang wajah yang takut.


"Maaf karena selama ini rasa masakan saya belum bisa diterima oleh lidah orang-orang di rumah ini. Tapi apa bu Yaya sudah menemukan calon juru masak yang baru bu? Saya merasa belum becus jadi pembantu yang bu Yaya inginkan. Jadi bu Yaya deh yang masak terus." tanya Elma kemudian menatap wajahku.

__ADS_1


"Belum. Besok aku baru mau cari juru masak baru." jawabku kemudian, aku berbalik badan menatap kearah depan. Kenapa aku berpikir, sejak Elma dan Arif kerja disini, banyak kejadian yang membuatku merasa aneh. Apa mereka itu? Betul, sebaiknya aku harus menyelidiki mereka. Aku akan meminta mas Damar untuk memasang lebih banyak CCTV di rumah ini.


Bersambung...


__ADS_2