
Matahari semakin menanjak tinggi. Tanda siang akan segera menyapa dengan cahaya teriknya. Aktifitas di daerah jantung kota semakin padat merayap. Kendaraan berlalu lalang kesana kemari.
Damar sibuk bekerja di dalam ruangannya. Disela pekerjaannya, Damar berpikir lagi soal rencana liburan ke luar negeri bersama Miho. Dirinya pasti akan menghabiskan banyak biaya untuk melakukan aktifitas yang menyenangkan dan memanjakan selingkuhannya itu. Apalagi rencananya mereka mau liburan tujuh hari di luar negeri.
Apakah nanti istrinya akan curiga kalau seandainya dia tahu saldo tabungan di bank berkurang banyak? Belum lagi Miho pasti minta dibelikan banyak barang-barang branded dari luar negeri.
"Hmm, pusing juga ya mikirin ini. Padahal tujuanku ke luar negeri adalah bersenang-senang bersama gadis pujaanku." batin Damar.
"Apa batalin aja ya? Lebih baik ganti saja rencana liburan kesana dengan liburan di Indonesia aja, ke Bali? Di Bali juga gak kalah indah kok. Banyak juga turis dari luar negeri yang liburan ke Bali." lanjut Damar berpikir.
"Nanti aku bicarakan ini dengan Miho. Semoga saja dia mau nerima kalau aku membatalkan rencana gajadi liburan ke luar negeri."
Sifat Damar yang plin plan bikin Miho kesal saat Damar mengutarakan keinginannya untuk membatalkan liburan ke luar negeri. Mereka sedang berbicara berdua di dalam lift. Miho berdiri dengan tatapan nyalang di belakang Damar. Miho terus melihat emosi kearah laki-laki di depannya itu.
"Gak mas! Tetep keluar negeri! Kamu kan direktur, masa kamu ga mampu sih biayain liburan kita ke luar negeri? Gaji kamu tertinggi loh disini." pinta Miho terus berusaha.
"Bukan gak mampu, nanti istri aku mikir yang macam-macam kalau tahu, saldo tabunganku terkuras cukup banyak sayang. Kemarin aku habis beliin kamu dua mobil baru loh, semua harganya mahal pula."
"Ya kamu yang pintar lah cari alasannya. Jangan sampai dia tahu dong! Lagian jadi orang perhitungan amat sih!"
"Gak jadi deh Miho sayang. Yaya aja mau loh diajak liburan ke tempat wisata yang biasa saja seperti kemarin itu. Tiket masuknya cuma seratus ribu."
"Jangan samakan aku sama Yaya! Dia itu kampungan mas. Cocoknya ya liburan ke tempat yang B aja! Mana cocok dia liburan ke luar negeri. Yang ada, dia bakalan minder sama orang-orang disana karena looknya Yaya yang B aja itu, hehe."
"Gimana ya?" bingung Damar sembari garuk kepala, padahal tidak terasa gatal.
"Sekali luar negeri, tetep luar negeri sayang?" rayu Miho manja, lalu memeluk Damar dari belakang.
Damar gak bisa bertindak apa-apa. Kalau Miho sudah manja seperti ini, Damar gak sanggup untuk menolak keinginan selingkuhannya. Alhasil, liburan ke luar negeri pun jadi, sesuai rencana mereka akan menyambangi tiga negara Korea Selatan, Hong Kong, dan negeri kelahiran Miho, yaitu Jepang.
***
Di dalam kamar, aku sedang rebahan santai. Ditemani secangkir teh bunga chamomile, aku sedang menonton serial luar kesukaan aku di laptop. Tiba-tiba, Martin menelponku, dia mengajakku video call, tapi aku gak menggubrisnya. Aku malas menerima video call dari Martin. Aku masih marah sama dia, atas kejadian tadi pagi. Itu sangat menyebalkan!
Tapi, udah aku cuekin berkali-kali, tetep aja Martin menelponku. Aku silent aja ponsel aku. Tapi kasihan juga sih, biar gimanapun Martin, dia pernah berjasa besar di masa lalu aku. Dulu aku adalah siswi yang kurang pintar. Tapi karena bantuan dia yang begitu sabar dan telaten dalam mengajari aku, aku menjadi salah satu lulusan SMA dengan nilai terbaik. Bahkan peringkat aku diatasnya. Baiklah, aku angkat Tin. Semoga kamu gak rese ya!
__ADS_1
"Ada apa cowok rese!" ketusku saat membuka VC.
"Yeh masih marah aje lu. Kalau cemberut tambah tantik aja dewh."
Rasanya aku ingin muntah, tolong dimana ada kantong kresek.
"Gak asik ah. Lu baperan sekarang! Suami lu yang baperan, udah pergi?"
"Lagi kerja dia. Ada apa? Kalau ga penting-penting amat, jangan ganggu waktu gua ya."
"Eleh, kek waktu lo penting aja! Lu lagi nonton drakor kan! Gua denger nih."
Aku buru-buru mute laptop aku.
"Eh, ga penting pertanyaan lu!"
"Tuh kan, waktu lu juga ga penting-penting amat. Ga ada alasan buat buru-buru matiin VC. Telor asin, gua mau cerita sama lu."
"Mau cerita apa sambel terasi?"
"Makannya kalau lu ga punya kaca, pinjem kaca dari gua! Lu introspeksi diri dulu mbel. Sifat lu kek gimana. Orang sifat lu kek brekele gitu mana ada cewek yang tahan!"
"Yeah... Gua malah dikatain. Malam ini ketemuan bisa kan?"
"Mimpi! Mana mungkin mas Damar izinin gue!"
"Why?"
"Dia benci sama lu. Lagian itu semua gara-gara sikap lu yang rese tadi pagi! Yaudah ya, gua ga mau VC lama-lama. Gua mau lanjut masak buat makan siang."
"Mank lu ga punya babu? Kok masak sendiri?"
"Lebih suka masakan sendiri, bye sambel terasi!"
Aku langsung mematikan VC. Malas rasanya VC gak penting berlama-lama sama Martin. Daripada dia menghubungiku lagi, aku lebih baik menonaktifkan saja ponsel aku.
__ADS_1
Satu minggu berlalu...
Singkat waktu, minggu telah berganti. Mas Damar masih terlihat tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Malah dia semakin mesra dan dia janji, bulan depan nanti, dia akan mengantarkanku, pergi berselfie ria di Lapland, Finlandia. Destinasi wisata impianku. Liburan disana bersamanya.
Pagi ini aku sarapan ceria bersama mas Damar. Tapi aku lihat, mas Damar tidak memakai setelan kemeja yang biasa ia pakai saat akan berangkat kerja. Apakah hari ini dia ambil cuti lagi? Menu sarapan kami pagi ini adalah nasi goreng rempah. Aku mengambilkan dua centong nasi untuknya.
Mas Damar pagi ini terlihat begitu bersemangat. Dia sarapan dengan lahap. Aku suka melihat semangatnya. Tapi hal apa yang bikin mas Damar bersemangat seperti itu? Apa dia menang tender besar atau gajinya yang semakin naik? Atau dia bahagia karena rumah tangga kami kembali hangat seperti sekarang ini?
"Kamu kelihatan kaya lagi happy banget deh mas? Cerita dong kenapa?" tanyaku dengan wajah senang.
Mas Damar mengangguk dengan ceria seraya mengunyah makanan.
"Mas ambil cuti tujuh hari. Mas mau pergi ke luar negeri bersama orang penting. Tapi maaf sayang, kamu gak bisa ikut."
"Pergi kemana?"
"Melihat pembangunan properti di sebuah pulau terpencil, di daerah Jepang. Perusahaan tempat mas bekerja, menjalin kerjasama dengan perusahaan besar dari negara Jepang. Mas harus melihat proses pembangunannya disana."
"Sepenting itu mas? Apa Miho ikut?"
Mas Damar berhenti mengunyah saat aku menyebut nama Miho.
"Kenapa dia? Dia gak ikut lah buat apa dia ikut?"
"Dia kan orang Jepang mas?"
"Apa hubungannya? Dia tetap di Indonesia, kerja. Meski dia adalah sekretaris tapi dia tetap di Indonesia. Jelas penting dong sayang. Mas harus mengawasi proyek yang menelan biaya besar itu, takut ada yang mengacau disana nanti. Nanti dua perusahaan besar bisa ikut merugi kalau proyek itu sampai kacau. Kamu gak boleh ikut karena mas takut terjadi apa-apa denganmu. Biasa sayang, namanya persaingan bisnis. Ada mafia yang mengintai."
"Oh gitu. Berarti, kamu kesana, kamu harus hati-hati ya mas. Jaga selalu diri kamu. Selalu berdoa memohon perlindungan sama Allah karena ada resiko besar saat kamu pergi kesana. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku akan selalu mendoakanmu dari sini, sayang." ucapku memegang tangannya.
"Iya sayang, thankyou. Mas berjanji, akan bawain kamu oleh-oleh kesukaan kamu dari Jepang. Buat mama kamu juga deh. Nanti hubungi dia, bilang mau dibelikan apa di Jepang?"
Aku tersenyum seraya menyendok nasi. Aku hanya bisa berharap semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai mas Damar dalam tugas besarnya ini.
"Yes! Akhirnya aku bisa berlibur dengan tenang." batin Damar girang.
__ADS_1
Bersambung...